"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."
Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?
💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB SEMBILAN: Ruang Teduh (Bagian 3)
“Udah lama ya nggak kesini?” pagi-pagi buta aku menjemput Ara untuk membantuku mendekorasi kamar. Entah kenapa aku gatal sekali melihat kamarku yang jadi kusam karena jarang ditempati.
“Iya, nih. Terakhir ya waktu bantuin kamu packing buat ke Bandung dulu,” Ara mengambil gulungan wallpaper yang kami beli kemarin dan menyerahkannya padaku.
“Ih, lama banget itu. Kenapa nggak pernah ke sini sendiri?” kucongkel tutup kaleng lem yang ada di dekat kakiku. Ara menaiki kursi dan kembali membersihkan dinding kamarku yang berdebu.
“Ngapain coba? Mau nyamperin siapa juga?”
“Ya kan ada mas Galuh yang ngurusin rumah ini. Barang-barangku sama Ian juga ada yang di sini. Lagian meskipun jarang ditempati rumah ini nggak ada hantunya kok, Chan,” yah, kuakui aku kesulitan menghentikan kebiasaanku untuk tidak menggoda Ara. Contohnya seperti racauan hantu yang kulakukan barusan.
“Jangan mulai, deh! Aku kan nggak ke sini karena nggak tahu kalau rumah ini ternyata nggak dijual. Bukan karena takut sama hantu,” sekadar info, Ara paling benci dengan hal-hal berbau mistis. Seringkali dia kuminta menemaniku menonton film horor. Tapi jangankan menonton, dia malah memasang headset dan tidur bersandar padaku. Pernah suatu hari dia memainkan game di komputerku. Saat itu aku sedang di lantai bawah. Tiba-tiba saja Ara memekik dan membuatku panik hingga buru-buru naik untuk mengeceknya. Ketika kulihat komputerku sudah memunculkan gambar sejenis leak yang berarti Ara gagal menyelesaikan misi di level itu, aku baru sadar jika Ara sudah pucat pasi. Aku tertawa sambil memeluknya. Jahat sih, tapi kamu harus tahu bagaimana lucunya ekspresi Ara waktu itu.
“Masa sih nggak takut?” aku merecokinya lagi.
“Ih!” dengan segera Ara melempar kain lap basah yang sudah penuh debu ke wajahku. Aku terpingkal. Tidak, aku tidak kapok.
“Bapak dan ibu ke mana? Kok rumah kosong waktu aku jemput kamu tadi?” aku mengalihkan pembicaraan.
“Oh, mereka pergi ke Surabaya, jengukin nenek. Mumpung kantor mas Aris libur gitu,” Ara menggeser kursinya dan mengelap kaca jendela kamarku yang menghadap ke kebun.
“Oh ya? Kenapa kamu nggak ikut aja?” padahal aku berharap bisa bertemu dengan ibu Ara. Well, setor muka ke calon mertua kan penting juga.
“Kalau aku ikut, yang bantuin kamu siapa? Lagian, mereka perginya udah dari kemarin kok. Ibu juga tahu kalau aku janji mau bantuin kamu makanya aku nggak dipaksa ikut. Oh iya, orang rumahmu sendiri apa kabar?”
“Bapak ibu sehat semua, ibu bahkan masih ngajar sampai sekarang. Kalau mbak Senja sih tahun depan bakal married,” kalimatku barusan membuat Ara menoleh.
“Oh ya? Dapet orang mana?” nada pertanyaannya penuh rasa antusias. Membuatku berpikir kalau Ara juga ingin menikah secepatnya. Aduh, kenapa aku jadi mulas?
“Orang Bandung aja kok. Sesama perawat di rumah sakit gitulah,” semoga saja aku tidak salah ingat soal asal calon kakak iparku itu. Aku tidak terlalu perhatian dengan detail laki-laki yang tidak lebih tinggi dariku itu sih. Yang kuingat hanya fakta bahwa laki-laki itu sangat memenuhi kriteria mbak Senja. Kalem, sabar, dan anak baik-baik. Jelas sekali bukan seperti adiknya ini.
“Aww, that’s sweet. Kalau piket bareng bisa kencan di rumah sakit,” celetukan Ara itu sontak membuatku melongo.
“Kamu ini kebanyakan nonton drakor ya? Mana bagian sweetnya dari kencan di rumah sakit? Yang ada malah horor kali, Chan,” aku menggelitik pinggang Ara saking gemasnya. Gadis itu menjerit-jerit dan berlari menjauh dariku. Kutertawakan saja tingkahnya dan kembali melanjutkan kesibukanku dalam menempelkan wallpaper yang sudah berlabur lem. Beberapa detik kemudian Ara sudah kembali di sampingku, merentangkan tangannya selebar mungkin agar bisa menempelkan wallpaper motif kayu itu dalam sekali jangkauan. Kulirik dia dengan sudut mataku. Aku menelan ludah. Baru kali ini aku benar-benar memperhatikan tubuh Ara yang, you know, mengundang mataku untuk jelalatan. Apalagi ketika dia sudah melepas sweater yang menutupi lekuk tubuhnya. Damn!
“Ini ditempelin semua kan, Chan?” pertanyaan Ara membuatku tersentak.
“Ha? Oh, iya semua,” bisa kurasakan wajahku memerah. Tanpa kujelaskan secara detail kamu juga pasti tahu pikiranku sudah sampai mana saja.
“Udah kamu ukur belum?” Ara membungkuk membelakangiku. Oh man!
“Ngg...udah kok, udah,” aku menjawab dengan linglung. Kutampar sendiri pipiku. Zang, fokus!
Kugelengkan kepalaku cepat-cepat dan bergegas berlari ke kamar mandi di lantai bawah. Kubasuh wajahku beberapa kali. Masih kurasakan panas di sekujur tubuhku. Kulangkahkan kakiku menuju dapur. Dengan cepat membuka lemari es dan kuhabiskan sebotol air mineral dingin dalam sekali tenggak.
“Chan!!” teriak Ara mencariku. Mendengar suaranya saja tiba-tiba darahku berdesir. Aku kenapa sih ini?
“Coming!” jawabku sembari menyahut botol lain di dalam lemari es. Sesampainya di kamar, kulihat Ara dengan susah payah berusaha menggapai ujung tembok yang jelas-jelas cukup jauh dari jangkauannya.
“Kalau udah tahu bakal nggak nyampe, harusnya pakai kursi dong, Chan!” kuletakkan botol yang kubawa di atas meja dan dengan segera membantu Ara. Aku menjangkau ujung wallpaper bahkan tanpa berjinjit. Terima kasih pada ayahku karena memberikan gen tinggi pada anak laki-lakinya. Ara, yang berdiri persis di depanku, hanya terkekeh saja. Dia menggeser tubuhnya, dengan tanpa sengaja menyentuh tiap inci tubuhku yang menempel padanya. Mendadak membuatku hilang akal karena bisa mencium aroma tubuhnya yang menguar dari lehernya yang terbuka.
“Udah lama ya kita pacaran?” dengan susah payah aku memulai percakapan sederhana itu. Ara mengerlingku sebelum kembali menekan-nekan kertas bercorak di hadapannya dengan telapak tangan.
“Mm...iya kali ya? Aku lupa.”
“You must be kidding me,” sahutku tak percaya.
“No. Aku seriusan lupa kok. Emang ada lupa pura-pura?” kuncir kuda Ara mengikuti gerakan kepalanya. Dia bergeser lagi, kuikuti dia dengan mendaratkan daguku di bahunya.
“If you keep doing that, I’ll kiss you.”
“Ugh! You won’t dare!” Ara mencibir.
“You think so? Nggak ada Ian lho sekarang,” perlahan, kukecup leher Ara. Kuhirup wanginya dalam-dalam. Hm, insting hewanku sudah hampir sampai di ubun-ubun.
“Apa hubungannya?” Ara bahkan seperti tak menyadari bahaya apa yang sedang mengincarnya sekarang.
“Means nobody will stop me to do exactly that.”
“Oh, no!” Ara malah tertawa. Fatalnya, otakku menangkap tawa itu sebagai godaan. Dan undangan.
“Oh, yes. I’m a grown up guy, I can even make you pregnant. Wanna try?” kutekan ujung wallpaper terakhir di bawah telapak tanganku sebelum memerangkap Ara dengan lenganku di lingkaran pinggangnya. Menguncinya rapat dengan tubuhku. Bibirku tak lepas menelusuri lehernya yang jenjang.
“Chan!!!” Ara menyikutku.
“Kidding...” kulepas rengkuhanku seketika. Tapi seperti singa kelaparan, aku tiba-tiba mengurungkan niatku untuk melepaskan buruan. Ara baru akan berjalan menjauhiku ketika aku sudah tidak ambil pusing dengan perdebatan malaikat dan setan di kiri kanan. Kutarik lengan Ara dan menahannya dengan satu tangan di belakang punggungnya. Kucium Ara, dengan paksa melesakkan lidahku ke dalam mulutnya. Cepat, dan Ara sudah terengah-engah karena tingkah liarku.
“You said you were kidding!” Ara memelototkan matanya tepat ke kedua mataku. Aku menggigit bibirku.
“Yes, but not about the kisses.”
“Kisses???” pekik Ara. Aku mengembangkan cengiran nakal. Kudekatkan lagi bibirku ke arahnya. Buru-buru Ara memejamkan matanya. Buruanku pasrah, tak bisa lari karena lenganku mengungkungnya dan lagi akan percuma melawanku yang sulit teralihkan seperti sekarang. Kusapukan bibirku pelan ke pipinya dan terhenti di bawah hidungnya. Hangat.
“Aku mencintaimu...” bisikku sebelum aku mengulum bibirnya lagi. Lembut. Lama.
...***...