"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"
Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.
Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.
Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.
Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA
Koridor Pengadilan Agama terasa begitu dingin dan sesak, diwarnai oleh lalu-lalang para pencari keadilan dan derap langkah sepatu yang menggema di atas lantai keramik. Di depan pintu kayu berlabel "Ruang Mediasi 2", dua kubu berdiri berseberangan, memisahkan jarak yang dipenuhi ketegangan tak kasatmata.
Bayu berdiri dengan kedua tangan terkepal di dalam saku celananya. Tatapannya menancap tajam pada sosok Maya yang berdiri tenang di samping Ibra. Amarah di dada Bayu kian membakar ketika melihat betapa rapinya penampilan Maya hari ini, sangat berbeda dengan sosok istri penurut yang dulu selalu tampak kelelahan dan tertekan di rumahnya.
"Langkahmu terlalu jauh, Maya," desis Bayu pelan namun sarat ancaman saat melintasi posisi Maya untuk memasuki ruangan.
Maya tidak membalas. Ia hanya menarik napas panjang, meremas jemarinya sendiri sebelum melangkah masuk didampingi oleh Pak Hendra. Ibra sengaja menunggu di luar bersama para asisten hukum, memberi ruang bagi proses mediasi resmi, namun tatapan matanya yang sedingin es tetap mengawal setiap jengkal pergerakan Bayu hingga pintu kayu itu tertutup rapat.
Di dalam ruangan yang berpendingin udara itu, Hakim Mediasi seorang pria paruh baya bernama Pak Lukman duduk di ujung meja oval. Ia menatap kedua belah pihak dengan pandangan netral dan bijaksana.
"Selamat pagi. Saya harap dalam pertemuan mediasi ini, Bapak Bayu dan Ibu Maya bisa mencari jalan tengah demi kebaikan bersama, terutama untuk masa depan anak kalian," buka Pak Lukman dengan suara tenang sembari membuka berkas di depannya.
Anton, pengacara Bayu, langsung menyela dengan nada percaya diri yang terkesan menyerang. "Yang Mulia Hakim Mediasi, klien kami, Saudara Bayu, tegas menyatakan menolak gugatan perceraian ini. Klien kami masih mencintai istrinya dan ingin mempertahankan keutuhan rumah tangga. Gugatan ini kami nilai sangat prematur dan dipicu oleh pengaruh pihak ketiga yang tidak bertanggung jawab."
Bayu memasang raut wajah penuh penyesalan yang dibuat-buat, menatap Maya dengan pandangan memohon. "Maya... pulangleh ke rumah. Kasihan Naya. Ibu juga menanyakan kamu terus di rumah. Mas sadar Mas ada salah, tapi kita bisa perbaiki ini sama-sama, kan? Jangan korbankan rumah tangga kita cuma karena emosi sesaat."
Mendengar kata-kata manis yang meluncur begitu mudah dari mulut Bayu, Maya merasakan dadanya sesak oleh rasa mual. Betapa mahirnya pria ini bersikap manis dan manipulatif di depan hakim, seolah-olah bertahun-tahun siksaan emosional dan bentakan kasar yang ia terima hanyalah sebuah kesalahpahaman kecil.
Sebelum Maya sempat merespons, Pak Hendra meluruskan posisi duduknya dan mengetuk pelan dokumen tebal di atas meja.
"Izin menyela, Yang Mulia," potong Pak Hendra dengan artikulasi yang sangat jelas dan berwibawa. "Pernyataan Pihak Tergugat bahwasanya beliau ingin mempertahankan rumah tangga sangat bertolak belakang dengan fakta lapangan. Klien kami, Ibu Maya, telah mengalami bentuk penelantaran emosional, intimidasi verbal yang berulang, hingga tindakan persekusi di tempat umum yang membahayakan kondisi psikologis anak di bawah umur."
Pak Hendra mengeluarkan sebuah kilat petunjuk (flashdisk) dan melampirkan beberapa lembar foto serta bukti cetak pesan singkat.
"Kami telah melampirkan bukti rekaman CCTV atas kejadian tiga hari lalu di mana Saudara Bayu melakukan tindakan kekerasan verbal dan ancaman fisik di depan publik serta di hadapan anak kandungnya sendiri. Anak mereka, Naya, saat ini mengalami trauma berat akibat tindakan ayahnya sendiri. Jadi, klaim bahwa Tergugat menginginkan keutuhan rumah tangga demi anak adalah bentuk kebohongan publik."
Wajah Bayu seketika memerah padam. Ia tidak menyangka pihak Maya akan membawa bukti rekaman kejadian di minimarket secara cepat dan resmi ke meja mediasi.
"Itu tidak benar, Pak Hakim!" potong Bayu dengan suara meninggi, lupa pada keramahan palsunya. "Saya cuma mau bicara sama istri saya! Dia yang kabur membawa anak saya tanpa izin! Dia sembunyi di rumah laki-laki lain! Saya ini ayahnya, saya punya hak!"
"Saudara Bayu, harap tenang dan jaga nada suara Anda di ruang mediasi ini," tegur Pak Lukman tegas, mengetukkan pulpennya ke meja.
Anton bergegas memegang bahu Bayu untuk menenangkannya, lalu menatap Hakim Mediasi. "Yang Mulia, jika Pihak Penggugat tetap bersikeras untuk bercerai, maka kami melayangkan Gugatan Rekonvensi. Kami menuntut Hak Asuh Mutlak atas anak, Ananda Naya, jatuh ke tangan Saudara Bayu. Kami meragukan kelayakan finansial dan moral Penggugat yang saat ini menumpang di rumah pria asing tanpa ikatan pernikahan yang sah."
Pernyataan Anton terasa seperti pukulan rendah yang kotor. Bayu menyeringai tipis, merasa berada di atas angin karena berhasil menyerang sudut kehormatan dan status Maya yang saat ini tinggal di rumah Ibra.
Maya merasakan tubuhnya gemetar menahan amarah dan rasa malu. Namun, kenangan akan pesan Ibra di luar ruangan tadi Jangan menundukkan kepalamu, tatap matanya mendadak menggema kuat di pikirannya.
Maya menatap lurus ke arah Bayu dan pengacaranya, matanya memancarkan keberanian yang sama sekali tidak pernah dilihat Bayu sebelumnya.
"Mas Bayu," kata Maya dengan suara yang amat tenang namun sarat ketegasan yang menghujam. "Kamu bicara soal kelayakan moral dan finansial? Selama bertahun-tahun aku tinggal di rumahmu, aku yang mengurus rumah, merawat anakmu, dan menahan semua makian dari kamu dan keluargamu. Kamu membiarkan adikmu dan suaminya hidup dari uang rumah tangga kita, sementara untuk membeli kebutuhan Naya saja aku harus memohon-mohon padamu."
Bayu melotot, tak percaya Maya berani membongkar urusan dapurnya di depan hakim. "Maya! Jaga mulutmu!"
"Aku tidak menumpang pada siapa pun dengan cara yang salah, Mas," lanjut Maya tanpa gentar sedikit pun. "Pak Ibra adalah pelindung yang menghargaiku dan Naya sebagai manusia. Dia memberikan rasa aman yang bahkan tidak pernah kamu berikan selama aku menjadi istri sahmu. Kalau kamu pikir kamu bisa merebut Naya dari tanganku memakai tuduhan murahan ini, kamu salah besar."
Pak Hendra tersenyum tipis melihat keberanian kliennya, lalu menambahkan, "Secara hukum Kompilasi Hukum Islam Pasal 105, hak asuh anak di bawah umur 12 tahun berada sepenuhnya di tangan ibu kandung. Klien kami memiliki pekerjaan mandiri sebagai penulis dan kreator konten, serta memiliki kondisi mental yang jauh lebih stabil dibanding Tergugat yang terbukti berwatak temperamental. Kami menolak seluruh isi mediasi ini dan memohon agar perkara ini dilanjutkan ke sidang pokok perkara."
Hakim Mediasi Pak Lukman menghela napas panjang, melihat bahwa jurang pemisah di antara kedua belah pihak sudah tidak mungkin disatukan lagi. Keretakan itu sudah terlanjur menjadi kehancuran total.
"Baiklah," ucap Pak Lukman seraya menandatangani berkas di depannya.
"Karena Pihak Penggugat tetap pada pendiriannya untuk bercerai dan Pihak Tergugat menuntut hak asuh anak, maka proses mediasi hari ini dinyatakan GAGAL. Berkas akan segera dilimpahkan ke Majelis Hakim untuk persidangan terbuka minggu depan."
Gagal.
Satu kata itu memukul telinga Bayu bagaikan petir. Rencana serangannya di ruang mediasi untuk membuat Maya ketakutan dan memohon balik ternyata mentah seketika di tangan ketegasan Maya dan kelengkapan bukti tim pengacaranya.
Maya berdiri dari kursinya, merapikan busananya, lalu membungkuk hormat kepada Hakim Mediasi sebelum melangkah keluar dari ruangan tanpa sedikit pun menoleh ke arah Bayu.
Saat pintu ruang mediasi terbuka, Ibra yang berdiri menyandarkan tubuhnya di dinding koridor langsung menegakkan posisinya. Pandangan matanya menyambut Maya dengan rasa bangga dan kehangatan yang tak tersembunyi.
"Bagaimana?" tanya Ibra pelan saat Maya mendekat.
Maya menatap Ibra, lalu sebuah senyuman lega senyuman pertama yang begitu lepas setelah sekian lama terukir manis di bibirnya.
"Mediasinya gagal, Kak. Kita lanjut ke persidangan," jawab Maya mantap.
Ibra mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis yang sarat kemenangan.
"Bagus. Itu artinya pintu menuju kebebasanmu sudah semakin dekat."
Sementara itu, di belakang mereka, Bayu keluar dari ruang mediasi dengan wajah sehitam awan mendung. Matanya menatap tajam ke arah punggung Maya dan Ibra yang melangkah berdampingan menyusuri koridor pengadilan.
Kekalahan di tahap awal ini justru menyiram minyak pada api dendamnya yang kian membara, mendorongnya untuk mempersiapkan intrik yang jauh lebih busuk di persidangan mendatang.