Indonesia
NovelToon NovelToon
MENIKAHI MANTANKU

MENIKAHI MANTANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Satu Atap Bersama Mantan

Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.

Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.

Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.

Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.

Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 : Bisik-Bisik Kantor

Kejadian ciuman tak sengaja malam itu menyisakan kecanggungan diantara mereka.

Selama dua hari pertama, mereka berdua seperti kucing dan anjing yang salah tingkah. Tiap kali pandangan mata mereka bertemu, Aira bakal langsung membuang muka sambil pura-pura sibuk membolak-balik majalah, sementara Devan mendadak heboh berdeham kencang sambil sibuk meminum air putih.

Namun, yang namanya Devan dan Aira, gengsi mereka jauh lebih besar dibanding rasa canggung itu sendiri.

Hanya butuh waktu sebentar bagi mereka untuk kembali ke pola hubungan semula. Adu mulut, lempar kalimat sarkas, dan adu argumen tak mau kalah kembali mewarnai keseharian mereka.

Bedanya, kini ada desiran aneh dan letupan cemas manis di hati mereka tiap kali berdekatan—sebuah rahasia kecil yang sama-sama enggan mereka akui.

Pagi itu, mobil Devan membelah kemacetan Jakarta menuju gedung perkantoran Hermawan Group.

"Rapiin tuh kemeja lu, jangan bikin malu di kantor," cetus Aira dari kursi penumpang, merapikan letak blazer kerjanya sambil melirik Devan.

Devan yang memutar kemudi menyunggingkan cengirannya. "Muka ganteng kayak gue mana bisa bikin malu, Nyonya? Yang ada karyawan Papi lu pada terpesona ngeliat menantu kesayangannya dateng."

"Dih, pede nembus langit!" sembur Aira, memutar matanya malas.

Mobil berhenti tepat di depan lobby utama gedung kantor Aira. Aira menyambar tasnya, baru mau membuka pintu, tiba-tiba Devan menahan bahunya pelan.

"Nanti sore lu balik jam berapa? Biar gue jemput," tanya Devan.

"Gue balik agak awal hari ini. Mau nongkrong sebentar sama Sandy," sahut Aira. "Nanti gue chat lu kalau udah sampai rumah. Lu gak usah repot-repot jemput."

"Oke. Jangan keluyuran gak jelas tapi ya," ancam Devan.

Aira mendengus, melangkah keluar mobil tanpa mengindahkan ancaman Devan, walau bibirnya menyunggingkan senyuman tipis begitu pintu mobil ditutup.

Setelah menurunkan Aira, Devan langsung meluncur ke gedung perkantoran miliknya sendiri di kawasan pusat bisnis.

Namun, begitu Devan melangkah melewati pintu kaca lobby dan berjalan menuju lift khusus eksekutif, ia menyadari suasana aneh di sekitarnya. Beberapa staf admin dan karyawan marketing yang biasanya menyapanya dengan senyuman ramah tiba-tiba berbisik-bisik pelan sambil menatapnya dari jauh.

Tepat saat Devan melangkah keluar lift di lantai area kantornya, gosip miring itu akhirnya terdengar makin jelas.

Malam gala bisnis beberapa hari lalu rupanya berbuntut panjang. Foto-foto kebersamaan Devan dan Aira di acara tersebut tersebar luas di media berita hiburan dan akun-akun gossip. Namun, entah dari mana asalnya, narasi yang beredar justru diplintir oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab.

Pernikahan mereka yang berlangsung tertutup memicu spekulasi liar. Banyak yang menyebut Aira sebagai 'cewek panjat sosial' yang sengaja menggaet Devan demi memanfaatkan kekayaan keluarga Argawinata.

Awalnya, Devan memilih mengabaikan kabar burung itu. Menurutnya, dunia bisnis emang selalu dipenuhi orang-orang iri yang asal jepret dan asal ketik. Selama tidak mengganggu operasional perusahaan, Devan merasa hal itu masih dalam tahap aman dan tidak perlu diperbesar.

Namun... niat Devan buat tetap tenang, hilang begitu masuk waktu siang.

Saat Devan hendak keluar dari ruang kerjanya menuju ruangan rapat, ia secara tidak sengaja melewati area pantry lantai atas. Pintu pantry sedikit terbuka, dan dari dalam, suara kasak-kusuk beberapa karyawannya terdengar sangat jelas.

"Seriusan lu? Berarti istrinya Pak Devan itu cuma cewek biasa yang beruntung dapet bos kita?" suara seorang staf wanita terdengar berbisik heboh.

"Iya! Lu liat aja cara berpakaiannya pas di gala kemarin, sengaja banget kan pamer bahu begitu buat narik perhatian investor? Katanya sih dia cuma cewek simpanan yang maksa minta dinikahin gara-gara mau nguras harta Pak Devan!" timpal suara karyawan lain penuh nada sinis dan fitnah tak berdasar.

"Duh, kasihan banget Pak Devan ya. Ganteng, kaya, tapi dapet cewek matre yang cuma bisa porotin uang..."

Brak!

Devan mendorong pintu pantry agak keras.

Tiga karyawan yang sedang asyik bergosip di dalam seketika membeku.

"Pak... Pak Devan..." cicit salah satu dari mereka gemetaran.

Devan menatap mereka satu per satu dengan tatapan tajam.

Di dalam hatinya, Devan bener-bener kesal setengah mati. Emosinya membakar sampai ke ubun-ubun mendengarkan fitnah murahan itu. Tapi di sisi lain... Devan juga agak kebingungan bagaimana cara membela Aira secara keren tanpa terkesan emosional.

Faktanya... Aira itu putri bungsu dari Surya Hermawan! Keluarga Aira itu konglomerat papan atas yang hartanya sama sekali gak kalah melimpah dibanding keluarga Argawinata.

Mengatakan Aira 'memanfaatkan kekayaan Devan' adalah lelucon paling tidak masuk akal di dunia. Aira bahkan punya lini bisnis dan warisan sendiri yang jumlahnya bisa bikin orang menggelengkan kepala!

"Jam kerja dipake buat nyebar fitnah gak bermutu," suara Devan meluncur sangat rendah dan dingin. "Kembali ke meja kalian sekarang. Sekali lagi gue denger kasak-kusuk sampah kayak gini di area kantor, surat pemecatan kalian langsung gue tanda tangani hari ini!"

"B-baik, Pak! Maaf, Pak!"

Tiga karyawan itu langsung melesat keluar pantry dengan tubuh gemetaran, meninggalkan Devan yang berdiri menyandarkan punggungnya di dinding pantry, mengepalkan tangannya dengan rasa gelisah dan amarah.

Sore harinya, Devan melangkah masuk ke dalam penthouse dengan pikiran yang agak kalut.

Suasana ruang tengah sudah ramai oleh alunan suara televisi. Seperti yang sudah diinfokan Aira via chat sebelumnya, cewek itu memang sudah pulang lebih awal setelah nongkrong sebentar dengan Sandy.

Di atas sofa, Aira sedang meluruskan kakinya, memangku laptop sambil menempelkan HP-nya di telinga. Cewek itu tampak sedang sibuk bertelepon ria dengan mami dan papinya, tertawa-tawa renyah sambil menceritakan kejadian konyol Sandy tadi siang.

Melihat Aira yang kelihatan santai dan bahagia begitu, rasa sesak di dada Devan agak sedikit terangkat. Devan meletakkan jas kerjanya di sandaran sofa, lalu mendudukkan diri di samping Aira secara perlahan.

Ia bermaksud menunggu Aira selesai menelepon demi menyampaikan keluh kesahnya dan masalah gosip miring yang bikin kepalanya pusing seharian ini.

"Iya, Papi... Mami gak usah khawatir, Aira sehat kok. Masakan Devan juga makin enak," kekeh Aira di telepon, tak menyadari Devan yang sudah duduk manis mengawasinya dari samping.

Setelah hampir sepuluh menit mengobrol santai, Aira akhirnya mengakhiri panggilan teleponnya. "Ya udah ya, Mi, Pi. Aira mau mandi dulu. Love you!"

Klek.

Aira mematikan sambungan telepon, meletakkan HP-nya di atas meja, lalu membalikkan badan. Cewek itu kaget kecil begitu mendapati Devan sudah duduk sangat dekat di sampingnya dengan raut muka yang kelihatan serius.

"Kapan lu nyampe? Tumben gak ada suaranya?" tanya Aira sambil mengernyitkan alisnya.

Devan menghela napas panjang, mengusap leher belakangnya dengan canggung.

"Ra... gue mau ngomong sesuatu," Devan memulai dengan intonasi yang lumayan serius. "Di kantor gue tadi... ada gosip miring soal lu."

Aira menaikkan sebelah alisnya, merapikan letak duduknya. "Gosip apa?"

Devan menatap mata Aira, ada nada bersalah dalam suaranya. "Gara-gara foto kita di gala kemarin, media sama karyawan kantor gue pada heboh. Mereka... mereka nyebar fitnah bilang kalau lu itu cewek panjat sosial. Bilang kalau lu nikahin gue cuma demi porotin harta dan memanfaatkan kekayaan gue."

Devan menjeda kalimatnya, menatap reaksi Aira dengan cemas. "Gue tadi sempet ngamuk ke karyawan gue. Gue pusing, Ra. Gue bingung harus klarifikasi gimana ke media biar nama lu gak jelek. Padahal kan faktanya keluarga lu itu jauh lebih dari cukup, lu lahir dari keluarga konglomerat, harta Papi lu aja gak habis tujuh turunan. Kesel banget gue denger orang-orang dungu itu ngomong asal jeplak!"

Devan menyampaikan keluh kesahnya itu dengan raut muka yang bener-bener gemas, tegang, dan penuh emosi—persis seperti suami yang gak terima istrinya diusik orang lain.

Namun... reaksi yang ditunjukkan Aira justru di luar dugaan Devan.

Aira terpaku sebentar menatap raut muka tegang Devan, lalu...

"Pfffft... BUAHAHAHAHAHAHA!"

Aira menyemburkan tawanya. Cewek itu tertawa terbahak-bahak sampai menepuk-nepuk paha Devan, membuat tubuhnya sampai berguncang di atas sofa.

Devan membelalakkan matanya kaget. "Lho? Kok lu malah ketawa sih?!"

"Aduh... aduh, perut gue sakit!" Aira memegangi perutnya sambil terus tertawa renyah, matanya sampai berair gara-gara terpingkal-pingkal. "Gila ya! Siapa sih yang bikin gosip konyol gitu?! Gue? Porotin harta lu? Buat apa coba?! Harta Papi gue aja udah bikin gue bingung mau dihabisin gimana!"

"Ya emang! Makanya gue emosi, Aira!" balas Devan gemas, makin heran melihat ketawa Aira yang tak berhenti.

Aira mengusap sudut matanya yang berair, lalu menatap Devan dengan mata usil yang sangat berbinar. Kesempatan emas ini langsung dimanfaatkan Aira buat mengejek dan menggoda Devan habis-habisan!

"Lagian lu lebay banget sih, Pak Bos!" ledek Aira, menyenggol lengan Devan dengan bahunya sambil menyunggingkan senyuman miring. "Cieee... ada yang kepanasan nih gara-gara istrinya difitnah! Lu khawatir banget ya nama gue jelek? Segitu sayangnya lu sama gue sampai pusing mikirin klarifikasi segala?"

Devan seketika tertohok. Pipi dan telinganya merona merah tipis gara-gara godaan Aira yang tepat sasaran. "S-siapa yang lebay?! Gue cuma gak suka ada berita bohong di lingkungan perusahaan gue ya!"

"Ah, masa sih?" goda Aira makin menjadi-jadi, memajukan wajahnya sedikit sambil mengedipkan matanya usil. "Mukanya tegang banget gitu tadi pas cerita. Ngaku aja deh, Argawinata... lu sedih kan kalau gue dibilang cewek matre?"

"Enggak ya!" elak Devan gengsi, buru-buru membuang pandangannya ke arah TV.

Aira terkekeh geli melihat Devan yang salah tingkah gara-gara godaannya. Cewek itu lalu menyandarkan punggungnya di sofa, menghembuskan napas panjang dengan santai.

"Udah deh, Devan... santai aja," kata Aira, nada suaranya berubah menjadi lebih tenang dan sangat dewasa. "Gue gak peduli orang mau ngomong apa soal gue. Mau mereka bilang gue cewek matre kek, mau bilang gue panjat sosial kek, terserah. Yang tahu kebenarannya kan kita, Papi, Mami, sama orang-orang terdekat kita. Ngapain pusing-pusing mikirin mulut orang asing yang gak ngasih kita makan?"

Aira menepuk bahu Devan pelan, menyunggingkan senyuman tipis. "Lu gak usah repot-repot klarifikasi atau pusing-pusing ngamuk di kantor lagi. Biarin aja mereka capek sendiri."

Jleg!

Devan terpaku di tempatnya.

Mendengar ucapan Aira yang begitu santai, rasional, dan sama sekali tidak tersulut emosi itu... dada Devan berdesir hebat. Pria itu menatap wajah Aira dari samping.

Devan bener-bener terkesima.

Di balik sifat galak, sumbu pendek, dan kalimat sarkasnya yang tajam sehari-hari... Aira ternyata punya jiwa yang begitu kuat, sangat percaya diri, dan tidak mudah goyah hanya gara-gara bisik-bisik orang lain.

Karakter Aira yang dewasa dan tangguh di momen seperti ini membuat rasa kagum dan cinta di dada Devan makin merekah.

Senyuman hangat perlahan mengembang di bibir Devan. Namun, demi menjaga sisa-sisa gengsinya di depan Aira yang masih menatapnya usil... Devan buru-buru menahan dan menyembunyikan senyuman itu.

Devan berdiri dari sofa dengan gerakan yang agak terburu-buru, berpura-pura merapikan kerah kemejanya.

"Y-ya udah kalau gitu..." gumam Devan pendek, suaranya agak kaku demi menutupi rasa terkesimanya.

Melihat Devan yang berdiri mau kabur, Aira makin puas menggoda suaminya itu. "Lho? Kok kabur, Pak Bos? Gak mau cerita lagi tentang betapa khawatirnya lu sama gue tadi?"

"Gak usah ngaco ya, Aira!" cetus Devan ketus, langsung membalikkan badan dan melangkah menuju kamarnya untuk menghindari ledekan Aira yang makin menjadi-jadi.

"Dah, Pak Bos! Makasih ya udah pusing mikirin gue!" teriak Aira riang dari ruang tengah, disusul suara tawa renyah cewek itu yang menggema indah.

Di balik pintu kamarnya yang baru saja ditutup, Devan menyandarkan punggungnya. Pria itu menyentuh dadanya yang berdegup kencang, lalu sebuah senyuman lebar nan tampan akhirnya jebol melingkupi seluruh wajahnya.

1
Fazira
lucu mereka 🤭
Fazira
🤣🤣
Fazira
semangat upnya kak😍😍
Fazira
😍
Fazira
Nadia istrinya marah loo
Skyline Scribe
cemburu niee🤭
Fazira
sepertinya love language nya mereka ini bertengkar yaa
karena 8 tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk bisa membenci orang
gak sabar liat Devan bucin😍
Reni Anjarwani
kapan damainya bertengkar terus
Ael
semangat kak👍👍
Fazira
Devan yang jujur kamu
Skyline Scribe: cowok gengsi tinggi dia kak😄
total 1 replies
Fazira
jangan tengkar/Sob//Sob/
Fazira
lanjut 💪
Fazira
🤣
Ael
seru👍
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
lanjut 💪
Ael
/Heart//Heart//Heart/
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
😍😍😍
Fazira
lanjut 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!