"ISTIKHARAH pada hakikatnya bukan untuk memilih diantara dua pilihan, tapi untuk menetapkan hati disatu pilihan." Anisa Rahman.
"CINTA adalah ruang dan waktu yang diukur oleh hati, dan terdiri dari satu jiwa yang menghuni dua tubuh." Rahmat Hidayatullah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAU MAKAN SOMAY
"Nis, hape kamu kayaknya ada pesan masuk tuh." ujar Rahmat.
"Coba tolong dilihat, Mas, pesan dari siapa." ucap Anisa yang sedang mengeringkan rambutnya.
Rahmat pun mengambil ponsel istrinya yang terletak di atas ranjang.
"Pesan dari Mas Andrian, katanya hari ini dia mau datang." tutur Rahmat setelah memeriksa ponsel istrinya.
"Oh, pasti Kak Andrian datang karena mimpinya itu lagi."
"Jadi sampai sekarang Mas Andrian masih sering memimpikan wanita itu?" tanya Rahmat.
"Iya, hampir tiap malam malahan katanya." jawab Anisa. "Sayangnya Kak Andrian gak begitu jelas melihat wajahnya, tapi yang pasti katanya wanita itu punya tahi lalat ditangan kanannya." sambungnya.
Rahmat mengerutkan keningnya, ia jadi teringat ustazah Nia yang juga mempunyai tahi lalat ditangan kanannya, ia pernah melihatnya saat ustazah Nia memberikan sebuah buku salah satu santri yang tertinggal dikelas nya.
"Yang Kak Andrian lihat didalam mimpinya itu, seorang wanita berhijab yang berdiri diatas jembatan Ampera, melambaikan tangannya pada Kak Andrian." ucap Anisa lagi.
Setelah selesai mengeringkan rambutnya, Anisa menghampiri suaminya yang duduk di pinggiran ranjang dengan masih mengenakan handuk sehabis mandi.
"Aku yakin wanita didalam mimpi Kak Andrian itu adalah jodohnya." kata Anisa setelah duduk disamping suaminya.
"Amiiinnn, semoga Mas Andrian segera menemukan jodohnya itu." jawab Rahmat.
"Dan Mas sendiri, gak mau gitu jemput jodoh kedua Mas?"
"Tuh kan mulai lagi, Nis udah ya Mas mohon jangan bahas itu lagi." mohon Rahmat. "Mending sekarang kamu pakaikan Mas baju, bentar lagi Ashar loh." pintanya.
Anisa pun terdiam, ia beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan ke arah lemari mengambil sepasang setelan kokoh untuk suaminya.
"Mas, nanti habis sholat Ashar temenin aku ke lapangan disamping pesantren ya." ucap Anisa sambil memakaikan baju suaminya.
"Mau ngapain ke lapangan, mau nonton anak-anak main bola?" tanya Rahmat, ia mengernyit bingung menatap istrinya yang tiba-tiba ingin ke lapangan bola itu.
"Engga, kemarin pas aku keluar sama Mbak Hanifah, aku lihat di dekat lapangan itu ada penjual somay, nah aku pengen beli itu." jawab Anisa.
"Kamu mau makan somay, tumben?"
"Ya pengen aja gitu pas kemarin lihat anak-anak pada makan somay, kayaknya enak gitu."
"Tapi Mbak Hanifah sering buat somay tapi kamu gak makan, katanya gak suka, kamu lebih suka pempek. Terus sekarang kenapa mau makan somay?"
"Lihat anak-anak makan somay, aku jadi kepengen juga, Mas." jawab Anisa.
"Oh ya udah, nanti habis sholat Ashar Mas temenin kamu kesana beli somay."
Anisa pun tersenyum senang, ia menangkup kedua pipi suaminya itu kemudian menghujaninya dengan banyak kecupan yang membuat Rahmat terkikik geli.
"Nah gitu dong, Mas seneng banget lihat kamu kayak gini. Gak bahas-bahas sesuatu yang bikin suasana hati Mas rusak aja." ucap Rahmat kemudian membalas mengecup seluruh wajah istrinya.
...🌾🌾🌾...
Setelah selesai melaksanakan shalat Ashar berjamaah dengan para santri, Rahmat dan Anisa langsung menuju sebuah lapangan sepak bola yang terletak disamping pesantren.
Sesampainya di sana, Anisa terlihat begitu senang saat melihat kerumunan anak-anak yang mengantri membeli somay pada seorang pria paruh baya yang menjajakan dagangannya menggunakan sepeda.
"Tuh kan Mas lihat anak-anak sudah pada ramai beli somay nya, pasti enak ya Mas mereka pada Antri gitu." kata Anisa sambil menunjuk kearah anak-anak yang sedang mengantri membeli somay.
"Iya, Mas jadi pengen juga lihat mereka."
"Ayo Mas kita beli, nanti kita kehabisan." Anisa menarik tangan suaminya mendekati pedagang somay itu.
"Pak, aku mau somay nya juga dong." ucap Anisa sambil tersenyum pada pria paruh baya penjual somay itu.
"Oh iya sebentar ya, Neng, Bapak layanin anak-anak dulu." kata penjual somay itu.
"Tapi somay nya masih ada kan, Pak? Kira-kira aku kebagian gak?" tanya Anisa, ia khawatir tidak kebagian somay karena melihat begitu banyaknya anak-anak yang mengantri ingin membeli somay.
"Pasti kebahagian kok, Neng, somay nya masih banyak kok."
Anisa pun menunggu sampai penjual somay itu selesai melayani anak-anak terlebih dahulu. Sekitar lima belas menit kemudian, kini giliran Anisa yang mendapat jatah somay nya.
"Ini somay nya, Neng." penjual somay itu memberikan dua bungkus somay yang sudah lengkap dengan bumbunya.
Setelah membayar, Anisa dan Rahmat kembali ke pesantren. Mereka langsung menuju balkon lantai atas untuk menikmati somay yang mereka beli, di sana.
Dengan lahap Anisa memakan somay nya. Rahmat memperhatikan istrinya itu dengan tersenyum namun juga dengan sedikit bingung. Pasalnya, selama tiga tahun menjalin rumah tangga bersama Anisa, ini adalah yang pertama kalinya ia melihat istrinya itu memakan somay, makanan yang tidak pernah dimakan Anisa yang katanya tidak suka.
seandainya dia crt ke rahmat atau abi ridwan soal mimpinya
jazakillah khairan thor, sukses selalu dlm karya2 nya
🥰🥰🥰🥰
thot terima kasih, jazakillah khairon 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰 🤗🤗🤗🤗🤗🤗
.
bukan rambut kepala di sambung dgn rambut saja.
.
beda daerah beda panggil an kali yahh..