Demi membuat adiknya hidup senang, sebagai Kakak Risha rela melakukan apa saja untuk kebahagiaan adiknya, termasuk menikahi pria yang tidak dikenalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Cherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Introgasi.
Setelah lelah berjalan mencari keberadaan ruangan Tuan Rey, Risha akhirnya menyerah. Kediaman itu sungguh luas, terlalu banyak pintu. belum habis dia kelilingi kakinya sudah mau patah saking lelahnya berjalan. Berharap menemukan kepala pelayan itu tapi nyatanya nihil. Tak ada yang bisa dia ajak bicara kecuali kepala pelayan di rumah sebesar ini.
Risha duduk di tangga beristirahat sejenak. Masa bodoh jika pria itu menunggunya. Saat ini dia butuh istirahat.
Sementara di ruangan kerja Rey Hiroshi. Dia mulai kesal, kemana perginya gadis itu? Apa gadis itu tidak tahu kalau dia tak suka menunggu? Atau dia tidak mau menuruti perintahku. Pikirnya.
"Pak Hatai!" Panggilnya.
"Ada apa, Tuan?" Ucap pak Hatai.
"Apa kau sudah memanggil gadis itu?" Tanyanya dingin.
"Sudah, Tuan. Apa gadis itu belum menemui anda?"
Rey menggeram kesal, kesabarannya mulai habis. Rey memukul meja kerja dan berjalan keluar ruangan dengan perasaan marah.
Ketika menemukan gadis itu sedang duduk di tengah tangga. Rey mengepalkan kedua tangannya. Apa gadis itu menganggapnya lelucon sehingga tak mengindahkan perintahnya?
Dia berjalan cepat ke arah gadis itu, dan langsung mencengkram lengannya sampai Risha terkejut, dia meringis karena saking kuatnya lelaki itu mencengkram dirinya. Risha di paksa berdiri di hadapan Rey, nyalinya menciut saat menatap mata tajam itu.
"Apa kau sedang membantahku!!" Bentaknya.
Mata Risha mulai berair, ini sungguh menyakitkan.
"Lepaskan-"
"-Jawab!"
Tubuh Risha bergetar "a'aku tidak tahu dimana ruangan Anda, tak ada yang bisa aku ajak bicara." jawabnya terbata bata.
Rey menghempaskan pegangannya Sampai Risha hampir terjatuh dari tangga, bersyukur ada pinggiran tangga yang bisa Risha pegang untuk menyanggah tubuhnya.
Muka Rey masih terlihat dingin. Dia berjalan duluan dan Risha mengikutinya dari belakang. Risha menghapus air matanya yang menggenang.
Ia menatap nanar lengannya yang membiru. Kenapa pria itu selalu memperlakukannya dengan kasar. Bukan salahnya jika tak menemukan dimana ruangan pria itu, seharusnya dia menyuruh salah satu pembantu untuk menuntun dirinya ke sana.
Risha berdiri dihadapan Rey dan menunduk, ia menunggu apa yang akan lelaki itu katakan kepadanya sambil memegang lengannya yang sakit.
Rey menatap intens gadis dihadapannya "siapa namamu? Apa tujuanmu datang kesini? Aku tahu siapa yang sudah mengirimmu kesini jadi jangan coba-coba menipuku, bicaralah!" Perintahnya datar penuh tekanan.
Risha mendongak, menatap mata kelam itu dengan perasaan was-was "n'namaku Risha Andini, aku ke kota ini karena menerima tawaran bisnis dari Tuan Ander," jawabnya jujur.
Rey mendengus keras. Bisnis katanya? "Omong kosong!" Ujarnya sinis. Gadis itu terlihat biasa saja, dari data yang dia terima pun tidak ada yang istimewa, tidak mungkin pria tua itu mempercayakan gadis itu untuk urusan bisnis. Pikirnya.
Melihat Reaksi Rey. Risha meremas baju cardigannya. Apa lelaki itu pikir dia sedang berbohong?
"Apa kau ingin menipuku? Aku tahu pria tua licik itu tak mungkin percaya begitu saja padamu, kecuali jika kau menggodanya dengan tubuhmu,"
"Aku tidak Serendah itu," ucap Risha dengan suara tertekan.
Rey tersenyum meremehkan menatap amarah yang ditahan oleh Risha.
"Kau tahu bisnis apa yang akan kau jalani di kota ini?" Tanyanya lagi.
"Apa alasannya jika aku mau memberitahumu?" Kata Risha datar.
Wajah Rey berubah dingin. Gadis itu masih punya keberanian ternyata.
"Kau melawanku?"
"Aku bicara apa adanya," ini kesempatannya untuk mengetahui siapa lelaki itu. Apa tujuan dia menculik dirinya seperti ini "aku tidak mengenalmu bisa saja kau juga ingin menipuku! Buktinya kau menculikku," Balas Risha.
Rey mengepalkan tangannya "kau tidak berhak tahu siapa aku dan apa tujuanku, kau harus ingat aku bisa saja membunuhmu kapanpun aku mau!"