Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyonya Kerasukan!
Bagas dan Dandi mengintip dari ambang pintu kaca. Di luar, Yueji melangkah mendekati kanvas dan mengambil pedang ungu yang kini berwujud nyata di tangannya. Yueji tertawa puas lalu mengangkat pedang itu ke atas. Seketika suara guntur menggelegar di langit siang.
Garuda yang sedang bertengger santai di pijakan kayu buatan Chandra kaget sampai terjatuh ke tanah. "Sialan kau, rubah manis! Mengejutkanku saja!" serunya kesal sambil mengepakkan sayap.
Bukannya menjawab, mata Yueji malah menyala redup dengan pendar keunguan yang dingin. Senyumnya tertarik miring, memancarkan raut asing yang kaku. Tanpa sepatah kata, ia menghentakkan tumitnya dan menebaskan pedang itu lurus ke leher Garuda.
"Ehh, kamu mau ngapain?" teriak Garuda kaget.
Garuda refleks mengepakkan sayapnya melompat ke udara. Bilah pedang ungu itu menyapu angin tipis di bawah cengkramannya, memutus rantai besi yang mengikat kakinya hingga hancur menjadi serbuk.
Garuda melayang gagah di udara, merentangkan lebar kedua sayapnya. "Wah, kamu main-main, Rubah... tapi sebentar, kok aku merasa janggal?"
Dari ketinggian, mata tajam Garuda mengunci sosok Yueji di tanah. Napas wanita itu memburu kencang, urat-urat kehitaman menjalar pelan dari pergelangan tangan yang menggenggam erat gagang pedang.
Cilaka... ini bukan aura nyonya lagi! batin Garuda, dadanya bergemuruh. Jiwa fana wanita ini keburu ditelan oleh roh pedang dewa ciptaan Chandra! Dasar rubah nekat, belum cukup umur sudah berani sentuh senjata berbahaya!
Yueji mengayunkan pedangnya ke samping. Gesekan ujung bilah dengan lantai semen memercikkan kilatan ghaib yang melubangi tanah.
"Mati..." bisik Yueji dengan suara ganda yang berat.
Sial! Kalau begini caranya, bisa hancur halaman belakang ini! batin Garuda panik.
Yueji mendadak memutar badannya sembilan puluh derajat, mengarahkan ujung pedangnya tepat ke dinding kaca galeri. Aura ungu pekat menggelembung cepat di sekeliling tubuhnya, bersiap melepas satu tebasan besar yang sanggup meratakan seluruh bangunan.
Melihat fokus serangan Yueji berpindah, Garuda tak punya pilihan lain. Bisa ngamuk si pelukis edan itu kalau rumahnya hancur!
Cahaya keemasan menyembur dari tubuh sang burung sakti. Tubuhnya membesar cepat, bertransformasi menjadi prajurit Kaja berzirah emas. Ia mendarat pasrah tepat di garis tebasan Yueji, menghentakkan tameng emas raksasanya ke semen hingga retak.
TRANG!
Bentrokan pedang ungu dan tameng emas memicu gelombang kejut yang menghempas vas-vas bunga di sekitar halaman. Tangan Garuda bergetar menahan tekanan luar biasa itu.
"Hei, manusia bodoh! Ngapain kalian di situ? Cepat pergi kalau tidak bisa bantu!" teriak Garuda pada Dandi dan Bagas yang terpaku di ambang pintu.
"Baik, Tuan Garuda! Kami pergi!" sahut Dandi panik sambil menarik baju Bagas yang sudah lemas dan membawanya melarikan diri.
Yueji menarik pedangnya lalu menyerang bertubi-tubi dari kiri dan kanan. Tebasan ini... hukum pemusnah murni! geram Garuda dalam hati sambil bersusah payah menggeser posisi tamengnya.
Setiap dentuman senjata membuat tangan Garuda makin kebas. Kalau aku balas pakai kilat surga, tubuh fana Yueji bisa hancur seketika. Tapi kalau cuma bertahan begini... tubuhku yang malah rontok! Lebih parah lagi, kalau nyonya ini mati, Chandra pasti ngamuk dan meratakan seluruh realm fana ini pakai kekuatan dewanya!
Di tengah kebuntuan itu, Sisi muncul dari lorong samping. "Ada apa ini?" tanyanya bingung.
"Heh, Dayang! Bantu aku, majikanmu kesurupan!" teriak Garuda tanpa berani menurunkan tamengnya.
Sisi termenung sejenak, mengamati prajurit emas berkepala burung di depannya. "Kamu siapa?"
"Aku burung elang!"
"Astaga, kamu ternyata burung Garuda sakti? Kok aku tidak tahu kamu di sini?"
"Heh, Manis! Berhenti bicara, bantu aku!" potong Garuda tidak sabar saat tamengnya kembali dihantam tebasan keras.
Sisi menatap Yueji yang makin liar, lalu memanggil pita-pita cahaya dari tangannya untuk mengikat tubuh sang nyonya. Namun, aura pedang dewa itu membakar habis belenggu cahaya Sisi hanya dalam hitungan detik. "Tidak! Nyonya terlalu kuat!" jerit Sisi terlempar ke tanah.
Aura ungu di sekitar Yueji memuncak, menggulung angin kencang di halaman. Garuda dan Sisi sudah tidak sanggup menahan tekanan energi saat Yueji mengangkat pedangnya tinggi-tinggi untuk tebasan terakhir.
Di saat yang kritis itu, pintu galeri terbuka. Chandra keluar sambil menguap lebar. Angin kencang yang terasa sanggup membelah tubuh mendadak berembus melewati mereka, menguapkan seluruh aura ghaib di tempat itu secara instan. Chandra mendadak termenung tanpa kata, matanya melotot menatap kekacauan di halaman belakangnya.
Chandra menoleh ke kiri dan ke kanan, bingung melihat Sisi yang tergeletak di tanah dan Garuda yang sudah kembali menjadi burung elang kecil yang lemas. Ia menggaruk rambutnya. "Ada apa ini?"
Garuda menatap Chandra dengan tajam dari tanah. Tuan memang hebat, tebasan pedang dewa itu sama sekali tidak mempan padanya. Sisi pun ikut berbisik kagum di dalam hati, Tuanku memang tidak ada tandingannya.
Chandra lalu menatap istrinya santai. "Sayang, kamu sedang apa?"
Tanpa aba-aba, Yueji berlari mendekat dan mengayunkan pedang itu sekuat tenaga ke arah kepala Chandra. Namun, dengan santainya Chandra menangkap bilah pedang tajam itu hanya menggunakan tangan kosong.
"Kamu ini kenapa sih? Mau bunuh aku pakai pedang mainan?" tanya Chandra heran.
Sisi dan Garuda yang melihatnya langsung tercengang.
Seketika, aura dewa milik Chandra tanpa sengaja menjalar masuk ke dalam pedang tersebut, menghancurkan roh jahat di dalamnya. Efeknya membuat Yueji mendadak lemas. Sebelum istrinya ambruk ke tanah, Chandra dengan sigap menangkap dan memeluknya.
"Kamu kerasukan, Sayang?" tanya Chandra cemas.
Yueji menatap Chandra dengan mata sayu. "Sayang... aku lemas..." bisiknya, lalu pingsan di pelukan Chandra.
"Sayang! Kamu kenapa, Sayang?!" teriak Chandra panik.
Tanpa berpikir panjang, Chandra membopong Yueji dan membawanya masuk ke kamar. Sambil berjalan cepat, ia berteriak pada Sisi, "Sisi! Nanti ambilkan air hangat ya!"
Sisi yang masih kesakitan mencoba menahan tubuhnya. "Baik, Tuan... nanti saya menyusul," jawabnya pelan.
Setelah Chandra masuk, Sisi yang kesulitan untuk bangun menoleh ke arah Garuda. "Tuan Garuda, apa Anda masih punya sedikit kekuatan? Bisa minta sedikit supaya saya bisa menyusul Tuan Chandra?"
Garuda melompat-lompat kecil dengan sisa tenaganya, lalu terbaring di dipan kayu tempat Chandra biasa bersantai. "Tunggu sebentar, Dayang. Aku pulihkan energi dulu."
Setelah tiga menit berbaring, Garuda kembali melompat mendekati Sisi. Ia menempelkan paruhnya ke kening Sisi, menyalurkan sedikit kekuatan ghaib. Seketika rasa sakit Sisi hilang dan ia bisa berdiri kembali.
"Tuan Garuda memang hebat, terima kasih," ucap Sisi sambil membungkuk hormat, lalu tergesa-gesa berlari ke dapur.
Garuda menggeleng-gelengkan kepalanya. Sialan rubah itu. Dia yang meminta dibuatkan pedang, tapi ruhnya saja tidak sanggup dia kuasai. Dasar bodoh, batin Garuda kesal sebelum kembali melompat ke dipan kayu untuk selonjoran.
Di dalam kamar, Chandra begitu panik memegangi tangan istrinya. "Kamu kenapa lagi sih, Sayang? Ada saja masalahnya tiap hari."
Tak lama kemudian, Sisi datang membawa segelas air hangat. "Tuan, ini minum untuk Nyonya."
Chandra mengangguk, lalu menunduk mencium dahi Yueji. Ajaibnya, sentuhan itu membuat Yueji perlahan membuka matanya.
"Akhirnya kamu bangun juga, Sayang," ujar Chandra lega.
Dengan wajah lemas, Yueji langsung memeluk Chandra erat-erat. "Sayang... aku takut..."
"Kamu tadi kerasukan apa sih, sampai mau menebas kepalaku?" tanya Chandra lembut sambil menyuapkan air hangat ke mulut Yueji.
Yueji termenung sejenak, memegang kepalanya yang pening. "Aku... aku tidak ingat, Sayang."
"Ya sudah, tidak apa-apa. Kamu lanjut tiduran saja dulu," kata Chandra menenangkan.
Chandra beranjak berdiri dan beralih bicara pada Sisi. "Si, nanti kamu buatkan bubur buat Nyonya, ya."
"Baik, Tuan," jawab Sisi.
Tiba-tiba, tanpa bersuara, Yueji bangkit dari tempat tidur. Wajahnya berubah drastis mulutnya bertaring dan matanya menyala merah pekat. Dengan cepat, ia menjulurkan tangannya yang berkuku tajam, siap mencakar punggung Chandra dari belakang.
Sisi berteriak histeris, "Tuan, awas!"