Indonesia
NovelToon NovelToon
RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: TEKA-TEKI SANG PERINTIS

Dua hari telah berlalu sejak kekacauan di area parkir gedung konvensi.

Namun, bagi Rangga, malam itu belum benar-benar berakhir.

Bayangan lima pria bermasker, suara benturan tubuh di atas aspal, deru minibus hitam yang menerobos kepungan, hingga kemunculan kembali pria misterius berjaket kulit terus berputar di dalam kepalanya. Semua kejadian tersebut terasa seperti potongan-potongan gambar yang belum menemukan tempatnya.

Terlebih lagi, ada satu hal yang terus mengusik pikirannya.

Ratna.

Gelang perak dengan ukiran rasi bintang Arkais yang melingkar di pergelangan tangannya bukan sekadar benda warisan keluarga. Setidaknya, itulah yang mulai diyakini Rangga.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar di balik benda tersebut.

Dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke Jakarta, Rangga merasa bahwa kesuksesan bisnis yang selama ini ia bangun perlahan mulai bersinggungan dengan sesuatu yang berada di luar perhitungan dunia usaha.

Pagi itu, Rangga berdiri di balik meja kerja lantai tiga kantornya. Pemandangan Jakarta terbentang luas di balik jendela kaca.

Gedung-gedung tinggi berdiri kokoh, kendaraan bergerak seperti aliran sungai tanpa henti, sementara cahaya matahari pagi memantul pada kaca-kaca pencakar langit.

Dulu, pemandangan seperti itu membuatnya merasa kecil.

Sekarang, tidak lagi.

Ia telah melewati perjalanan panjang.

Dari ruko kecil, mesin cetak sederhana, pekerjaan kasar, hingga menjadi pengusaha yang mampu berdiri sejajar dengan para pemilik perusahaan besar.

Namun, pagi ini Rangga menyadari satu hal.

Ada persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan uang, jaringan bisnis, ataupun keberanian.

Ia membutuhkan seseorang yang mampu membaca sisi lain dari teka-teki yang sedang dihadapinya.

Rangga mengambil ponselnya.

Nomor Ratna masih tersimpan di dalam daftar kontaknya sejak mereka bertukar nomor sebelum berpisah malam itu.

Jempolnya sempat berhenti di atas layar.

Ia berpikir beberapa detik.

Kemudian mengetik.

"Ratna, saya ingin mengajakmu datang ke kantor. Ada sesuatu yang mungkin berkaitan dengan gelangmu. Saya rasa kamu perlu melihatnya."

Pesan itu dikirim.

Rangga meletakkan ponselnya di atas meja.

Tidak sampai lima menit kemudian, layar ponsel kembali menyala.

"Jam berapa?"

Rangga tersenyum tipis.

Singkat.

Dingin.

Sangat Ratna.

Ia membalas dengan waktu yang disepakati.

Setelah itu, ia membuka sebuah laci di sisi meja.

Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah map tua yang selama bertahun-tahun tersimpan di antara dokumen-dokumen penting miliknya.

Map itu tidak memiliki nilai komersial.

Tidak pula tercatat sebagai aset perusahaan.

Namun, Rangga menyimpannya karena satu alasan.

Ia merasa benda tersebut belum selesai berbicara kepadanya.

Perlahan, Rangga membuka map itu.

Di dalamnya terdapat selembar peta tua dengan permukaan kertas yang telah menguning. Garis-garis geometris memenuhi sebagian besar permukaannya. Beberapa titik diberi tanda khusus, sementara pola tertentu membentuk susunan yang sekilas tampak seperti jaringan bintang.

Rangga menatapnya lama.

Dulu, ia hanya menganggapnya sebagai peninggalan yang menarik.

Sekarang, setelah melihat gelang Ratna, pandangannya berubah.

Ada kemungkinan bahwa peta itu dan gelang tersebut memiliki hubungan.

Dan kalau benar demikian, mungkin penyerangan di area parkir bukanlah kebetulan.

Pikiran itu membuat Rangga mengembuskan napas panjang.

Ia menutup kembali map tersebut.

Beberapa jam kemudian, suara kendaraan berhenti di depan lobi kantor.

Rangga yang sejak tadi menunggu langsung mengalihkan pandangan.

Seorang wanita turun dari taksi.

Kemeja putih sederhana berpadu dengan celana bahan hitam. Tidak ada gaun mewah seperti saat gala bisnis dua malam sebelumnya. Tidak ada aksesori berlebihan.

Namun, pembawaan Ratna tetap membuatnya mudah dikenali.

Ia berjalan masuk dengan langkah tenang.

Begitu melihat Rangga, Ratna hanya mengangkat dagu sedikit.

"Tempat yang cukup mengesankan untuk seseorang yang baru dua tahun kembali dari daerah perantauan."

Tatapan Ratna bergerak sekilas ke deretan piagam penghargaan bisnis yang terpajang di dinding.

Rangga tersenyum.

"Terima kasih sudah datang."

"Aku datang karena pesanmu mengatakan ada sesuatu yang berkaitan dengan gelang ini."

Nada Ratna tetap datar.

"Kalau ternyata hanya alasan untuk mengajakku datang ke sini, waktuku terbuang."

Rangga tertawa kecil.

"Tenang. Aku tidak akan mempertaruhkan waktu seorang wanita yang katanya sangat membenci obrolan kosong."

Ratna menatapnya beberapa detik.

"Bagus. Berarti kamu mulai belajar."

Rangga menggeleng sambil tersenyum.

"Silakan."

Mereka kemudian berjalan menuju lift.

Pintu lift terbuka.

Keduanya masuk.

Sepanjang perjalanan menuju lantai tiga, tidak banyak percakapan terjadi.

Namun, keheningan itu tidak terasa canggung.

Justru ada semacam ketenangan baru di antara mereka.

Rangga mulai memahami bahwa Ratna bukan tipe perempuan yang membutuhkan basa-basi. Ia lebih menghargai percakapan yang memiliki tujuan.

Dan Rangga sendiri tidak keberatan dengan hal itu.

Begitu pintu lift terbuka, mereka berjalan menuju ruang kerja pribadi Rangga.

Ia membuka pintu.

Ratna masuk lebih dahulu.

Matanya bergerak menyapu ruangan.

Tidak ada kemewahan berlebihan. Meskipun kantor tersebut jauh lebih besar daripada ruko lama Rangga, ruang kerja itu tetap memiliki suasana sederhana dan fungsional.

Ratna mengangguk kecil.

"Setidaknya kamu tidak membuang uang hanya untuk membuat ruangan terlihat mahal."

"Aku belajar dari masa lalu."

"Bagus."

Rangga berjalan menuju meja.

Ia mengambil map tua yang tadi disiapkannya.

Kemudian meletakkannya di atas permukaan meja kayu.

Ratna langsung mendekat.

"Ini?"

"Dokumen lama."

Rangga membuka map tersebut.

Selembar peta tua terbentang di antara mereka.

Ratna yang semula terlihat santai langsung berubah serius.

Ia membungkuk sedikit.

Matanya menyusuri setiap garis.

Beberapa detik berlalu.

Lalu satu menit.

Kemudian beberapa menit berikutnya.

Tidak ada komentar.

Rangga memperhatikan perubahan ekspresinya.

"Bagaimana?"

Ratna tidak menjawab.

Ia justru mengeluarkan kacamata baca berbingkai tipis dari dalam tasnya.

Kacamata itu dikenakannya.

Ia kembali memeriksa peta.

Jemarinya perlahan bergerak mengikuti salah satu garis geometris.

Kemudian berhenti pada titik pertemuan tiga garis.

"Rangga."

"Ya?"

"Di mana kamu mendapatkan ini?"

Nada suara Ratna berubah.

Tidak lagi sekadar penasaran.

Ada keseriusan yang jauh lebih dalam.

Rangga menarik kursi di hadapannya.

"Dari masa sebelum aku pergi ke Borneo."

Ratna mengangkat wajah.

"Dan kamu menyimpannya selama itu?"

"Iya."

Ratna kembali menatap peta.

Kali ini lebih lama.

Kemudian ia berkata perlahan,

"Garis-garis ini tidak ditarik secara acak."

Rangga diam.

Ratna menunjuk salah satu bagian peta.

"Ini bukan gambar dekoratif."

Ia menggeser jarinya ke titik berikutnya.

"Dan ini juga bukan sekadar peta biasa."

Rangga sedikit mencondongkan tubuh.

"Jadi?"

Ratna melepas kacamatanya sebentar.

Tatapannya bertemu dengan mata Rangga.

"Ini adalah proyeksi matematika."

Ruangan itu mendadak terasa jauh lebih sunyi.

Rangga menatap kembali peta tua tersebut.

Selama bertahun-tahun, ia menyimpan benda itu tanpa benar-benar memahami nilainya.

Kini, untuk pertama kalinya, seseorang memberinya alasan untuk melihat peta tersebut dengan cara berbeda.

Ratna mengenakan kembali kacamatanya.

Lalu kembali membungkuk memeriksa setiap guratan.

Sementara Rangga hanya berdiri diam di samping meja.

Ia belum tahu ke mana peta itu akan membawa mereka.

Namun, satu hal mulai terasa jelas.

Peta tua itu bukan sekadar peninggalan masa lalu.

Dan ketika Ratna mulai menemukan pola pertama di dalamnya, Rangga sadar bahwa apa yang selama ini ia anggap sebagai perjalanan hidup biasa mungkin telah meninggalkan jejak jauh sebelum dirinya menyadarinya.

Ratna masih membungkuk di atas meja ketika Rangga menarik kursi di sampingnya. Tatapan wanita itu tidak beranjak dari permukaan peta tua yang telah menguning dimakan usia.

Jemarinya mengikuti sebuah garis tipis yang membentang dari bagian bawah menuju sudut kanan atas.

"Perhatikan ini."

Rangga mendekat.

"Apa?"

"Jarak antar-titiknya."

Ratna menunjuk beberapa tanda kecil yang nyaris tidak terlihat.

"Awalnya saya mengira ini hanya penanda posisi. Tetapi kalau dilihat berdasarkan intervalnya, ada pola yang konsisten."

Rangga mengamati lebih teliti.

"Berarti pembuatnya memang sengaja membuat jarak tertentu?"

"Ya."

Ratna menggeser peta sedikit agar terkena cahaya lampu meja.

"Orang yang membuat ini tidak menggambar berdasarkan perkiraan mata. Ia menggunakan perhitungan."

Rangga mengangguk pelan.

"Itu yang membuatmu tertarik?"

"Bukan hanya itu."

Ratna menunjuk bagian tengah peta.

"Bagian ini."

Sebuah rangkaian garis membentuk pola geometris yang sekilas menyerupai susunan bintang.

"Polanya hampir sama dengan gelangmu," kata Rangga.

Ratna terdiam.

Ia mengangkat pergelangan tangan kanannya.

Gelang perak itu menangkap cahaya lampu dan memantulkannya ke permukaan meja.

Untuk beberapa saat, Ratna membandingkan ukiran pada gelang dengan pola yang terdapat di peta.

Kemudian matanya menyipit.

"Ini bukan hampir sama."

Rangga menatapnya.

"Berarti?"

"Ini salinan."

Ratna menunjuk gelangnya.

"Gelang saya kemungkinan dibuat berdasarkan pola yang terdapat di peta ini."

Rangga terdiam.

Kalimat itu jauh lebih berat daripada yang ia perkirakan.

"Jadi gelangmu dibuat setelah peta ini?"

"Belum tentu."

Ratna menggeleng.

"Kita tidak bisa langsung menentukan mana yang lebih tua hanya dari pola. Tetapi keduanya jelas memiliki sumber yang sama."

Rangga bersandar di kursinya.

"Dan sumber itu?"

Ratna kembali melihat peta.

"Itulah yang harus kita cari."

Suasana kembali hening.

Tidak ada musik.

Tidak ada suara tamu.

Hanya dengung pendingin ruangan dan suara kendaraan yang sesekali terdengar samar dari balik kaca.

Rangga kemudian mengambil sebuah dokumen lain dari dalam laci.

Ia meletakkannya di samping peta.

"Ada satu hal lagi."

Ratna menoleh.

"Apa?"

"Ini catatan yang menyertai peta tersebut."

Ratna segera mengambilnya.

Kertas itu lebih tipis daripada peta utama. Beberapa bagian tulisannya telah memudar, tetapi masih cukup jelas untuk dibaca.

Ratna membaca dalam diam.

Keningnya perlahan berkerut.

"Bahasanya?"

"Bahasa lama."

"Ini bukan bahasa yang digunakan dalam catatan akademis biasa."

Rangga menatapnya.

"Kamu bisa membacanya?"

"Sebagian."

Ratna menunjuk beberapa kalimat.

"Strukturnya menggunakan istilah lama. Ada beberapa bagian yang jelas merupakan petunjuk geografis."

Rangga langsung fokus.

"Geografis?"

"Ya."

Ratna menarik kursinya.

"Kalau interpretasiku benar, pembuat peta ini tidak hanya mencatat posisi bintang."

Ia berhenti sebentar.

"Dia menghubungkan posisi bintang dengan lokasi tertentu di bumi."

Rangga teringat pada dua tahun yang ia habiskan di Borneo.

"Berarti ada hubungannya dengan Borneo?"

Ratna tidak langsung menjawab.

Ia memeriksa kembali beberapa bagian dokumen.

"Aku belum bisa memastikan."

Jawaban itu terdengar sangat berbeda dari gaya Ratna sebelumnya.

Tidak ada kesombongan.

Tidak ada kepastian palsu.

Hanya kehati-hatian.

Rangga justru menghargainya.

"Kalau belum yakin, jangan dipaksakan."

Ratna menatapnya.

"Kamu ternyata tidak sebodoh yang saya kira."

Rangga tertawa kecil.

"Terima kasih. Itu pujian?"

"Jangan terlalu percaya diri."

Rangga menggeleng.

Ratna kembali membaca dokumen.

Beberapa saat kemudian, ia menunjuk sebuah simbol kecil di bagian bawah peta.

"Ini."

Rangga mendekat.

"Apa?"

"Simbol ini."

Ia mengetuk permukaan kertas dengan ujung jarinya.

"Ini bukan bagian dari koordinat."

"Lalu?"

"Penanda."

"Penanda apa?"

Ratna menghela napas.

"Belum tahu."

Rangga menatap simbol itu.

Bentuknya sederhana, tetapi terasa familiar.

Sebuah garis melengkung bertemu dengan tiga garis pendek yang membentuk susunan tertentu.

Ia tiba-tiba teringat sesuatu.

"Simbol itu pernah kulihat."

Ratna langsung menoleh.

"Di mana?"

Rangga mencoba mengingat.

"Di Borneo."

Ratna menunggu.

"Di salah satu dokumen lama yang pernah kutemukan ketika masih mengurus pekerjaan proyek."

"Masih kamu simpan?"

Rangga menggeleng.

"Sepertinya tidak."

Ratna menatapnya dengan sedikit kecewa.

"Kamu harus lebih berhati-hati menyimpan benda seperti ini."

"Aku tidak tahu benda itu penting."

"Dan sekarang kamu tahu."

Rangga tersenyum.

"Makanya aku memanggilmu."

Ratna terdiam sesaat.

Tatapannya berubah lebih lembut.

Namun, ia segera kembali fokus pada peta.

"Kita harus membandingkan pola ini dengan gelang saya."

Ia melepas gelang perak itu dari pergelangan tangannya.

Rangga memperhatikan gerakannya.

Ratna meletakkannya tepat di atas peta.

Sekilas, keduanya tampak seperti dua benda yang berasal dari zaman berbeda.

Namun ketika gelang itu diletakkan pada bagian tertentu, beberapa garis ukirannya terlihat berimpit dengan garis pada peta.

Rangga membelalakkan mata.

"Pas."

Ratna tidak menjawab.

Ia memindahkan gelang beberapa milimeter.

Kemudian mencocokkannya lagi.

Kali ini lebih tepat.

"Ini bukan kebetulan."

Suara Ratna terdengar sangat pelan.

Rangga berdiri dari kursinya.

"Kalau begitu gelangmu adalah bagian dari peta?"

"Mungkin."

Ratna menggeleng.

"Lebih tepatnya, gelang ini mungkin berfungsi sebagai penunjuk."

"Penunjuk?"

"Ya."

Ia menunjuk salah satu bagian gelang.

"Perhatikan ujung pola ini."

Rangga menunduk.

"Arah?"

"Benar."

Ratna mengambil pena dari meja.

Ia membuat garis imajiner mengikuti arah ukiran gelang menuju salah satu titik pada peta.

Garis tersebut berhenti tepat pada sebuah tanda kecil.

Rangga menatap titik itu.

"Jadi gelang ini menunjukkan lokasi?"

Ratna menarik napas.

"Belum tentu lokasi akhir."

Ia menatap Rangga.

"Tapi setidaknya sekarang kita punya hubungan antara gelang, peta, dan pola bintang Arkais."

Rangga mengangguk.

Pikiran tentang penyerangan malam itu kembali muncul.

Lima pria bermasker.

Pria berjaket kulit.

Ucapan tentang kesuksesan Rangga di Borneo.

Semuanya semakin sulit dianggap sebagai kebetulan.

Namun Rangga tidak terburu-buru menyimpulkan.

Ia sudah cukup lama hidup di dunia bisnis untuk memahami bahwa potongan informasi tidak boleh langsung dianggap sebagai fakta.

"Ratna."

"Ya?"

"Kalau orang-orang yang menyerang kita malam itu mengetahui tentang gelang ini, berarti mereka mungkin juga tahu tentang peta."

Ratna terdiam.

Tatapannya perlahan berubah serius.

"Itu kemungkinan yang harus kita pertimbangkan."

"Dan pria berjaket kulit?"

Ratna menggeleng.

"Itu bagian yang belum bisa saya masukkan ke dalam pola."

Rangga menatap jendela.

"Dia sudah menyelamatkanku dua kali."

"Berarti dia punya alasan."

"Atau dia memang mengawasiku."

Ratna menatap Rangga.

"Kamu percaya dia?"

Rangga berpikir sejenak.

"Aku tidak tahu."

Jawaban itu membuat Ratna mengangguk kecil.

"Bagus."

"Bagus?"

"Karena orang yang tidak tahu tetapi mengaku percaya biasanya jauh lebih berbahaya daripada orang yang mengaku tidak percaya."

Rangga tersenyum tipis.

"Kamu memang selalu punya cara aneh untuk menjelaskan sesuatu."

"Aku menyebutnya logika."

Rangga tertawa pelan.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, percakapan mereka tidak terasa seperti adu ego.

Ada sesuatu yang berubah.

Dinding yang sebelumnya berdiri di antara mereka perlahan mulai runtuh.

Ratna kemudian kembali mengenakan gelang peraknya.

Ia menyimpannya dengan hati-hati.

"Peta ini jangan diberikan kepada siapa pun."

"Tenang."

"Dan jangan membicarakannya kepada rekan bisnis."

"Aku tidak sebodoh itu."

Ratna menatapnya sekilas.

"Kamu tadi sudah membuktikan itu."

Rangga tersenyum.

Ia kemudian merapikan kembali dokumen-dokumen tersebut.

Namun, sebelum peta dimasukkan ke dalam map, Ratna menahan tangannya.

"Tunggu."

Rangga berhenti.

"Apa?"

Ratna menunjuk bagian paling bawah peta.

Ada satu tulisan yang sebelumnya tertutup lipatan kertas.

Rangga membuka bagian tersebut perlahan.

Tulisan tua itu akhirnya terlihat sepenuhnya.

Ratna membaca dalam hati.

Kemudian wajahnya berubah.

"Ada apa?"

Ratna tidak langsung menjawab.

Ia membaca sekali lagi untuk memastikan.

Lalu menatap Rangga.

"Ini bukan sekadar peta."

Rangga menunggu.

"Di bagian bawahnya ada nama."

"Nama siapa?"

Ratna menggeleng pelan.

"Bukan nama orang."

Jemarinya menyentuh tulisan tersebut.

"Ini menyebut seseorang sebagai..."

Ratna berhenti.

Rangga menatapnya penuh perhatian.

"Sebagai apa?"

Ratna mengangkat wajah.

"Perintis."

Kata itu menggantung di antara mereka.

Dan untuk pertama kalinya sejak peta tua tersebut dibuka, Rangga merasakan bahwa masa lalu yang selama ini hanya menjadi bayangan perlahan mulai menunjukkan wajahnya.

Namun, siapa sebenarnya sang perintis yang namanya tersembunyi di balik peta tua itu?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!