Indonesia
NovelToon NovelToon
A MISSILE BOMB!

A MISSILE BOMB!

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Chicklit / Tamat
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Yais

Sebuah takdir mempertemukan keempat gadis cantik dengan masa lalu yang kelam. Penghianatan, kebohongan, mereka rasakan dan terima dari orang-orang terdekatnya. Luka di masa lalu membuat mereka bangkit dan bersikeras untuk membalas dendam pada semua orang yang pernah menyakitinya di masa lalu. Mereka bersatu untuk mencapai tujuan besarnya itu. Keempat gadis ini sosok yang sangat cerdik dan berbakat. Kehadiran mereka bagaikan bom peledak yang kapanpun bisa menghancurkan. Karena tekad kuatnya itu, di masa depan nanti dunia akan berada dalam genggamannya. Mereka inilah yang terlahir sebagai, "Queen of the World".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Yais, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENGHADIRI SEBUAH PESTA

Siang itu, Jihan dan Brandon sudah tiba di F. Sis Company. Saat dilihat ternyata perusahaan itu adalah perusahaan milik tuan Richard. Mereka heran kenapa nama perusahaan itu menjadi berbeda. Saat masuk, kebetulan mereka bertemu dengan Livy.

"Apa aku bisa bicara dengan tuan Richard?"

"Maaf tuan, tetapi tuan Richard sudah meninggal dunia satu Minggu yang lalu."

"Benarkah? Lalu, siapa yang memegang tanggung jawab perusahaan ini sekarang?"

"Kebetulan perusahaan ini sudah diambil alih oleh orang lain. Pemiliknya juga bukan lagi tuan Richard, melainkan orang lain."

"Apa tuan Richard memberikan perusahaan ini pada anaknya? Atau mungkin saudaranya?"

"Maaf tuan, untuk itu aku tidak bisa memberitahumu."

"Aku ingin bertemu dengan pemilik perusahaan ini. Dimana dia?" ucap Jihan mulai emosi.

"Kau harus memiliki janji terlebih dahulu, tuan. Jika belum, maka kau tidak bisa menemuinya." jawab Livy.

Jihan menerobos masuk dan menemui para pekerja. Dia mencari orang yang sudah menerbitkan berita palsu itu. Di antara mereka semua, seorang perempuan dengan berani mengakui jika dia yang sudah menuliskan berita itu dan menerbitkannya di surat kabar.

"Berani sekali kau membuat berita palsu seperti ini!" ucap Jihan sambil melempar surat kabar itu ke wajah perempuan tadi.

"Maaf tuan, jika pun aku bukan seorang jurnalis yang profesional, aku tidak akan pernah membuat berita palsu seperti itu apalagi sampai diterbitkan di surat kabar. Aku tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal itu." jawab si perempuan.

"Lancang sekali kau ini!"

"Plakkk!!!"

Satu tamparan keras mendarat di wajah perempuan itu. Livy segera melaporkan perbuatan Jihan itu pada Lea. Mendengar hal itu, Lea tidak tinggal diam. Dia pergi ke perusahaan dengan membawa wartawan. Sesampainya di sana, Lea tidak langsung menemui mereka. Dia masih ingin bermain-main dengan Jihan. Dia ingin melihat bagaimana penasarannya Jihan ingin tahu siapa pemilik perusahaan baru itu.

"Liput kejadian siang ini dan langsung siarkan di televisi." ucap Lea. "Jika perlu, pancing Jihan supaya meluapkan amarahnya di depan kamera. Biar semua orang tahu siapa sebenarnya Jihan Cameron itu."

"Mengerti nona. Kami akan melakukan tugas kami dengan baik."

Brandon dan Anya terkejut melihat kedatangan wartawan. Anya membawa suaminya untuk pergi dari sana. Namun, salah satu wartawan mencegahnya. Dia menanyakan hal yang membuat Jihan sangat marah.

"Tuan Jihan, apa pantas seorang pria berwibawa sepertimu menampar seorang pekerja wanita di perusahaan ini?"

"Jangan asal bicara. Kau ini tidak tahu apa-apa!" Jihan mendorong salah satu wartawan sampai terjatuh. Kehebohan itu langsung muncul di televisi.

"Pemirsa, di sini kami ingin mengabarkan jika seorang pengusaha sukses, tuan Jihan Cameron membuat kegaduhan di salah satu perusahaan yang ada di kota. Bukan hanya itu, dia juga sudah menampar salah satu pegawai wanita di perusahaan ini. Dan kalian menyaksikan jika tuan Jihan baru saja mendorong salah satu teman kerja kami sampai terjatuh. Untuk pemirsa di manapun kalian berada, yang kita saksikan baru saja menunjukkan jika tuan Jihan bukanlah orang baik-baik. Dia seorang pria yang sangat kasar dan tidak berperasaan." ucap seorang reporter wanita.

Di ruang kerjanya, Lea duduk dengan santai sambil menikmati siaran televisi itu. Dia bukan hanya menjatuhkan nama baik Bara, melainkan juga kehormatan dan harga diri dari seorang Jihan Cameron. Setelah ini, Lea yakin jika keluarga Cameron akan terus bermasalah ke depannya. Lea menelepon Livy untuk datang ke ruangannya.

"Kau memanggilku nona?"

"Minta beberapa penjaga dan satpam untuk mengusir mereka dari sini. Jika tidak bisa juga, manfaatkan situasi ini untuk menjatuhkan Brandon."

"Baik, nona."

Livy memanggil penjaga dan satpam untuk membawa mereka pergi, hanya saja Jihan sangat keras kepala. Dia terlihat ingin membuat perhitungan pada reporter wanita itu.

"Sudahlah, suamiku. Ayo kita pulang." ajak Anya.

"Jangan cegah aku, Anya! Reporter itu sudah menjatuhkan nama baikku di depan banyak orang. Akan aku buat perhitungan padanya!"

Ini kesempatan Livy untuk menjatuhkan nama baik Brandon. Dia tiba-tiba masuk supaya tertangkap kamera.

"Bukankah kau ketua NYPD, tuan Brandon Amedeo? Kenapa kau membiarkan seseorang membuat kekacauan di perusahaan milik orang lain? Apa karena tuan Jihan adalah sahabatmu? Jadi kau tidak berani bertindak?" ucap Livy.

"Kenapa kau menyeretku dalam hal ini?" tanya Brandon bingung.

"Bagaimana tidak, tuan? Kau dari tadi diam saja. Bahkan saat tuan Jihan menampar seorang wanita kau tidak melakukan apapun." sambung Livy.

"Apa jangan-jangan... Kau juga ikut menutupi kasus kejahatan Bara Cameron?"

"Kenapa bicaramu itu melantur? Apa kau sengaja untuk memanas-manasi situasi ini?"

"Salahmu sendiri, tuan Brandon Amedeo. Kau sudah melindungi seorang penjahat." ucap Livy pelan.

"Apa maksud perkataan perempuan tadi, Tuan? Apa kau sebenarnya tahu tentang kasus tuan Bara dan mencoba untuk melindunginya dari hukum?" tanya salah satu wartawan.

Brandon bingung harus menjelaskan apa di hadapan wartawan.

Setelah melakukan tugasnya, Livy langsung mundur. Dia memberitahu Lea jika semua sudah berjalan sesuai dengan yang ia inginkan.

"Kerjamu sangat bagus, Livy. Akan aku naikkan gajimu tiga kali lipat." ucap Lea.

"Benarkah nona Lea?"

"Tentu saja."

"Terima kasih banyak, nona."

Wartawan terus mendesak Jihan supaya mau mengakui kejahatan putranya. Di satu sisi, Anya merasa kepalanya sangat pusing. Tidak lama akhirnya dia jatuh pingsan.

"Anya, bangunlah!" ucap Jihan.

Dia langsung membawa istrinya itu ke rumah sakit. Lea menghubungi Livy supaya mencegah wartawan itu pergi.

"Tidak perlu di kejar!" ucap Livy.

"Kenapa?"

"Nona Lea sendiri yang memintanya. Dia akan kembali mempekerjakan kalian jika situasinya sudah tepat. Untuk bayarannya, aku sudah mentransfer uangnya."

"Terima kasih banyak, nona. Jika sewaktu-waktu kalian membutuhkan kami, hubungi saja aku!"

"Tentu." jawab Livy.

****

Hari sudah malam. Ji-Hoon dan kedua orang tua Layla sibuk menyambut kedatangan tamu undangan. Mereka yang hadir di pesta itu bukan hanya dokter dan perawat, melainkan sahabat Harry dan Marry juga ikut di undang untuk meramaikan suasana. Layla baru saja selesai berdandan. Dia turun ke bawah dengan ditemani ibunya. Semua mata tertuju padanya. Layla terlihat begitu cantik dan menawan mengenakan baju berwarna biru muda yang menyerupai Cinderella. Ji-Hoon berjalan menghampiri kekasihnya itu. Dia mengajaknya berdansa di hadapan semua tamu.

"Kau terlihat sangat cantik," puji Ji-Hoon pada Layla.

"Kau ini bisa saja. Apa aku hanya terlihat cantik hari ini saja? Apa hari-hari biasa aku tidak cantik?" tanya Layla.

"Setiap hari kau terlihat sangat cantik. Tidak ada yang mengalahkan kecantikan kekasihku ini." ucap Ji-Hoon.

Saat pesta sedang berlangsung, Livy baru saja tiba. Dia masih ada di luar karena tanpa surat undangan itu, seseorang tidak bisa masuk.

"Tolong izinkan aku untuk masuk, pak!" ucap Livy pada penjaga.

"Maaf nona, kami harus melihat dulu kartu undangannya."

"Apa kau bisa memanggil seseorang untuk menemuiku?"

"Baiklah, kau bisa tunggu disini."

Penjaga itu memanggil Ji-Hoon. Dia memberitahu jika di luar ada seorang perempuan yang bersikeras ingin masuk hanya saja dia tidak memiliki kartu undangannya.

"Maaf, kau siapa?" tanya Ji-Hoon menghampiri.

"Aku Livy, sekretarisnya nona Lea."

"Oh,, kalau begitu masuklah! Maaf penjaga tidak tahu jika kau tamu penting kami." ucap Ji-Hoon.

"Kenapa bicara seperti itu? Tamu penting kalian nona Lea, bukan aku." gumam Livy.

Saat di dalam, Livy langsung menemui Layla.

"Happy Birthday," ucap Livy sambil menjabat tangan Layla.

"Terima kasih."

"Apa kau teman dari ayah dan ibuku?" tanya Layla tidak tahu.

"Bukan, namaku Livy. Aku sekretarisnya nona Lea. Dia tidak bisa datang karena sibuk. Jadi aku yang diminta datang untuk mewakilinya." ucap Livy.

"Oh iya,, ini kado untukmu dari nona Lea."

"Bilang pada Lea ucapan terima kasihku."

"Akan aku sampaikan nanti."

"Kalau begitu duduklah dulu. Aku akan meminta pelayan untuk membawakan minuman dan makanan untukmu." ucap Layla.

"Terima kasih."

Saat sedang mencicipi makanannya, ponsel Livy berdering. Saat dilihat ternyata Lea yang meneleponnya. Livy langsung mematikan ponselnya. Dia tidak mungkin menjawab telepon Lea di depan Layla.

"Maaf nona, aku tidak menjawabnya karena ada Layla bersamaku." tulis Livy pada Lea.

"Tidak apa-apa, aku mengerti." balas Lea.

Livy melihat-lihat keadaan di sekelilingnya. Pandangannya tertuju pada Harry yang sedang berbincang dengan seorang pria dan perempuan. Sepertinya mereka itu sepasang suami istri. Mereka terlihat sangat akrab.

"Dimana ayah dan ibumu?" tanya Livy ingin tahu.

"Itu ibuku!" tunjuk Layla.

"Dan yang di sana itu adalah ayahku. Seperti itulah dia jika sudah berbincang dengan teman lamanya."

"Ya... bisa dibilang teman lama sekaligus mitra kerja. Perempuan itu adalah teman ayahku, dan pria itu adalah suaminya. Ayah dan mereka sedang membicarakan sebuah bisnis besar. Kalau tidak salah mereka juga pernah membuat kontrak kerja sama dengan salah satu pengusaha tersukses di Roma. Namanya kalau tidak salah adalah Richard. Tapi sayangnya, dia sudah meninggal dan perusahaannya bangkrut. Dan sepertinya kontrak kerja sama itu tidak lagi dilanjutkan." ucap Layla.

"Sepertinya kau tahu banyak tentang bisnis. Apa kau tertarik dengan dunia bisnis?"

"Tidak sama sekali. Keahlianku di bidang kedokteran. Aku tahu semua itu saat ayah membicarakannya dengan ibuku. Kebetulan aku ada di sana mendengarkannya."

Salah seorang dokter menghampiri Layla dan mengajaknya untuk minum. Saat sedang duduk sendiri, Livy memotret kebersamaan Harry dengan suami istri itu. Dia lalu mengirimkannya kepada Lea. Setelah menerima foto itu, Lea langsung mencaritahu identitas asli dari si wanita dan laki-laki itu.

****

1
tiaaa@
kk npa lama banget
Putri Yais: Lama yah nunggu kelanjutan ceritanya? Itu karena ada beberapa kendala yang tidak bisa di ceritakan. Tapi Bismillah sekarang sudah kembali lagi dan Insya Allah akan berusaha untuk mulai update lagi kelanjutannya setidaknya sehari satu eps.
Terima kasih yah,, sudah hadir kembali dan mau mampir di ceritaku setelah sekian lama tidak update🙏🏻😊🤗
total 1 replies
liara
semangat thor/Determined//Smile/
tiaaa@
Kaka kapan di lanjut lagi,
Putri Yais: Insya Allah yah setiap hari pasti update. Tapi ga pernah tentu jamnya. Di tunggu aja /Smile/
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
hai kak aku mampir semangat kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!