Indonesia
NovelToon NovelToon
TERJERAT TAKDIR

TERJERAT TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Karma dibayar kontan

Selepas keluar dari rumah ayahnya, Devan langsung meluncur menuju mansion utama keluarga Kusuma. Dia benar-benar harus bicara dengan Oma soal permintaan gila ayahnya.

"Kayaknya keluarga kamu nggak ada yang suka sama aku deh, Mas." celetuk Aira pelan di tengah perjalanan pulang.

"Nggak usah dipikirin, Sayang. Ibu tiriku emang begitu dari dulu. Sama aku aja dia nggak suka, apalagi sama kamu." sahut Devan santai. Tangan kirinya langsung meraih dan menggenggam erat jemari Aira, sementara tangan kanannya tetap fokus memegang kemudi.

"Tapi kamu nggak keberatan, kan?" tanya Aira lagi, menatap suaminya.

"Kenapa harus keberatan, Sayang? Aku bahkan bodo amat dia suka atau enggak. Yang penting dia nggak usah sok ngatur atau mengusik hidup kita. Aku masih bersikap sopan ke dia cuma gara-gara masih hargai Papa. Aslinya? Dari dulu aku juga nggak sudi Papa nikah sama perempuan itu." jawab Devan blak-blakan. "Kamu juga nggak usah sungkan atau merasa serba salah. Kalau dia mulai berulah atau ketus sama kamu, bales aja!"

Aira tersenyum lalu mengangguk setuju. "Tapi tadi dia kayak sengaja banget pengin menjodohkan kamu sama Mbak Anggun."

"Entahlah, aku juga bingung sama isi kepalanya. Maksudnya apa coba kayak gitu? Kalau dia sesuka itu sama Anggun dan kebelet pengin punya menantu kayak dia, ya jodohin aja sama anak kandungnya sendiri!"

"Menurut kamu, Mbak Anggun itu cantik nggak sih, Mas?" tanya Aira membakar rasa ingin tahunya sendiri.

"Biasa aja. Tetap jauh lebih cantikan istriku lah." jawab Devan gemas sambil menjawil dagu belah Aira fitur wajah yang selalu sukses bikin penampilan istrinya makin manis dan menawan.

"Dasar gombal!" kekeh Aira.

Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Devan akhirnya tiba di mansion utama keluarga Sitorus. Wajah Maria langsung berbinar bahagia begitu melihat cucu kesayangannya pulang.

"Halo, Oma. Kok belum tidur?" sapa Aira ramah.

"Eh, belum. Kebetulan Oma belum ngantuk. Oma malah kira kalian berdua nggak bakal pulang malam ini." sahut Maria tersenyum.

"Tadinya emang mau tidur di apartemen aja, Oma. Tapi ada hal penting banget yang harus Devan omongin sama Oma, makanya kita bela-belain mampir." jelas Devan.

"Lho, kalian emangnya dari mana?" tanya Maria heran.

"Dari rumah Papa. Tadi Papa ngundang kita ke sana. Katanya ada urusan penting yang mau dibicarakan, sekalian mau kenal lebih dekat sama istri Devan." ujar Devan sambil melangkah maju. "Tapi mending kita bicara di dalam yuk, Oma. Udara malam nggak bagus buat kesehatan Oma." Devan pun mengambil alih dorongan kursi roda Omanya dan membawanya masuk ke dalam rumah.

"Memangnya kamu mau bicara apa sama Oma? Kok kelihatannya serius banget." tanya Maria penasaran.

"Ini memang serius, Oma. Tadi Papa bilang kalau produk baru yang baru diluncurkan di pasaran itu gagal total. Akibatnya keuangan kantor langsung goyah dan bermasalah. Papa minta Devan buat kasih suntikan dana segar ke perusahaannya sebesar 50 miliar!" terang Devan tanpa basa-basi.

Nenek tua itu mendelik kaget. "Jujur, Oma sangat tidak setuju! Dulu perusahaan itu modal awalnya murni dari ibu kamu. Berkat otak encer dan kerja keras ibu kamu juga perusahaan itu bisa berkembang pesat. Sekarang setelah perusahaannya maju, Oma jelas nggak rela kalau Papa kamu malah bawa wanita lain buat menikmati hasilnya tanpa perlu bersusah payah dulu!"

Maria mendengkus kesal. "Enak amat wanita itu tinggal petik hasil dan terima beres, padahal harusnya perusahaan itu milik kamu, Devan! Mereka sama sekali nggak punya hak buat menguasainya. Palingan wanita itu cuma tau ongkang-ongkang kaki di rumah sambil nikmatin uang hasil meras! Dia pikir mengelola perusahaan itu gampang? Anak Oma bertaruh darah dan keringat buat mendirikannya! Oma benar-benar melarang kamu kasih bantuan sepeser pun buat Papa kamu!"

"Masa bodo mereka mau bilang kita jahat atau tega. Harusnya Papa kamu bisa mengelola perusahaan itu dengan benar. Padahal waktu ditinggal almarhumah ibu kamu, keadaan perusahaan baik-baik aja. Kenapa pas di tangan dia malah mendadak hancur begini? Jangan-jangan hartanya habis dipakai foya-foya sama istri mudanya itu!" cecar Maria berapi-api.

"Sama, Devan juga merasa begitu, Oma. Buat apa Devan gelontorin dana miliaran ke perusahaan Papa? Lagian sikap istrinya ke Devan juga nggak ada baik-baiknya. Malah kesannya sengaja mau merusak hubungan Devan sama Papa." timpal Devan makin gemas.

"Ya sudah kalau begitu, berarti pikiran kita sama. Semua ini tergantung ketegasan Papa kamu. Kalau dia orang yang cerdas dan berpendirian, nggak mungkin perusahaan itu bisa bangkrut segampang ini." tegas Maria yang langsung diangguki setuju oleh Devan.

Kedatangan Devan malam itu memang murni hanya untuk membahas hal gila ini dengan Omanya. Setelah urusan selesai, dia dan Aira langsung berpamitan untuk kembali ke apartemen mereka. Lagi pula, Devan dan Aira tak mungkin membiarkan Pak Bambang ditinggal sendirian begitu saja di saat kondisinya sedang sakit

...****************...

Di tempat lain, gegara gagal nikah, Karin kini mendadak jadi bahan gunjingan panas di lingkungan rumahnya.

"Heh, Karin! Denger-denger kamu gagal nikah ya gara-gara calon suamimu ketahuan selingkuh?" cetus salah satu tetangga dengan nada menyindir saat melihat Karin keluar rumah hendak berangkat kerja. Kebetulan, di depan rumahnya sedang berkumpul ibu-ibu yang sedang asyik belanja di tukang sayur.

"Nisbi banget ya hidup. Dulu dia yang berdarah-darah merebut pacar kakaknya sendiri, eh sekarang calon suaminya malah digondol orang lain!"

"Iya tuh, namanya juga karma dibayar kontan!"

"Makanya, jadi orang jangan suka nyerobot punya orang lain. Sekarang ngerasain kan batunya?"

"Tapi heran deh, kok bisanya Bu Ismi sebagai seorang ibu malah mendukung perbuatan anak bungsunya itu? Ibu model apa coba kayak gitu?"

"Belum tau rasanya aja dia kalau kena kualat, ntar kalau kena baru tahu sakitnya kayak apa!"

Kebetulan saat itu Bu Ismi keluar rumah sambil memegang sapu hendak menyapu halaman. Begitu telinganya menangkap nyinyiran pedas dari para tetangga, emosinya langsung naik ke ubun-ubun. Karin pun tak kalah panas. Mendengar dirinya dikuliti habis-habisan di depan umum, tangannya seketika mengepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

"Apaan sih Ibu-Ibu! Cuma gagal nikah doang, mungkin dia emang bukan jodohku!" semprot Karin berusaha menahan rasa malu dan emosi yang hampir meledak.

"Dasar Ibu-Ibu kurang pekerjaan! Bisanya cuma mengomentari hidup orang lain melulu! Serasa kehidupan kalian udah paling sempurna aja!" cibir Bu Ismi balik, tak terima anaknya dipojokkan.

Tetangga lain malah makin makin gencar membalas, "Tapi seenggaknya kita nggak pernah mendukung anak kita buat merebut pacar saudaranya sendiri ya, Ibu-Ibu!"

"Betul banget! Aslinya pasti malu setengah mati tuh makanya ngamuk, gagal nikah sih!"

"Kasihan ya, udah gembar-gembor persiapan ini-itu, eh ujung-ujungnya malah batal nikah. Sakitnya pasti berlipat-lipat tuh!"

Muka Karin makin merah padam. Karena sudah tak kuat lagi menahan malu dan kepanasan mendengar omongan pedas tetangganya, dia langsung melangkah lebar, masuk ke dalam mobil, lalu membanting pintunya dengan sangat keras!

*BRAAAM!*

"Sialan! Ingin rasanya aku jahit satu-per-satu mulut lemes mereka! Heran deh, kok bisa-bisanya sibuk banget ngurusin hidup orang lain!" umpat Karin murka.

"Sudah, Karin. Kamu nggak usah buang-buang tenaga buat nanggapin omongan orang-orang nggak berguna kayak mereka." bujuk Bu Ismi menenangkan.

"Udah, Nggak usah dipikirin! Mending kamu langsung berangkat kerja sana!" potong Bu Ismi cepat. Tanpa membuang waktu, Karin langsung menancap pedal gas mobilnya dan melesat pergi dari rumah.

"Cih, kelakuan... Ada ya adik modelan begitu?" cetus salah satu tetangga sambil berdecak.

"Iya, kan? Kok ya tega-teganya pacar kakak sendiri diembat? Kayak nggak ada laki-laki lain aja di luar sana!" timpal tetangga sebelahnya pedas.

Begitulah sindiran demi sindiran yang terang-terangan dilayangkan para tetangga. Rata-rata dari mereka sangat kasihan pada Aira. Dari dulu, mereka selalu memperhatikan bagaimana Aira disisihkan dan diperlakukan pilih kasih oleh Bu Ismi, padahal Aira itu anak kandungnya sendiri.

Mendengar bisik-bisik pedas itu, Bu Ismi cuma bisa melengos dan buru-buru masuk kembali ke dalam rumah. Niatnya mau menyapu halaman pun batal gara-gara panas kepala disindir tetangga.

Sebenarnya, Bu Ismi benar-benar malu. Tapi mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terlanjur.

"Apes banget... Hancur sudah pencitraan yang selama ini aku bangun!" gerutunya kesal pada diri sendiri.

...****************...

Sementara itu di kantor, suasana langsung berubah canggung begitu Karin melangkahkan kaki masuk. Bisik-bisik kasak-kusuk seketika menggema di setiap sudut ruangan.

"Eh, lihat deh, itu Karin yang batal nikah kan? Dengar-dengar calon suaminya main gila di belakang." bisik seorang karyawan pelan.

"Masa sih? Kasihan banget dong kalau gitu." sahut teman di sebelahnya prihatin.

"Kasihan dari mananya?! Asal kamu tahu ya, dia itu justru pelakor yang ngerebut pacar kakaknya sendiri!" tembak rekan kerja lainnya tak kalah pedas.

"Hah? Cius?! *What!* Parah banget... Kayak nggak ada cowok lain aja!"

"Berarti dia ngerebut bekas kakaknya dong? Bener-bener gak tahu malu!"

Suara cemoohan itu terus berseliweran. Ingin rasanya Karin balik kanan dan putar balik ke rumah saat itu juga. Mukanya terasa sangat panas karena menanggung malu. Tapi apa boleh buat, dia sangat membutuhkan pekerjaan ini. Kalau sampai nekat resign, belum tentu dia bisa mendapatkan posisi sekhas dan sejelas ini di tempat lain.

Dengan berat hati dan muka tebal, Karin mencoba bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan terus berjalan menembus tatapan miring rekan-rekannya.

...****************...

Di rumah, Bu Ismi kelimpungan membuat adonan kue sendirian. Jika biasanya dia sanggup memproduksi hingga 500 biji kue dalam sehari, kali ini mencapai setengahnya saja tidak mampu. Tidak ada lagi yang membantunya.

Belum lagi urusan rumah tangga yang terus menumpuk. Sejak Aira pergi memisahkan diri, tidak ada lagi tangan yang membereskan pekerjaan rumah. Mau tidak mau, Bu Ismi harus menyapu, mengepel, dan mencuci semuanya sendiri.

Dampaknya langsung terasa ke dompet. Pemasukannya merosot tajam. Dulu sewaktu ada Aira, hasil jualan kue sangat lumayan untuk menopang kebutuhan harian. Tapi sekarang, hasilnya terjun bebas.

"Aduh, gimana sih ini?! Bukannya nambah terkumpul, tabungan malah makin tergerus! Padahal ini kan uang hasil sertifikat rumah yang digadaikan kemarin!" omel Bu Ismi frustrasi pada dirinya sendiri.

Dulu, saat Aira masih tinggal di rumah, semua produksi kue dipegang oleh Aira. Rasanya pas dan konsisten sehingga pembeli selalu puas dan ketagihan. Sekarang? Kualitas kue buatan Bu Ismi sering dikomplain dan dikembalikan oleh toko-toko karena tidak laku. Rasanya jauh berbeda dan kurang enak dibanding saat Aira yang membuatnya.

**Bersambung**

1
Sri Supriatin
Lanjut thor 😍😍😍😍
Meee
Devan kasih tau Aira KLO Raka dan ibunya bukan orang tua kndungmu,jangn sampai Aira yng polos termakan rayuan dua ular.
Sri Supriatin
Tks upnya thor😍😍💪💪💪
Sri Supriatin
Lagi bayangin thor n lanjuuut 👍👍😍😍
Sri Supriatin
Lanjuuut thor👍👍👍👍😍😍😍
Sri Supriatin
Tks upnya thor 👍🙏🙏🙏
Sri Supriatin
Kalau maling mah pasti ketangkap
Sri Supriatin
Eeh ada ngohiang Bogor selalu ku incar klu pul ke Bogor.... Asinan n talas 👍👍👍
Sri Supriatin
Susah klu anak lebih dr satu bagi rasa sayang... Tapi kalau bedainnya ky bu Ismi sih kebangetan🤭🤭
Sri Supriatin
Ha ha Anggun kn getahnya... Arum kan cuma mak tiri🤣🤣🤣
Sri Supriatin
Ha ha kapok Arum🤭🤣🤣🤣
Sri Supriatin
Karma dr perbuatan kalian🤭🤭
Sri Supriatin
Mampus Bagas🤣🤣🤣 mana setuju oma nyuntik dana🤭😄😄😄
Meee
pecat aja tuh si Bagas,mulutnya nyinyir banget blom tau dia 🤭🤭
Sri Supriatin
Mimpi Bagas malah kamu yg ditendang🤣🤣🤣
Sri Supriatin
Kaget kan liat undangannya.... Apalagi nnti liat pestanya 🤭🤭😄😄😄😄
Meee
ada seorang ibu seperti itu,gara"Aira terlahir bukan laki".
Sri Supriatin
Ngak sabar nunggu pestanya Devan n Aria di gelar 😍😍😍
Sri Supriatin
Nah karmakN?
Sri Supriatin
Goed job Devan 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!