Kisah cinta dua orang insan yaitu seorang pria irit bicara dan tampan/ sang pemilik perusahaan terbesar nomor satu dengan seorang sekertaris cantik yang memiliki sifat manja.
"Asisten Han, apakah kamu menemukan wanita yang ku cari selama ini?" Tanya Bian.
"Belum, Tuan Bian," Sahut Han.
"Yasudah, keluar lah. Satu lagi, selalu cari informasi tetang wanita itu sampai dapat," Kata Bian.
"Baik, Tuan," Sahut Bian.
Dukung ceritanya ya!
HAPPY READING...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Fitrianingsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran
Yang benar saja, didalam tas itu banyak sekali jenis make up. Dan ada parfum serta dompet.
"Dia ini mau jadi sekertaris atau mau jadi perias pengantin, Banyak sekali jenis Make Up," Bian menggerutu. Lalu ia melihat dompet.
"Ha, didalam dompet ini pasti ada alamatnya," Dengan cepat, Bian membuka dompet itu. Dan ternyata dugaan nya benar, disana ada kartu nama nya.
"Sudah dapat," Bian bergumam.
Lalu, Bian membaca kartu nama milik Zena.
"Zena Alvela Bagaskara," Bian mengucapkan kalimat itu.
"Bukannya Bagaskara adalah pemilik perusahaan ZAB Grub," Ucap Bian. Lalu, ia menautkan kedua alisnya karena sedikit bingung.
"Zena Alvela Bagaskara. Jika disingkat menjadi ZAB. Berarti ZAB Grub itu singkatan dari nama Zena. Berarti, Zena adalah anak dari Pak Bram Bagaskara. Tetapi, mengapa ia malah melamar kerja sebagai sekertaris di kantorku," Bian membatin. Ia masih bingung. Dan masih banyak pertanyaan di dalam pikirannya.
Bian pun melihat-lihat isi dompet Zena, ia melihat KTP Zena dan juga menemukan sesuatu lagi didalam dompet itu.
"Ini foto dia waktu masih SMA. Sepertinya aku pernah melihat gadis ini," Guman Bian.
Bian mengambil foto Zena yang ukurannya tidak terlalu besar, lalu menaruhnya di dalam saku jas nya. Setelah itu, Bian menutup dompet itu dan memasukkan di dalam tas. Lalu, Bian membawa tas itu dan pergi ke alamat yang telah tercantum di dalam kartu nama itu.
*****
Tidak butuh waktu lama, Bian pun sampai ke tujuan nya. Yaitu di kediaman keluarga Bagaskara.
"Permisi, apakah ini rumah Zena Alvela Bagaskara?" Bian bertanya pada Satpam penjaga gerbang rumah Zena.
"Benar, Pak. Bapak ini siapanya Mbak Zena?" Sahut Pak Satpam dengan sopan.
"Saya temannya," Ucap Bian berbohong.
"Apakah saya bisa masuk?" Bian bertanya pada Pak Satpam.
"Sebentar ya, Pak. Saya telpon Mbak Zena dulu," Sahut Pak Satpam.
"Tidak usah Pak. Ponsel Zena ada sama saya. Dan saya ingin mengembalikannya secara langsung," Imbuh Bian.
"Baiklah, Pak. Silahkan masuk!" Sahut Pak Satpam. Bian pun langsung masuk.
'Ting tong, ting tong'
Bian memencet Bel rumah Zena.
'Ting tong, ting tong'
Bian memencet Bel lagi.
"Iya, sebentar!!" Teriak Zena dari dalam rumah.
"Siapa sih yang bertamu. Ganggu saja!" Ucap Zena. Ia menuruni anak tangga untuk turun ke lantai dasar.
'Ceklek'
Pintu rumah di buka oleh Zena. Betapa terkejutnya dengan apa yang ia lihat.
"Pak Bian," Ucap Zena.
"Ngapain bapak kesini. Maaf, saya tidak terima tamu," Imbuh Zena. Ia ingin menutup pintu rumahnya.
"Tunggu dulu!" Ucap Bian.
"Sudah saya katakan, saya tidak menerima tamu. Lagi pula kedua orang tuaku lagi pergi arisan," Celetuk Zena. Karena ia masih kesal dengan Bian.
"Saya kesini hanya ingin mengembalikan tas mu yang tertinggal di ruangan saya," Ucap Bian.
"Yasudah, berikan pada saya!" Zena berkata ketus.
"Eits, tidak semudah itu. Kamu harus ikut dengan saya sekarang!" Sahut Bian.
"Saya tidak mau!!" Jawab Zena semakin kesal.
"Kalau begitu, tidak akan saya kembalikan tas mu selamanya," Jawab Bian ketus.
"Hmm. Iya, saya akan ikut dengan mu," Ucap Zena.
"Sebentar, saya bersiap dulu," Lanjutnya.
"Sudah lah, jangan berganti baju dan berdandan lagi. Seperti itu saja sudah bagus," Ucap Bian.
"Kita pergi sekarang!" Ucap Bian. Bian menarik tangan Zena.
"Apaan sih, Pak. Lepasin tangan saya!" Zena ingin melepaskan tangannya yang di tarik Bian.
Bian tidak menggubris apa kata Zena. Sesampai gerbang, Bian pun menundukkan kepalanya kepada Pak Satpam. Ia memberikan kode kepada Satpam itu.
Setelah itu, Bian pun memasukkan Zena ke dalam mobilnya lalu Bian juga masuk dan mengendarai mobil itu.
Saat dalam perjalanan, hanya ada keheningan. Tidak ada salah satu dari mereka yang bersuara.
"Zena, Bisa kamu jelaskan pada saya. Apa maksudmu melamar kerja di perusahaan saya?" Bian memecahkan keheningan.
"Tidak ada maksud apa pun. Hanya ingin bekerja saja," Sahut Zena.
"Kenapa kamu tidak bekerja di kantor perusahaan orang tuamu?" Bian bertanya pada Zena.
"Maksud Bapak?" Tanya Zena.
"Jangan berpura-pura tidak paham. Kamu anaknya Pak Bram Bagaskara kan. Dan nama asli kamu adalah Zena Alvela Bagaskara kan?" Ucap Bian.
"Bapak salah orang kali," Alibi Zena.
"Saya sudah melihat KTP dan kartu namamu. Jadi jangan mengelak lagi!" Sahut Bian. Sedangkan Zena hanya terdiam.
"Apa alasan kamu melamar kerja sebagai sekertaris di kantor saya. Apakah untuk menjatuhkan perusahaan saya?" Tanya Bian.
"Jaga bicara anda, Pak. Saya memang anak dari Bram Bagaskara. Tetapi, secuil pun saya tidak memiliki niat buruk seperti yang Anda katakan tadi," Sahut Zena marah.
"Alasan!!. Maling mana ada yang mau mengaku. Jika mereka mengaku, penjara akan penuh," Celetuk Bian. Lalu ia menaikkan sebelah bibirnya.
"Cukup. Saya melamar kerja di kantor Bapak, karena saya ingin mandiri. Mencari pekerjaan dengan usaha saya sendiri," Ucap Zena. Matanya sudah berkaca-kaca.
"Tega sekali Bapak menuduh saya seperti itu. Apa tampang saya seperti penjahat?" Imbuh Zena. Air matanya sudah mengalir. Membasahi pipinya.
Seketika, Bian memberhentikan mobilnya ke pinggiran. Lalu melihat ke arah Zena.
"Kenapa kamu menangis? " Bian bertanya pada Zena.
"Kenapa Bapak tidak percaya pada saya? Sebenci itukah Bapak pada saya, hiks," Zena tidak bisa menahan tangis nya.
"Saya hanya heran saja padamu," Ucap Bian.
"Sudah saya katakan hiks, saya tidak ada maksud buruk," Lanjut Zena.
"Iya, saya percaya. Jangan menangis lagi!" Perintah Bian pada Zena.
Lima menit kemudian, Zena pun tidak menangis lagi.
"Saya minta maaf atas kejadian tadi dikantor. Dan saya juga minta maaf telah menuduh mu," Tutur Bian. Zena pun mengangguk, matanya masih sembab.
"Saya bisa bertanya satu hal?" Tanya Bian pada Zena.
"Tanyakan saja, Pak," Sahut Zena.
"Apakah ini kamu?" Bian memperlihatkan foto ke Zena.
"Bapak mengambil foto di dalam dompet saya?" Zena balik bertanya pada Bian.
"Iya. Jawab pertanyaan saya tadi!" Ucap Bian.
"Iya, itu foto saya. Waktu saya masih sekolah. Waktu saya masih sekolah di SMA Bina Karya," Tutur Zena.
'Deg'
Jantung Bian berdetak sekali dengan kencang.
"Kenapa Bapak menanyakan itu?" Tanya Zena.
"Tidak apa-apa," Sahut Bian.
"Apakah kamu pernah pindah sekolah?" Tanya Bian.
"Pernah, Pak," Sahut Zena.
"Apakah lima tahun yang lalu?" Tanya Bian. Zena pun mengangguk.
"Kenapa kamu pindah sekolah?" Tanya Bian lagi.
"Waktu itu saya mendadak harus pindah sekolah karena Ayah saya harus mengurus perusahaan cabang yang mengalami masalah yang ada di kota lain, jadi kami pindah kesana. Dan meninggalkan kota J. Setelah urusan perusahaan sudah selesai dan saya juga sudah lulus SMA. Jadi kami balik lagi ke kota J ini," Sahut Zena. Bian pun mengangguk paham.
"Ya, Tuhan. Akhirnya aku menemukan gadis yang kucari selama ini. Terimakasih, Ya-Tuhan, Engkau telah mengabulkan doaku," Bian membatin. Ada perasaan senang di hatinya
"Yasudah, kembalikan foto itu pada saya, Pak!" Zena meminta fotonya.
"Kalau saya tidak mau bagaimana?" Tanya Bian.
"Kembalikan, Pak. Itu foto kenang-kenangan," Sahut Zena. Ia berusaha mengambil foto itu yang dipegang oleh Bian.
"Kalau kamu foto ini. Ada syaratnya," Ucap Bian.
"Saya tidak mau pakai syarat. Kembalikan foto saya, Pak!" Lanjut Zena.
"Kalau begitu, ambil saja kalau kamu bisa," Ucap Bian.
Zena pun berusaha mengambil foto nya. Ia menarik-narik jas Bian, manarik tangan Bian yang di sembunyikan di punggung badannya. Zena seperti anak kecil yang ingin merebut permen pada orang tuanya. Zena duduk semakin mendekat pada Bian.
"Pak, lihat di samping Bapak ada polisi!" Bohong Zena. Entah apa yang membuatnya mendapatkan ide cemerlang itu. Bian pun percaya saja dan menoleh ke arah samping nya.
"Yey, dapat," Ucap Zena senang.
"Kamu menipu saya ya?" Tanya Bian kesal.
"Menurut Bapak? " Zena bertanya balik. Dengan bodohnya, Bian mengangguk.
"Nah, itu Bapak tahu. Wleee," Tutur Zena. Ia menjulurkan lidahnya, mengejek Bian.
"Dasar licik," Ucap Bian.
"Biarin, wleee," Zena mengejek Bian lagi.
"Beraninya kamu mengejekku lagi," Bian sangat geram di buat Zena.
'Cup'
Bian menc**m Zena sekilas. Zena terdiam membeku.
"Rasakan, itu balasan karena kamu berani mengejekku," Balas Bian kepada Zena.
"Pak Bian. Anda telah mengambil ci*m*n pertama saya," Ucap Zena kesal.
"Bagus dong," Celetuk Bian tanpa dosa.
"Dasar CEO gila!!" Zena marah. Lalu, ia memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Jangan marah, saya minta maaf. Saya kelepasan," Tutur Bian.
"Lupakan saja. Lagi pula sudah terjadi. Dan tidak bisa dikembalikan lagi," Jawab Zena.
"Anggap saja tidak pernah terjadi," Imbuh Zena.
"Baiklah," Ucap Bian pelan. Dihatinya masih merasa bersalah.
Bian pun melanjutkan menyetir lagi dan suasananya menjadi hening lagi. Hanya ada suara kendaraan dan klakson yang berbunyi.
*
*
*
*
*
Like, coment, vote
Bersambung...
maap ya thor bukan mau menggurui cuma sebagai pembaca jujur agak terganggu sedikit dengan cara penulisannya. tapi buat ceritanya mah menarik kok thor👍 semangat!!