Sarah Pratiwi Johan (28 Tahun) seorang karyawati biasa sudah menikah dan mempunyai anak.
Mahendra Wicaksana Pradivya (35 Tahun) Pengusaha sukses di bidang otomotif.
Ini Karya Author ke tiga.
Terima kasih kawan 😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Tiga puluh menit berselang, Sarah sudah selesai dengan mengganti semua pakaiannya. Tapi ia menggunakan kartu debitnya sendiri, bukan kartu ATM yang sudah diberikan Mahen.
" Bagus juga Sar selera mu "Ucap Mahen yang cukup mengejutkan Sarah dengan kedatangannya yang tiba-tiba dan tahu persis letak posisi dirinya, seperti sudah terpasang GPS saja didalam tubuhnya.
" Biasa saja Bang, aku sudah selsesai!"Ucap Sarah.
" Tapi Lydia meminta Abang untuk membeli beberapa roti kesukaannya. kita ke sana dulu ya?"Mahen menunjuk gerai roti yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka.
Sarah hanya mengangguk mengiyakan.
Mahen mengambil beberapa roti yang sudah dipesan Lydia sebelumnya. Kemudian Mahen menenteng dua plastik berukuran sedang dipenuhi dengan beberapa roti.
" Ini untuk mu, Abang ambil yang sama persis dengan Lydia karena tidak tahu apa kesukaan mu"Ucap Mahen memberikan salah satu plastiknya.
" Tidak masalah Bang, terima kasih"Balas Sarah menerimanya.
" Ada yang lain lagi nggak untuk kamu beli atau Syifa? mumpung kita lagi di Mall"Tanya Mahen dengan antusias, karena kapan lagi ia bisa menikmati waktu berdua seperti ini.
Tapi dengan cepat Sarah menggelangkan kepalanya.
" Ini Bang kartu ATM nya" Sarah mengembalikannya.
" Kenapa tidak kamu pakai? "Tanya Mahen. Karena ia tidak mendapatkan notif sms bankingnya.
" Tidak Bang terima kasih, aku sudah megang uang Hafis "Jawab Sarah.
Raut wajah Mahen seketika berubah saat menyadari wanita yang didepannya merupakan adik iparnya sendiri.
Sekarang Mahen yang hanya mengangguk, paham akan posisinya.
Sepanjang didalam perjalanan pulang, baik Sarah atau pun Mahen tidak ada yang membuka obrolan lagi sampai terdengar ponselnya Sarah yang berbunyi.
" Iya sayang "Jawab Sarah saat menerima telepon sari Hafis.
Mahen meliriknya sekilas dan kembali fokus pada kemudinya.
" Iya paling 10 menit lagi aku sampai rumah"Jawab Sarah lagi.
" Iya Sayang "Ucap Sarah sebelum mematikannya.
Sarah menoleh ke arah Mahen yang terdengar menghela nafas dengan kasar. Tapi setelah nya Sarah fokus kembali pada ponsel dan memasukannya kedalam tas.
.
.
.
Benar saja tidak sampai 10 menit Sarah dan Mahen sudah berada didalam rumah, setelah Mahen memasukkan mobilnya di garasi. Kemudian bergabung dengan mereka yang sudah menunggu kepulangannya.
" Kok lama sekali kamu pulangnya Sarah? kasihan tuh Syifa ada kali setengah jam nangis terus "Ucap Nyonya Kemala ketus.
" Iya Ma Maaf "Hanya itu kata yang keluar dari mulut Sarah.
Ia langsung pamit kekamar, saat mendengar suara Syifa yang menangis lagi.
" Bang... "Panggil Lydia sambil membawa termos kecil yang sudah berisi kopi. Lalu ia mengambil roti dalam palstiknya.
" Terima kasih Ayang "Balas Mahen.
" Kenapa Syifa rewel Fis? "Tanya Mahen beralih menatap Hafis.
" Nggak tahu juga Bang, mungkin Syifa sudah terbiasa pada Sarah. Ini kan Sarah nya sudah mulai kerja. Tapi dua hari kemari biasa saja, karena Sarah sudah sampai dirumah saat Syifa bangun"Ucap Hafis hanya mengira-ngira.
" Ya sudah kalau begitu simple, minta saja Sarah untuk risegn dari kantor nya. Bereskan? "Ucap Mahen seolah memberikan solusi paling benar.
" Setiap bulannya aku akan mengirimkan uang bulanan untuk kalian. Kalian hanya perlu tinggal disini menemani Mama dan Papa "Lanjut Mahen.
Lydia hanya mampu jadi pendengar saja bagi mereka di rumah ini karena walau pun rumah besar ini Mahen yang membelinya tapi sudah atas nama Nyonya Kemala.
" Iya paling berapa gaji karyawan begitu, paling sama dengan pelayan di rumah ini"Ucap Nyonya Kemala menimpali.
" Iya sudahlah Sarah fokus pada mu dan Syifa. sudah enak tinggal disini hanya tinggal makan tidur saja tanpa bekerja apa pun "Lanjut Nyonya Kemala lagi.
" Iya Bang, Ma, nanti bilang pada Sarah"Balas Hafis.
Sementara didalam kamar, Sarah sedang menyusui Syifa setelah ia membersihkan dirinya terlebih dahulu serta membuang sedikit ASI nya.
" Syifa rindu Mama ya, maaf ya Mama pulangnya telat. karena tadi Mama ganti pakaian dulu, tadi ASI Mama merembes karena Mama lupa bawa pompa ASi nya "Ucap Sarah berbicara dengan Syifa sambil mengucapkan kata maaf.
Ia mengelus pipi gembul Syifa yang sangat menggemaskan.
" Sayang, kata Bang Mahen kamu risegn saja dan fokus mengurus Syifa. Biar aku saja yang bekerja disini membantu Bang Mahen dan Menemani Mama. Karena Mama tidak ingin jauh juga dari Syifa"Ucap Hafis hati-hati. Karena ia tahu akan sangat sulit berbicara masalah ini dengan Sarah.
Dikarenakan Sarah merupakan tulang punggung keluarganya yang tinggal semua dikampung. Kedua orang tua Sarah merupakan buruh tani, sedangkan dua orang adiknya masih duduk dibangku SMP dan SMA. Selama ini Sarah yang membiayai sekolahnya, dan jika ada lebihnya ia akan memberikan pada kedua orang tuanya.
Setelah menikah bukannya Sarah tidak ingin fokus pada keluarga kecilnya. Namun selama ini juga Hafis belum bisa membantu perekonomian keluarganya Sarah. Karena usaha Hafis yang masih dibilang merintis. Dan itu pun dengan menggunakan uang modal yang Sarah pinjam dari perusahaan tanpa sepengetahuan keluarga Pradivya.
Dan rumah yang selalu di sebut Sarah itu rumah yang dibelinya dengan cara menyicil selama Sarah menjadi karyawati disana. Bukan pemberian Hafis yang merupakan anak orang kaya.
" Lalu apa katamu? "Tanya Sarah dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
" Tapi Sayang, ada benarnya juga apa yang dibilang Bang Mahen dan Mama ku. Syifa sangat tergantung pada mu "Jawab Hafis.
" Lalu dengan keluarga ku yang sebagian masih bergantung pada ku bagaimana?"Tanya Sarah balik. Mencoba tidak menangis saat membicarakan keluarganya.
" Kalau kamu setidaknya menyanggupi untuk meringankan beban kedua orang tua ku dengan membantu membiayai kedua adik ku dengan senang hati aku akan berhenti kerja "Lanjutnya.
" Tapi kan tahu sendiri sayang keuangan ku bagaimana? jangankan membantu keluarga mu aku saja masih dibantu Bang Mahen ".Ucap Hafis.
Sarah hanya diam saat Hafis menyebut lagi nama Mahen.
" Kemarin saat kita tidak tinggal di rumah ini, kita biasa saja tidak banyak ribut ini itu. Hidup kita mengalir bagaikan air, kita bahkan sudah membuat skema untuk pengasuhan Syifa. tapi kenapa sekarang berubah? "Ucap Sarah mulai mengeluarkan unek-uneknya.
" Kamu mau megang kerja apa saja selain di Showroom. Kita masih baik-baik saja dengan banyaknya pengeluaran, kita juga masih bisa makan enak walau sebulan dua kali. Tapi aku tidak mendengar kata Bang Mahen, Bang Mahen dan Mama. Semunya apa kata kamu, kita, dan sesuai kesepakatan kita"Lanjutnya lagi.
" Tapi sekarang lihat lah! setiap keputusan dan tindakan mu ada nama Bang Mahen dan Mama dibelakangnya.Mana Hafis yang aku kenal dulu?, yang mau bekerja dan berusaha bersama dengan ku. yang selalu percaya pada kemampuannya sendiri ".
" Kenapa kamu tidak suka? "Volume suara Hafis yang tiba-tiba meninggi sontak saja membuat Syifa menangis dalam gendongan Sarah.
Dan Mahen sudah masuk kekamar mereka dan berdiri dihadapan keduanya.
.
.
.
.
Mampir Yuk di Novel Author yang pertama dan sudah tamat " Cinta Tuan Alex ".
Mampir juga di Novel ke dua Author yang sedang On going " Teman Tidur Tuan Jason Gilbert ".
Jangan lupa dukungannya 'wan kawan dengan cara Like, Komen, Gift dan Vote.
Terima kasih kawan 🙏😊.
ibu ini spt bukan perempuan saja.pantas anak2nya gak punya hati lah ibunya begitu.
seenaknya mengoper sarah sana sini,emangnya barang yg tak bernyawa dan gak punya hati.
gemes lihat keluarga ygbkurang akhlak 8ni.
ini si kajen kk apaan tuh...bejat namanya itu!!!
apa sarah sempat keluar atau beda mobil yg dinaiki?
bukannya lidya saat keguguran dulu 12 tahun yg lalu kak heni?
yg betul yg mn
pokoknya semua mama yg atur /Facepalm//Facepalm/
dari maksa hafiz ceraikan sarah,
maksa mahen ambil hak asuh syifa,
dukung mahen nikah sama sarah, dan sekarang maksa hafiz rebut sarah dan syifa dari mahen
luat biasaa wkkwkkwkk