Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Menyatu Dalam Ikatan Perasaan
Perjalanan pulang menuju rumah dilalui dalam keheningan yang serasa menghimpit. Hanya dengung halus mesin mobil dan gemercik samar gerimis tipis yang menyapu kaca depan, mengiringi dua insan yang tenggelam dalam pusaran pikiran masing-masing.
Zaid memegang kemudi dengan cengkeraman yang agak kaku. Lengan kirinya yang memar berdenyut nyeri setiap kali ia harus memutar setir, namun bibirnya terkatup rapat, menolak memperlihatkan rasa sakit itu di hadapan wanita di sampingnya.
Sementara Nara, hanya bisa menatap profil samping suaminya dengan hati yang dihinggapi rasa bersalah yang teramat dalam.
Sesampainya di garasi rumah, Zaid mematikan mesin. Sebelum pria itu sempat meraih gagang pintu, Nara sudah lebih dulu keluar, memutar cepat, lalu membukakan pintu untuk Zaid.
"Pelan-pelan, Mas," bisik Nara lembut. Tangannya bergerak sigap menopang lengan Zaid yang tidak cedera, membimbing suaminya masuk ke dalam rumah yang hangat.
Suasana ruang tengah yang tenang menyambut mereka. Nara meminta Zaid duduk di sofa empuk berwarna krem, sementara ia tergesa-gesa melangkah menuju dapur untuk mengambil kotak P3K yang lebih lengkap, wadah berisi air hangat, serta handuk kecil.
Ketika Nara kembali, ia mendapati Zaid bersandar pasrah pada sandaran sofa dengan mata terpejam. Kemeja putih tampan yang beberapa jam lalu terpasang rapi kini kusut, bernoda debu tipis di bagian bahu, dan menyisakan sedikit bercak darah mengering di area leher baju. Hati Nara seperti diremas melihat pemandangan itu.
Nara meletakkan peralatan medis kecilnya di atas meja kaca, lalu berlutut di lantai, tepat di depan Zaid. Posisi itu membuat kepalanya sejajar dengan dada Zaid.
"Mas..." panggil Nara lirih.
Zaid perlahan membuka kelopak matanya. Manik mata kecokelatan itu menatap Nara, tidak lagi memancarkan ketegasan yang biasa, melainkan menyisakan keletihan yang samar dan keraguan yang masih menggantung.
Nara memeras handuk hangat, lalu membawanya mendekati wajah Zaid.
"Aku bersihin dulu ya bekas darahnya. Kalau sakit, bilang ya, Mas."
Zaid hanya mengangguk pelan.
Dengan sangat hati-hati, jemari Nara bergerak mengusap sisa darah yang mengering di pelipis dan sekitar rahang Zaid.
Setiap sentuhan halus handuk basah itu diiringi hembusan napas hangat Nara yang terasa menenangkan di kulit Zaid.
Zaid memandangi wajah istrinya dari jarak yang teramat dekat. Ia bisa melihat betapa bulu mata Nara yang lentik masih basah oleh sisa air mata, dan bagaimana bibir mungil wanita itu sedikit gemetar menahan emosi.
"Nara..." panggung Zaid, suaranya terdengar serak di tenggorokan.
"Iya, Mas?" Nara menghentikan gerakannya sejenak, beralih mengambil salep racikan untuk luka memar dan cutton bud.
"Maafkan saya," ujar Zaid pelan, menatap lurus ke dalam iris mata Nara. "Saya tidak bisa melindungi kamu dengan baik di parkiran tadi. Malah kamu yang harus melempar diri untuk melindungi saya."
Nara tertegun. Ia tak menyangka Zaid justru menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian brutal tersebut. Senyum tipis yang sarat akan rasa haru terukir di bibir Nara.
"Kenapa Mas Zaid yang minta maaf?" suara Nara bergetar halus. "Mas itu luka gara-gara membela aku di depan Devino. Harusnya aku yang minta maaf dan terima kasih sama Mas Zaid..."
Nara mendekatkan posisinya. Ia mengoleskan obat dengan ujung jari manisnya yang lembut, perlahan menyentuh luka di sudut bibir Zaid yang robek.
Agh... Zaid menarik napas tajam melalui sela-sela giginya, refleks memegang pergelangan tangan Nara ketika rasa perih menembus lukanya.
"Sakit ya, Mas?" tanya Nara panik, hendak menarik tangannya kembali.
"Tidak... jangan dilepas," potong Zaid cepat. Cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Nara tidak keras, justru mengencang lembut, menahan jemari Nara agar tetap berada di dekat wajahnya.
Arah pandang mereka terkunci. Di bawah cahaya lampu gantung ruang tengah yang teduh, jarak di antara mereka menipis hingga tersisa hanya beberapa senti.
Keheningan malam seolah menarik mereka masuk ke dalam sebuah ruang tak kasat mata di mana hanya ada mereka berdua. Nara dapat merasakan desah napas Zaid yang hangat dan teratur membelai permukaan kulit wajahnya, sementara Zaid dapat mendengar jelas detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, bertalu-talu tidak beraturan.
Sebuah fenomena biologis yang sama sekali tidak bisa dijelaskan oleh logika terstruktur yang selama ini ia pegang teguh.
Desir hangat merayap cepat dari telapak tangan Zaid yang menggenggam jemari Nara, menjalar ke seluruh aliran darahnya.
Ada getaran aneh yang membuncah di dalam dada Zaid, sebuah dorongan posesif namun lembut, menegaskan bahwa wanita yang ada di hadapannya ini benar-benar miliknya.
"Mas..." bisik Nara hampir tak terdengar. Matanya bergerak turun menatap bibir Zaid yang terluka, lalu kembali menatap manik mata suaminya. Ada binar kehangatan dan rasa percaya yang mutlak di dalam tatapan Nara.
Zaid perlahan mengangkat tangan kirinya yang terasa agak kaku, mengabaikan rasa nyeri di otot bahunya. Jemari panjangnya yang kokoh menyelip di balik kerudung sage green Nara, menangkup pipi istrinya dengan lembut. Ibu jarinya mengusap lembut bekas jalur air mata di pipi Nara.
"Perkataan pria itu tadi..." Zaid bersuara pelan, matanya menyiratkan kerentanan yang jujur. "...dia bilang, kamu berada di sisi saya bukan karena cinta."
Nara menahan napasnya. Ia bisa merasakan sedikit kegelisahan di balik pertanyaan yang tertahan dalam kalimat Zaid. Pria logis dan tenang ini ternyata benar-benar merasa goyah hanya karena gertakan masa lalu.
Nara meletakkan telapak tangannya di atas tangan Zaid yang berada di pipinya, mengelus punggung tangan suaminya dengan tulus.
"Mas Zaid, dengarkan aku," tutur Nara dengan nada yang amat mantap, mengikis keraguan yang membayang di mata Zaid.
"Devino itu masa lalu yang sudah selesai jauh sebelum aku bertemu dengan Mas. Perjuangannya selama tiga tahun tidak pernah mengetuk hatiku sebagaimana Mas Zaid melakukannya hanya dalam dua bulan."
Zaid terpaku, bola matanya bergetar menanti kata-kata Nara selanjutnya.
"Pernikahan kita memang tidak diawali dengan kisah cinta yang manis mendayu-dayu," lanjut Nara seraya tersenyum manis, air mata keharuan kembali menggenang di sudut matanya, tapi kali ini dipenuhi rasa bahagia.
"Tapi cara Mas Zaid memperlakukan aku, rasa tanggung jawab Mas, kejujuran Mas, dan bagaimana Mas selalu berusaha menjadi suami yang baik... itu semua sudah menumbuhkan rasa yang jauh lebih besar dari sekadar cinta biasa. Aku menghormati Mas Zaid, aku mengagumi Mas, dan hati aku... sekarang cuma punya Mas Zaid."
Kata-kata itu meluncur seperti penawar racun yang langsung menyapu bersih seluruh rasa cemas, cemburu, dan keraguan yang membakar dada Zaid sepanjang perjalanan. Rasa lega yang luar biasa membuncah dalam diri Zaid.
Zaid memajukan wajahnya perlahan. Gerakannya begitu tenang dan penuh kehati-hatian. Nara memejamkan matanya, mengizinkan suaminya mengambil kendali.
Zaid mendaratkan sebuah kecupan yang sangat lembut dan lama di dahi Nara, menyalurkan seluruh rasa syukur, kehangatan, serta rasa cinta yang kini tak lagi bisa ia sembunyikan.
Hembusan napas lega Zaid terasa di kulit dahi Nara saat Zaid menurunkan wajahnya, menyandarkan dahinya tepat di dahi Nara. Mata mereka kembali saling menatap dari jarak yang sangat dekat, napas mereka berpadu manis.
"Terima kasih, Nara..." bisik Zaid penuh penyesalan sekaligus kehangatan yang mendalam. "Terima kasih sudah memilih untuk tinggal dan membuka hati kamu untuk pria kaku seperti saya. Saya janji, tidak akan ada laki-laki lain, termasuk masa lalu kamu, yang bisa mengusik atau menyakiti kamu lagi selama saya ada di samping kamu."
Nara terkekeh pelan, tawa renyah yang seketika mencairkan sisa kecanggungan dan ketegangan malam itu. "Termasuk kalau Mas Zaid harus pura-pura jadi pahlawan lagi sampai luka-luka begini?"
Zaid menyunggingkan senyum tipisnya yang sangat menawan, meski bibirnya sedikit meringis menahan nyeri. "Kalau itu demi kamu, saya tidak keberatan babak belur setiap hari."
"Hush! Jangan bicara sembarangan, Mas!" Nara menepuk pelan dada tegap Zaid, lalu tertawa kecil saat Zaid meringis manja.
Kehangatan yang hakiki malam itu akhirnya benar-benar melingkupi rumah kecil mereka. Di tengah luka dan perkelahian yang tak terduga, badai kecil itu justru menjadi perantara yang meruntuhkan dinding pembatas terakhir di antara Zaid dan Nara.
Dua jiwa yang awalnya berjalan secara rasional kini telah menyatu dalam ikatan kehangatan yang utuh, sebuah rumah tangga yang kini bukan hanya berdiri di atas status, melainkan telah berakar kuat di atas dasar cinta yang tulus.
lanjut thor 🙏