Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.
Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.
Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’
Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBENCIAN YANG TERPUPUK
Gerimis turun perlahan, lampu neon di depan bar yang bertuliskan BAR-BUKA masih berkedip, memantulkan cahaya merah di genangan air area parkiran.
Bu Wati memapah Sutami dengan hati-hati hingga masuk ke mobil Waluyo. Jas cokelat milik Waluyo telah tersampir di bahu Sutami.
Sutami duduk di kursi penumpang belakang, tapi Bu Wati tidak langsung melepas tangannya yang masih bertumpu di pundak Sutami dengan tatapan penuh kekhawatiran. Ia memahami batas. Begitu pintu mobil itu tertutup, urusannya telah selesai. Sutami telah kembali ke wilayah keluarganya.
Bu Wati akhirnya berbisik pelan. "Kau yakin akan baik-baik saja?"
Sutami menoleh. Meski kelelahan tampak jelas di wajahnya, ia berusaha tersenyum tipis, tapi tulus. Ia menepuk punggung tangan Bu Wati yang masih menggenggam pundaknya, lalu mengelusnya perlahan.
"Bu Wati tenang saja, aku akan pulang ke tempat yang benar. Terima kasih malam ini sudah datang untukku, bahkan menemaniku. Nanti akan aku kabari," lirih Sutami. "Ibu juga harus pulang, ini sudah sangat larut. Sampaikan terima kasih dan salam hormatku pada Pak Bram, suami Ibu."
Bu Wati tak sanggup lagi bicara. Bibirnya mulai bergetar, seolah ia tahu juniornya memendam banyak hal yang menyakitikan. Ia mengusap bahu Sutami sambil mengangguk-angguk, "Kabari aku jika kau butuh teman," lirihnya menahan tangis agar tak pecah.
Bu Wati menutup pelan pintu mobil Waluyo lalu mundur beberapa langkah.
Dari balik kemudi, Waluyo menatap Bu Wati lalu dengan ekspresi datar namun diikuti anggukan penuh hormat. "Terima kasih, Bu."
Mobil Waluyo melaju perlahan, menyusuri jalanan malam yang sepi.
Di dalam mobil Waluyo, suasana hening. Hanya terdengar gesekan wiper dan rintik hujan di atap mobil. Waluyo fokus mengemudi. Sesekali, ia melirik ke kursi belakang melalui kaca spion.
Di kursi belakang, Kirana duduk di samping Sutami. Tubuhnya masih terbungkus seprei putih. Awalnya ia duduk dengan canggung, seolah mempertegas jarak di antara mereka agar terasa nyata. Namun, rasa dingin, takut, dan lelah akhirnya meruntuhkan pertahanan itu. Tubuhnya yang gemetar perlahan menyerah. Ia jatuh dan bersandar dalam pelukan Sutami.
Sutami sedikit terkejut, lalu segera memeluknya. Pelukannya erat dan melindungi. Tidak ada kata yang terucap karena Sutami sendiri tampak sangat lelah. Kepalanya bersandar pada kaca jendela, sementara satu tangannya terus mengusap kepala Kirana dengan lembut, tanpa ada percakapan.
Di belakang mobil Waluyo, mobil kedua melaju dengan kecepatan yang menyesuaikan. Arka mengemudi sendiri. Pikirannya kacau dan kalut. Dari jarak itu, ia dapat melihat melalui kaca belakang mobil ayahnya, adiknya dipeluk oleh ibu tiri yang selama ini ia abaikan. Pemandangan itu membuat dadanya sesak.
Paling belakang, mobil ketiga melaju. Bu Wati mengemudikan mobilnya dengan perasaan yang tak kalah berkecamuk. Haru dan cemas bercampur menjadi satu. Air matanya mengalir, sulit untuk dicegah.
Sambil mengemudi, ia bergumam lirih. "Ya Tuhan, Sutami itu hamba-Mu yang luar biasa baik. Tolong jaga dia selalu. Semoga keluarga barunya, suaminya, dan anak-anak tirinya adalah anak-anak baik yang dapat mencintai Sutami selayaknya ibu mereka sendiri."
Tiga mobil itu melaju beriringan dalam gerimis. Pelan, tertib, tapi berat.
.......
Dua mobil tiba hampir bersamaan di halaman rumah Waluyo saat gerimis mereda tergantikan angin malam yang dingin.
Mbak Rini yang menunggu di ruang tengah langsung berlari kecil ke arah pintu ketika mendengar suara mobil.
Saat melihat Waluyo tergesa turun, lalu diikuti Sutami juga turun, wajahnya menunjukkan kebingungan yang jelas. Sore tadi Sutami pamit pergi dalam kondisi baik-baik saja. Kini, Sutami pulang dalam keadaan compang-camping. Gaunnya robek, kakinya kotor, bahkan mengenakan jas kebesaran, yang ia tahu jelas itu milik tuannya.
Mbak Rini mendekat, hendak membantu memapah Kirana. Matanya sesekali menatap Sutami penuh tanya, tetapi ia tidak berani bertanya.
Sutami memahami kebingungan itu. Ia tersenyum, senyum yang sangat lelah. "Tolong siapkan baju ganti yang nyaman untuk Kirana, Mbak. Aku akan menyiapkan kamar mandi dan air hangatnya," ucap Sutami dengan suara pelan.
Waluyo memapah Kirana hingga ke depan pintu kamar mandi. Langkahnya hati-hati, meski sikapnya tetap kaku.
"Bersihkan dulu badanmu, Kirana," kata Sutami lembut. Bahkan dalam kondisi seperti itu, ia tidak peduli dengan keadaan tubuhnya sendiri. "Apa perlu Ibu bantu?"
Kirana menggeleng pelan, dengan ekspresi yang sulit dimengerti, ia menatap beberapa detik ke wajah Sutami seolah ingin mengatakan, 'Aku bisa sendiri, atau mungkin terimakasih atau permintaan maaf atas sikapnya selama ini,' tapi mulutnya terkunci rapat lalu masuk ke kamar mandi.
Tak lama kemudian, Mbak Rini muncul kembali dari kamar Kirana.
"Baju ganti Non Kirana sudah saya siapkan di kamarnya, Bu," ujarnya.
"Baiklah, terima kasih, Mbak Rini. Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja," jawab Sutami.
Suasana rumah menjadi sangat sunyi. Waluyo yang sempat menghilang beberapa menit setelah Kirana masuk kamar mandi, kembali dengan membawa sebuah handuk bersih dan mengulurkannya pada Sutami. "Kau... Kamar mandi di ruang kerjaku sudah kunyalakan air panasnya, bersihkan juga tubuhmu," ucapnya kaku dan pendek.
Sutami menerima handuk itu dengan canggung dan sedikit ragu.
Waluyo menangkap hal itu. "Bersihkan dirimu dengan nyaman. Biar Mbak Rini berjaga di sini, aku akan melihat Dara sebentar," lanjutnya.
Sutami mengangguk pelan, menatap punggung Waluyo yang naik ke lantai dua, menuju kamar Dara. 'Dia begitu sabar menunggu semua orang tenang, padahal hatinya pasti hancur melihat putrinya. Kalau orang lain pasti sudah menyuruhku menjelaskan apa yang terjadi tadi,' batinnya sembari melangkah.
Di sudut lain, Arka berdiri bersandar pada dinding. Ia belum masuk ke ruang tengah. Tatapannya sulit diartikan, campuran antara cemas, marah, dan bingung. Ia sedang menunggu seseorang menjelaskan kepadanya apa yang sebenarnya telah terjadi.
Ketika akhirnya Waluyo kembali menuruni tangga, Arka segera mengejarnya. "Katakan sesuatu, Yah," kata Arka dengan suara tertahan.
"Tunggu di ruang tengah, tunggu Kirana selesai membersihkan dirinya."
Arka mengepalkan tangannya di sisi tubuh, lalu berjalan menuju ruang tengah, duduk di sofa dengan cemas. Tapi ia tahu, ayahnya membutuhkan waktu sebelum mampu menceritakan semuanya.
"Kuharap ini bukan ulahmu, wanita asing!" gumamnya melirik tajam ke arah ruang kerja Waluyo. Tatapan kebencian yang seolah semakin terpupuk.
...****************...
Bersambung....
nyeselmu tak ada guna🙄🙄...
nikmati racun yg ditebar oleh perempuan yg km anggp malaikat arka😅😅😅
msa pelaku bebas berkeliaran...
biar si lita lngsung di pecat jdi istri pak joko....