Indonesia
NovelToon NovelToon
Dendam Gila Sagara

Dendam Gila Sagara

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Hamil di luar nikah / Tamat
Popularitas:43.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Niatnya menolong orang, malah membuat seorang gadis bernama Rara Aprilia jatuh ke dalam kehancuran yang tak bisa diindahkan.

"Welcome to the hell, Rara Aprilia!"

"Jangan coba-coba menjauh apalagi kabur dari gue, karena jika sampai itu terjadi ... maka orang tersayang lo akan mat*!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6

Bergetar tubuh Rara mendengar Saga mengucapkan hal itu. Ia merasa seperti seorang pelac*r bahkan mungkin lebih hina. Pelac*r dibayar, sedangkan dia ... Rara tersenyum kecut mengingat keadaannya sekarang.

"Lo udah minum obat?" Basa-basi Sagara.

"Udah," Rara menjawab seadanya. Dia memalingkan muka, tidak berniat menatap wajah Sagara yang saat ini sedang intens menatap wajahnya.

"Gue di sini Rara!" geram Sagara yang merasa diabaikan. Dia mencengkram dagu Rara agar gadis itu menatap ke arahnya. "Gue nggak suka diabaikan!" tekannya dan membuat Rara tidak berkutik.

Rara pasrah ketika Sagara melumat bibirnya dengan sangat lembut, saking lembutnya sampai-sampai gadis itu memejamkan mata. Namun tidak lama karena suara deru mesin mobil terdengar berhenti di halaman rumah Rara. Sagara segera menyudahi aksinya. Ia mengusap bibir Rara yang basah menggunakan ibu jarinya.

Selanjutnya, terdengarlah suara ketukan pintu dan seruan salam.

"Inul?" desis Rara yang mengenali suara orang yang mengucap salam barusan.

Sagara menaikkan satu alisnya sembari melempar tanya kepada Rara. "Siapa?"

"Kayaknya temen kerjaku," cicit Rara sembari berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Namun Sagara melarangnya. "Lo tiduran aja! Biar gue yang bukain pintunya. Tutup leher lo!"

Rara pun tersadar dan segera menutup lehernya yang penuh dengan kissmark menggunakan syal yang tadi sempat ia buka karena gerah.

"Jangan bicara apapun tentang kejadian semalam sama temen lo itu! Kalau lo berani buka mulut, hari ini juga ... Gue bakal buat Si Raja kehilangan nyawa!" ancam Sagara sebelum keluar dari kamar Rara.

Sagara membuka pintu rumah Rara dan nampaklah satu orang wanita berambut panjang agak ikal berkulit sawo matang yang berdiri berdekatan dengan pria berkulit sawo matang juga. Di belakang mereka, ada seorang lelaki yang cukup tampan dan berpenampilan rapi. Kemeja marun dan celana formalnya menandakan dengan jelas bahwa sepertinya ia adalah atasan Rara. Begitu pikir Sagara.

Sagara melempar senyum ke arah ketiga tamu tersebut. Lalu bertanya dengan sesopan mungkin. "Maaf, kalian temennya Kak Rara, ya?" tanyanya basa-basi ramah.

"Iya Dede tampan. Kami ke sini mau nengokin Rara. Aku Inul, ini pacarku Windu dan yang ini ... Pak Tama, manager di kantor kami!" Inul menjelaskan sembari memperkenalkan dirinya dan kedua lelaki di sampingnya. "Kamu siapanya Rara, kok aku baru lihat?" tanya balik Inul.

"Aku Saga, kenalannya Kak Rara dan Raja," jawab Sagara dengan tersenyum ramah. "Silakan masuk! Kak Raranya lagi istirahat di kamar," lanjutnya menjelaskan.

Inul, Windu dan Tama mendudukan tubuhnya di kursi ruang tamu berbarengan dengan Raja yang baru pulang dari warung.

"Eh ada Kak Inul!" Raja langsung berseru melihat sahabat Kakaknya itu. Remaja SMP itu langsung menyalami ketiganya. Saat Raja menyalami Tama, Inul berseru dengan kata-kata yang tidak terduga.

"Raja ... Ini Pak Tama, calon kakak ipar kamu!" Jelas saja perkataan tersebut langsung membuat Tama salah tingkah sedangkan Raja, dia tercengir sambil garuk-garuk kepala. Dia memang mengerti dengan perkataan Inul tersebut, cuma bingung saja harus bagaimana menanggapinya.

"Oh, jadi cewek jalang itu udah punya pacar!" Sagara menyeringai dalam diamnya.

"Boleh kita lihat keadaan kakak kamu?" Permintaan dari Tama memutus kecanggungan di antara mereka.

"Boleh." Raja mengangguk sopan lalu mengajak ketiga tamu tersebut masuk ke kamar kakaknya.

Dengan degup jantung yang tidak karuan, Rara berusaha bersikap biasa saja menyambut kedatangan ketiga tamunya.

"Ra, kamu kok bisa jatuh sakit kayak gini sih?" Inul bertanya heboh sambil mengusap-usap kening Rara yang tertutup poni. Dia duduk di pinggir ranjang.

"Ya bisa atuh Yang. Rara 'kan manusia, bukan robot!" celetuk Windu menyahuti pertanyaan pacarnya.

Inul berdecak. Namun fokus Rara bukan pada sepasang kekasih itu, melainkan pada lelaki tampan berbadan tegap yang kini tengah menatapnya intens. Tama tersenyum ramah lalu mulai membuka suara. "Udah mendingan sakitnya?" Suara tegasnya mengudara membuat jantung Rara meloncat-loncat di dalam sana. Hampir copot!

"U-udah, Pak," Jawab Rara segera menundukkan wajahnya. Dia pura-pura beringsut membenarkan posisinya yang bersandar pada kepala ranjang.

Melihat kondisi itu, Inul dan Windu saling sikut. "Ra, aku sama Mas Windu keluar bentar ya, mau ngupasin buah buat kamu. Kebetulan tadi kita bawain buah buat kamu," beri tahu Inul sambil nyengir.

"Bukan kita Yang, tapi Pak Tama yang beli." Windu meralat ucapan pacarnya.

Lalu sepasang kekasih itu keluar kamar meninggalkan Rara dan Tama yang saling melempar senyum malu-malu.

"Boleh saya duduk di sini?!" Tama menunjuk pinggir ranjang bekas tadi Inul duduk.

Rara mengangguk pelan. "Silakan Pak." Keringat dingin bercucuran dari dahinya. Jantung Rara semakin dibuat berolahraga saat Tama mengulurkan tangannya dan mengusap keringat di dahinya. Hatinya langsung meleyot bagai lilin yang dibakar api.

"Makanya Ra, cari suami biar kamu nggak usah jadi tulang punggung lagi!" Perkataan Tama sukses membuat Rara gelagapan di tempatnya.

"Be-belum ada jodohnya Pak." Rara menyahut tanpa berani menatap wajah Tama yang sedari tadi terus memandanginya.

"Bukan belum ada jodoh, tapi kamu selalu menutup mata," ujar Tama menohok membuat Rara semakin gelagapan. "Dari dulu saya menyukai kamu, Rara. Tapi kamu selalu saja menghindari saya," kata Tama memberitahukan perasaan sukanya untuk yang ketiga kalinya. Dia berharap kali ini, Rara menerima cintanya. "Menikahlah dengan saya!" Sontak saja ajakan tersebut membuat jantung Rara terlonjak ingin keluar dari tempurungnya.

Rara tidak langsung menjawab, ia masih berusaha menormalkan laju jantungnya. Apakah ini artinya Tama melamarnya? Gadis dua puluh lima tahun itu menggigit bibir dalamnya. Memanaslah kedua mata indahnya. Jika keadaan dirinya masih seperti dulu, mungkin ia akan langsung mengiyakan ajakan atasannya itu, tapi sekarang ... keadaannya sudah jauh berbeda. Ia sudah kotor dan merasa hina.

Tidak! Ia tidak bisa menerima niat baik Tama. Bukan karena dia tidak cinta, tapi karena mahkotanya telah tiada. Rara bersiap membuka mulut untuk mengutarakan jawabannya, namun tertahan karena kedatangan Inul dan Windu.

"Ra, ini buahnya!" Inul menyimpan sepiring apel yang sudah ia potong-potong di atas nakas di sebelah ranjang Rara.

"Makasih, Nul." Rara menjawab dengan suara sedikit tertahan di tenggorokan.

"Pak Tama ... Saya dan Mas Windu mau pulang sekarang. Bapak mau bareng atau masih betah di sini nungguin Rara?" Ada nada menggoda dari perkataan yang Inul sampaikan.

Tama terkekeh pelan lalu mengusap lembut puncak kepala Rara. "Saya pulang dulu ya, Ra. Cepet sembuh dan saya tunggu jawaban kamu!" Usai mengatakan hal itu, Tama keluar duluan setelah Rara mengucapkan terima kasih kepadanya. Perkataan dari Tama tersebut mengundang tanya dari Inul sang sahabat.

"Emang Pak Tama nanya apa ke kamu? Kok minta jawaban segala."

"Kepo," sembur Rara tanpa ingin menjelaskan yang sesungguhnya.

Inul mencebik lantas ia berpamitan setelah sebelumnya mengucapkan wejangan dan doa kesembuhan untuk sahabatnya.

Sepeninggal mereka bertiga, Rara memerosotkan tubuhnya jadi tidur terlentang lagi. Kepalanya terasa pening mengingat ajakan dari atasannya tadi. Ia bingung harus menjawab apa.

Di tengah kebingungannya, Sagara tiba-tiba masuk ke kamarnya. Wajah lelaki delapan belas tahun itu nampak dingin dengan tatapan tajam yang menghujam iris hitam milik Rara. Sagara mendekatkan wajahnya ke telinga Rara. "Jangan coba-coba dekat dengan lelaki manapun!" Sagara berbisik penuh penekanan. "Because you're mine!"

1
Zanahhan226
halo, Kak..
aku di sini dri sekian banyak novel yg sdh Kk buat..
semoga kita bisa saling dukung, dan aku bisa punya banyak judul jga,,
aamiin..
semangat trs utk kita..
🥰🥰🥰
Ama Apr: iya kk🫰
total 3 replies
YuWie
Luar biasa
Ama Apr: makasih kk
total 1 replies
Arye Ghad'iz BinAngun
good
Ama Apr: makasih kk
total 1 replies
Mohammad Sokeh
Babnya gak.panjang si tp dari awal klimaks smua .
bàgus bikin emosi juga 😀
Ama Apr: Makasih kk🫰
total 1 replies
Mohammad Sokeh
sangat puas mama Syaira mendapat keadilan pun Rara memetik buah kesabarannya.
Ama Apr: Makasih kk🫰
total 1 replies
Mohammad Sokeh
Cellin kan mau nemenin mama Syaira teman kamu yg kqu khianati.impas kan
Ama Apr: 🥲🥲🥲 huhu
total 1 replies
Mohammad Sokeh
mungkin saat ini kamu jadi pdlampiasan kemarahannya yg g bs tersalurkan dg yg bersangkutan tp smoga.saja lamban laun dia benar benar tulud padamu ra
Ama Apr: aamiin🫰
total 1 replies
Mohammad Sokeh
dari cerita bi jamilah mulailah bermain tak tik baik baikin si gara biar aman dirimu dan adikmu klo ku g peka habislah.kau
Ama Apr: betull🥹
total 1 replies
Mohammad Sokeh
waktu dia di perlakukan keji dg alsan yg g masuk akal seharusnya berhati hati yg aku sesalià kenapa main api dg tama biki n orang yg sdh g waras makin nekad.
Ama Apr: 🥲🥲🥲huhu
total 1 replies
Mohammad Sokeh
rara mau membina rumah tangga padahal sdh.lossdoll dan ga berani ngasih tahu tama apa gak jd neraka nnt rumah tangganya .waras kamu ra
Ama Apr: Makasih kk udah bca🫰
total 1 replies
Mohammad Sokeh
rara mah santai Ga 😄😄 ǰangankan millkirin kabur asal g ketemu kamu malah jalan sm tama yg ngasih cincin trus laiinya kabir lagi saat mau bayar administrasi rs.
Ama Apr: 🤣🤣🤣 wkwk
total 1 replies
Mohammad Sokeh
kapok adikmu d ganjar sm saga sudah di tiduri laki lain masih jalan sama tama .rara gak habis pikir dah kmu rasain adikmu dapat hukumannya
Ama Apr: huhu🥹
total 1 replies
Mohammad Sokeh
oalah ganteng tp sayang edan.
Ama Apr: Huhu iya km
total 1 replies
Linda Liddia
Syukur deh samiaji mampus..Kang selingkuh kang zina emang gak kayak hidup di dunia
Linda Liddia
Lucu ya ditolongin kok malah dendam bukannya Terima kasih
Maya Ratnasari
bukan you're Thor, tapi your
partini
ending yg bikin senyum ,,kisah nya bagus sekali Thor 👍👍👍👍
Ama Apr: Iya fizo😅
total 3 replies
partini
bagus bnggt ini Thor buat pelajaran untuk kita jangan sampai berbuat yg tidak seharusnya,, hukum sangat berat
Ama Apr: Iya
bahwa selengki tak akn pernah membawa bahagia
total 1 replies
partini
itu di dunia nyata ada loh Thor
Ama Apr: iihh aku jarang nnton berita Kk🙏
total 3 replies
partini
lepas tuh mata lihat mereka lagi ena ena
Ama Apr: tertawalah 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!