Untuk lebih paham dari alur cerita Perfect Mate. Alangkah baiknya, membaca karya author yang pertama yaitu, Pernikahan Tanpa Cinta. Karena alur cerita dari novel Perfect Mate ini adalah cerita sambungan dari cerita di novel Pernikahan Tanpa Cinta.
Happy reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _Ecyy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Pada ruangan berukuran 3,5 m × 7,5 m, terdapat beberapa peralatan fotografi seperti camera, lensa, payung reflektor, dan alat pendukung lainnya untuk proses berjalannya pemotretan.
Pria yang memegang camera itu mengangkat jari tangannya menghitung mundur dari tiga, dua, sampai satu. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya, kemudian mulai memfokuskan lensa camera.
Klik.
"Pemotretan hari ini selesai," katanya setelah selesai memotret seorang model wanita yang terakhir. Ia kemudian duduk di kursi, mengambil air mineral kemasan yang ada di atas meja, lalu meminumnya hingga tandas.
"Rendi."
Suara wanita terdengar dari sampingnya. Yang tak lain adalah salah satu model majalah popular itu. Rendi menoleh seraya berkata, "Apa?"
Wanita di depannya itu tersenyum manis, seraya mengulurkan tangannya. "Aku Putri, model majalah baru di sini."
Rendi tidak merespons apa-apa. Ia beringsut bangkit, pergi begitu saja mengabaikan wanita di depannya itu.
Inilah pekerjaan yang baru dua bulan Rendi tekuni sejak kepulangannya dari Amerika. Sebenarnya ia tidak terlalu suka dengan dunia fotografi, tetapi karena dulu di Amerika ia sering bersama Helena, entah kenapa ia jadi menyukainya.
Rendi mendongakkan kepalanya setelah keluar dari studio, ia menatap langit yang gelap. Ia sesegera mungkin masuk dalam mobilnya.
Mata Rendi teralihkan dengan suara alarm pengingat dari ponselnya. Hari spesial, orang yang spesial. Begitulah deskripsi tulisan yang ada di layar ponselnya itu.
Rendi melihat tanggal di ponselnya. Tanpa pikir panjang lagi, ia segera melaju mobilnya ke suatu tempat. Yang tak lain ke kediaman keluarga Wijaya.
Ia benar-benar lupa hari ini adalah hari ulang tahun Jessica. Ia berdiri di depan pintu gerbang besi yang menjulang tinggi itu, sebuket bunga mawar ada di tangannya, tak lupa sebuah kado juga yang sempat ia beli saat perjalanan datang.
Ia menebak usahanya ini pasti akan sia-sia. Karena beberapa kali datang, pintu gerbang itu tetap tertutup rapat untuk dirinya, tetapi ia tidak peduli akan hal itu untuk hari ini. Ia akan terus menunggu sampai ia bisa bertemu dengan Jessica.
Ia tahu, bahwa Jessica sudah pulih secara total. Dua hari yang lalu saja ia sempat berpapasan dengan Jessica di kafe yang dulu pernah ia kunjungi bersama Jessica juga. Sayangnya, wanita itu menghindari dirinya. Entah karena alasan apa Jessika bersikap seperti itu kepada dirinya. Yang membuat ia benar-benar sakit hati, saat mengetahui siapa orang yang bersama Jessica saat itu, Dokter Sam.
"Masih saja keukeuh datang ke sini," kata Pak Satpam di balik pintu gerbang itu.
Rendi tersenyum. "Iya, Pak. Saya tidak akan menyerah begitu saja," jawabnya yakin.
"Seharusnya begitu sebagai laki-laki. Andaikan saja nggak ada aturan dari tuan rumah. Bapak pasti akan memberikan izin kamu masuk, Ren."
"Nggak apa-apa, Pak. Aku mengerti, Bapak hanya menjalankan tugas."
"Kamu pulanglah, hujan sudah turun, Ren," ujar Pak Satpam yang lebih ke sebuah permintaan.
Rendi tidak mengindahkan perintah Pak Satpam itu. Debit air hujan semakin deras, seluruh tubuh Rendi benar-benar sudah basah kuyup.
Satu jam, dua jam, hingga tiga jam Rendi masih tetap menunggu di depan pintu gerbang itu. Hari sudah mulai gelap, hujan pun masih turun dengan deras. Ia tetap tidak peduli dengan langit dan bumi, yang ingin juga untuk mengusir dirinya untuk pergi.
"Jessica, aku akan tetap menunggumu!" gumamnya. Ia menyenderkan punggungnya ke tembok, perlahan ia duduk di trotoar jalan. Bunga dan kado yang ia bawa, masih ada dalam genggamannya.
"Sampai kapan menyiksa diri sendiri terus?" Suara yang begitu familier itu terdengar begitu dekat, dan sangat dekat.
Rendi berdiri, ia kaget bukan main setelah melihat wanita yang datang. Tanpa aba-aba ia langsung memeluk tubuh wanita yang selama ini ia rindukan. Iya, itu Jessica.
Payung yang Jessica pegang terlepas. Ingin memberontak, tetapi ia tidak dapat membohongi diri sendiri, ia sangat merindukan sosok pria yang sedang memeluknya itu.
"Jes." Suara Rendi terdengar gemetaran. Ia semakin memeluk tubuh Jessica dengan erat. "Kenapa kamu terus menyiksaku ...."
di tunggu xtra partnya jess & rendy bhagia thor
trima kasih thor. semangat trus dan smoga sehat selalu🥰