Silvana, seorang dokter dengan karir yang sangat bagus, terpaksa di kirim ke Wilayah Konflik karena menolak cinta dari putra salah satu Petinggi di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Tentu saja Silvana menolak, karena Pria itu tak hanya meminta cintanya, namun juga hampir melecehkannya.
Karena tak ingin berada di lingkungan toxic, ia pun sama sekali tak keberatan ketika di kirim ke Wilayah Konflik yang ada di Negaranya.
Disana, ia bekerja di sebuah Klinik Militer. Selain menangani Prajurit yang terluka, ia juga secara rutin datang ke desa-desa sekitar Markas Militer untuk melakukan pemeriksaan pada warga desa.
Siapa sangka, jika di tempat 'pengasingan' itulah ia justru bertemu dengan pria yang berhasil meluluhkan hatinya.
Bagaimana kisah cinta Silvana?
Apakah perjalanan cintanya berjalan dengan mulus?
Siapakah sosok pria yang berhasil meluluhkan hatinya?
Simak kisah dan keseruannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6.. Menanak Nasi
Hari pertama bekerja, semua berjalan lancar. Tak ada kegiatan yang berat. Mereka hanya merapikan Klinik dan membuang barang yag sudah tak bisa di gunakan.
Saat siang hari, setelah makan siang di sebuah warung yang tak jauh dari Markas Batalyon, Silvana menyempatkan diri berbelanja beras dan juga stok makanan yang bisa awet tanpa perlu masuk ke dalam lemari es.
Ketika sore hari, setelah Maria dan Jopi pulang, barulah Silvana kembali ke rumahnya. Tentu saja melalui pintu belakang, agar ia tak perlu memutar. Meski berada di pelosok, namun Silvana merasa jika pekerjaannya di sini jauh lebih ringan ketimbang di Rumah Sakit.
"Jam segini udah bisa santai tuh, syurga banget!" Ujar Silvana setelah selesai mandi dan duduk bersantai sembari memainkan gawainya di kamar.
Silvana kemudian melihat tutorial menanak nasi secara manual di ponselnya. Ia memperhatikan dengan seksama cara memasak nasi dengan manual, karena ia tak tau kapan Komandan Kaivan dan Ajudannya pergi ke KODAM.
"Ah! Ternyata mudah." Ujar Silvana sambil senyum-senyum sendiri setelah melihat tutorial di ponselnya.
Tak membuang waktu, Silvana segera mengikuti tutorial yang sudah ia lihat tadi. Ia segera menyalakan kompor satu tungku yang sudah terdapat panci berisi beras di atasnya.
Silvana mengikuti instruksi itu dengan baik. Namun, ia tak memperhatikan seberapa besar api yang menyala di kompor.
"Loh! Kok kering? Kok jadi gosong gini?" Keluh Silvana yang menyaksikan nasi buatannya itu berkerak karena api yang terlalu besar.
Tak menyerah, Silvana pun membuang nasi kering di sebelah rumahnya dan kembali mencoba memasak nasi untuk yang kedua kalinya. Namun Sayang, hal yang sama kembali terjadi. Nasi yang dimasak Silvana lagi-lagi kering.
Namun, Silvana tak kehilangan akal. Ia menambahkan air dan kembali menanak nasi. Tetapi, lagi-lagi hal itu tak berhasil. Nasinya tak bisa matang dengan sempurna dan justru berubah menjadi bubur karena ia berulang kali menambahkan air.
"Haaaah! Apa yang salah?" Tanya Silvana yang bermonolog.
Pada akhirnya, Silvana kembali membuang bubur buatannya karena ia tak suka dengan bubur.
"Eeeee, Dokter! Kenapa buang-buang makanan?" Tanya Miko yang sedang berjalan bersama Komandannya. Ia tak sengaja melihat Silvana yang sedang membuang makanannya di samping rumah.
"Ah, itu-" Silvana bingung ingin menjawab apa. Akhirnya ia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Dokter lagi coba masak nasi? Dokter tak bisa masak nasi secara manual, toh?" Tanya Miko yang cukup jeli.
Mendengar pertanyaan Miko, Silvana hanya bisa tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan.
"Astaga! Kenapa tidak bilang? Kan kami bisa bantu ajarkan Dokter Sisil untuk masak nasi." Kata Miko sambil tertawa, tawa yang akhirnya menular pada Silvana.
Sementara, pria di sebelah Miko itu terlihat diam saja dengan raut wajah yang cenderung tanpa ekspresi. Padahal, ia juga memperhatikan Silvana sedari tadi.
"Biar Komandan yang ajarkan Dokter Sisil masak nasi. Saya harus pergi menjalankan tugas dari Komandan." Ujar Miko sambil mendorong tubuh Komandannya hingga Komandannya itu maju beberapa langkah.
"Memangnya, gak apa-apa?" Tanya Silvana.
"Tenang saja, Dokter. Komandan pasti gak akan keberatan, dari pada Komandan melihat salah satu Anggotanya kelaparan." Ujar Miko sambil menaik turunkan alisnya ketika Komandan Kaivan memelototinya.
"Komandan kan serba bisa, bantulah Dokter Sisil. Kalau saya tidak ada tugas dari Komandan, sudah pasti saya yang bantu Dokter Sisil sekarang." Kata Miko.
"Ah! Atau saya telfon Riki saja, biar dia yang bantu Dokter Sisil kalau Komandan menolak." Imbuh Miko sambil merogoh kantong celana untuk mengambil ponselnya.
"Biar saya saja." Ujar Komandan Kaivan yang membuat Miko tersenyum lebar.
Komandan Kaivan menghela nafas panjang, kemudian menghampiri Dokter Silvana yang masih berdiri di tempatnya.
"Saya pergi dulu ya, Dokter, Komandan." Pamit Miko dengan senyuman lebarnya.
"Ah! Komandan ini payah sekali. Lambat sekali mendekati orang yang membuatnya tertarik. Komandan pikir, saya tidak tau kalau Komandan diam-diam mencuri pandang pada Dokter Silvana." Gerutu Miko sambil berjalan meninggalkan Komandannya dengan senyuman lebar.
Sementara itu, kecanggungan terjadi antara Komandan Kaivan dan Silvana. Keduanya yang sudah saling berhadapan, justru sama-sama terdiam sekarang.
"Biar saya cuci dulu pancinya, Ndan." Ujar Silvana yang kemudian melangkah masuk diikuti oleh Komandan Kaivan.
Setelah selesai mencuci panci, Komandan Kaivan lalu mengambil alih panci dari Silvana.
"Kamu makan sedikit atau banyak?" Tanya Komandan Kaivan.
"Sedikit aja, Ndan. Cuma untuk makan malam." Jawab Silvana.
"Masak sekalian untuk sarapan saja. Nanti tinggal kamu hangatkan dengan kukusan." Ujar Komandan Kaivan.
"Kukusan?" Lirih Silvana yang membuat Komandan Kaivan menghela nafas. Komandan Kaivan kemudian mengambil panci lain yang di fungsikan untuk mengukus.
"Kalau ini namanya periuk." Ujar Komandan Kaivan sembari mengangkat periuk yang sudah berisi beras.
"Kalau ini namanya panci kukusan." Ujarnya lagi sambil mengangkat panci yang ia maksud.
"Lihat ini ada alas untuk mengukus. Nanti, kamu tinggal masukkan air setinggi batas ini, kemudian masukkan alasnya dan hidupkan kompor. Kalau uapnya sudah keluar, kamu bisa masukkan apa yang mau kamu kukus." Jelas Komandan Kaivan yang di jawab anggukan mengerti oleh Silvana.
Komandan Kaivan kemudian mencuci beras dan memberikan air pada beras yang sudah bersih. Ia lalu menyalakan kompor dan membiarkan api menyala besar hingga air yang menggenangi beras mendidih. Silvana memperhatikan apa yang dilakukan Komandan Kaivan dengan seksama.
"Tadi juga sudah kayak gitu." Batin Silvana saat melihat Komandan Kaivan menanak nasi.
"Lihat! Kalau sudah mendidih seperti ini, kecilkan apinya." Ujar Komandan Kaivan sembari menunjukkan pada Silvana apa yang ia maksud.
"Jangan terlalu dekat, uapnya sangat panas." Ujar Komandan Kaivan sembari menahan Silvana dengan sebelah tangannya.
"I-iya, Komandan." Ujar Silvana dengan gugup, karena tangan kokoh Komandan Kaivan yang berada di dekat lehernya.
Komandan Kaivan kemudian mengaduk nasi yang belum matang itu, dan kembali menutup panci periuknya.
"Jangan lupa kembali di tutup, setelah api di kecilkan dan nasi di aduk." Ujar Komandan Kaivan yang di jawab anggukan mengerti oleh Silvana. Disinilah Silvana tau letak kesalahannya.
Komandan Kaivan kemudian duduk di kursi yang ada di meja makan sembari menunggu nasi yang masih di masak.
"Diminum, Komandan." Ujar Silvana sembari menyodorkan minuman kemasan pada Komandan Kaivan.
"Terima kasih." Ucap Komandan Kaivan yang kemudian meminum minuman pemberian Silvana.
Komandan Kaivan mengajari Silvana dengan telaten. Ia juga mengajari jika nasi yang sedang di masak itu harus sesekali di aduk.
"Waah, keren!" Ujar Silvana sambil bertepuk tangan dengan kagum. Jujur saja, ini adalah kali pertama Silvana melihat cara menanak nasi manual secara langsung.
Komandan kaivan hanya tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala ketika melihat reaksi Silvana yang menurutnya lucu.
"Ini sudah masak." Ujar Komandan Kaivan yang kemudian mematikan kompor.
"Saya pulang dulu, kalau begitu." Pamit Komandan Kaivan.
"Eh, Ndan!" Panggil Silvana yang secara refleks menahan lengan baju Komandan Kaivan. Netra mereka berdua pun saling bertemu dengan jarak yang cukup dekat.
"Maaf." Ujar Silvana yang segera mengalihkan pandangan dan melepaskan lengan baju Komandan Kaivan yang ia tarik.
"Komandan sudah makan? Ini nasinya terlalu banyak kalau untuk saya makan malam dan sarapan." Ujar Silvana. Ia kemudian mengambil piring dan mengambil sebagian nasi yang mereka masak.
"Ini, untuk Komandan. Terima kasih karena sudah mengajari saya." Ujar Silvana sambil menyodorkan piring berisi nasi pada Komandan Kaivan.
"Baik. Saya pulang dulu. Terima kasih, nasinya." Jawab Komandan Kaivan sambil menerima piring berisi nasi dari Silvana.
gemes sama mereka berdua, pengen nyubit bibirnya si miko 😅
Authorny lek update cepet 👍👍👍
lanjutkan keromantisanmu komandan,,,
biar akunya jg ikut sneng 💞💞
up lg kk yg bnyak..
duh penasaran bin penisirin ini