Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Mia menengadahkan tangan selepas melaksanakan salat zuhur. Ia meminta kepada Allah agar masalahnya dengan Edo segera usai. Agar sang ayah pulang membawa kabar baik. Kedua telapak tangannya mengusap wajah. "Semoga setelah masalah ini selesai, aku bisa hidup dengan tenang."
"Neng! Makan dulu yuk!" seru Titin dari luar pintu kamar Mia.
"Iya, Bu. Sebentar. Aku mau melipat mukena dulu," seru Mia menjawab.
"Iya. Ibu sudah masak tumis daun singkong kesukaan kamu!" seru Titin sebelum pergi.
"Iya, Bu. Siap!" Mia buru-buru melipat mukena, dan keluar dari kamar. Ia berlari ke dapur, dan langsung duduk di atas tikar yang sudah tergelar di lantai dapur. "Bu, aku lapar sekali," ujarnya menelan ludah.
Titin mengusap kepala Mia. "Makan yang banyak, Nak." Wanita berjilbab ungu itu menyendokan nasi ke piring beserta lauk pauknya dan memberikan kepada Mia. "Nih!"
"Makasih, Bu." Mia menerimanya dengan mata berkaca-kaca. Rasa syukur dan haru memenuhi dadanya karena bisa berkumpul lagi dengan keluarganya.
"Iya, sudah... jangan menangis. Buruan makan. Katanya tadi lapar."
Mia mengangguk. Menyuapkan nasi pertamanya. Setitik air mata hampir jatuh membasahi nasi di piringnya. Namun ia segera menahannya. Membuka obrolan demi mengalihkan rasa sedihnya. "Bu, A Udan masih suka ngojek, nggak?"
"Masih atuh, Neng. Kenapa memangnya?" Titin menjeda kunyahannya.
"Aku mau ngambil uang ke ATM bersama yang ada di terminal. Mau minta dianterin sama A Udan," jawab Mia jujur.
"Oh, ya sudah... telepon saja. Udan pasti mau."
"Iya, Bu. Nanti aku telepon. Nomornya masih yang dulu 'kan?"
"Eh, udah ganti, Nak. Kan HP yang dulu hilang, jatuh di jalan. Nanti deh biar Ibu yang telepon Udan."
Mia mengangguk, melanjutkan lagi makannya.
_____
"Pulang sekarang juga, Do!" Erma membentak Edo di seberang. "Selesaikan dulu masalahmu dengan Mia! Jangan jadi lelaki pengecut!"
"Teh, tapi aku dan Mia sudah tak ada hubungan apa pun. Aku sudah menjatuhkan talak ke dia!" Bukannya sadar, Edo malah balik membentak sang kakak.
Tapi Erma tidak kalah, ia kembali meninggikan suaranya. "Justru karena itu, kehed!" Erma murka saking kesalnya sampai tak sadar berkata kasar di depan kedua orang tuanya dan para tamu. "Kamu harus memberikan bukti surat talak tertulis, dan minta maaf sama Mia dan keluarganya atas apa yang kamu lakukan selama ini! Kalau kamu tidak mau pulang... Teteh sendiri yang akan melaporkan kamu ke polisi. Kebetulan A Iman punya kenalan polisi. Biar dia yang urus semuanya," ancamnya yang membuat Dedah dan Nurhan saling pandang ketakutan.
Edo menegang, "Jangan atuh, Teh. Ya sudah. Hari ini juga aku akan pulang."
"Awas kalau kamu bohong, Edo!" Erma mendesak lagi.
"Iya, Teh."
Panggilan pun dimatikan oleh Erma. Dada perempuan dua puluh delapan tahun itu kembang kempis. Matanya melirik para tamu dan jatuh pada Ayep. "Pak, Edo sudah saya suruh pulang. Dan dia berjanji akan pulang hari ini juga. Bapak tidak usah khawatir. Saya yang akan bertanggung jawab atas masalah ini. Saya akan memastikan Edo memberikan surat talak tertulis juga hak-hak Mia. Saya, atas nama keluarga... memohon maaf yang sebesar-besarnya." Mata yang tadi penuh amarah, seketika berkaca-kaca. "Maafkan kami, Pak. Maafkan kami karena tidak bisa mendidik Edo dengan baik." Air mata Erma akhirnya jatuh juga.
Dedah dan Nurhan hanya terdiam. Keduanya saling melirik, tetapi tak satu pun mengeluarkan sepatah kata maaf. Wajah mereka tampak kaku, seolah permintaan maaf Erma barusan tidak sanggup mereka ikuti.
Erma mengusap air mata yang membasahi pipinya. Ia kemudian menundukkan kepala di hadapan Ayep.
Ayep menghela napas panjang. Tatapannya melunak saat melihat Erma yang masih berdiri dengan mata sembap. "Sudah, Neng. Bapak yang seharusnya berterima kasih," ujar Ayep pelan. "Kamu sudah mau menyambut kedatangan kami dengan baik. Kamu juga sudah berusaha menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin."
Erma menggeleng pelan. "Saya cuma melakukan apa yang memang seharusnya saya lakukan sebagai seorang kakak, Pak."
"Dan Bapak menghargai itu." Ayep mengangguk. "Bapak tahu, tidak mudah buat kamu berdiri di sini dan berhadapan dengan keluarga sendiri. Apalagi kamu harus mengakui kesalahan adikmu."
Erma kembali menunduk. Dadanya terasa sesak.
"Yang penting sekarang Edo sudah mau pulang," lanjut Ayep. "Bapak berharap dia benar-benar menepati janjinya. Bukan cuma karena takut dilaporkan, tetapi karena dia sadar bahwa ada masalah yang harus dia pertanggungjawabkan."
"Iya, Pak. Saya akan memastikan itu," jawab Erma tegas.
Haji Jaenudin yang sejak tadi duduk bersama Ayep ikut berdiri. "Kalau begitu, kami pamit dulu. Mudah-mudahan setelah ini ada jalan keluar yang baik untuk Mia."
Ustaz Husni mengangguk. "Insya Allah. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, selama semua pihak mau jujur dan bertanggung jawab."
Pak RT juga ikut berdiri dan merapikan pecinya.
"Terima kasih banyak, Pak," jawab Erma tulus.
Ayep kemudian mengulurkan tangan kepada Erma. "Jaga diri, Neng. Dan tolong sampaikan kepada Edo, Bapak menunggunya pulang dan segera memberikan surat talak ke Mia."
Erma menjabat tangan Ayep dengan kedua tangannya. "Iya, Pak."
Ayep mengangguk. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawab Erma.
Satu per satu Ayep, Haji Jaenudin, Ustaz Husni, dan Pak RT melangkah meninggalkan rumah.
Erma berdiri di depan pintu, mengantar kepergian mereka dengan pandangan yang masih dipenuhi kekhawatiran.
Begitu pintu tertutup, suasana rumah kembali hening.
Erma mengembuskan napas panjang. Ia menoleh kepada kedua orang tuanya.
Dedah dan Nurhan masih duduk di tempat mereka semula.
Namun, tidak ada satu pun dari keduanya yang mengatakan apa-apa.
Erma menggeleng pelan. Ia tahu, masalah ini belum selesai. Edo harus pulang. Dan kali ini, tidak boleh ada lagi yang membela kesalahannya. "Bapak dan Mama benar-benar keterlaluan. Aku kecewa." Akhirnya ia menumpahkan kekecewaan yang sejak tadi memenuhi dadanya terhadap sikap kedua orang tuanya. "Seharusnya barusan... Bapak dan Mama minta maaf sama Bapak Ayep. Bukan malah diam seribu bahasa."
Dedah dan Nurhan masih diam.
"Aku mau menjemput Najwa dulu di rumah Teh Yeti." Erma membalik badan dan keluar dari rumah itu.
________
"Alhamdulillah... kontrakan sudah kubayar, listrik juga." Mia keluar dari ATM bersama dengan hati bahagia sekaligus lega. "Sekarang tinggal beli keperluan dapur untuk Bapak dan Ibu. Sekalian beliin jajanan buat Malik," lanjutnya menghampiri Udan yang menunggu di parkiran alfamart. "A, aku belanja dulu ya."
"Iya, Mia. Santai we." Udan tersenyum kecil.
Mia pun berjalan masuk ke dalam alfamart untuk belanja. Air matanya nyaris tumpah, karena untuk pertama kalinya, ia bisa membelanjakan uang gajinya tanpa memikirkan keperluan Edo, tanpa memikirkan cicilan motor dan tanpa takut uangnya tak cukup untuk bulan depan. "Jadi janda ternyata tidak seburuk yang aku kira," kekehnya dalam hati.
Sementara itu di Bekasi, Edo tengah memasukan beberapa bajunya ke dalam tas ransel.
Ohang yang bersandar di kusen pintu kamar membuka suara, "Do, padahal lo nggak usah balik. Gantung aja tuh status si Mia biar tahu rasa."
Edo menggeleng cepat. "Nggak bisa, Hang. Kakak gue bukan orang yang suka bercanda. Kalau dia udah ngomong begitu... berarti dia bakal melakukannya. Gue nggak mau masuk penjara. Mending gue kasih surat talak aja buat si Mia."
"Hm," Angguk-angguk kepala Ohang. "Ya udah sih. Semoga masalah lo cepat kelar. Supaya lo buruan balik lagi ke sini."
"Iya, Hang. Setelah masalah ini selesai... gue bakal langsung balik lagi ke sini. Ogah gue tinggal di kampung."
"Sipp! Hati-hati, sobat."
"Iya, Hang." Edo berdiri dan menggendong tasnya. "Gue balik dulu ya."
Ohang mengantar Edo sampai ke teras.
Edo baru saja akan naik ke atas motor saat ponselnya bergetar di saku celana. Edo segera merogohnya dan seketika itu juga, umpatan kasar keluar dari mulutnya, "Setan!"
Ohang terlonjak, "Ada apa, Do?"
Edo mengetatkan rahang.
cemen nya amit amit.
nag kya itu ja g da nyali tp menganiaya bisa ae tu..
dasar banci cocok nya pakai rok aja
untung udah cere ...klo blm bisa hbis rontok tulang gigi dan rambut mu mia😅😅😅