[Romansa dua dunia-Fantasi barat-Horor]
Mereka berdua, Osric dan Odelia merupakan pasangan Indigo yang cukup fenomenal. Seifried Osric Gideon, ia tidak bisa dilukai oleh makhluk selain manusia asli. Baik itu setan, roh, hantu atau apapun itu. Tetap saja tidak bisa melukai seorang Osric.
Adora Odelia Aloysius, gadis ini walau parasnya yang jelita, namun mereka yang sudah mati tidak ada yang berani mendekat. Jika, gadis ini mendekat, mereka hilang. Begitupun sebaliknya.
Hingga suatu hari, mereka terjerumus kedalam sebuah kerajaan besar
menjadi pemeran yang harus melakoni perannya. Pengorbanan demi pengorbanan mereka lakukan. Rintangan demi rintangan mereka hadapi.
Dari situlah, terkuak jati diri mereka yang sebenarnya. Seorang Ratu dunia Immortal yang tertidur seratus tahun di dunia manusia terbangun. Lantas, sederet fakta dan akhir seperti apa yang akan mereka temui di ujung kisahnya?
Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiyahpna_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tabir Semesta 1
Di suatu hari yang cerah. Kala itu, seperti kebiasaannya sebelumnya ia kembali mengikuti sang gadis.
Menawan dan memukau, bak titisan dewi langit. Kecantikan dan keanggunannya memang begitu tersohor di sepenjuru immortal. Banyak yang ingin mempersuntingnya untuk dijadikan permaisuri raja-raja besar.
Gadis yang Nero sukai ialah seorang putri dari Kerajaan Aloysius. Memang begitu cantik. Sampai tak bosan-bosannya, ia dibuat terbuai oleh aura kecantikan sang putri. Hingga tidak menyadari di dekatnya ada dua ekor kelinci bergerak lincah menimbulkan bunyi gemerisik.
Nero terpaku, ia bergeming kala sang putri kini mengetahui keberadaannya dengan keanggunan dan kecantikan paripurna. Dalam jarak pandang sangat dekat seperti ini, Nero kehilangan seuntai kata. Ia sungguh terpikat, dan jatuh terbelenggu pada pesona sang putri.
"Namaku, Adora Odelia Aloysius. Kau—"
Tidak berselang lama, seorang pemuda tinggi gagah perkasa nan menawan menghampiri sang putri dengan melingkarkan tangannya pada pinggang sang putri sangat erat. Seolah tengah menegaskan sesuatu yang menjadi miliknya.
Aloysius mengukir seulas senyum. "Nero, ini pasanganku. Alazar Alaska. Kau tentu mengenalnya."
Alazar menaikkan alisnya. Menatap congkak Nero lantas mengejeknya. "Ne-ro. Nero. Terkejutkah, wah?"
Kehadiran saudara kembarnya yang tak lain adalah Alazar benar benar mengejutkan Nero. Ia tak menyangka. Apa yang selama ini ia lewatkan? Sejauh ini dan selama ini ia mengamati gadis yang ia puja, tak pernah sekali pun ia melihat sang putri dengan laki-laki lain.
Tetapi, apa ini? Ada apa? Nero tidak mengerti. Susah baginya untuk menerima, sangat sulit.
Dendam, amarah, iri, benci, dan rasa sakit hati membuat sisi gelapnya kembali menyeruak dengan rantai hitam pekat yang semakin mengencang. Untuk pertama dan mungkin terakhir kalinya, Nero merasakan hatinya mati rasa dan hatinya terpatahkan begitu dalam.
Sedangkan Alazar, ia tersenyum penuh kemenangan. Cinta yang tumbuh diantara pangeran Alazar dengan putri Kerajaan Aloysius pun terjalin semakin erat.
Hari berlalu begitu cepat. Tahap demi tahap, rangkaian tes seleksi raja telah dijalani kedua bersaudara dengan persaingan ketat. Terlebih Nero, ia semakin haus akan tahta. Kemarahan dan rasa sakit pada dirinya membuat kebenciannya mendarah daging pada sang kakak.
Hari dimana pemberian gelar mahkota pun tiba.
Maha raja Baltazar mengumumkan di depan seluruh rakyat atas siapa yang paling berhak dan siapa yang akan mendapatkan gelar pangeran mahkota sekaligus menjadi raja berikutnya. Atas dasar penilaiannya pada seluruh rangkaian tes yang telah dijalani kedua pangeran secara adil dan ketat.
"Di depan seluruh rakyat Kerajaan Alaska. Aku, Baltazar Alaska! akan memberitahukan kepada kalian rakyatku, rakyat Kerajaan Alaska! Siapa yang menjadi pemenang dan siapa yang akan menjadi raja baru selanjutnya."
Baltazar terdiam, memandangi kedua putranya yang kini menampilkan raut berbeda. Alazar dengan wajah tanpa riak, sedangkan Nero dengan wajah penuh keangkuhan.
Nero sangat yakin bahwa dirinya yang akan menjadi raja berikutnya setelah segala macam rangkaian tesnya berjalan. Nero cukup puas, mengingat apa yang ia lakukan selama pengujian.
"Yang akan menggantikanku sebagai raja Kerajaan Alaskan adalah putraku! Pangeran pertama, Pangeran Alazar Alaska!" Baltazar tersenyum, sebelah tangannya terangkat.
"Sekarang, telah aku putuskan pangeran mahkota dan raja selanjutnya adalah Pangeran Alaska! Pangeran telah memenangkan segala tahapan dengan sangat baik."
Alazar menyeringai, ia lantas tertawa rendah sembari menatap Nero. Langkah tegapnya membawanya menuju Maha Raja Baltazar yang kini tersenyum penuh aura kebesaran. Rakyat bersorak gembira, tawa ceria mereka mengudara. Hari itu pun cuaca bersinar cerah.
"Selamat! Selamat!"
"Selamat Pangeran Alazar!"
"Diberkatilah tanah immortal, Selamat!"
Alam dan rakyat menyambut baik raja selanjutnya. Berbeda halnya dengan Nero. Ia murka, tak menerima dirinya kalah. Ia sudah sangat yakin namun realitas yang ada sekarang membuatnya dirundung kecewa dan amarah. Kecewa karena apa yang ia harapkan tak terjadi. Marah karena merasa semua tidak adil.
Ia merasa, Alazar sudah mendapatkan semua yang ia mau. Tapi, lihatlah dirinya! Dirinya tak memenangkan apapun juga tak memiliki apapun. Ia kecewa. Murka. Sedih. Hingga kegelapan yang ia coba tahan rasanya akan meledak begitu dahsyat.
"Maha Raja Baltazar!" Nero berseru murka. Ia menatap nyalang Baltazar. Aura hitam melingkupi seluruh tubuhnya. Tangannya terkepal kuat, buku jemarinya memerah menahan amarah.
Beberapa detik selanjutnya ia terdiam dan berpaling. Meninggalkan aula kerajaan yang tiba tiba saja menjadi sangat hening dengan sejuta rencana buruk lainnya yang tersusun apik. Serta rakyat yang kembali gaduh menerka nerka apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh pangeran kedua.
Hari pun kembali berlalu. Ada satu hal biasa yang terjadi di usia tujuh belas tahun pada keluarga kerajaan Alaska. Yaitu alih jabatan dan status menikah.
Terhadap pangeran, khususnya pangeran mahkota. Alazar mengetahui mengenai tradisi yang ada di kerajaannya, yaitu adanya persyaratan menikah di usia tujuh belas tahun untuk pengganti raja. Jadi, setiap raja baru diharuskan didampingi ratu, oleh sebab itu, menikah salah satu jalan yang dituju. Untuk mencapai suatu tujuan tertentu salah satunya adalah penerus kerajaan. Tentunya setelah berlangsungnya acara penobatan pangeran mahkota.
Waktu berjalan cepat. Pangeran Alazar meminang Putri dari kerajaan Aloysius. Alam dan rakyat kembali bersuka cita. Satu minggu sebelum pernikahan baik Kerajaan Alaska dan kerajaan Aloysius tengah berpesta pora. Menyambut raja baru dan menyambut calon ratu mereka.
Satu minggu itu pula, Nero terlihat sangat tenang yang justru menimbulkan berbagai pertanyaan dikalangan bangsawan dan petinggi kerajaan.
Hari yang ditunggu oleh Alazar dan Aloysius pun tiba yaitu hari pernikahan mereka. Perayaan besar-besaran dilangsungkan secara cepat, meriah, dan megah.
Keduanya bergembira hati, karena cinta keduanya bersambut satu sama lain. Diatas dan didepan seluruh rakyat yang hadir, disertai alam yang bersemi, Alazar dan Aloysius resmi mengikat hubungan mereka menjadi sepasang suami istri.
*****
Tiga tahun kemudian di dunia immortal.
Kerajaan Alaska kembali mendapatkan kebahagiaan yang tak kalah besar. Kali ini pun, perayaan besar kembali dirayakan.
Pasalnya, ratu Aloysius dikabarkan tengah mengandung tiga bulan. Suka cita langsung dirasakan rakyat Alaska. Terlebih raja dan ratu, begitu pula Baltazar. Ia sangat senang mengetahui bahwasanya kerajaan Alaska akan kembali mendapatkan penerus kerajaan. Dan ini merupakan cucu pertamanya sekaligus anak pertama dari pasangan Raja dan Ratu baru.
"Selamat! selamat! selamat Yang Mulia!" seru para rakyat bersuka cita.
Aloysius tersenyum, disampingnya Alazar berdiri dengan gagah. Keduanya berdiri dihadapan para rakyat yang tengah menikmati perayaan besar kerajaan.
Namun, kebahagiaan mereka tak berselang lama. Kali ini, Nero kembali berulah. Ketenangannya selama tiga tahun ini ternyata tengah mencipta badai maha dahsyat.
"Yang Mulia, ada pasukan besar kegelapan yang menyatakan perang. Ratusan ribu roh jahat memenuhi bagian utara Kerajaan Alaska. Mereka mununggu kehadiran Yang Mulia Alazar."
Alazar geram. Ia tahu, ia sudah memikirkan kemungkinan ini. Karena selama tiga tahun ini ia tak pernah sekalipun melepas pengamatannya dari saudara kembarnya yang terlampau damai.
"Siapkan pasukanku! Akan kubawa, pasukan elit raja. Dan katakan pada Arthur untuk mengamankan rakyatku!"
Sang pembawa pesan itu menyanggupi lantas bergegas pergi dari hadapan Raja Alazar dengan segala hormat.
"Sergio, Derby!" Alazar menatap tajam lurus kedepan. Kemarahannya yang tertahan mencipta guntur dahsyat. Disampingnya, sang ratu kian cemas. Namun, dibalik cemas dan diamnya. Ia memiliki sebuah rencana besar yang tertahan dalam benaknya. Urung dan belum jua tersuarakan pada raja.
"Hormat kami, Yang Mulia Agung, Baginda Raja Alazar." Sergio dan Derby datang bersamaan, keduanya sontak saja berlutut.
Alazar menyayat telapak tangannya. Seketika, darahnya mengalir. Tetesan darahnya ia arahkan pada botol bening berukuran kecil. "Bangunkan pasukan elitku! Dan bawa mereka ke medan perang. Katakan pada mereka! tuannya Baginda Alazar tengah menunggu."
"Baik, Baginda Raja Alazar."
Aloysius menatap Alazar haru biru, gundah gulana rasanya. "Raja."
Alazar seketika langsung mendekap ratunya. "Kamu akan aman. Akan aku pertaruhkan seluruh hidupku untukmu dan Alaska."
Aloysius tergugu, Alazar menekuk kakinya. Wajahnya tepat menghadap perut Aloysius yang sekarang berisi keturunan Alaska selanjutnya. Mengusapnya, menghidu lantas mengecupnya lamat lamat.
"Jaga dirimu, jagoan ayahanda. Jaga ibunda. Ayahanda akan kembali secepatnya." Alazar berdiri, menghadap Aloysius yang masih menyendu.
Tangannya membelai wajah sang ratu. Menyeka buliran bening yang jatuh deras membasahi wajah. "Ratuku, kumohon jangan lakukan apapun. Biarkan aku sebagai raja yang akan melakukan segalanya."
Well, aku keknya udah mulai terlupakan. Yep, oke gapapa. Karena aku juga sejujurnya lupa dengan novel ini, maaf lurrrrr.
Ekhem, cek gelombang yaa. Masih ada ga si yang nungguin ceritanya? mau lanjut apa enggaaaa?
Komen ya lurr! sip. Suwun, lur.
Perjalanan Alma Mencari Ibu mulai dukung
Salam Hangat dari "Sebuah Kisah Cintaku" 😆🙏🏼