Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jabatan baru Satria
Satria duduk lesu di meja barunya, kedudukan yang sebelumnya sangat ia nantikan, tapi setelah didapatkan hanya kekosongan yang ia rasakan.
Matanya meliar, menatap sekeliling ruangan yang tak lagi asing baginya.
Yang dulu sering ia lewati sebagai staf biasa. Yang sebelumnya hanya tempat singgah sebagai simpanan Renika.
Semuanya sama, dan sekarang ia yang memegang kendali atas daerah kekuasaannya.
Di pintu tertulis jelas: General Manager, Satria Pratama. Jabatan yang sebelumnya diduduki Renika, setelah resmi dipecat karena sebuah kesalahan, sekarang posisi itu jatuh ke tangannya.
Jabatan yang lebih tinggi dari yang ia bayangkan sebelumnya. tapi, kenapa ia malah tidak bahagia?
"Vivian... janjiku dulu, jika waktunya telah tiba, jika aku berhasil naik jabatan, aku akan pergi meminangmu. Tapi, disaat kedudukan ku semakin tinggi, bahkan lebih dari targetku, kenapa aku malah tak bisa mendapatkan mu...?"
Ia menunduk, kedua tangannya saling bertaut di atas meja mewah. Bayangan wajah Vivian kembali hadir, senyum manisnya, perhatian tulusnya, cara ia memanggil namanya dengan lembut, dan sekarang semuanya telah hilang.
Ia berhasil mendapatkan kedudukan, tapi cintanya tak bisa digenggam.
Ia meremas pelan kertas dokumen di tangannya, wajahnya mengkerut getir.
Jemarinya dengan cepat meraih ponselnya, layarnya menyala, jarinya dengan sigap mencari sebuah folder rahasia.
Ia membuka folder itu, serentetan foto dirinya dan Vivian, waktu mereka masih bersama memenuhi layar. Tangannya memilih acak, membuka satu foto dimana gadis itu tengah tersenyum lembut kepadanya.
Jari-jarinya gemetar menyentuh wajah gadis itu. Dadanya terasa sesak.
"Vivian..." bisiknya parau, suara itu pecah di keheningan ruangan. "Aku sudah sampai di sini... tapi kenapa aku malah sendirian?"
Ia mengusap lembut layar yang mulai basah oleh air matanya, menciumnya, lalu mendekapnya erat sekali, seakan gadis itu takkan benar-benar kembali.
Di luar jendela, matahari bersinar terang menerangi gedung pencakar langit, menerangi kesuksesan yang ia perjuangkan, namun tak mampu menerangi hatinya yang gelap penuh kekosongan.
Kesedihan masih menerpa, belum sempat mereda, pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan kasar, bahkan tanpa ada ketukan.
"SATRIAAAA...!"
Suara melengking tajam membelah keheningan. Satria tersentak, mendongak kaget. Di ambang pintu, Renika menerobos masuk dengan penampilan berantakan.
Rambutnya acak-acakan, pakaiannya kusut, wajahnya pucat dengan mata yang merah melotot liar. Di belakangnya, dua orang security berusaha menahannya, namun wanita itu meronta sekuat tenaga.
"Maaf, Pak Satria! Kami sudah coba menahannya, tapi dia..."
"LEPASKAN AKU! AKU HARUS BICARA DENGAN DIA!" Renika melepaskan diri dari cengkeraman mereka, lalu berlari mendekat ke meja Satria.
Matanya menatap memelas, meminta belas kasihan. "Satria... Ayo kita cepat-cepat atur waktu untuk acara pernikahan kita, sebelum anak kita lahir."
Satria berdiri perlahan, wajahnya dingin tanpa ekspresi. Tak ada rasa iba, tak ada rasa bersalah. Hanya ketegasan yang mematikan.
"Apa katamu, menikah?" ucapnya datar, ia menatap remeh pada wanita yang bersimpuh di bawah kakinya. "Jangan mimpi, Renika."
"Satria... ini anakmu, dan kamu sudah berjanji akan menikahiku..." Renika tertawa sinis, air mata mulai menetes, bercampur dengan kemarahannya yang perlahan menerpa.
"Kamu mau kembali ke gadis kampung itu? Kamu pikir dia mau menerimamu?"
Satria diam, egonya tersentil tajam. Ia hanya memberi isyarat pada kedua security itu. "Bawa dia keluar. Jangan biarkan dia masuk ke gedung ini lagi."
"SIALAN KAMU! BRENGSEK KAMU SATRIA... KAMU JAHAT..."
Renika meronta sekuat tenaga saat kedua Secuity itu mendekat dan menarik lengannya kuat. Kakinya menghentak lantai, suaranya melengking penuh kemarahan.
"Kamu pikir kamu bisa hidup tenang begitu saja? Kamu pikir aku akan membiarkanmu bahagia sendirian?"
Satria membalikkan badan, tak sudi menatapnya lagi. "Pergi...!"
Saat security mulai menyeretnya menjauh, Renika tiba-tiba berhenti meronta. Wajahnya yang penuh amarah, berganti menjadi senyuman mengerikan, senyum yang dingin dan penuh dendam.
"Baiklah, Satria..." bisiknya pelan, namun mengancam. "Jika ini yang kamu mau, jangan salahkan aku kalau semuanya hancur bersamamu."
Dengan tangan yang masih bebas, ia mengangkat ponselnya tinggi-tinggi di udara. Tawa yang mengerikan, renyah namun mencekam, meledak dari mulutnya.
"Selamat nikmati kehancuran yang kamu buat sendiri...Pak General Manager... karena sebentar lagi, seluruh kantor bahkan seluruh kota ini, akan tahu siapa kamu sebenarnya! Dan video ini... akan kubagikan ke semua orang!"
Satria berbalik kaget, matanya membelalak. "Renika, jangan lakukan hal bodoh!"
"KITA LIHAT SAJA SIAPA YANG AKAN HANCUR LEBIH DULU...!"
Renika menekan tombol kirim dengan senyum yang semakin mengerikan. Detik itu juga, ia diseret keluar oleh security, namun tawa mengerikannya masih terdengar menggema di sepanjang lorong, meninggalkan Satria yang terpaku di tempat, keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya, menyadari bahwa bencana besar baru saja ia ciptakan sendiri.
...****************...
Di tempat lain, Vivian duduk tenang di meja kerjanya, tanpa melakukan apapun kecuali membuat pola gaun dan sesekali melirik kakak tirinya.
Hari ini dia benar-benar tak diberi tugas apapun, Vivian pun tak menuntut. Ia memilih sibuk dengan dunianya sendiri.
tapi tiba-tiba pandangannya jatuh pada Raynor, yang wajahnya mengkerut dalam, tangannya memijat pelipis, seperti orang yang tengah dilanda masalah besar.
Vivian meninggalkan aktivitasnya, memilih mendekat ke meja kakaknya.
"Kak Raynor, sepertinya banyak pikiran yah, atau kecapean?"
Tanpa sungkan ia memijat pundak kokoh pria itu. Sensasi nyaman seketika menyebar, Raynor memejamkan matanya menerima relaksasi otot yang sebelumnya menegang.
"Apa pijatanku enak kak" ucap Vivian tepat disamping telinga pria itu, yang seketika membuat Raynor menggeram kecil.
Ia menarik tangan Vivian lembut, sampai gadis itu jatuh tepat di atas pangkuannya.
"Bahkan pijatanmu terasa seperti belaian" bisik Raynor datar, dengan wajah menatap Vivian dalam.
Gadis itu masih memijat pundak sang kakak dari arah depan, lama-lama turun kebawah, menyentuh roti sobeknya.
"Eh, apa ini. kok keras?" tangannya meraba pelan dada bidang pria itu, lalu mencoelnya sedikit yang seketika membuat pria itu kembali meremang tertahan.
"Kak Raynor, kenapa? apa sakit?" tanyanya dengan tatapan polos, mulutnya sedikit terbuka, membuat kesempatan pria itu melahapnya.
"Mmmppp...." mulutnya dibungkam kehangatan. Serangannya begitu cepat, Vivian ingin protes, tapi sapuan lembut itu membuatnya terhanyut.
Ketika telapak tangan besar itu meraba lembut punggungnya, rasa hangat menjalar perlahan.
Darahnya hampir mendidih, ia terbuai, matanya terpejam. Ia tak peduli apapun, semakin sering melakukannya membuat rasa candu yang selalu ia rindu. Hingga tiba-tiba pintu ruangan terbuka kasar.
Brak...!