"Setiap orang punya satu nama dari masa SMA yang tak pernah benar-benar hilang." Ini adalah suara kejujuran Satria untuk sosok di masa lalunya—tentang rahasia di balik seragam putih-abu-abu, luka yang mendewasakan, dan keberanian melepaskan demi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab2- Pertemuan Pertama Kita
Pagi yang sangat cerah di bawah langit yang indah. Pikiranku saat itu hanya dipenuhi satu hal: aku tidak sabar ingin bertemu dengannya lagi. Pertemuan pertama kami adalah momen yang tidak akan pernah kulupakan sampai kapan pun—salah satu kenangan paling manis yang pernah kuukir di masa-masa putih-abu-abu.
Dengan semangat membara, aku bergegas memakai seragam sekolah. Tak lupa, kuusapkan parfum dalam jumlah yang cukup banyak. Agak norak memang, bahkan bisa dibilang aku seperti orang mandi pakai parfum. Namun, demi membuat kesan pertama yang berbekal wangi, aku tak peduli.
Sesampainya di sekolah, aku bergegas melangkah menuju kelas. Ternyata Diko sudah duduk manis di dalam. Kami pun berbincang-bincang santai sembari berkenalan dengan teman-teman baru yang berada di ruangan itu. Suasananya hangat dan akrab, tanpa ada rasa canggung sedikit pun.
Tak terasa, bel masuk sekolah berbunyi. Aku sempat merasa kecewa karena perempuan yang kucari-cari itu belum juga kelihatan batang hidungnya.
Apakah hari ini dia tidak masuk? Atau jangan-jangan dia sebenarnya bukan anggota kelas ini? pikirku cemas.
Tiba-tiba, terdengar deru suara motor memasuki area parkiran sekolah. Sebuah motor bebek berwarna merah dengan suara raungan mesin khas—seperti saringan udaranya sengaja dilepas. Pengendaranya mengenakan helm dengan kaca tertutup rapat, tetapi uniknya, helm itu dipasang begitu melenceng ke atas hingga hanya menutup keningnya saja.
Melihat pemandangan itu, aku terkekeh. Ternyata pengendara motor itu adalah perempuan yang kutunggu-tunggu sejak tadi! Dasar manusia unik. Kehadirannya yang eksentrik makin menyulut rasa penasaranku.
Setelah memarkirkan motor, dia bergegas berlari kencang menuju ruang kelas. Begitu sampai di dalam, dengan napas terengah-engah, dia langsung duduk persis di bangku yang berada tepat di depanku.
Tanpa basa-basi, dia memutar tubuhnya dan menjulurkan tangan dengan raut wajah yang masih kusam, jilbab agak berantakan, serta deru napas yang belum teratur.
"Halo, saya Nara!" sapanya mengajak kenalan.
"Halo juga. Saya Satria... dan kamu cantik," jawabku spontan, tanpa disaring terlebih dahulu.
Aku menyambut uluran tangannya, menggenggamnya dengan lembut tanpa buru-buru melepasnya, lalu memandang wajahnya dengan tatapan bengong.
"Ahhh... aku cantik? Yang benar saja! Kamu mengejekku, ya?" balasnya bingung dengan penyataan dadakanku.
"Tidak, kamu memang cantik," ulangku mantap sembari memamerkan senyuman terbaik yang bisa kubentuk.
"Iya, iya, aku cantik... Kamu juga ganteng, kok," timpalnya sambil membalas senyumanku.
Namun, jemariku masih tetap menggenggam jemarinya.
"Lepaskan, dong... Nanti kalau kamu menggenggam tanganku terus, kamu bisa suka padaku, lo. Walau jelek begini, peletku kuat, lo!" ujarnya canda seraya menarik tangannya perlahan.
"Assalamualaikum!"
Pintu kelas terbuka. Seorang guru melangkah masuk. Beliau adalah Pak Mukti, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan.
"Waalaikumsalam!" sahut kami serentak.
Pak Mukti terkenal dari masa ke masa dengan ketegasannya kepada siapa pun. Beliau tak segan memarahi—bahkan memberikan sanksi fisik—jika ada siswa yang bertindak melampaui batas. Namun, di balik sikap tegas itu, beliau adalah sosok yang ramah dan amat disegani. Pak Mukti selalu menjadi guru yang paling paham dan berpihak pada para siswa.
Beliau juga punya julukan yang sangat legendaris: Si Jari Sakti. Agak aneh memang, tetapi jika Pak Mukti sudah mengacungkan jarinya menunjuk ke suatu sudut, area yang tadinya bising akan seketika hening. Keadaan yang tadinya ramai akan berubah menjadi senyap. Para murid bahkan lebih takut pada tunjukan jari Pak Mukti ketimbang guru yang marah-marah sambil membawa rotan. Beliau tidak ditakuti karena ancaman, melainkan sangat dihormati dan disegani.
"Selamat pagi, Anak-anak," sapa Pak Mukti hangat.
"Pagi, Pak!" jawab kami serentak.
"Selamat datang di sekolah baru kalian, salah satu SMA terbaik di kota ini. Bapak harap kalian bangga berada di sini. Di sekolah ini, ada beberapa peraturan yang harus kalian pahami dan taati. Terutama untuk laki-laki, lingkar celana tidak boleh kurang dari 18 cm. Dan untuk perempuan, rok tidak boleh berada di atas mata kaki..." Pak Mukti mulai memaparkan aturan-aturan sekolah.
"Iya, Pak! Siap!" sahut kami bersamaan.
"Oh ya, seperti yang kalian ketahui, di kurikulum terbaru ini kalian langsung dibagi ke dalam kelas IPA dan IPS sejak kelas X. Kelas ini akan terus bertahan sampai kalian kelas XII nanti. Dengan kata lain, kalian akan terus bersama di dalam satu kelas yang sama selama tiga tahun," lanjut Pak Mukti.
Wah, berarti kami akan selalu bersama sampai kelas XII? Apa tidak bosan, ya? Dan aku akan satu kelas terus dengan Nara... Ah, ini pasti akan sangat seru sekaligus merepotkan, batinku.
Jika dilihat dari gesturnya, Nara tampak seperti anak yang pintar dan aktif. Namun, ia bukan tipe murid pintar yang membosankan.
Di hari kedua ini, kegiatan belajar-mengajar belum berjalan efektif. Kami masih sibuk menyusun jadwal pelajaran semester satu dan menentukan pengurus kelas. Ketika tiba saatnya memilih ketua kelas, Ibu Fatimah—wali kelas kami—bertanya kepada seluruh isi ruangan.
"Siapa di antara kalian yang siap menjadi ketua kelas?"
Tanpa pikir panjang, aku berseru kencang, "IBU! DIKO SAJA, BU! DIKO!"
Di luar dugaan, teman-teman sekelas langsung menyahut ucapanku dengan kompak dan riuh.
"Iya, Bu! Diko saja! Setujuuuuuuu!" seru mereka sambil menahan tawa.
Diko langsung memutar kepala dan menatapku dengan sudut mata yang sinis—seperti lirikan seorang psikopat yang siap menerkam mangsanya.
"Tapi, Bu... Tapi saya—" potong Diko mencoba membela diri.
Namun sebelum Diko menyelesaikan kalimatnya, Ibu Fatimah sudah memotong duluan.
"Sudah, sudah, jangan ribut. Nah, Diko, jangan tapi-tapi lagi. Dijalani saja dulu. Teman-temanmu sekelas semuanya setuju, kok."
"Iya, Bu! Setuju! Jangankan 100%, 1000% kami setuju!" tambah seluruh isi kelas kompak.
"Oke, kalau begitu Diko resmi jadi ketua kelas. Ibu berharap kalian bisa menghargai Diko, dan Ibu yakin Diko akan menjadi ketua kelas yang bijaksana."
Diko langsung meremas pahaku dengan sangat kencang dan berbisik tepat di telingaku, "BAJINGAN KAU, SATRIA!"
Aku yang tak bisa menahannya lagi langsung meledak dalam tawa. "HAHAHAHAHAHA!" Tawa bahagiaku menggema keras di seluruh penjuru ruang kelas.
Setelah pembagian pengurus kelas usai, tidak ada lagi guru yang masuk. Kelas kami pun kosong.
Kulihat Nara sedang duduk sendirian di depanku. Iseng, aku mulai menjahilinya. Kudorong-dorong sandaran kursinya menggunakan kaki dari belakang hanya untuk mencuri perhatiannya.
"Satria, sudah, Satria..." tegurnya lembut tanpa menoleh.
"Hey, Satria, sudah..." ulang Nara mengingatkan.
Namun dasar aku yang jahil, aku terus menggoyang kursinya tanpa henti. Aku penasaran ingin melihatnya marah—meski konon katanya amukan wanita itu sangat mengerikan.
"HEY, SATRIA! SUDAH DONG! JANGAN KAYAK GITU TERUS!" serunya tiba-tiba sambil membalikkan badan dan memukul meja. Wajahnya dipasang seraut ekspresi kesal.
Namun jujur saja, raut wajahnya saat marah justru terlihat sangat lucu. Itu bukan ekspresi orang yang benar-benar kesal, melainkan raut wajah orang yang sedang sok imut. Dengar-dengar mungkin terkesan berlebihan, tetapi itulah kenyataan yang kulihat saat itu.
"Iya, deh, maaf, maaf... Tapi serius, sepertinya aku pernah melihatmu sebelumnya, deh. Atau cuma perasaanku saja, ya?" usulku mencoba mencairkan suasana.
"Ah, mana mungkin! Saya ini murid pindahan dari kota sebelah," jawab Nara. (Mohon maaf, nama kotanya tidak bisa kusebutkan, tetapi yang jelas jaraknya cukup jauh dari kota tempat kami tinggal sekarang).
"Oalah, dari kota sebelah? Kok bisa pindah ke sini? Di sana kan enak," sambungku heran.
"Ayahku pindah dinas, jadi kami sekeluarga terpaksa ikut pindah," terang Nara.
"Oalah... Tapi serius, aku merasa pernah melihatmu di suatu tempat," lanjutku mulai mengeluarkan jurus. Aku mencoba menyetel nada suaraku seberkarisma mungkin dan memasang ekspresi setampan mungkin.
"Emm... Di mana, ya?" Nara mulai penasaran.
"Ayo, coba ingat-ingat lagi!" desakku.
"Emmmm, menyerah, deh! Kayaknya aku lupa," sahut Nara menyerah.
"Kayaknya... di dalam mimpiku, deh."
Boom! Gombalan mautku akhirnya meluncur.
"Emmmm..."
Nara menatapku cukup lama, lalu perlahan mengulas senyuman yang sangat manis.
Jujur saja, dalam momen itu bukannya aku yang berhasil melumpuhkan Nara dengan gombalan, tetapi justru sebaliknya. Niat hati ingin membius Nara, aku malah dibuat tak berkutik oleh senyumannya yang luar biasa manis.
Aku masih mengingat momen itu dengan sangat jelas. Jika ada cermin di depan wajahku saat itu, mungkin mukaku sudah memerah padam. Bukannya dia yang salah tingkah, justru aku sendiri yang jadi salah tingkah dibuatnya. Beruntung warna kulitku tidak terlalu putih, jadi warna merah di pipiku tidak begitu kentara.
Sebelum momen itu berakhir, aku memberanikan diri meminta akun media sosial dan nomor ponselnya. Di zaman kami dulu belum ada WhatsApp; yang populer saat itu adalah PIN BBM dan Facebook. Alhamdulilah, Nara memberikan semuanya tanpa ragu.
Ya, itulah momen pertama kali kami bertemu dan saling mengobrol. Kisah kami pun resmi dimulai dari sana. Mengingat kembali pertemuan pertama itu selalu menghadirkan tawa. Betapa beraninya seorang anak ingusan yang baru lulus SMP mencoba menggombali seorang gadis yang baru dikenalnya.
(Bersambung)