Melia Seng cuma mau satu hal: hidup tenang.
Tapi nasib berkata lain. Satu kecelakaan aneh membuatnya terbangun di ranjang king-size milik Raymon Kei — CEO KeiTech Group, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Kabar buruknya? Dia sekarang resmi jadi *istri kontrak* pria ini. Kabar lebih buruknya? Dia juga otomatis jadi *ibu tiri* dari Shawn Kei, remaja 17 tahun yang membencinya sejak detik pertama.
Aturan kontraknya sederhana:
Berpura-pura jadi istri sempurna. Tidak boleh jatuh cinta. Cerai setelah nenek besar meninggal. Bayaran: Rp 50 juta per bulan.
Masalahnya? Saldo rekening Melia cuma **Rp 0,5** — karena kakaknya sendiri sudah menguras semuanya. Mansion 8 kamar tidur, tapi dompet kosong. Istri konglomerat di atas kertas, tapi lebih miskin dari asisten rumah tangga.
Jadi Melia memutuskan: kalau mau bertahan, harus bangun kerajaannya sendiri.
Dari toko bunga kecil bernama **Bloomé** yang hampir bangkrut, sampai brand premium **Once & Forever** yang bikin heboh seluruh Jakarta — Melia membuktikan bahwa dia bukan sekadar "istri pajangan."
Tapi yang tidak dia duga...
Raymon yang katanya dingin dan tidak peduli, diam-diam memesan 200 tangkai mawar untuk studio barunya. Raymon yang katanya cuma "menjalankan kontrak," tiba-tiba bilang: *"Yang penting bukan makannya. Yang penting kamu yang mengajak."*
Dan Shawn — anak tiri yang tadinya memasang musik metal keras-keras supaya Melia pergi — pelan-pelan mulai menaruh satu porsi sarapan ekstra di meja makan.
Kontraknya bilang: *jangan cinta*.
Hatinya bilang: *sudah terlambat*.
Dan ketika rahasia besar tentang masa lalu Melia, keluarga Tjiang, dan seorang nenek yang pernah dia selamatkan 22 tahun lalu mulai terungkap — semua orang baru sadar: pernikahan ini bukan kebetulan. Ini takdir yang menunggu dua dekade untuk terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: "Ibu Tirimu Datang ke Sekolah!"
Foto kami benar-benar beredar keesokan paginya.
Saat aku membuka ponsel, beberapa akun gosip sosialita sudah memasang potongan gambar dari gala. Aku berdiri di samping Raymon dengan gaun merah tua, tangannya di pinggangku, wajahnya yang dingin tampak sedikit lebih lunak karena sudut kamera.
Komentarnya ramai.
Cantik banget, ini yang dibilang biasa?
Pak Ray ternyata punya selera tinggi.
Gold digger atau bukan, kalau wajahnya begini aku juga rela digali.
Aku tersedak kopi.
Internet memang tempat orang kehilangan rem.
Belum selesai membaca kekacauan itu, telepon dari Pak Ahin masuk. Ia biasanya tidak menelepon kalau aku masih di kamar. Itu berarti ada sesuatu.
"Bu," suaranya terdengar hati-hati, "pihak sekolah Ko Shawn menghubungi rumah."
Aku langsung duduk tegak. "Shawn kenapa?"
"Tidak ada luka, Bu. Tapi wali kelas meminta wali murid datang. Katanya Ko Shawn membuat pengajar kelas intensif pergi dari ruangan."
Aku memijat pelipis.
"Raymon?"
"Pak Ray sedang di pesawat menuju Inggris lagi, Bu. Nomornya belum bisa dihubungi."
Jadi tinggal aku.
Secara hukum, aku ibu tirinya. Secara sosial, aku Nyonya Kei. Secara pengalaman, aku baru dua hari mengenal Shawn dan satu-satunya prestasiku adalah merebut birnya.
Luar biasa.
"Siapkan mobil," kataku. "Aku berangkat."
JIS, Jakarta Intercultural School, ternyata lebih mirip kampus kecil daripada sekolah biasa. Gerbangnya rapi, satpamnya profesional, lapangan tenisnya bersih, dan dari kejauhan aku bisa melihat kolam renang standar olimpiade yang berkilau di bawah matahari.
Program IB, fasilitas internasional, biaya sekolah yang mungkin bisa membeli apartemen kecil.
Anak-anak berseragam berjalan sambil membawa laptop, bicara campur Indonesia dan Inggris. Beberapa menatapku, mungkin mengenali wajahku dari foto gala pagi ini.
Aku turun dari SUV keluarga Kei. Wawan menunduk.
"Saya tunggu di parkiran, Bu."
"Terima kasih, Mas Wawan."
Belum sempat aku masuk gedung administrasi, suara dari arah balkon lantai dua meledak.
"Shawn!"
Aku mendongak.
Bima berdiri di sana, melambai seperti penyiar acara olahraga.
"Ibu tiri lo datang!"
Beberapa kepala langsung menoleh.
Aku berhenti di tempat.
Seluruh halaman sekolah tiba-tiba terasa seperti panggung.
Shawn muncul di belakang Bima, wajahnya gelap seperti awan hujan. Dia menarik kerah belakang Bima dan menyeretnya menjauh dari pagar.
Aku menarik napas.
Baiklah, Melia.
Hari ini jangan mempermalukan anak itu.
Ruang kepala sekolah dingin oleh AC. Di dalam ada kepala sekolah, Bu Ratna sebagai wali kelas, seorang pria paruh baya yang diperkenalkan sebagai pengajar kelas intensif, Shawn, dan aku.
Shawn duduk di kursi dengan bahu kaku. Wajahnya datar. Tapi aku melihat lututnya bergerak sedikit, tanda dia tidak setenang kelihatannya.
Pengajar itu berbicara lebih dulu.
"Saya tidak bisa mengajar kalau siswa menunjukkan sikap tidak hormat. Sejak awal kelas, Shawn terus memasang wajah tidak suka, tidak menjawab saat ditanya, dan membuat suasana kelas tidak nyaman."
Aku menatap Shawn.
Dia menatap lantai.
Bu Ratna menambahkan dengan nada lebih lembut, "Kami paham Shawn mungkin sedang dalam masa sulit. Tapi sekolah tetap perlu memberi konsekuensi. Usulan awal dari pihak kelas intensif adalah Shawn membaca surat pengakuan kesalahan di depan teman-temannya."
Shawn menggenggam jari sendiri.
Kecil sekali.
Tapi aku melihatnya.
Aku meletakkan tas di pangkuan, lalu tersenyum pada kepala sekolah.
"Saya paham sekolah perlu menjaga wibawa pengajar."
Wajah Shawn tidak berubah, tetapi bahunya tampak makin turun. Dia pasti mengira aku akan mengikuti arus, menambahkan beberapa kalimat tentang betapa memalukannya dia.
Aku melanjutkan, "Tapi saya tidak setuju Shawn membaca pengakuan kesalahan di depan seluruh kelas."
Ruang itu hening.
Shawn menoleh padaku.
Pengajar itu mengerutkan kening. "Bu Melia, anak seperti ini kalau tidak diberi pelajaran..."
"Dia memang salah kalau bersikap tidak sopan," potongku dengan tenang. "Saya tidak membela sikap buruknya. Tapi dari penjelasan Bapak, Shawn tidak menghina, tidak menyerang, tidak membuat keributan. Dia bermuka masam dan tidak kooperatif."
"Itu tetap mengganggu."
"Betul. Karena itu dia harus minta maaf kepada Bapak secara langsung." Aku menatap kepala sekolah. "Tapi mempermalukan remaja tujuh belas tahun di depan teman-temannya bukan pendidikan. Itu hukuman sosial."
Bu Ratna terdiam.
Kepala sekolah menatapku lebih serius.
Aku menunjuk Shawn dengan dagu kecil, sengaja membuat nada sedikit ringan. "Lagi pula, anak ini kalau tidak ada ekspresi juga memang kelihatan masam. Jangan tersinggung dulu."
Mata Bu Ratna berkedip.
Lalu ia menahan senyum.
Shawn menatapku seperti ingin protes tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Aku kembali serius. "Saya akan minta Shawn meminta maaf secara lisan. Jika perlu, dia bisa menulis refleksi pribadi untuk diserahkan ke wali kelas, bukan dibacakan di depan kelas. Dengan begitu, dia belajar bertanggung jawab tanpa kehilangan harga diri."
Pengajar itu tampak masih tidak puas, tapi kepala sekolah akhirnya mengangguk.
"Usulan Bu Melia masuk akal."
Bu Ratna ikut mengangguk. "Saya setuju. Shawn bisa minta maaf langsung kepada Pak Dosen, lalu menulis refleksi satu halaman."
Aku menoleh ke Shawn.
"Bisa?"
Shawn menatapku beberapa detik.
Matanya masih dingin. Tapi di balik dingin itu ada sesuatu yang retak perlahan, seperti anak yang tidak percaya seseorang baru saja berdiri di sisinya.
"Bisa," katanya pelan.
Itu pertama kalinya aku mendengar suaranya tanpa duri.
Setelah rapat selesai, Shawn benar-benar meminta maaf. Kalimatnya pendek, kaku, dan jelas bukan pidato dari hati yang lembut. Tapi dia mengucapkannya sambil berdiri, menatap pengajarnya, tidak kabur.
Untuk remaja sekeras dia, itu sudah cukup.
Di koridor, Bu Ratna berjalan di sampingku.
"Terima kasih sudah datang, Bu Melia. Biasanya Pak Ray yang dihubungi, tapi beliau sering sulit hadir."
"Beliau bekerja."
"Saya tahu." Bu Ratna menatap Shawn yang berjalan beberapa langkah di depan. "Tapi untuk anak seusia Shawn, kadang yang paling penting bukan siapa yang paling sibuk mencari uang. Melainkan siapa yang muncul saat dia dipanggil."
Kalimat itu menempel di dadaku.
Aku melihat punggung Shawn.
Anak itu berjalan tegak, seolah tidak butuh siapa pun. Tapi barusan, ketika usulan hukuman dibacakan, jari-jarinya menggenggam satu sama lain.
Dia butuh.
Hanya saja dia sudah terlalu terbiasa tidak berharap.
Di depan tangga, aku berhenti.
"Shawn."
Dia menoleh.
Bima mengintip dari ujung koridor seperti wartawan tanpa akreditasi.
Aku pura-pura tidak melihat.
"Aku pulang duluan. Kamu balik ke kelas, ya."
Shawn tampak ingin mengatakan sesuatu. Mulutnya terbuka sedikit, lalu tertutup lagi.
Aku tersenyum. "Tenang, aku tidak akan bilang ke teman-temanmu kalau kamu tadi minta maaf dengan lumayan sopan."
"Siapa yang peduli?"
Nada itu kembali dingin.
Tapi kali ini, dinginnya tidak menggigit.
"Iya, iya. Tidak ada yang peduli." Aku melambaikan tangan. "Belajar yang benar."
Aku berbalik pergi.
Saat melewati kaca koridor, aku melihat pantulan Shawn masih berdiri di tempatnya. Tangannya masuk ke saku hoodie, kepalanya sedikit tertunduk.
Malamnya, jauh di atas awan, ponsel Raymon akhirnya mendapat sinyal.
Sebuah pesan dari Shawn masuk.
Pa, aturan keluarga Kei tidak ada larangan minum alkohol, kan?
Beberapa detik kemudian, pesan kedua menyusul.
Menurutku Pa melarang dia minum itu agak berlebihan.