Indonesia
NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: yuni93

Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Masa Lalu

Hari itu, Juvan melangkah masuk ke gerbang sekolah dengan wajah yang berseri-seri. Senyum manis tak lepas dari bibirnya, seakan dunia di luar sana kini penuh warna dan cahaya. Semenjak resmi berpacaran dengan Yena, setiap hari yang ia lalui terasa begitu indah dan bermakna. Begitu juga dengan Yena — senyumnya kembali merekah, matanya kembali berbinar, seolah kehadiran Juvan adalah obat paling ampuh untuk segala lukanya.

 

Namun kebahagiaan itu seakan terus diuji. Saat bel pulang berbunyi dan Juvan melaju menuju rumah melewati jalan sepi yang biasa ia lalui, tiba-tiba dua sosok bertubuh besar melangkah keluar dari balik pepohonan dan menghadang laju motornya. Juvan terpaksa mengerem hingga berhenti mendadak. Matanya menyipit mengenali wajah-wajah itu — dua orang preman yang sama yang pernah menghajarnya tempo hari.

 

"Hadeh... orang-orang ini lagi..." gumam Juvan pelan, tak ada rasa takut sedikit pun di dadanya, hanya rasa kesal yang kembali menyusup.

 

Belum sempat Juvan melanjutkan kata-katanya, kedua orang itu langsung melangkah mendekat dan mencengkeram kedua pergelangan tangan Juvan dengan kuat, memaksanya turun dari motor.

 

"Kalian mau apa sih?! Lepasin!" seru Juvan berusaha melepaskan diri, namun kekuatan mereka terlalu besar.

 

Tiba-tiba, dari arah berlawanan, terdengar deru mesin yang berat dan halus. Sebuah mobil mewah berwarna hitam melaju pelan lalu berhenti tepat di depan mereka. Pintu terbuka, dan turunlah seorang pria berjas hitam rapi, tampan, namun dengan senyum yang terasa begitu licik dan menakutkan — Arga.

 

Juvan menatap pria itu lekat-lekat, matanya membelalak seketika. "Loh... ini kan mantannya Kak Yena... "batinnya tak habis pikir mengapa pria itu ada di sini.

 

Arga melangkah mendekat perlahan, senyum sinis mengembang di bibirnya. Ia menatap Juvan dari atas hingga bawah seolah sedang menilai benda tak berharga.

 

"Halo... saudaraku. Apa kabar?" sapa Arga dengan nada yang penuh tekanan namun terdengar santai.

 

Juvan mengerutkan keningnya bingung." Saudara? Apa maksudnya? "batinnya semakin tak paham.

 

Arga tak menjelaskan apa pun. Ia justru mendekatkan wajahnya, lalu menepuk-nepuk pundak Juvan pelan namun terasa penuh ancaman.

 

"Berani juga ya kamu..." ucap Arga pelan namun tajam. "Pertama, kau merampas orang tuaku. Dan sekarang... kau berani merampas kekasihku juga. Wah... hebat sekali."

 

"Apa maksudmu?" potong Juvan tegas, menatap balik mata Arga tanpa rasa takut. "Merampas orang tuamu? Siapa yang merampas orang tuamu? Aku rasa aku tidak pernah melakukan hal seperti itu!"

 

Arga hanya terdiam mendengar pembelaan itu. Ia tak menjawab, tak menjelaskan. Hanya diam dengan senyum jahat yang kian melebar di wajah tampannya — senyum yang seolah menyimpan rahasia besar yang kelak akan menghancurkan dunia Juvan.

 

"Aku hanya mau bilang begitu saja," ucap Arga akhirnya, mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Juvan. "Silakan... kau berbahagialah dulu dengan kekasihku itu. Tapi ingat baik-baik — apa pun yang menjadi milikku, cepat atau lambat akan kembali kepadaku. Kau hanyalah anak kecil yang belum tahu apa-apa. Dan kau... tak akan pernah pantas bersanding bersama Yena. Yena adalah milikku. Kau paham itu?"

 

Belum sempat Juvan membuka mulutnya untuk membantah, tiba-tiba...

 

PRAK!

 

Satu pukulan keras mendarat tepat di pipi kiri Juvan. Pukulan itu begitu kuat hingga membuat tubuh Juvan terhuyung ke belakang, pipinya seketika terasa panas dan perih.

 

"Ini baru permulaan... saudaraku," bisik Arga pelan di telinga Juvan sebelum melangkah mundur kembali ke arah mobilnya.

 

Arga memberi kode pandangan dengan matanya kepada dua orang preman itu. Seketika cengkeraman di pergelangan tangan Juvan dilepaskan. Mereka pun segera berbalik dan masuk ke dalam mobil hitam itu, lalu melaju pergi meninggalkan Juvan sendirian di jalan sepi itu.

 

Juvan mengusap pipinya yang terasa nyeri dan mulai memerah. Matanya menatap mobil hitam itu yang perlahan menghilang di tikungan jalan, penuh kebingungan dan tanda tanya besar.

 

"Saudara... kenapa dia memanggilku saudara? Apa maksud kata-katanya tadi? Siapa yang merampas orang tuanya?"

 

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Juvan sepanjang perjalanan pulang. Hatinya tak tenang, namun ia berjanji pada dirinya sendiri — apa pun yang sedang direncanakan Arga, ia tak akan mundur. Ia akan tetap berdiri teguh melindungi Yena, dan perlahan-lahan, ia akan mengungkap kebenaran di balik semua misteri yang kini mulai bermunculan.

Malam itu, di meja makan keluarga Juvan, suasana hangat menyelimuti ruangan — namun hanya sesaat. Saat lampu gantung menerangi wajah Juvan, Rina, bundanya, tiba-tiba berhenti mengunyah. Matanya menatap lekat pipi kiri putranya yang tampak memerah dan mulai membiru.

 

"Loh, Juvan... muka kamu kenapa kok memar gitu?" tanya Rina cemas, segera bangkit dan mendekat, tangannya lembut menyentuh pipi Juvan. "Kamu berantem ya di sekolah?"

 

Juvan menurunkan sendoknya, menahan rasa sakit yang sesaat terasa saat jari ibunya menyentuh bagian yang memar. Ia tak tega menceritakan kejadian tadi siang — tak ingin bundanya khawatir lebih dari yang seharusnya.

 

"Iya, Bun... tapi ini gak apa-apa kok, cuma memar dikit doang," jawabnya berbohong, berusaha tersenyum tenang.

 

Suasana hening sejenak. Juvan menatap kedua orang tuanya bergantian — Heru, ayahnya yang tampak tegas namun baik hati, dan Rina, bundanya yang lembut dan penuh kasih sayang. Ia menarik napas dalam, memberanikan diri melontarkan pertanyaan yang sejak tadi siang terus menghantui pikirannya.

 

"Ayah... Bunda... aku punya saudara ya?"

 

Seketika itu juga, Heru dan Rina terdiam. Sendok dan garpu di tangan mereka berhenti bergerak. Mereka saling bertatapan, seolah ada sesuatu yang berat dan tersembunyi melintas di antara mereka. Tatapan itu penuh kecemasan, seakan pertanyaan sederhana itu telah menyentuh sesuatu yang seharusnya tak pernah disentuh.

 

"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu, Nak?" tanya Heru pelan, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Kamu tidak punya saudara. Kamu anak satu-satunya bagi Ayah dan Bunda."

 

"Benar apa yang dikatakan Ayahmu," sambung Rina cepat, senyumnya terasa dipaksakan. "Kamu gak punya saudara, Juvan. Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"

 

Juvan hanya mengangguk pelan, menunduk kembali ke piring makanannya. Ia tahu — ada sesuatu yang disembunyikan. Namun ia tak berani menekan lebih jauh. Ia melanjutkan makan malamnya dalam diam, meski di dalam hatinya, rasa penasaran itu semakin membara. Arga memanggilnya "saudara", dan tatapan orang tuanya tadi... semuanya bukan kebetulan. Ada rahasia besar di sini.

 

Setelah makan malam selesai dan Juvan masuk ke kamarnya, di kamar utama, Heru dan Rina masih duduk termenung di tepi tempat tidur. Cahaya lampu yang remang-remang tak mampu menyembunyikan kegelisahan di wajah mereka.

 

"Mas..." panggil Rina pelan, suaranya bergetar. "Kenapa Juvan tiba-tiba menanyakan soal saudara? Apa dia mengetahui sesuatu?"

 

Heru menghela napas panjang, menatap lurus ke arah jendela yang tertutup tirai. Wajahnya tampak tua dan lelah seketika.

 

"Entahlah, Rin..." jawabnya pelan, namun penuh kekhawatiran. "Tapi aku harap dia tak tahu. Dan jangan sampai dia pernah tahu tentang kejadian dulu..."

 

 

 

FLASHBACK — 16 Tahun yang Lalu

 

Di sebuah kampung sederhana yang jauh dari keramaian kota, hiduplah Heru dan Pina. Pernikahan mereka sederhana, tanpa kemewahan, namun penuh kasih sayang. Mereka bukan orang kaya — hidup pas-pasan, cukup untuk makan sehari-hari saja sudah bersyukur. Pina bekerja menjadi tukang cuci gosok di rumah tetangga untuk membantu kebutuhan rumah tangga, sementara Heru bekerja serabutan di ladang.

 

Setelah satu tahun pernikahan, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan dan sehat. Mereka memberinya nama — Arga Wijaya.

 

Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Saat Arga berusia delapan tahun, kebutuhan hidup semakin mahal. Heru mendapat tawaran bekerja di kota sebagai kuli bangunan — bayarannya lumayan, jauh lebih baik daripada apa yang ia dapatkan di kampung. Dengan berat hati, namun demi masa depan anaknya, Pina mengizinkan suaminya merantau.

 

"Jaga diri di kota ya, Mas... jangan lupa kabari kami," pesan Pina saat mengantar suaminya pergi.

 

"Kamu juga, Pin. Jaga Arga. Aku pasti pulang," janji Heru saat itu.

 

Setelah satu tahun berlalu, Heru semakin jarang memberi kabar. Pina menunggu, sabar dan setia. Namun suatu hari, Heru pulang — bukan sendirian. Ia membawa seorang perempuan cantik berpakaian rapi di sampingnya. Hati Pina sempat berdebar, namun ia berusaha berpikir positif. Mungkin itu atasan atau kerabat suaminya, pikirnya.

 

Namun kenyataan yang diucapkan Heru bagaikan petir di siang bolong.

 

"Pin... ini Rina. Dia istri baruku," ucap Heru datar, tanpa rasa bersalah sedikit pun.

 

Dunia Pina seketika runtuh. Hatinya terasa dicabik-cabik, sakit yang tak terlukiskan. Dan di sudut ruangan kecil itu, Arga — anak mereka yang berusia sembilan tahun — menyaksikan semuanya dengan mata terbelalak, tak memahami mengapa ayahnya tiba-tiba membawa wanita lain dan mengusir ibunya sendiri.

 

Heru mengulurkan selembar kertas — surat cerai. "Tandatangani ini, Pin. Aku sudah tidak bisa kembali padamu."

 

Dengan tangan gemetar dan air mata yang tak henti mengalir, Pina menandatangani surat itu. Hubungan mereka berakhir di sana. Sebelum pergi, Heru memberikan selembar cek senilai lima puluh juta rupiah — uang yang baginya tak sebanding dengan keluarga yang ia hancurkan.

 

"Ini untuk kebutuhanmu dan Arga," ucap Heru dingin, lalu berbalik pergi bersama Rina, meninggalkan Pina dan Arga yang hancur di tempat.

 

 

 

FLASHBACK OFF

 

Di masa kini, di kamar yang hangat itu, Heru memeluk bahu istrinya yang tampak gelisah.

 

"Sudahlah, Rin. Jangan kita pikirkan lagi masa lalu itu," ucap Heru pelan, berusaha menenangkan namun matanya tak bisa menyembunyikan rasa bersalah yang mendalam. "Kita berdoa saja agar semuanya baik-baik saja. Biarkan masa lalu tetap menjadi masa lalu."

 

Namun takdir sepertinya punya rencana lain. Rahasia yang terkubur selama bertahun-tahun itu perlahan mulai terkuak — dimulai dari pertanyaan polos seorang anak, dan ancaman seorang pria yang tumbuh dengan hati penuh dendam.

1
Visitor3579
Kagak perlu didengerin, klo udah ketahuan selingkuh ya ketahuan ajah. ga usah pake sok nyesal
Visitor3579
Cowok bloooon
Visitor3579
Gilak, dari sini Yena trauma sih buat jatuh cinta lagi. Plisss Yena kuat kan gak menye2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!