Indonesia
NovelToon NovelToon
PENGANTINKU DIREBUT DIHARI PERNIKAHANKU

PENGANTINKU DIREBUT DIHARI PERNIKAHANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Evolusi dan Mutasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
​Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
​Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: KEGELAPAN DI SEKTOR B3

Sambungan telepon itu terputus sebelum Vion sempat mengajukan pertanyaan berikutnya.

Dia menatap layar ponselnya selama sesaat, lalu menghubungi nomor yang sama. Tidak ada jawaban. Hanya nada singkat yang menandakan panggilan gagal tersambung.

"Ada apa?" Alesha bertanya.

Vion tidak langsung menjawab. Dia membuka aplikasi pengamanan Vantec Tower di ponselnya. Denah lantai B3 muncul dengan beberapa titik berwarna merah, tetapi kamera di sektor sanitasi tidak menampilkan gambar apa pun. Hitam. Tertulis _Koneksi Terputus_.

"Listrik di B3 padam. Kamera pengawas di sektor sanitasi kehilangan koneksi."

"Gangguan listrik?"

"Belum tentu cuma listrik. Kamera cadangan juga kehilangan koneksi ke aplikasi. Kita periksa panelnya dulu."

Jawaban itu membuat Alesha terdiam. Dia teringat Clarissa. Sejak pagi, Alesha berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua kejadian sebelumnya masih bisa dijelaskan. Namun, pemadaman di lantai tempat Clarissa ditahan membuat perasaan buruk itu kembali muncul.

"Clarissa ada di sana."

"Aku tahu."

Vion menekan tombol komunikasi internal dan menghubungi Hendra. Kali ini panggilannya tersambung, meskipun suara dari seberang terdengar terputus-putus karena sinyal di basement.

"Pak, kami berada di dekat pintu masuk B3. Generator darurat tidak menyala. Ada kerusakan pada panel kontrol."

"Apakah semua akses keluar sudah diamankan?"

"Sedang dilakukan, Pak."

"Jangan tutup semua jalur evakuasi. Amankan pintu akses utama, tetapi pastikan jalur penyelamatan tetap terbuka. Kirim dua petugas untuk memeriksa ruang kendali dan minta tim teknis memulihkan daya. Ingat, jangan format ulang. Aplikasi memang tidak menerima gambar, tapi NVR lokal di B3 biasanya masih menyimpan rekaman. Harus diperiksa langsung."

"Baik, Pak."

Vion memutus komunikasi, kemudian menoleh kepada istrinya.

"Kamu tetap di lantai 99. Tunggu di ruang pengamanan sampai aku memastikan keadaan terkendali."

Alesha menggeleng. "Aku ikut."

"Ini bukan waktunya membantahku."

"Kalau kamu tahu sesuatu tentang Clarissa yang belum kamu ceritakan kepadaku, katakan sekarang."

Vion terdiam. Dia tahu Alesha tidak akan berhenti memikirkan kemungkinan terburuk jika dibiarkan menunggu tanpa penjelasan.

"Aku belum tahu apakah dia kabur atau seseorang membawanya keluar," katanya akhirnya. "Dan aku tidak akan membawamu ke tempat yang belum aman hanya karena kamu ingin mencari jawaban."

"Aku tidak meminta kamu melindungiku dengan berbohong." Alesha menahan napas. "Kalau seseorang sengaja mematikan kamera untuk menghilangkan jejak, kita tidak tahu siapa yang akan menjadi sasaran berikutnya."

Vion memperhatikan wajah istrinya.

"Kalau kamu ikut, ada aturannya," kata Vion tegas. "Kamu tidak bergerak sendiri. Satu petugas tetap di sampingmu setiap saat. Kalau aku bilang mundur, kita mundur ke titik kumpul di pintu akses utama. Tidak ada perdebatan. Paham?"

Alesha mengangguk. "Setuju. Aku tidak akan memisahkan diri."

Pintu lift terbuka beberapa menit kemudian.

Udara lembap menyambut mereka di B3. Lampu darurat merah berkedip di sepanjang koridor, sementara sebagian besar area tenggelam dalam kegelapan. Bau debu, beton basah, dan cairan pembersih bercampur menjadi satu.

Hendra sudah menunggu di dekat pintu akses sektor sanitasi. Dua petugas keamanan berdiri di belakangnya.

"Laporan," kata Vion.

"Panel distribusi listrik ditemukan dalam keadaan terbuka. Pemutus daya untuk sektor ini turun, tetapi kerusakannya tidak terlihat seperti gangguan biasa." Hendra mengarahkan senter ke panel logam di dinding. "Tim teknis sedang memeriksa apakah ada sabotase. Satu sekrup penutup tergeletak di lantai, ada bekas goresan obeng."

"Siapa yang terakhir memeriksa panel?"

"Petugas teknis bernama Damar, sekitar dua puluh menit sebelum pemadaman. Kami sedang mencarinya karena dia belum merespons panggilan."

"Jangan sentuh apa pun sebelum tim teknis mendokumentasikannya. Aku ingin daftar semua orang yang memiliki akses kunci ke ruangan ini."

Hendra mengangguk.

"Ada masalah lain, Pak. Petugas jaga melihat seseorang memasuki area cuci beberapa menit sebelum kamera kehilangan koneksi. Wajahnya tidak terlihat jelas karena memakai penutup kepala dan masker. Kamera di pintu servis juga kehilangan koneksi pada rentang waktu yang sama."

"Dan Clarissa?"

"Sel isolasinya kosong. Petugas jaga pertama yang menyadari karena Clarissa tidak merespons panggilan rutin pukul 09:15. Dia cek dari jendela pengamatan, lihat sel kosong, tapi tidak membuka pintu sebelum Bapak tiba. Kunci elektronik masih mencatat pintu tertutup saat pemeriksaan pertama. Log akses tidak bisa dibaca karena server utama ikut padam. Kita harus cek NVR lokal untuk memastikan apakah pintu pernah dibuka."

Vion mengulurkan tangan. Hendra menyerahkan senter.

"Tidak ada yang memasuki sel sendirian. Kita periksa dari luar terlebih dahulu."

Mereka bergerak menuju koridor sanitasi. Vion berjalan paling depan, Alesha di dekatnya dengan satu petugas yang menempel sesuai instruksi Vion. Hendra menjaga jarak beberapa langkah di belakang bersama petugas kedua. Petugas ketiga tetap di pintu akses untuk mengawasi pergerakan orang yang keluar masuk. Semua berjalan di sisi koridor yang kering, tidak ada yang melintas di atas jejak cairan.

Ketika cahaya senter Vion menyapu lantai, dia berhenti.

"Apa itu?" bisik Alesha.

Di dekat saluran pembuangan terdapat jejak cairan yang membentuk garis tipis menuju pintu servis. Hanya beberapa tetes yang hampir tidak terlihat.

Hendra berjongkok tanpa menyentuhnya. "Bisa jadi cairan pembersih."

"Bisa," jawab Vion. "Tapi jangan injak. Catat lokasinya dan minta tim lab ambil sampel."

Mereka tiba di depan sel isolasi sementara. Pintu logam tertutup. Lampu indikator elektroniknya mati.

Hendra melirik jam di perangkatnya. "Terakhir petugas melihat Clarissa pukul 09:10. Panggilan rutin 09:15 tidak dijawab. Koneksi kamera ke server utama terputus sekitar 09:20. Jadi hilangnya Clarissa terjadi di antara itu."

Vion mengangkat senter ke jendela pengamatan kecil. Cahaya senternya menerobos kegelapan di dalam, memperlihatkan kursi yang terguling di dekat dinding.

Sebuah benda kecil tergeletak di lantai, di bawah meja besi. Ponsel dengan casing hitam.

"Itu milik Clarissa," kata Alesha pelan.

Vion mendekat ke kaca. Dalam sorotan senter, terlihat selembar kertas terlipat dua di samping ponsel. Tulisan tangan gemetar terbaca dari balik kaca.

JANGAN PERCAYA HENDRA.

Alesha menoleh perlahan kepada pria di belakang mereka.

Hendra membeku. "Saya tidak tahu siapa yang menaruhnya, Pak. Sumpah saya tidak tahu."

Vion tidak langsung menuduh. Hendra sejak tadi memberikan informasi dan mengikuti instruksi tanpa melawan. Vion menahan diri untuk tidak menjadikannya tersangka hanya karena satu kertas.

"Mundur setengah langkah," kata Vion pelan pada Alesha, tanpa mengalihkan pandangan dari Hendra. "Hendra, tetap di tempat. Jangan ada yang masuk. Dokumentasikan dulu kondisi sel, kertas itu, dan ponsel dari luar jendela pengamatan. Amankan sebagai barang bukti sebelum dibuka."

Pada saat yang sama, ponsel di dalam sel yang tadinya gelap menyala. Sinyal di basement memang naik turun. Cahaya putih dari layar ponsel kini memantul ke dinding sel, berbeda dengan cahaya senter Vion sebelumnya. Layar itu baru mendapat sinyal lagi.

Vion mendekat ke kaca. Cahaya layar cukup terang untuk memperlihatkan notifikasi yang baru masuk.

_Pesan baru diterima 09:22 - Pengirim Tidak Dikenal_

_Kalau kalian ingin menemukan Clarissa, periksa rekaman 09.18 di NVR lokal. Jangan biarkan orang yang menghapusnya tahu kalian sudah melihat pesan ini._

"Itu dua menit sebelum koneksi kamera ke server utama terputus," gumam Vion. "Jika waktu sistem sinkron, 09.18 masih sebelum gangguan. Hendra, siapa yang bertugas di ruang kendali B3 pada waktu itu? Dan pastikan NVR lokal belum disentuh siapa pun."

Hendra membuka mulut, tetapi sebelum sempat menjawab, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu servis.

Satu langkah. Lalu langkah kedua.

Vion langsung mengangkat senter dan mengunci cahayanya pada pintu yang terbuka sedikit di ujung lorong. Bayangan seseorang berdiri di baliknya. Tidak bergerak.

Kemudian, dari kegelapan itu terdengar suara perempuan yang mereka kenal.

"Vion..."

Alesha menahan napas. Suara itu milik Clarissa.

Namun, hampir bersamaan, suara yang sama terdengar lagi dari perangkat komunikasi di tangan Hendra, kali ini disertai desis statis yang berat.

"Jangan biarkan dia menemukan saya."

Vion langsung mengangkat tangan kiri, isyarat tegas agar semua orang berhenti bergerak. Tangan kanannya tetap memegang senter yang terkunci pada pintu servis, sementara dengan gerakan dagu dia memberi isyarat pada petugas di belakang Alesha untuk menjaga posisi dan tidak maju.

Dua sumber suara. Satu dari balik pintu servis, satu dari radio Hendra. Vion tidak langsung menyimpulkan Clarissa ada di balik pintu. Bisa jadi rekaman, bisa jadi transmisi yang disusupi untuk memancing mereka masuk.

Untuk pertama kalinya malam itu, dia tidak yakin apakah Clarissa sedang meminta pertolongan, atau seseorang sedang menggunakan suaranya untuk membuat mereka bertiga terpisah.

1
falea sezi
lah berarti alesa uda gk perawan🤣🤣🤣 mahal mahal vion buat perjanjian dpet cwek bekas🤣
Aksara Handini: iya kak 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!