"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."
Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?
💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB SEMBILAN: Ruang Teduh (Bagian 4)
“Makasih, Chan!” Ara melompat ke pelukanku.
Pagi ini, setelah merayu ibu Ara agar memperbolehkan gadisnya pergi denganku seharian, aku mengajak Ara ke kafe langganan kami di dekat danau. Ara cemberut sepanjang jalan, berpikir bahwa aku melupakan ulang tahunnya. Jangankan kado, aku bahkan tidak mengucapkan apa-apa padanya. Jujur saja, aku memang sengaja melakukannya. Di hari pertama kepulanganku ke Malang, aku meminta Robi untuk mengosongkan balkon kafenya di hari ulang tahun Ara. Robi setuju asalkan aku tidak merepotkan para pekerjanya dengan acaraku. Yah, mau bagaimana lagi. Toh, Robi membiarkanku memakai balkonnya secara cuma-cuma. Jadilah seharian kemarin aku bekerja susah payah di kafe. Mulai dari naik-turun tangga untuk mendekorasi balkon, meniup balon, membeli bunga, memesan kue, menulis surat romantis, membungkus kado, dan masih banyak lagi. Melelahkan memang. Tapi, ketika melihat bagaimana bahagia tersemat di wajah Ara dan bagaimana riangnya dia saat berlarian di balkon, jerih payahku terbayar sudah.
“Happy birthday, my one and only!” aku mendekap Ara erat sekali. Dia tertawa kegirangan.
“Kamu kapan nyiapin ini? Dibantuin mas Robi?”
“Boro-boro dibantuin. Dia malah kirim-kirim salam kayak operator radio. Entah kenapa kemarin pelanggan ceweknya Robi banyak banget yang ke kafe. Dia bikin sayembara kali.”
“Sayembara apaan? Lama-lamaan ngeliatin kamu?” Ara terbahak.
“Mungkin. Terus hadiahnya vanilla milkshake,” candaku yang disambut cekikikan Ara.
“Seneng nggak?” aku menyenggol bahunya ketika tawanya mereda.
“Seneng banget. Ini lebih-lebih dari yang pernah aku bayangin. Nggak nyangka aja kamu ngeluangin waktu dan tenagamu sampai kayak gini. Aku kira kamu emang lupa, sampai tega nyuekin aku seharian.”
“Duh! Masa iya sih aku bisa lupa sama ulang tahunmu? Kayak baru pacaran kemarin sore aja,” kugandeng tangan Ara dan mengajaknya duduk.
“Siapa tahu kan? Oh iya, aku boleh buka kadonya?” baru kusadari Ara masih memegang kado dariku rapat-rapat. Aku tersenyum.
“Buka aja!” dengan tidak sabar Ara membuka kotak persegi panjang yang ada di pangkuannya itu. Kotak terbuka dan Ara terkesiap. Aku menahan napas, harap-harap cemas.
“It’s so pretty,” tutur Ara sambil menatap takjub ke arahku. Hampir saja aku mati lemas karena terlalu lama menunggu reaksi Ara. Kuambil kalung emas dengan gantungan kecil berbentuk hati itu dan mengalungkannya di lehernya. Pas.
“Like you,” jawabku dengan terkesima. Ara perlahan menangkupkan kedua tangannya di pipi, menutupi semu yang tak lagi samar di wajahnya.
“Masih mau kado lagi nggak?” aku menopang kepalaku sembari tak lepas menatapnya.
“What? No, no! Stop wasting your money on me!”
“Oh, please. Ini bukan aku kok,” tukasku santai. Ara menatapku kebingungan.
“Maksudmu?”
“Selamat ulang tahun!” Ian menyorongkan sebuket besar bunga mawar merah di hadapan Ara. Ara terbelalak dan menatap kami berdua bergantian. Aku terkekeh saja sampai kulihat Ara melompat memeluk Ian. Persis seperti dia melompat ke pelukanku tadi. Oh, fuck!
“Ian!!!” teriak Ara dengan bahagianya. Kembaranku itu menatapku, seakan meminta izin. Padahal jelas-jelas mukanya mengejek. Terang saja dia langsung membalas pelukan itu dan mengembangkan senyum terlebar yang pernah kulihat. Tanpa peduli padaku yang sudah bermuka masam dengan gigi gemeletuk begini.
“Sehari ini aja ya peluk-peluk pacarku” ancamku. Ian mendongak dan malah menjulurkan lidahnya di balik punggung Ara. Grrr!
“Kamu kapan dateng?” Ara bertanya. Buket mawar Ian sudah berpindah ke pangkuannya.
“Tadi pagi, dijemput Izang kok.”
“Oh, kirain naik jet pribadi,” ujar Ara polos.
“Emangnya dia David Beckham apa?” cetusku asal. Mereka berdua tertawa menimpali candaanku.
“Nih, buat kalian berdua! Fresh from the oven! Baru selesai kemarin malem dan aku ambil sebelum ke bandara,” Ian menyerahkan tas yang sedari tadi dibawanya pada Ara. Keningku berlipat.
“Ini apa? Uang?” Ara mengocok kotak berukuran sedang yang baru dikeluarkannya dari tas. Tak ada suara apapun.
“Buka dong!” desak Ian. Ara mengalihkan pandangannya padaku. Aku menggeleng cepat-cepat. Ini bukan termasuk rencanaku. Dengan cekatan Ara membuka lapisan kertas kado berwarna hitam itu. Aku masih menduga-duga isi kotak itu ketika Ara sudah berhasil membuka lapisan terakhir. Dia membuka kotak persegi itu dan mengeluarkan dua kaos putih dari sana. Ah, kaos couple.
“Kok sayapnya sebelah?” Ara protes. Setelah kuamati, Ara memang benar. Dua kaos itu kelihatan serupa jika dilihat dari depan. Tapi ketika dibalik, hanya sebelah yang bergambar sayap. Yang satu lagi bergambar hati dengan warna hitam.
“Karena yang sebelah udah kupakai,” bukannya semakin jelas, jawaban Ian malah membuatku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Aku tidak mengerti. Pun Ara juga sepertinya sepaham denganku.
“Coba pakai dulu deh!” Ian menyerahkan kaos dengan sayap hitam kepadaku. Aku mengangkat bahu sebelum melepas cardigan serta kaosku dan bertelanjang dada. Ara, yang tidak sengaja menatapku, langsung mengalihkan pandangannya cepat-cepat. Telinganya memerah. Aku tersenyum puas, seperti bisa membaca pikiran Ara tentang tubuhku.
“Terus?” tanyaku sembari berjalan mendekat ke arah Ian. Ara sudah di samping Ian lebih dulu karena dia langsung merangkap dressnya dengan kaos pemberian Ian.
“Sini!” Ian menggandeng kami berdua ke arah pintu masuk balkon yang terbuat dari kaca. Dia menyuruh Ara berdiri di antara kami. Membalikkan badan kami lalu membuka jaketnya. Saat itulah aku baru menyadari apa maksud Ian sebenarnya. Kaos itu bukan couple, tapi throuple. Dengan Ara sebagai pusatnya, dan sayap di punggung kami berdua sebagai penyeimbangnya.
“See? Aku desain sendiri lho ini,” tukas Ian senang. Speechless, aku mengacak-acak rambut kembaranku. Tak menyangka dia sejenius itu untuk urusan kejutan. Kami berdua masih saling merusak rambut masing-masing ketika tiba-tiba saja Ara memeluk kami berdua. Aku dan Ian seketika diam. Menunggu.
“Thank you, both of you!” gumam Ara pelan. Aku menatap Ian, yang juga menatapku. Kami tersenyum sebelum mengecup puncak kepala Ara.
“Anytime!” jawab kami berdua nyaris bersamaan.
...***...