Sejak kecil Karina terbiasa melihat ibunya bekerja keras ditambah lagi setelah sang Ayah memilih pergi dengan wanita lain, oleh karena itu, Karina berjanji pada dirinya sendiri dimana dia ingin bebas dari kemiskinan, Sampai suatu hari, Karina bertemu dengan Adrian Mahardika pemuda Tampan. Berpendidikan. Pewaris keluarga konglomerat yang memiliki segalanya. Bagi Karina, Adrian bukan sekadar lelaki. Ia adalah jalan keluar dari kehidupan yang selama ini ia inginkan, yaitu kemewahan. Sejak saat itu, Adrian menjadi obsesinya. Akankah Karina mampu memenangkan Obsesinya atau malah membuat Hidupnya hancur dengan Obsesinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Pagi itu matahari bahkan belum sepenuhnya muncul ketika suara ketukan keras menggema di pintu kontrakan sempit yang dihuni Karina dan ibunya.
Tok! Tok! Tok!
"Karina! Saya tunggu sampai sore ini, Kalau hari ini belum bayar juga, jangan salahkan saya kalau barang-barang kalian akan saya keluarkan paksa!"
Suara Bu Rasti, pemilik kontrakan, terdengar lantang hingga beberapa tetangga mulai mengintip dari balik jendela. Didalam Karina masih duduk tenang bersama Ibu nya, Wajah nya memucat, mereka saling berpandangan dimana sang ibu sedang berbaring lemah di atas kasur tipis.
"Iya, Bu... Rasti, saya usahakan hari ini," jawab Karina lirih.
"Usahakan, usahakan terus! dari dari kemarin kamu ngomongnya itu terus Karin, ini sudah mau tiga bulan, pokonya nanti sore harus udah ada uangnya."
"Iya, Bu...pasti saya kasih kalo sudah ada."
Tanpa balesan Bu Rasti pergi sambil mengedumel pada diri sendiri, tak terdengar lagi ocehan bu Rasti diluar, Karina dan ibunya bernafas lega, dadanya terasa sesak, bukan karena dimarahi, tetapi karena ia benar-benar tidak tahu harus mencari uang dari mana. Kontrakan berukuran tiga kali enam meter itu menjadi saksi bagaimana hidup mereka berubah dalam dua tahun terakhir, setelah perpisahan nya dengan sang Ayah, hidup mereka kini berubah drastis, Karina baru saja lulus dari sekolah menengah kejuruan, kini hidupnya bergantung pada bengkel pak Hendra, karna ibunya yang sering sakit sakitan, karina masih sangat mengingat jelas sekali bagaimana sang Ibu memohon pada ayahnya untuk tidak pergi meninggalkan mereka, namun pria itu tetap memilih meninggalkan mereka demi wanita lain. Sejak saat itu, sang Ayah benar-benar menghilang dari hidup mereka, Tanpa kabar, tanpa memberi nafkah pada putrinya sendiri, dan yang lebih menyakitkan, beberapa tetangga pernah melihat sang Ayah keluar dari mobil mewah bersama wanita lain. Beruntung pak Hendra mau menerima karina sebagai montir dibengkel, ia adalah sosok yang selalu menolong karina dan ibunya saat kesulitan setelah sang ayah meninggalkanya, untuk kali ini Karina enggan menceritakan soal tunggakan sewa rumah pada pria paru baya itu yang sudah banyak menolong nya.
Waktu sudah hampir mendekati sore, pikiran Karina mulai dipenuhi ancaman Bu Rasti tadi pagi, tak ada cara lain baginya untuk mendapatkan uang dengan cara yang telah dia rencanakan bersama Jono.
Sore ini, sepulang dari bengkel ia mengajak Jono teman kerjanya dibengkel untuk melancarkan aksinya, yang mana sudah 2 hari ini rencana mereka terus gagal, karina sengaja melakukan ini demi untuk membayar tunggakan kontrakan agar tidak kena usir pemilik rumah
"Jon, kali ini harus berhasil," bisik Karina dengan tatapan penuh keyakinan.
Jono menggeleng pelan. "Haduh, Karin... ini taruhannya nyawa loh."
"Udah, nggak bakal kenapa-napa. Kita cuma bikin mereka berhenti, habis itu minta ganti rugi."
Meski masih ragu, Jono akhirnya menuruti rencana Karina. Ia menyalakan motor tua yang memang sudah rusak sejak awal. Motor itu sebenarnya milik pelanggan bengkel Pak Hendra yang belum sempat diperbaiki. Karina membawanya tanpa sepengetahuan pak hendra pemilik bengkel, Begitu melihat sebuah mobil SUV hitam melaju di jalan raya, Jono menarik gas dan sengaja membelokkan motor keluar dari gang.
BRUKKK!
Benturan kecil tak terhindarkan. Motor langsung roboh ke aspal, sementara mobil itu mengerem mendadak hingga terdengar suara ban berdecit.
Karina yang sudah siap dengan sandiwaranya langsung menjatuhkan diri. Ia meringis sambil memegangi kaki seolah-olah mengalami cedera.
"Haduh... sakit...!" rintihnya.
Seorang pria dengan setelan jas rapih berusia segera turun dari kursi depan.
"Astaga! Memang kalian nggak lihat-lihat dulu kalau mau keluar gang?" katanya dengan nada kesal.
Karina langsung membalas.
"Enak aja ngomongnya! Bapak aja yang ngebut. Udah lihat ada motor, bukannya ngerem!"
pria itu menghela napas panjang.
"Lho, Mbak. Kalau saja yang nyetir lihat kanan kiri dulu, ya nggak bakal ketabrak."
Jono ikut berdiri sambil menunjuk motornya.
"Jadi gimana ini pak?, motor saya rusak ini."
Pria itu memperhatikan motor yang tergeletak di jalan. Ada sesuatu yang memang terasa aneh, Beberapa bagian motor terlihat rusak padahal dirinya merasa tidak menyenggol motor sama sekali
Saat suasana mulai memanas, kaca belakang mobil perlahan terbuka, seorang pria muda dengan wajah tampan dan penampilan rapi tampak duduk di kursi belakang. Jas abu-abu yang dikenakannya menunjukkan bahwa ia bukan orang biasa. Tatapannya tenang, tetapi terlihat terburu-buru.
"Ada masalah apa Tom" panggil pria itu kepada asisten nya
"Ini pak, saya nabrak motor."
Tampa berpikir panjang pria itu mengambil beberapa lembar uang merah dari dompetnya lalu menyerahkannya kepada sang asisten
"Ini Kasihkan saja ke mereka."
Asisten itu mengangguk lalu menyerahkan uang tersebut kepada Karina.
"Nih, buat ganti rugi, sekarang tolong pinggir kan motor nya"
Mata Karina langsung berbinar. Ia cepat-cepat menghitung uang itu, namun, setelah selesai menghitung, wajahnya berubah, uang yang diterima Karina masih jauh buat membayar setengah saja sewa rumah nya
"Ko segini... mana cukup."
Pria itu mengernyit. "Gak cukup gimana?"
"Ya gak cukup pak, buat benerin motor, Mending bapak ikut saya bengkel aja."
Mendengar suara Karina, pria muda yang masih duduk dibelakang mobil itu akhirnya menoleh dari dalam mobilnya, untuk pertama kalinya, Karina melihat jelas wajahnya, Rahangnya tegas, kulit bersih, sorot mata tajam, dan penampilan yang sangat berkelas, Karina sempat terpaku beberapa detik.
"Woow... keren juga." batinnya.
Pria itu membuka pintu mobilnya kemudian turun dan berjalan mendekati Karina, tanpa berfikir pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang merah kemudian langsung menyerahkan uang tersebut ke tangan Karina.
“Ini... saya rasa uang ini sudah lebih dari cukup” kata pria muda itu sambil memberikan uang nya
Karina menatap tumpukan uang di tangannya.
Jumlahnya jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
Matanya membulat, senyum dibibirnya sedikit terlihat, lalu Karina mengambil dengan cepat nya,
“Cukup... cukup banget, terima kasih.”sahut karina dengan suara sedikit gugup
“Kalau begitu, cepat singkirkan motor itu dari jalan, Saya sudah terlambat.” kata pria muda itu, sambil kemudian berbalik membelakangi Karina sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam mobil nya.
Karina segera memberi kode kepada Jono untuk mendorong motornya yang menghalangi mobil mereka
“Ayo, Jon!” kata Karina
Mereka berdua buru-buru mendorong motor ke pinggir jalan, beberapa detik kemudian, SUV hitam itu kembali melaju meninggalkan mereka, ada sesuatu yang membuat Karina penasaran terhadap pria tadi, matanya masih tak berkedip sampai mobil itu hilang dari pandangan nya. Pertemuan singkat di pinggir jalan itu mungkin terlihat seperti kejadian biasa, namun bagi Karina, pertemuan singkat ini ternyata menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya untuk meraih obsesi Karina yang sejak dua tahun terakhir terus menghantui pikiran nya.