Siapa perempuan yang ingin menjadi mandul .?? tidak ada satupun yang menginginkan itu semua, setiap wanita pasti ingin punya keturunan punya buah hati yang akan menjadi pelengkap dalam bahtera rumah tangga nya, sebagai pemanis dalam cinta yang di arungi bersama teman hidupnya.
Namun rencana yang kuasa tetap lah rencana nya siapa yang dapat menghindar atau mengelak jika ia sudah berkehendak, itu lah yang di alami kora.
11 Tahun pernikahan nya ia selalu mendambakan ada buah hati yang sudi tumbuh dalam rahim nya, 11 tahun penantian yang panjang. Pernikahan yang sempurna, memiliki suami yang sempurna ternyata bukan lah obat dari sebuah penawar kebahagiaan.
pernikahan yang dikira akan berjalan seumur hidup harus kandas kala tuntutan dan penghianatan yang terjadi. kora tidak marah tidak juga menyalahkan siapapun ia memilih mengalah dan merelakan cinta nya pergi dan memilih menghilang untuk menemukan arti kebahagiaan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeinXD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH 6
Tiara berjalan ke mobil Hendra dengan tergesa-gesa, begitu masuk kedalam mobil ia segera menutup pintu dengan cepat, keanehan yang dilihatnya membuat Hendra bingung ada apa dengan tiara.
" kenapa?"
Wajah yang tadinya tengang kini kembali dengan senyum manis nya, perubahan mimik wajah Tiara ini membuat Hendra agak sedikit ragu dalam hati nya. Kenapa dan ada apa?
" sepanjang jalan Disini panas sekali!" tiara tersenyum dengan begitu lembut membuat siapapun yang melihat nya akan mengatakan gadis ini begitu imut dan cantik
Hendra melihat keringat yang bercucuran dari Tiara ia mungkin tadi hanya berpikir berlebihan, mungkin memang cuaca hari ini begitu panas lihat saja Tiara sampai berkeringat seperti itu. Ia segera menyalakan AC mobil nya ia segera mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Sebelum mobil itu perlahan menghilang dari tempat itu, ada sepasang mata yang menatap mereka dengan tatapan yang tak bisa di artikan, ada luka dendam dan benci yang begitu dalam.
Hendra menyeka keringat Tiara dengan lembut, ia tersenyum kala mendapati gadis ini terlelap dengan tenang di mobilnya. Tiara yang seperti ini tampak seperti kora dahulu, tiba-tiba dalam hatinya ia begitu merindukan istri nya. Apa yang saat ini kora lakukan? Apa selama ini ia terlalu begitu mengabaikan sang istri sampai lupa jika ada cinta yang selalu menanti nya untuk pulang.
Hati Hendra merasa tak nyaman kala membayangkan apa yang terjadi antara dirinya dan Tiara, apakah ia akan menyakiti hati kora? Atau kora akan memahami nya karna ia begitu mendambakan seorang anak?
" pasti kora akan memahami ku, dia begitu mencintai ku, dia tidak akan pernah meninggalkan ku!" Hendra tersenyum kala membayangkan wajah cantik istri nya
Kora begitu lembut dan penuh kasih sayang, ia begitu perhatian dan menyayangi Hendra dengan tulus. Hal itu membuat nya merasa penuh dan ingin mencoba yang menantang dirinya, dan ini lah yang di lakukan olehnya menikam hati yang tulus itu dengan pisau tak kasat mata, membalas yang tulus dengan penghianatan. Apakah ia berpikir ada hati yang akan benar-benar bisa menerima semuanya.
Ah membayangkan nya saja membuat Hendra takut, takut jika kora tau, takut jika kora berpaling dan meninggalkan nya. Setelah ini ia akan menghabiskan waktu bersama sang istri lebih banyak ia ingin menembus kesalahannya, namun ketika ia melihat Tiara hatinya juga tak rela jika harus meninggalkan gadis ini. Tiara sudah membawa warna baru dalam hidup nya, meski ia tau ini salah namun hati tidak bisa ia bohongi.
" maaf kan aku kora, semoga ini tak membuat mu berhenti mencintai ku. Aku sangat menyayangimu tapi aku juga mencintai nya!"
...----------------...
Debora kali ini memenangkan arisan nya lagi, ia begitu bahagia kala keberuntungan tak berhenti dalam hidup nya.
Semua orang bertepuk tangan dan memuji nya ia seolah sedang terbang diatas angin.
" bagaimana kabar menantu mu apa sudah akan memberikan cucu!"
Debora hanya terdiam tak membalas hatinya menciut kala pertanyaan itu selalu muncul di lingkaran hidupnya, cucu siapa yang tidak ingin memiliki nya, ia juga mendambakan seorang cucu seseorang yang akan mengisi hari nya.
" apa menantu mu itu mandul?"
Brakkkk
Debora dengan nafas menggebu-gebu memukul meja yang ada di depan nya, semua orang menatap nya dengan tatapan bingung. Ada apa?
hatinya sakit namun ia tak dapat berbuat apa-apa ia tau sebagai seorang perempuan ia memahami apa yang di rasakan oleh menantunya, namun tuntutan dan rasa malu membuat nya terlihat kejam.
ia memilih meninggalkan tempat itu tanpa sepatah kata pun, bisik bisik mulai bermunculan di belakangnya namun ia tak perduli. Kenapa ia ada di situasi ini, jika saja dulu ia tak memaksa kora ini mungkin tak akan menyakiti gadis baik hati itu
Selama ini ia Saudah tau betul bagaimana baiknya kora, pengabdian nya pada suami dan keluarga gadis yang begitu sempurna namun mengapa Tuhan menyakiti nya dengan cara seperti itu. Kebaikan dan ketulusan kora lah yang telah membuat mama Debora luluh ia sudah memantapkan diri yakin bahwa kora adalah pilihan terbaiknya.
Namun siapa sangka ia malah membawa gadis itu kedalam jurang penderitaan, ia tak menyangka bahwa ia akan menjadi orang jahat itu yang menyeret hidup orang lain dalam kehancuran.
Debora mengusap air matanya yang lolos dari matanya, ia merasakan rasa sakit yang dirasakan kora bertahun-tahun menerima penghinaan dan kata-kata kasar dari orang lain. Namun gadis itu begitu kuat ia selalu bisa tersenyum ketika melewati badai dalam hidupnya.
Hidup sebatang kara tanpa keluarga sedari kecil hanya mengandalkan diri sendiri, namun gadis itu tidak pernah marah ia akan selalu tersenyum ketika dunia benar-benar tak adil. Kora sudah begitu lama menanggung rasa ini hingga ia sudah terbiasa dengan rasa sakit yang saat ini ia rasakan.
Debora menarik nafasnya dengan perlahan, ia sadar ia salah namun ia begitu menginginkan seseorang yang bisa mewarnai hidupnya dengan suara tangisan dan tawa, hidupnya terlalu sepi.
...----------------...
" kenapa nis"
kora memberikan air mineral yang di belinya di supermarket terdekat, mereka tak jadi menghadiri acara reuni kali ini karena tingkah Nisa yang aneh yang tiba-tiba saja membawa nya pergi dari tempat itu.
Nisa menarik nafasnya pelan, ia menatap kora dengan tatapan nanar entah lah sampai kapan lagi ia bisa menyembunyikan ini semua. Ia segera memeluk kora dengan erat isak tangis nya mulai terdengar, ia sungguh tak tega menyakiti orang yang selama ini sudah banyak di jahati oleh dunia.
Jika saja ia bisa memilih ia lebih baik tak mengenal gadis ini, ia tak akan mungkin menggoreskan luka begitu dalam padanya. Jika waktu bisa ia putar ia akan kembali pada waktu mereka menjadi orang asing tak saling kenal, namun hidup ini mengalir begitu saja hingga tidak sadar kebaikan dan ketulusan itu membuat mereka dekat namun seperti ada duri dalam daging mata yang melihat ketulusan namun ada penghianatan yang di sembunyikan.
Kora hanya mengusap pelan pundak Nisa, seperti nya gadis ini sedang mengalami hari yang berat. Ia membiarkan Nisa menangis sepuasnya dalam pelukan itu, ia mengira nisa sedang menangisi hidupnya namun ia tak tahu Nisa sedang menangisi dirinya menangisi sahabat baik nya, yang tulus seperti merpati namun dijahati oleh ular.
Jika saja ia punya kuasa ia akan pergi membawa kora sejauh mungkin agar tak ada lagi orang yang bisa menyakiti nya, ketulusan kora membuat Nisa bimbang dengan situasi nya.
" mau kah menemani ku ke suatu tempat?"