Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Malam yang Tak Kunjung Usai
Sisa malam itu berlalu dengan keheningan yang berat, seakan waktu sendiri ikut berhenti melangkah di rumah Bu Wiyati. Tidak ada yang tidur. Tidak ada yang berani mematikan lampu. Mereka duduk berkelompok di ruang tengah, saling berdekatan, sesekali berbicara dengan suara yang sangat pelan, lalu kembali diam mendengarkan, menunggu, memastikan bahwa tidak ada suara lain yang muncul dari kegelapan di luar. Setiap kali angin berhembus lebih kencang, setiap kali pintu kayu berderit pelan karena perubahan suhu, jantung mereka semua berdegup serentak, menahan napas sejenak sebelum menyadari bahwa itu hanyalah angin. Namun meskipun demikian, tidak ada satu pun dari mereka yang merasa benar-benar tenang. Perasaan diawasi itu tidak hilang sepasang mata yang tidak terlihat terus memperhatikan mereka dari balik dinding, dari balik jendela, dari mana saja.
Ketika fajar perlahan mulai menyingsing di ufuk timur, menyisakan warna ungu pudar dan jingga muda yang menyebar di langit di atas punggung Gunung Api Purba, perlahan-lahan napas mereka mulai terasa lebih lega. Cahaya pagi itu bukan sekadar cahaya matahari itu adalah batas yang jelas antara malam dan siang, antara ketidakpastian dan kenyataan yang bisa disentuh. Namun meskipun begitu, bayangan dari kejadian semalam tidak begitu saja hilang bersama kegelapan. Setiap orang yang ada di ruangan itu tahu apa yang mereka alami semalam bukanlah mimpi, bukan imajinasi kelelahan, bukan sekadar cerita yang ditakuti. Itu nyata. Dan itu berarti rumah kedelapan di atas sana menyimpan rahasia yang jauh lebih besar dan jauh lebih menyakitkan daripada yang mereka bayangkan sebelumnya.
Bu Wiyati muncul dari dapur dengan wajah yang tampak lelah namun tetap tenang. Ia menaruh teko berisi air hangat dan beberapa cangkir di meja kayu di ruang tengah, lalu duduk di kursi paling ujung, menatap mereka satu per satu dengan tatapan yang penuh pengertian, seakan ia sudah tahu apa yang terjadi semalam tanpa perlu ada yang menceritakannya.
"Di sini pagi datang lebih lambat dibandingkan tempat lain," ucapnya pelan sambil menuangkan air hangat ke dalam cangkir, uap panasnya naik perlahan di udara yang masih sejuk. "Dan malam tiba lebih cepat. Tapi selama matahari masih ada di atas sana, tempat ini tetap milik kita. Kita bisa bergerak, kita bisa melihat, kita bisa berpikir dengan jernih. Manfaatkanlah waktu itu sebaik-baiknya."
Raka menerima cangkir yang diberikan kepadanya, tangannya masih terasa sedikit gemetar. Ia menatap Bu Wiyati dengan tatapan penuh pertanyaan yang belum sempat terucap. "Bu Wiyati... apakah Bunda pernah mendengar suara itu sebelumnya? Suara perempuan yang mencari anaknya?"
Bu Wiyati terdiam sejenak, tangannya berhenti mengaduk air di cangkirnya. Ia menatap ke arah pintu depan, ke arah halaman yang kini mulai diterangi cahaya pagi yang lembut, namun matanya seakan melihat sesuatu yang jauh di masa lalu.
"Suara itu tidak asing bagi siapa pun yang tinggal di sini," jawabnya pelan, suaranya datar namun menyembunyikan kesedihan yang mendalam. "Dulu, ketika rumah itu baru selesai dibangun, sebelum semuanya berubah... suara itu sering terdengar di pagi hari, memanggil nama Ardita. Suara Bu Isma. Lembut, penuh kasih sayang. Tapi setelah itu... suara itu berubah. Menjadi lebih cemas, lebih putus asa. Dan semakin lama, semakin jarang terdengar di siang hari. Ia hanya muncul saat cahaya mulai meredup, saat batas antara dua dunia mulai menipis kembali."
"Apakah Bunda pernah melihatnya?" tanya Laras pelan, matanya berkaca-kaca. "Secara langsung?"
Bu Wiyati menggeleng pelan. "Tidak pernah. Dan itu bukan karena ia tidak mau terlihat. Tapi karena kita belum siap untuk melihatnya. Di kampung ini, ada pepatah lama — 'Mata yang belum bersih hanya akan melihat bayangan, bukan kenyataan'. Mungkin suatu hari nanti, jika hati kalian cukup bersih dan cukup tenang... kalian bisa melihatnya. Tapi sampai saat itu tiba, cukup dengarkan saja. Dengarkan dengan hati, bukan dengan rasa takut."
Dimas yang sejak tadi diam mendengarkan, akhirnya berbicara. Wajahnya tampak serius, matanya menatap ke arah jalan setapak yang menuju ke atas bukit, ke arah rumah kedelapan yang kini mulai terlihat jelas di bawah cahaya pagi berdiri tegak, kokoh, namun terasa begitu sepi dan dingin meskipun matahari sudah menyinari dindingnya.
"Kita tidak bisa terus menghindarinya," ucapnya tegas namun lembut. "Kita datang ke sini untuk syuting, untuk bercerita. Tapi sepertinya cerita yang sebenarnya baru saja dimulai. Dan kalau kita benar-benar ingin memahami tempat ini... mungkin kita harus berani melangkah lebih dekat. Bukan untuk menakuti, bukan untuk mengganggu... tapi untuk mencari tahu kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik dinding rumah itu."
"Kau mau naik ke atas?" tanya Raka terkejut, matanya membelalak. "Sekarang? Di siang hari?"
"Justru di siang hari," jawab Dimas mantap. "Saat cahaya masih kuat, saat batas dunia masih tebal. Kita tidak akan masuk ke dalam rumah itu. Kita hanya melihat dari dekat, memeriksa keadaan sekitar, memastikan apakah ada sesuatu yang bisa kita temukan sesuatu yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga itu. Kalau kita pergi saat siang hari, risikonya jauh lebih kecil daripada saat malam tiba."
Suasana ruangan itu hening sejenak. Beberapa orang kru tampak ragu, wajah mereka masih menunjukkan ketakutan yang belum hilang. Namun di sisi lain, rasa ingin tahu yang semakin besar mulai mengalahkan rasa takut itu. Mereka semua tahu selama mereka masih berada di sini, misteri itu akan terus mengikuti mereka. Dan mungkin, satu-satunya cara untuk berhenti merasa takut adalah dengan menghadapinya secara langsung.
"Aku ikut," kata Raka akhirnya, menatap Dimas dengan tatapan teguh. "Aku tidak akan membiarkan kalian pergi sendirian. Tapi kita harus berjanji tidak ada yang melanggar batas. Tidak ada yang masuk ke rumah itu tanpa izin, tanpa persiapan, tanpa kita ketahui bersama. Dan kalau ada yang merasa tidak enak hati, kita langsung turun. Tanpa ditanya, tanpa ditunda."
"Aku juga ikut," ucap Laras pelan namun tegas. "Mungkin... mungkin aku bisa merasakan sesuatu. Siapa tahu aku bisa membantu."
Bu Wiyati hanya mengangguk pelan, seakan sudah menduga hal ini akan terjadi. Ia berdiri dan mengambil sebuah benda kecil dari lemari kayu di sudut ruangan sebuah keris pusaka yang dibungkus kain kain hitam tua, dan seikat bunga melati yang masih segar. Ia memberikannya kepada Dimas.
"Bukan untuk menyakiti," ucapnya pelan. "Tapi untuk menunjukkan rasa hormat. Bawa ini. Dan sebelum mendekati rumah itu... ucapkan salam. Katakan bahwa kalian datang bukan untuk mengganggu, tapi untuk mencari tahu. Itu saja yang bisa kalian lakukan. Sisanya... tergantung pada mereka yang ada di dalam sana."
Dimas menerima benda itu dengan kedua tangan, menunduk penuh hormat. "Terima kasih, Bu Wiyati. Kami ingat pesan Bunda."
Perlahan, satu per satu kru menyatakan ikut sebagian karena berani, sebagian karena tidak ingin tertinggal sendirian, dan sebagian lagi karena merasa bahwa mereka harus tahu kebenaran itu agar bisa pulang dengan tenang. Mereka berbagi tugas beberapa orang tetap tinggal di rumah Bu Wiyati bersama Bu Wiyati untuk menjaga perlengkapan dan menjadi titik hubung, sementara yang lain bersiap naik ke atas bukit bersama Raka, Dimas, dan Laras.
Langkah kaki mereka terdengar berat namun mantap saat meninggalkan halaman rumah Bu Wiyati, menapaki jalan setapak yang kini terlihat jelas di bawah cahaya matahari pagi yang semakin terang. Udara pagi itu terasa segar, bersih, dan menyegarkan namun setiap langkah yang mereka ambil semakin mendekati rumah kedelapan itu, udara perlahan berubah menjadi lebih dingin, lebih berat, seakan tempat itu sendiri sedang menanti kedatangan mereka.
Dan di kejauhan, di balik jendela lantai atas rumah kedelapan yang gelap itu, sepasang mata menatap ke bawah mengawasi, menunggu, dan seakan tahu bahwa hari ini sesuatu yang baru akan terjadi.