Setelah sebuah vidio pertengkaranku tersebar dan viral dimedia sosial, seseorang tiba-tiba datang menawari kontrak kerja.
"Bukankah aku hanya menjadi asisten biasa? Kenapa isi kontraknya bertambah banyak?"
Jika aku gagal mengusir pacar-pacar bos anehku ini, aku harus membayar konpensasi karena pelanggaran kontrak!
Ini penipuan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Y. A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakura merasa ditipu?
Dua hari setelah kepindahan Sakura yang mendadak. Dia juga disiksa dengan permintaan-permintaan Dan yang begitu membuatnya kerepotan.
Dan sengaja menyuruh asisten rumah tangga yang biasanya memasak hanya membersihkan rumah saja sekarang, lalu memperkenalkan Sakura sebagai asisten pribadi yang akan memasak untuknya.
Berbeda dengan perlakuannya pada semua orang dikantor, perlakuannya pada nenek pengurus rumahnya sangat hangat. Sakura bahkan syok saat melihat Dan tersenyum padanya.
"Oh, kamu sudah datang? Ini kedua kalinya kita bertemu. Silahkan masak, aku sudah membeli bahan makanannya sebelum kesini."
"Hmm, tapi saya tidak terlalu mengerti dengan sayuran ini."
Sakura melihat sayuran di kulkas, daging entah jenis apa dan potongan daging ikan yang telah bebas dari tulang. Dia jarang memasak dan hanya pandai dengan mie dan nasi goreng.
"Kamu sepertinya jarang memasak. Apa tidak apa-apa kamu mengerjakan ini?" si nenek langsung terlihat ragu membiarkan Sakura memasak.
"Tidak apa-apa, bos memang sengaja menyiksa saya. Dia sudah lihat hasil masakan saya kemarin tapi masih menyuruh melakukan ini. Jadi apapun hasilnya harusnya dia tidak boleh protes."
Mendengar perkataan Sakura, Nenek tertawa kecil. Mengira-ngira seperti apa Sakura hingga bisa santai dengan majikannya. Nenek adalah orang yang paling tahu seperti apa Dan sebenarnya, jadi dia sungguh penasaran saat Dan membawa Sakura masuk kedalam rumah ini.
"Biar Nenek bantu, belajarlah dari orang tua ini dengan baik anak manis."
Sakura langsung bersemangat. Dia sangat bersyukur Nenek ini tidak memusuhinya dan mau membantunya.
"Apa yang nenek lakukan?"
Sakura menegang ditempatnya, dia takut kalau nenek itu dimarahi karena dia.
"Nenek hanya mengajari sebentar, itu permintaan saya agar masakannya tidak gagal seperti kemarin." Sakura yang menjawab.
Dan sudah rapi. Dia duduk di meja makan. Tahu apa yang dilakukan Sakura untuk melindungi pengurus rumahnya, dia tertawa dalam hati.
"Belajarlah, aku tidak melarangmu." katanya.
Sakura merasa sangat lega. Mereka kembali melanjutkan memasak sementara Dan sibuk dengan ponselnya.
"Dan, kemarin aku bertemu ibumu. Dia terlihat sangat kawatir padamu. Sesekali pulang dan hiburlah dia."
.
Kenapa cara bicara Nenek seolah mengenal dengan baik keluarga Pak Bos?
Apa dia pernah bekerja dirumah orang tua pria ini juga?
"Hmm, jangan kawatir Nek, Ibu pandai menghibur dirinya sendiri."
Aku masih tidak percaya orang aneh ini sangat lembut pada Nenek ini. Dia terlihat seperti orang yang berbeda.
"Sakura, yang ini simpanlah dulu. Ini bisa dipanaskan untuk dimakan nanti malam. Buatkan saja telur dadar sebagai tambahan. Dan suka telur dadar."
"Iya, Nek. Terima kasih atas bantuan Nenek!"
Nenek tidak pernah makan dirumah ini. Dia selalu melanjutkan pekerjaannya saat Dan makan.
"Duduk dan makanlah."
"Hah? Tidak, saya akan kembali ke sebelah sa..."
"Duduk!"
Ish! Dia mau aku makan disini dengannya?
Aku bahkan tidak akan bisa menelan makananku karena memikirkan dia yang duduk disana.
.
Akhir-akhir ini, Dan sedikit bertingkah aneh. Dia sering memperhatikan apa yang dilakukan Sakura. Dia akan menatap Sakura beberapa saat. Tidak peduli Sakura menatapnya balik, atau bertanya tentang apa yang dia lakukan, dia melakukannya dengan terang-terangan dan tidak pernah memberi penjelasan akan tingkahnya.
Ituah alasan mengapa Sakura tidak nyaman makan dengannya saat ini. Dia seperti sedang diamati, dinilai dan diadili. Sangat menyebalkan ketika Sakura tidak bisa meluapkan kekesalannya.
"Dia adalah pengasuhku sejak aku lahir. Dia banyak tahu tentang aku jadi belajarlah darinya."
'Apa yang mau dipelajari tentangmu? Aku hanya perlu belajar memasak dari Nenek.' jawab Sakura dalam hati, tampa menyadari maksud dan tujuan Dan mengatakan hal tersebut.
"Saya akan belajar memasak dari Nenek dengan baik, Pak. Anda tidak perlu kawatir."
"Baguslah, aku akan menambah bonus bulan ini jika kamu berhasil dalam seminggu."
"Tunggu Pak Dan, memangnya berapa lama saya harus menjadi asisten pribadi anda dirumah juga? Kontrak saya hanya selama jam kerja menurut aturan perusahaan. Ini kan hanya sementara."
"Kapan aku bilang begitu? Kamu harus menjadi orangku, jadi selama 24 jam kamu harus siap kapanpun aku butuh selama masa kontrak. Tenang saja, aku tidak akan mengganggu waktu tidurmu."
"Saya sudah menjadi orang Anda, apa maksud Anda 24 jam kerja untuk menjadi orang Anda?" Sakura mulai menunjukkan rasa kesalnya.
"Kamu belum menjadi orangku, karena itu aku harus membuatmu jadi orangku."
.
Dia ini kenapa sih? Apa maksudnya bicara begitu?
Bukankah aku karyawannya? Tentu saja aku orangnya.
"Kamu terlihat bingung."
Tentu saja bingung, seolah ada maksud lain dari perkataannya itu. Dan sejak kapan dia bisa bicara banyak begini denganku?
"Aku tidak punya orang yang memihak padaku selain Nenek, karena aku menyukai karaktermu. Kamu harus menjadi orangku. Mulai saat ini berhenti melakukan permintaan Sekretarisku. Dia bukan orangku."
Apa?
Heri bukan orangnya? Apa sih maksudnya?
.
Sakura berlari melewati orang-orang menuju lift untuk sampai pada lantai tiga gedung perusahaan Adipura. Ini karena Dan muntah saat rapat dan Heri langsung menghubunginya. Menyuruhnya untuk segera datang dengan membawa brownis kesukaan Dan.
Sesampainya di lantai tiga, tepat di tempat yang dikatakan Heri, Sakura langsung ditatap oleh belasan orang yang berkerumunan diluar pintu.
"Maaf... Apakah ini ruang..."
Clek!
Pintu terbuka dan Heri muncul disana. Sakura bersyukur karena tidak jadi bertanya pada orang-orang yang berpakaian rapi ini. Dia merasa sangat terintimidasi seolah dia adalah penyebab mereka harus berdiri disana.
'Sialan! Sebenarnya ini ruang rapat apa? Kenapa orang-orang disini seakan ingin membunuhku?'
"Ini asisten yang kamu katakan? Apa kamu membawa permintaan anakku?"
'Anakku? Jadi dia...'
Sakura langsung meletakkan kue ditangannya diatas meja. Tepat dimana Dan duduk dengan tubuh yang terlihat lemah. Disebelahnya seorang laki-laki tua duduk dengan raut cemas.
"Ya, silahkan dimakan Pak."
"Kenapa kamu bisa muntah sebanyak itu dan menolak kerumah sakit? Ini makanlah!"
Sakura mengedarkan pandangannya kesegala arah. Memeriksa keadaan disana lebih teliti. Sesuatu yang menjadi kebiasaan jika dia berada di tempat yang baru.
Dia baru sadar ada dokter yang berdiri di samping pintu. Lalu ada kakak Dan di ujung meja berbentuk oval ini, duduk disana dan menatap interaksi ayah dan adiknya dengan dingin.
Ketika Sakura mengalihkan tatapannya pada Dan juga, dia terkejut karena ternyata sedari tadi Dan menatapnya.
"A-Ada yang Anda butuhkan lagi, Pak?"
"Duduklah disampingku."
"Maaf?"
Dan hanya menatapnya, tidak mau mengulang perintah tadi seolah itu tidak perlu karena dia tidak ingin dibantah.
"Itu permintaan konyol, Dan. Kita akan segera melanjutkan rapat. Semua orang menunggumu dengan resah." kata Kenzie.
"Tidak masalah, lagipula dia asistennya. Dia akan menjaga Dan selagi kita rapat. Aku tidak ingin melihat Dan drop lagi." bela ayah Dan.
"Bisa kita mulai lagi, Dan?" tanya ayahnya untuk memastikan.
Sakura memperhatikan interaksi mereka. Sangat jelas ayah bos nya begitu memperhatikan dan memperlakukan bos nya seperti permata yang rapuh.
Setelah duduk, Sakura bahkan bisa melihat posisi kedua anak dalam keluarga ini. Kenzie yang duduk jauh dari ayahnya, sementara Dan duduk tepat disamping ayahnya.
Sepanjang rapat, Sakura bisa melihat bahwa ayahnya cenderung menyetujui dan mendengarkan pendapat Dan ketimbang yang lain.
.
Dia terlihat sangat disayangi oleh ayahnya, tapi kemarin dia bilang hanya nenek pengasuh itu yang menjadi orangnya. Kenapa dia tidak menyebutkan ayahnya.
Tunggu, kenapa juga aku peduli!
Aku bahkan tidak tahu apa tujuan Bos ini menyuruhku duduk disini. Apa dia tidak sadar bahwa sebentar lagi kepalaku bisa berlubang karena tatapan semua orang?
"Kamu mau?"
Dia gila ya? Ini kan masih rapat! Kenapa dia bertingkah seperti seorang idiot!
.
Sakura menatap garpu berisi kue yang disodorkan Dan. Sesaat ayahnya hanya tersenyum dan kembali melanjutkan bicara. Seolah tingkah Dan tidak mengganggunya.
Sakura segera menggeleng, dengan wajah horor dia memberikan tatapan penuh permohonan pada Dan. Membuat pria itu terkekeh kecil. Hal yang langsung membuat ayahnya tampak syok luar biasa. Sorot mata Dan kini seperti anak kecil yang menyukai teman bermainnya.
Bukan hanya ayahnya, ketika Sakura melihat ekspresi semua orang, mereka menunjukkan ekspresi yang sama. Termasuk Kenzie meski dengan cepat pria itu kembali seperti semula.
Ketika Dan kembali kesikapnya yang biasa, suasana kembali kondusif. Rapat selesai dan semua orang segera meninggalkan ruangan kecuali mereka dan ayah Dan.
"Dan, proyek ini akan berhubungan dengan proyek yang sedang kamu kerjakan. Karena perusahaan itu kini diakuisisi oleh BUMN. Perhatikan baik-baik, pekerjaan lapangan adalah ladang basah bagi mereka yang serakah. Jangan biarkan namamu dan perusahaanmu buruk hanya gara-gara tikus-tikus yang akan muncul."
"Hmm, saya mengerti."
"Kamu akan langsung pulang? Tolong pergilah kerumah sakit. Apa ayah perlu menemanimu?"
"Tidak, jangan berlebihan. Sakura akan merawat saya dengan baik."
Ayah Dan mengalihkan pandangannya pada Sakura yang langsung tersenyum canggung. Tidak tahu harus bereaksi apa ketika Dan menjadikan dirinya perisai.
"Ah, sepertinya kamu sangat mempercayai asistenmu. Kalau begitu apa aku boleh minta tolong padamu, Sakura? Tolong jaga anakku baik-baik."
"Saya akan bekerja dengan baik." jawab Sakura.
Dia merasa sedang berdiri di ujung jurang, sedikit saja dia tergelincir maka dia akan jatuh. Berulang kali Sakura mengumpat dalam hati akan kelakuan bos nya.
'Dia orang paling gila dan aneh yang pernah aku temui. Dia tidak autis seperti yang terlihat pertama kali, dia ini penuh tipu muslihat. Dasar brengsek! Entah kenapa aku merasa tertipu olehnya.'
Sakura akhirnya menyadari kepribadian Dan yang berubah pada setiap orang. Sakura belum tahu mana yang asli. Dia hanya tahu bahwa Dan menunjukkan kepribadian yang berbeda pada orang yang berbeda pula.