Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten

Status: tamat
Genre:Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Pengasuh / Disfungsi Ereksi / Tamat
Popularitas:9.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Desy Puspita

Jauh-jauh merantau ke kota demi membantu calon suami mengumpulkan modal nikah, Diani Ayu Larasati terjebak dalam sebuah perjanjian kerja yang sama sekali tidak dia ingini.

Hanya karena tergiur gaji di atas UMR, gadis manis yang biasa dipanggil Ayas itu iya-iya saja kala seorang kenalannya menawarkan pekerjaan untuk menjadi pengasuh anak konglomerat di ibu kota.

Siapa sangka, yang akan dia asuh bukanlah balita, melainkan seorang pria impoten yang merupakan produser sekaligus CEO dari Wijaya Corp, Givendra Kama Wijaya. Tidak hanya itu yang membuat Ayas tercengang, tapi tugas utamanya sebagai pengasuh sangat sulit diterima akal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 - Maunya Apa?

Keningnya berkerut, secepat mungkin Kama berlari dan masuk dengan napas yang terengah-engah. Benar saja, begitu melihat pemandangan di depannya, Kama seketika naik darah.

"Baru pulang lo?"

"Lo ngapain datang ke sini?"

Bukan karena tidak ingin didatangi, tapi kehadiran Samuel tanpa seizinnya membuat Kama sebal sendiri. Terlebih lagi di rumah hanya ada istri dan asisten rumah tangganya saja.

"Lo matiin telponnya sepihak, padahal gue belum selesai ngomong ... gue cuma mastiin keadaan istri lo."

Sampai saat ini, Kama masih lupa jika sahabatnya adalah seorang dokter, mungkin karena kelakukannya. Wajar saja memang, karena biasanya Samuel akan datang sendiri jika dirasa temannya mengkhawatirkan.

"Dari kapan? Udah lama?" tanya Kama seraya menghempaskan tubuhnya di atas sofa.

"Belum, baru lima menit mungkin."

Kama mengangguk pelan, jika hanya lima menit maka tidak masalah, kemungkinan besar Samuel belum melihat Ayas. Maklum saja, selama ini dia tidak pernah memiliki pasangan, jadi wajar saja jika kekhawatiran andai Samuel justru tertarik pada istrinya.

Kama masih terdiam, tidak biasanya jika Samuel datang hanya dipersilakan duduk di ruang tamu, biasanya ke kamar. Namun, berhubung semua sudah berbeda, jelas Kama tidak akan mengizinkannya, terlebih lagi dari sepengetahuannya, Ayas masih di kamar.

"Istri lo mana?" tanya Samuel berbasa-basi dengan harapan interaksi mereka sedikit lebih hangat.

"Kenapa nanya-nanya?"

"Ya kan gue mau mastiin keadaannya, Kama, gue kemari karena peduli sama lo." Niat Samuel baik, dia meluangkan waktu hanya karena khawatir Kama kebingungan.

Nyatanya, begitu bertemu sensitifnya luar biasa. Terlihat jelas jika kedatangannya sangat tidak Kama harapkan, tapi dengan kelapangan hati Samuel tidak mempermasalahkan itu sama sekali.

"Tidur, sudah mendingan kalau kat_"

Ucapan Kama terpotong begitu sadar tatapan Samuel tidak lagi tertuju padanya, melainkan ke arah dapur dan Kama mengikutinya. Suasana hati Kama yang tadi sudah buruk, semakin buruk juga begitu Samuel sampai menganga.

"Perfect, lo nggak pusing gagal unboxing, Kam?" Seolah tidak paham bagaimana suasana hati sahabatnya, Samuel kembali melontarkan pertanyaan yang luar biasa menyebalkan di telinga Kama.

"Lo gue tonjok beneran." Kama melayangkan tatapan tajam ke arah Samuel yang kini tertawa sumbang dan menegaskan jika dia bahagia di atas penderitaan Kama.

Semakin Ayas mendekat, semakin semangat Samuel bahkan sengaja berdiri demi menyambut istri sahabatnya. Tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun, sekalinya mencoba justru dia jadikan istri dan hal itu cukup membuat Samuel terkejut.

"Terima kasih, Laras ... maaf ngerepotin sampai dibuatin jus begini," ucap Samuel antara sengaja atau bagaimana, tapi tingkahnya yang salah tingkah membuat Kama ingin melempar sepatu tepat di wajahnya.

"Oh enggak repot, Kak, aku cuma anterin kok yang buat mba Ida."

Sektika senyum Samuel berubah menjadi buliran jeruk, dan Kama menunduk demi menahan gelak tawanya. Istrinya menggemaskan, dan detik ini juga Kama ingin mencubitnya. Sama sekali tidak bisa menyenangkan hati Samuel sedikit saja, dan hal itu adalah nilai plus yang Ayas punya.

"Oh begitu, tapi tetap saja kan Laras butuh tenaga buat jalan bawain minumannya."

"Nggak apa-apa, aku cuma bantuin karena mbak Ida malu katanya," tambah Ayas yang kemudian membuat Kama tak kuasa menahan tawanya.

Dia tergelak, sementara wajah Samuel kini merah padam menahan malu sekaligus kesal lantaran gelak tawa Kama selepas itu. Bahkan, Kama belum berhenti sebelum bantalan sofa mendarat tepat di wajahnya.

"Lo pikir lucu?"

Semakin ditanya, semakin Kama tertawa dan hal itu tak lepas dari pandangan Ayas yang kini bingung sendiri dimana letak salahnya. Dia sudah mengatakan hal yang sejujur-jujurnya, memang benar Ida malu mengantarkan minuman itu untuk Samuel, tapi anehnya ketika jujur reaksi mereka justru begitu.

Hanya perkara sederhana, Kama sampai lemas dan meminta Ayas untuk masuk ke dalam kamarnya segera. Sungguh dia tidak ingin Samuel terlalu lama memandanginya, demi apapun Kama tidak rela.

"Lihat sendiri 'kan? Istri gue baik-baik aja, dah pulang sono." Kama beranjak berdiri tak lama setelah Ayas pergi, sungguh kehadiran Samuel seakan tak berarti. "Eh, tapi jusnya abisin dulu ... spesial dari mbak Ida tu, gue denger-denger bentar lagi resmi jadi janda dia."

"Bodo amat!" teriak Samuel yang tak lagi Kama pedulikan, memilih menghilang akan lebih baik setelah membuat tensi temannya mendadak naik.

.

.

Tiba di kamar dia masih saja terbahak, Kama mengunci pintu hingga Ayas yang duduk di tepian ranjang sontak mengerutkan dahi. "Temen mas sudah pulang ya?"

"Sudah," jawab Kama memperpendek masalah, mana mungkin dia jujur dan mengatakan yang sebenarnya.

Seperti biasa, Ayas tidak banyak pertanyaan dan mendekati Kama. Walau memang tidak diminta, tapi Ayas begitu sigap kala membantu Kama melepaskan pakaiannya.

Kama berpikir sejenak, sejak dahulu pikirannya tidak sedalam ini tentang pernikahan. Dia tidak hanya dilayani, tapi juga benar-benar dirajakan dan Ayas terlihat sangat tulus melakukan segala sesuatu untuknya.

"Kenapa tidak jadi tidurnya?"

"Sudah."

"Perutnya tidak sakit lagi memang?"

"Sedikit, tapi sudah jauh lebih baik," jawab Ayas jujur dan berlalu meletakkan pakaian kotor milik Kama ke keranjang, sudah tentu Kama yang kini hanya mengenakan celana pendek itu tetap mengekor kemana langkah istrinya.

Dia khawatir akan sakit yang Ayas rasakan, sementara Ayas justru menduga suaminya butuh sesuatu. Ayas coba pastikan berkali-kali, tapi Kama hanya menggeleng setiap Ayas menawarkan pilihan untuknya.

"Atau mau kupijat?"

"Tidak juga," jawab Kama mantap, saat ini dia memang tidak ingin apa-apa.

"Terus apa, Mas? Kamu dari tadi ngintil terus tapi nggak bilang apa maunya," keluh Ayas yang ternyata lelah menerka suaminya menginginkan apa sejak tadi.

Kama tersenyum tipis, pria menghela napas panjang seakan melepas semua bebannya sebelum menjawab pertanyaan Ayas. "Maunya dijadikan satu-satunya pria yang bertahta di dalam sini ... apa bisa?" tanya Kama menatap Ayas sendu seraya menyentuh dada sang istri yang kini berdebar tak karu-karuan. "Bisa, 'kan?" lanjut Kama selang beberapa lantaran Ayas tak segera menjawab.

.

.

- To Be Continued -

1
Ayuk Witanto
😂😂😂
Ayuk Witanto
ngakak terus🤣🤣🤣🤣
Ayuk Witanto
sabar kay
Ayuk Witanto
🤣🤣🤣🤣
Ayuk Witanto
kapok
Ayuk Witanto
kok Podo Iki dukune😂😂
Ayuk Witanto
parut aja
Ayuk Witanto
makanya jangan sok blokir semua nomer...jadi gak tau kan
Ayuk Witanto
kepo
Ayuk Witanto
Slamet Slamet
Ayuk Witanto
kualat🤣🤣😂😂
Ayuk Witanto
🤣🤣🤣
Ayuk Witanto
hayo 😂
Ayuk Witanto
🤣🤣🤣🤣biar adem si kama
Ayuk Witanto
bundir dia
Ayuk Witanto
overcook🤣🤣
Ayuk Witanto
sweetnya.. terharu 🥲🥲
Ayuk Witanto
🤣🤣🤣
Ayuk Witanto
kukira si Juki minta maaf beneran ternyata emang gak perlu di kasihani
Ayuk Witanto
ngomong dong🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!