Indonesia
NovelToon NovelToon
I AM The Mirecle Itself

I AM The Mirecle Itself

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:872
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad wahyu

I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Langit Sol-Vane tidak lagi terlihat seperti langit.

Di balik lapisan atmosfer buatan, garis-garis cahaya berwarna pucat bergerak dari satu sisi kota ke sisi lainnya. Sistem pertahanan yang selama ribuan tahun hanya menjadi simbol kejayaan Sol-Vane kini aktif sepenuhnya.

Menara-menara energi menyala.

Jembatan udara berhenti bergerak.

Seluruh distrik terkunci.

Dan di setiap layar publik, hanya ada satu pesan:

[EMERGENCY PROTOCOL ACTIVATED]

[EXTERNAL INTERFERENCE DETECTED]

[ORIGIN: UNKNOWN]

[TARGET RESONANCE: 3]

[ADDITIONAL SIGNAL: 1]

[CLASSIFICATION: FAILED]

Rayker menatap layar itu dengan rahang mengeras.

"Tambahan sinyal..."

Lyra berdiri di sampingnya. Wajahnya masih pucat sejak insiden di bawah Architect Core.

"Yang keempat."

Caelum tidak menjawab.

Matanya terpaku pada layar kecil yang melayang di depan wajahnya.

Jari-jarinya bergerak cepat.

Data demi data muncul.

Lalu menghilang.

Kemudian muncul lagi dalam susunan yang berbeda.

"Mustahil."

Rayker menoleh.

"Apa?"

Caelum memperbesar sebuah simbol.

Simbol itu menyerupai lingkaran yang terpotong empat garis.

Sama seperti simbol yang ditemukan pada data lama Project Apotheosis.

"Ini bukan sistem pelacakan biasa."

"Jelaskan."

"Pelacak biasa membutuhkan koordinat."

Caelum menunjuk layar.

"Ini tidak."

Sebuah diagram muncul.

Tiga titik menyala.

Kemudian sebuah titik keempat muncul.

Titik itu tidak memiliki koordinat.

Tidak memiliki jarak.

Tidak memiliki arah.

Namun sistem tetap menunjukkannya.

Rayker mengerutkan kening.

"Kalau tidak punya koordinat, bagaimana sistem menemukan titik itu?"

Caelum terdiam.

"Justru itu masalahnya."

Ren yang sejak tadi berdiri beberapa meter di belakang mereka akhirnya berbicara.

"Karena dia tidak sedang menemukan lokasi."

Semua mata beralih kepadanya.

Ren berjalan mendekat.

Ia memandang layar tanpa menyentuhnya.

"Mereka sedang menemukan hubungan."

Caelum terdiam.

Kemudian matanya sedikit melebar.

"Resonansi..."

"Ya."

Ren menunjuk tiga titik pertama.

"Rayker. Lyra. Kau."

Kemudian jarinya berhenti pada titik keempat.

"Tapi yang ini berbeda."

Lyra bertanya pelan.

"Berbeda bagaimana?"

Ren tidak langsung menjawab.

Karena sistem telah memberikan jawabannya lebih dahulu.

[TARGET 01: CONFIRMED]

[TARGET 02: CONFIRMED]

[TARGET 03: CONFIRMED]

[TARGET 04: ERROR]

[RECLASSIFICATION REQUIRED]

Hening.

Caelum menelan ludah.

"Target keempat adalah kau."

Ren mengangguk kecil.

"Aku tahu."

Rayker memandangnya.

"Kenapa?"

Ren menatap layar.

"Karena sistem mereka tidak tahu apa aku."

Di tempat lain.

Jauh di luar Sol-Vane.

Tidak ada bintang.

Tidak ada planet.

Tidak ada cahaya.

Hanya ruang gelap yang tampak seperti permukaan kaca tanpa ujung.

Sebuah struktur raksasa melayang di sana.

Bentuknya menyerupai kota.

Namun tidak ada jalan.

Tidak ada bangunan.

Tidak ada manusia.

Hanya ribuan cincin mekanis yang berputar mengelilingi sebuah inti hitam.

Di tengah struktur itu berdiri sesuatu yang tidak memiliki wajah.

Tubuhnya dibungkus lapisan hitam.

Di hadapannya terdapat sebuah lingkaran cahaya.

Tiga titik menyala.

Satu titik berkedip.

Kemudian sistem berbicara.

[THREE RESONANCES CONFIRMED]

[PRIMARY OBJECTIVES IDENTIFIED]

[TARGET 01: LIVING FUSE]

[TARGET 02: LIVING FUSE]

[TARGET 03: LIVING FUSE]

Makhluk itu tidak bergerak.

Lalu muncul baris keempat.

[TARGET 04]

[ANALYSIS...]

[ANALYSIS...]

[ANALYSIS...]

Sistem berhenti.

[ERROR]

[OBJECT DOES NOT MATCH AVAILABLE CATEGORIES]

[ATTEMPTING RECLASSIFICATION]

Makhluk itu akhirnya mengangkat kepalanya.

"Kategori."

Suara itu terdengar seperti berasal dari banyak tempat sekaligus.

"Gunakan kategori tertinggi."

Sistem menjawab.

[CATEGORY: SOVEREIGN]

RESULT: FAILED

"Boundless."

[CATEGORY: BOUNDLESS]

RESULT: FAILED

"Extra-dimensional."

[CATEGORY: EXTRA-DIMENSIONAL]

RESULT: FAILED

Makhluk itu terdiam.

Untuk pertama kalinya, sistem mengalami sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.

Bukan kehilangan data.

Bukan gangguan.

Bukan kerusakan.

Tetapi...

ketiadaan kategori.

[NO COMPATIBLE CLASSIFICATION FOUND]

Makhluk itu berkata:

"Kalau begitu jangan klasifikasikan."

Sistem berhenti.

"Target keempat?"

"Jadikan prioritas."

[PRIORITY UPDATED]

[TARGET 04: UNKNOWN]

[THREAT LEVEL: UNKNOWN]

[RETRIEVAL AUTHORIZATION: GRANTED]

Sebuah gerbang terbuka.

Namun sebelum mereka bergerak—

sistem mengeluarkan satu peringatan terakhir.

[CAUTION]

[TARGET 04 MAY NOT BE THE SOURCE]

[TARGET 04 MAY BE THE REASON]

Makhluk itu menatap tulisan tersebut.

Lalu gerbang tertutup.

Di Sol-Vane.

Caelum tiba-tiba terjatuh satu langkah.

Tangannya memegang kepala.

"Caelum!"

Lyra segera mendekatinya.

"Apa yang terjadi?"

Caelum tidak menjawab.

Layar QNI di depan matanya berubah sendiri.

[INCOMING CONNECTION]

[SOURCE: UNKNOWN]

[PROTOCOL: VOID]

[HANDSHAKE ACCEPTED]

Caelum membeku.

"Aku tidak menerima koneksi."

Ren menatap layar.

"Tapi mereka menerima koneksimu."

Caelum membuka mata lebar.

"Bedanya?"

"Mereka masuk."

Seluruh ruangan bergetar.

BOOM.

Bukan ledakan.

Tidak ada api.

Tidak ada kehancuran.

Namun seluruh kota seakan kehilangan satu detik.

Jam berhenti.

Lampu berhenti berkedip.

Orang-orang yang sedang berjalan membeku di tempat.

Bahkan partikel debu di udara berhenti bergerak.

Kemudian—

semuanya kembali normal.

Hanya satu detik.

Tetapi Caelum tahu apa artinya.

"Mereka sudah ada di sini."

Rayker mengangkat pedangnya.

"Di mana?"

Caelum melihat data.

Matanya bergerak cepat.

Kemudian wajahnya berubah.

"Di mana-mana."

Lyra merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.

"Mustahil."

"Koordinat mereka berubah setiap milidetik."

Caelum menunjuk peta.

Satu titik muncul di distrik utara.

Menghilang.

Muncul di distrik timur.

Menghilang.

Kemudian muncul di bawah mereka.

Lalu di atas.

Lalu di dalam Architect Core.

Kemudian—

tepat di belakang Ren.

Caelum langsung berteriak.

"REN!"

Ren tidak bergerak.

Ia hanya menoleh perlahan.

Tidak ada apa-apa.

Namun layar Caelum memperlihatkan sesuatu.

[PROXIMITY: 0.00 M]

[TARGET 04]

[CONTACT: FAILED]

Rayker menggenggam pedangnya lebih kuat.

"Kalau jaraknya nol..."

Ren memotong.

"Mereka bukan berada di belakangku."

"Terus?"

Ren memandang ruang kosong tersebut.

"Mereka sedang mencoba menentukan apa arti 'di belakangku'."

Caelum terdiam.

Sistemnya kembali berbunyi.

[SPATIAL RELATION: FAILED]

[CAUSAL RELATION: UNSTABLE]

[IDENTITY RELATION: UNRESOLVED]

[AUTHORITY RELATION: UNKNOWN]

Ren membaca semuanya.

Lalu tersenyum tipis.

"Bukan cuma pelacak."

Caelum menatapnya.

"Terus?"

"Mereka sedang membangun sebuah hubungan."

"Untuk apa?"

Ren mengalihkan pandangan menuju langit.

"Supaya mereka bisa menyerang."

Langit Sol-Vane akhirnya retak.

Bukan secara fisik.

Tidak ada pecahan kaca.

Tidak ada lubang.

Tetapi seluruh sistem pertahanan kota mendeteksi sesuatu yang jauh lebih buruk.

Sebuah referensi.

Sesuatu sedang mencoba membuat hubungan langsung antara dunia Sol-Vane dan sebuah tempat di luar jangkauan sistem mereka.

Satu garis muncul.

Kemudian dua.

Kemudian ribuan.

Architect Core mulai bergetar.

Rayker melihat ke bawah.

"Mereka menggunakan Core."

Ren mengangguk.

"Ya."

Lyra pucat.

"Kalau mereka berhasil?"

Ren menjawab tanpa mengalihkan pandangan.

"Sol-Vane menjadi pintu."

Caelum melihat data terakhir.

[GATE CONSTRUCTION: 12%]

[GATE CONSTRUCTION: 18%]

[GATE CONSTRUCTION: 31%]

Persentasenya terus naik.

Rayker mengangkat pedangnya.

"Kalau begitu kita hancurkan Core."

Caelum langsung menolak.

"Kalau Core dihancurkan sekarang, seluruh sistem kota akan runtuh!"

Lyra menatap Ren.

"Lalu apa yang harus kita lakukan?"

Ren diam beberapa detik.

Kemudian ia berjalan menuju pusat ruangan.

"Jangan hancurkan pintunya."

Rayker menatapnya.

"Kenapa?"

Ren berhenti.

"Karena kita tidak tahu siapa yang ada di baliknya."

Ia menoleh.

"Tapi kita tahu mereka sedang mencari kita."

Senyumnya menghilang.

"Jadi kali ini..."

Ren menggenggam gagang pedang peraknya.

"...biarkan mereka masuk."

Caelum menatapnya tidak percaya.

"Ren, itu gila."

"Mungkin."

Ren menatap retakan di langit.

"Tapi kalau mereka datang untuk mengambil kita..."

Matanya menjadi dingin.

"...kita akhirnya punya kesempatan untuk mengetahui siapa yang sebenarnya mengendalikan Living Fuse."

Di layar Caelum, persentase terus meningkat.

[GATE CONSTRUCTION: 67%]

[GATE CONSTRUCTION: 81%]

[GATE CONSTRUCTION: 94%]

Lalu—

[GATE CONSTRUCTION: 100%]

[CONNECTION ESTABLISHED]

[INCOMING ENTITY DETECTED]

[NUMBER OF ENTITIES: 1]

Seluruh ruangan menjadi sunyi.

Kemudian muncul satu baris terakhir.

[WARNING]

[ENTITY IDENTIFICATION: FAILED]

[REASON:]

[ENTITY IS NOT REGISTERED WITH THIS REALITY.]

Ren mengangkat kepalanya.

Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Sol-Vane—

ia tidak tersenyum.

"Bagus."

Sebuah suara asing terdengar dari balik gerbang.

"Target keempat ditemukan."

Ren menatap lurus ke arah cahaya hitam yang mulai terbuka.

Suara itu melanjutkan:

"Dan kali ini..."

Gerbang terbuka sepenuhnya.

"...kami tidak datang untuk mengambilnya."

Hening.

"Kami datang untuk memastikan apakah dia benar-benar ada."

1
indah Mayaddah f
Kerja berat tiap hari, di panggil si nol terus di hina tapi Ren diam aja. Sabar sekali dia 😔
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬
Saya biasanya lihat kultivasi, hari ini belajar sihir🤣
Myz Pena
waoow meskioun makhluk itu sebesar bukit kecil namun kekuatannya tidak kaleng - kaleng.. sungguh dahsyat
CNNTAYY
haha rahasia valeria aja sampai ketahuan mana ukuran sepatu dan rambut lagi🤭
iorlif
siapakah sosok tanpa tubuh pasti itu?
Siti Aisyah
Hebat sekali valeria bisa mengalahkan seekor calamity wolf itu👍
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
mampir auhtor. mau tanya mau ikut masuk grup aku gak. saling berbagai ceritaa dan support
Muhammad Wahyu: gimana kak?
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!