Dirga, dokter muda berbakat di Rumah Sakit Labuan Bajo, menjalani kehidupan penuh dedikasi. Namun, sebuah liontin kuno yang ia temukan mengubah segalanya, membangkitkan ingatan tentang kehidupan sebelumnya sebagai Zhenz, pendekar legendaris dari dunia kultivasi.
Saat energi gelap dari dunia kultivasi mulai merembes ke dunia manusia, menciptakan penyakit misterius yang tidak bisa dijelaskan ilmu medis, Dirga menyadari bahwa ia memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan dua dunia. Bersama Maya, rekannya yang menyimpan rahasia penting, Dirga memulai perjalanan berbahaya mencari fragmen energi kuno untuk menyelamatkan dua dunia.
Namun, ancaman besar datang dari Bayangan, entitas gelap yang terlahir dari kesalahan masa lalunya. Dirga harus memilih: menyelamatkan dunia, atau menghadapi kehancuran dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Topannov, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Dua Dunia
Langit di atas hutan itu berwarna abu-abu gelap, seolah-olah menahan badai yang tidak pernah datang. Suara angin yang biasanya menemani suasana gurun tergantikan oleh gemerisik aneh dari pepohonan yang tampak seperti makhluk hidup, batangnya bengkok dan daunnya bersinar redup dalam warna hijau keemasan. Maya memegang liontin di tangannya erat-erat, mengikuti kilauan lembut yang terus menuntunnya ke kedalaman hutan.
“Dirga!” panggilnya untuk kesekian kalinya, suaranya nyaring tetapi tidak memantul. Hutan ini menelan segalanya, bahkan gema.
Tidak ada jawaban. Namun, jauh di dalam hutan, Maya mulai mendengar sesuatu yang lain—bukan suara manusia, tetapi nyanyian samar yang terasa lebih seperti bisikan ribuan lidah. Suara itu melingkari pikirannya, menggoda rasa takut yang terus ia lawan.
"Dirga pasti ada di sini," katanya pada dirinya sendiri. Langkahnya semakin cepat, meskipun akar pohon yang menjulur di tanah seperti sengaja menghalangi jalannya.
Setelah berjalan cukup jauh, ia tiba di sebuah tanah lapang kecil yang dikelilingi pohon-pohon raksasa. Di tengah tanah itu berdiri sosok yang begitu ia kenali.
“Dirga...” bisiknya.
Sosok itu berbalik perlahan, wajahnya terlihat dalam cahaya temaram. Itu memang Dirga, tetapi ada sesuatu yang aneh. Kulitnya pucat seperti lilin, dan matanya tidak memiliki warna. Ia berdiri di sana seperti patung hidup, memandang Maya tanpa emosi.
“Maya...” Dirga akhirnya berbicara, tetapi suaranya datar, tanpa nada.
“Dirga! Aku mencarimu ke mana-mana. Aku pikir...” Air mata mulai membasahi pipi Maya. Ia berlari mendekat, tetapi Dirga mengangkat tangannya, menghentikannya.
“Berhenti,” katanya dingin. “Kau tidak seharusnya ada di sini.”
Maya terhenti, bingung. “Apa maksudmu? Aku di sini untuk menyelamatkanmu! Apa yang terjadi padamu?”
Dirga tidak segera menjawab. Sebaliknya, ia memandang liontin di tangan Maya dengan ekspresi yang sulit diartikan. “Kau menemukan ini... berarti kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan.”
“Apa maksudmu? Dirga, aku tidak mengerti! Kau terluka? Atau ada sesuatu yang mengendalikanmu?”
Dirga menghela napas panjang, tetapi tidak mendekati Maya. “Aku sudah menjadi bagian dari tempat ini, Maya. Dunia ini... adalah tempat di mana aku seharusnya berada. Tetapi kau tidak. Kau masih bisa pergi.”
“Tidak! Aku tidak akan pergi tanpa dirimu. Dirga, apa pun yang terjadi, kita bisa mengatasinya bersama,” tegas Maya.
Dirga tertawa kecil, tetapi tawanya pahit. “Kau tidak mengerti. Dunia ini bukan sekadar tempat. Ini adalah antara kehidupan dan kematian, antara cahaya dan kegelapan. Aku terperangkap di sini, karena aku membuka pintu yang tidak seharusnya kubuka. Jika kau mencoba menyelamatkanku, kau akan membahayakan dirimu sendiri.”
Maya menatapnya dengan tatapan penuh luka. “Dirga, aku tidak peduli dengan bahaya. Selama aku masih bernapas, aku tidak akan meninggalkanmu di sini. Beritahu aku apa yang harus aku lakukan.”
Liontin di tangan Maya tiba-tiba bersinar lebih terang, dan Dirga tampak terganggu olehnya. Ia mundur selangkah, menundukkan kepala seolah kesakitan.
“Tidak!” serunya dengan nada putus asa. “Maya, kau tidak mengerti kekuatan yang kau pegang. Liontin itu adalah kunci. Ia bisa membebaskanku... tetapi ia juga bisa menghancurkan kita berdua.”
Maya memandang liontin di tangannya. Cahaya itu terasa hangat, tetapi juga membawa aura yang berat dan mendalam, seperti memikul keseluruhan dunia di telapak tangannya. “Bagaimana cara kerjanya, Dirga? Jika ini bisa membebaskanmu, aku akan melakukannya. Aku tidak peduli dengan risikonya.”
Dirga menatapnya lama, dan untuk sesaat, Maya melihat kilatan emosi di matanya yang kosong. “Menggunakan liontin itu membutuhkan pengorbanan. Seseorang harus tetap di sini, menjadi bagian dari dunia ini, agar pintunya bisa tertutup selamanya.”
Maya terkejut mendengar itu. “Tidak... pasti ada cara lain.”
“Tidak ada,” kata Dirga tegas. “Aku sudah mencoba mencari cara lain, Maya. Aku mencoba melawan dunia ini, tetapi semakin aku melawan, semakin aku terperangkap. Liontin itu adalah satu-satunya jalan keluar, tetapi seseorang harus menggantikanku. Jika tidak, dunia ini akan menelan kita berdua.”
Maya menatap Dirga, lalu ke liontin di tangannya. Kata-kata Dirga menghantamnya seperti pukulan berat di dada. “Kau ingin aku... meninggalkanmu di sini?”
“Ya,” jawab Dirga tanpa ragu. “Aku sudah memilih jalan ini. Kau tidak seharusnya datang ke sini, Maya. Kau bisa kembali ke duniamu, melanjutkan hidupmu. Itulah yang aku inginkan.”
“Dan hidup tanpamu?” bisik Maya. Air matanya kembali mengalir. “Dirga, kau tahu aku tidak bisa melakukan itu.”
“Ini bukan soal apa yang kau inginkan, Maya,” kata Dirga, suaranya lebih lembut tetapi tetap tegas. “Ini soal apa yang benar. Kau punya masa depan. Aku tidak punya.”
Namun, Maya tidak mendengarkan. Ia menatap liontin di tangannya, lalu menatap Dirga. “Jika kau tidak akan meninggalkan tempat ini, maka aku akan tinggal bersamamu.”
“Tidak!” Dirga berteriak, langkahnya maju mendekati Maya untuk pertama kalinya. “Kau tidak mengerti apa yang kau katakan. Dunia ini akan menghancurkanmu!”
“Aku tidak peduli, Dirga!” balas Maya. “Jika kau memilih untuk mengorbankan dirimu, maka aku juga bisa memilih untuk tinggal. Kita bisa mencari jalan lain bersama.”
Dirga menggenggam bahu Maya dengan kuat, matanya yang kosong tampak mengisi kembali dengan rasa putus asa. “Kau tidak bisa. Jika kau tetap di sini, kau akan kehilangan dirimu sendiri. Maya, aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.”
Hening mengisi ruang di antara mereka, hanya diselingi oleh suara lembut dari angin yang berbisik melalui pepohonan. Liontin di tangan Maya bersinar lebih terang, seolah-olah mengetahui apa yang akan terjadi.
“Kau punya pilihan,” kata Dirga, suaranya hampir tidak terdengar. “Pergi, Maya. Gunakan liontin itu untuk kembali. Biarkan aku menyelesaikan ini.”
Maya menatapnya, hatinya hancur. Tetapi di tengah kehancurannya, ia menemukan tekad yang baru. “Jika kau tidak bisa pergi, maka aku akan menemukan cara untuk membebaskan kita berdua. Aku tidak akan menyerah, Dirga.”
Sebelum Dirga bisa merespon, Maya mengangkat liontin itu. Cahaya dari liontin menyelimuti tubuh mereka berdua, dan dunia di sekitar mereka mulai bergetar. Pohon-pohon raksasa melengkung seperti melarikan diri dari cahaya, dan tanah di bawah mereka retak, menciptakan suara gemuruh yang memekakkan telinga.
“Maya! Apa yang kau lakukan?!” teriak Dirga.
“Aku memilih untuk tidak meninggalkanmu!” jawab Maya, suaranya penuh dengan keberanian.
Dalam kilatan cahaya terakhir, dunia itu runtuh, membawa mereka berdua ke dalam kehampaan. Maya memejamkan matanya, menggenggam tangan Dirga dengan erat. Apa pun yang terjadi, ia tahu satu hal pasti: ia tidak akan kehilangan Dirga lagi.