Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Suara roda kursi terdengar semakin jelas dari arah pintu utama.
Krek... krek...
Percakapan yang sejak tadi memenuhi ruangan perlahan lenyap. Satu per satu kepala menoleh. Beberapa tamu bahkan tanpa sadar bergeser memberi jalan.
Amira yang masih berdiri di dekat Alika ikut mengangkat wajah. Seorang pria memasuki ruangan dengan kursi roda hitam.
Di belakangnya berdiri dua orang pria berbadan tegap dengan pakaian serba gelap. Tatapan mereka menyapu seluruh ruangan, seolah memastikan tidak ada sesuatu yang membahayakan pria di hadapan mereka.
Amira terdiam. Itulah Kaizar Abraham. Pria yang selama ini hanya dikenalnya dari cerita orang-orang. Pria kejam yang tidak segan menghancurkan siapa pun yang berani menghalangi jalannya. Pria yang sekarang harus menjadi calon suaminya.
Wajah Kaizar tidak menunjukkan emosi. Sebagian wajahnya dihiasi bekas luka yang memanjang dari dekat pelipis hingga sisi rahangnya. Salah satu tangannya terletak kaku di atas sandaran kursi roda, sementara tangan lainnya menggenggam roda dengan gerakan perlahan.
Dia tidak terlihat seperti seseorang yang datang untuk menghadiri acara pertunangan. Dia terlihat seperti seseorang yang terbiasa membuat seluruh ruangan diam hanya dengan kehadirannya.
Ganjar segera melangkah maju. "Tuan Kaizar."
Nada suara pria itu berubah drastis. Tidak ada lagi suara keras yang biasa Amira dengar di rumah.
Ganjar bahkan tersenyum penuh hormat. "Terima kasih sudah datang."
Kaizar hanya menatapnya sekilas. "Aku datang karena urusan yang sudah disepakati."
Suaranya rendah dan datar. Ganjar langsung mengangguk.
"Tentu. Tentu saja."
Kaizar tidak menjawab lagi. Tatapannya justru bergerak melewati Ganjar. Hingga berhenti tepat pada Amira. Gadis itu spontan menegakkan tubuh.
Jantungnya berdegup lebih cepat. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap. Amira tidak tahu harus melakukan apa. Ia ingin menundukkan wajah seperti yang biasa dilakukan ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua. Tetapi entah mengapa, tatapan pria itu membuatnya tidak sanggup mengalihkan pandangan.
Kaizar pun tidak mengatakan apa-apa. Hanya memperhatikannya. Perempuan itu terlihat berbeda dari bayangan yang selama ini ada di kepalanya. Tidak memakai perhiasan berlebihan apalagi berusaha menarik perhatian.
Wajahnya bahkan terlihat pucat. Dan matanya... mata itu terlihat seperti milik seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berarti.
"Dia Amira."
Salah seorang pria di belakang Kaizar berkata pelan.
Kaizar masih memandang Amira. "Amira Wijaya?"
Amira mengangguk. "Iya."
Hanya satu kata. Namun suara itu terdengar begitu pelan hingga hampir tenggelam dalam keheningan.
Kaizar kembali mengamatinya. "Kau tahu siapa aku?"
Amira tersenyum hambar. "Semua orang di ruangan ini sepertinya tahu."
Beberapa tamu langsung saling pandang.
Ganjar tampak cemas. "Amira..."
Namun Kaizar justru mengangkat satu tangan, menghentikan Ganjar.
"Biarkan dia bicara."
Amira menatapnya. Ada sesuatu yang aneh. Sejak tadi semua orang berbicara tentang Kaizar seolah-olah pria itu bukan manusia. Seolah-olah dia adalah sesuatu yang harus ditakuti. Tetapi sekarang, ketika melihatnya dari dekat, Amira justru melihat seseorang yang tampak sangat lelah.
Entah kenapa. Perasaan itu muncul begitu saja. Alika yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari Amira akhirnya melangkah mendekat.
"Tuan Kaizar, maafkan keadaan tadi." Suaranya lembut.
"Ada sedikit kesalahpahaman."
Kaizar menoleh.
Alika tersenyum kecil. "Amira masih sulit menerima semua ini. Mungkin dia hanya sedang terbawa perasaan."
Amira langsung menoleh. Alika menggenggam lengannya dengan lembut. Seperti seorang kakak yang sedang berusaha menenangkan adiknya.
"Sudahlah, Mira. Jangan membuat keadaan semakin sulit." Kalimat itu membuat beberapa tamu kembali memandang Amira.
Seolah-olah memang dialah sumber masalahnya. Amira menarik lengannya perlahan.
"Aku tidak melakukan apa-apa."
Alika menghela napas. "Aku tahu."
Jawaban itu justru membuat keadaan semakin buruk. Karena terdengar seperti seorang kakak yang sedang membela adiknya meskipun sebenarnya sedang menegaskan bahwa adiknya memang bermasalah.
Kaizar memperhatikan keduanya. Tatapannya berpindah dari Alika kepada Amira. Lalu kembali kepada Alika.
"Siapa yang bilang dia membuat masalah?"
Alika terdiam. "Maaf?"
"Aku bertanya."
Nada suara Kaizar tetap tenang. Tetapi justru ketenangan itulah yang membuat ruangan terasa semakin dingin.
Alika tersenyum kaku. "Tidak ada, Tuan. Saya hanya..."
"Kalau begitu, jangan bicara seolah-olah aku tidak bisa menilai sendiri."
Senyum Alika menghilang sesaat. Amira pun terdiam. Untuk pertama kalinya malam itu, ada seseorang yang tidak langsung menyalahkannya.
Kaizar mengarahkan kursi rodanya sedikit mendekat. Amira refleks mundur setengah langkah.
Kaizar berhenti. "Kau takut padaku?"
Pertanyaan itu membuat Amira terdiam. Sejujurnya, iya. Namun ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya tidak ingin berbohong.
"Sedikit."
Beberapa orang langsung menahan napas.
Kaizar justru mengangguk kecil.
"Setidaknya kau jujur."
Amira tidak tahu harus menjawab apa. Kaizar kemudian memandang sekeliling ruangan.
"Aku tidak datang untuk merusak acara kalian."
Tatapannya berhenti pada Ricki yang berdiri beberapa meter dari mereka. Wajah Ricki tampak tegang.
"Aku hanya datang untuk bertemu perempuan yang akan menjadi istriku."
Dada Amira terasa sesak. Istri. Satu kata itu kembali mengingatkannya pada keputusan yang sudah ia ambil. Ia akan menikah dengan pria yang bahkan baru pertama kali ditemuinya malam ini.
Sementara di hadapannya, pria yang pernah ia cintai selama tiga tahun sedang berdiri bersama kakaknya.
Ricki menatap Amira. Ada sesuatu dalam tatapannya, penyesalan juga kekhawatiran. Dan mungkin rasa kehilangan yang baru disadarinya ketika semuanya benar-benar terlambat.
Amira segera mengalihkan pandangan. Ia tidak ingin melihatnya. Tidak malam ini sedangkan Kaizar memperhatikan perubahan wajah Amira.
"Kau ingin pergi dari sini?"
Amira terkejut. "Apa?"
Kaizar mengulang pertanyaannya. "Kalau kau tidak nyaman, kita bisa pergi."
Amira menatapnya cukup lama dan malam itu, seseorang bertanya apa yang ia inginkan.
Bukan apa yang menguntungkan keluarga meskipun hanya satu pertanyaan sederhana. Apa dia ingin pergi?
Bibir Amira bergetar kecil. "Aku..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Ricki tiba-tiba melangkah mendekat.
"Amira."
Gadis itu menoleh. Ricki berhenti beberapa langkah di depannya.
"Kita perlu bicara."
Amira menggeleng. "Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan."
"Aku cuma ingin menjelaskan."
"Aku sudah mendengar penjelasanmu."
Ricki menatapnya. "Kau benar-benar mau menikah dengannya?"
Amira diam. Pertanyaan itu terdengar begitu menyakitkan. Bukan karena Ricki bertanya. Tetapi karena pria itu seolah-olah baru sekarang menyadari bahwa dirinya benar-benar akan kehilangan Amira.
"Aku tidak punya pilihan."
Ricki mengerutkan kening. "Kau punya pilihan."
Amira tersenyum pahit. "Benarkah?"
Ia menatap Ricki untuk terakhir kalinya. "Kalau aku punya pilihan, menurutmu aku akan berdiri di sini?"
Ricki terdiam. Amira melangkah mundur. Namun tangan Ricki tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.
"Amira, tunggu."
Gadis itu tersentak. "Lepaskan."
"Jangan pergi seperti ini."
"Aku bilang lepaskan."
Ricki tidak segera melepaskannya. Amira menarik tangannya sekuat tenaga. Dan pada saat itulah tatapannya bertemu dengan Kaizar.
Pria itu masih berada di kursi rodanya, hanya terdiam tapi sorot matanya berubah. Tidak lagi dingin. Ada kemarahan yang perlahan muncul di sana. Salah seorang anak buahnya bahkan sudah maju setengah langkah.
"Bos..."
Kaizar mengangkat tangannya. Berhenti. Amira akhirnya berhasil melepaskan tangannya dari Ricki. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah menuju Kaizar.
Satu langkah.
Dua langkah.
Lalu berhenti tepat di samping kursi roda pria itu. Kaizar menatapnya. Amira tidak tahu kenapa ia melakukan ini. Mungkin karena ia sedang takut atau karena ia sudah terlalu lelah.
Atau mungkin karena kali ini dalam hidupnya, ia melihat seseorang yang ternyata sama kesepiannya dengan dirinya. Perlahan, Amira membungkuk dan memeluk Kaizar.
Seluruh ruangan membeku. Tidak ada satu pun orang yang berani bersuara. Bahkan Ricki terlihat seperti kehilangan kata-kata.
Kaizar sendiri kaku. Ia tidak terbiasa disentuh.
Terlebih oleh seseorang yang baru dikenalnya. Namun Amira tidak melepaskan pelukannya. Tangannya menepuk pelan bahu pria itu.
"Sabar..." Suaranya bergetar.
Lalu kalimat berikutnya keluar begitu saja. "Kamu tidak sendirian, kok."
Untuk beberapa detik, Kaizar hanya diam. Kalimat sederhana itu justru terasa seperti sesuatu yang belum pernah diberikan siapa pun kepadanya.
Pengakuan bahwa di balik semua cerita tentang kekejaman dan kekuasaan, masih ada seorang manusia yang bisa merasa kesepian. Kaizar menatap kosong ke depan.
Tangannya perlahan mengepal. Bukan karena marah. namun selama beberapa tahun lumpuh dan terlihat menyeramkan, ada seseorang yang tidak takut melihat dirinya sebagai manusia. Dan malam itu, tanpa disadari siapa pun, sesuatu mulai berubah.
Bukan cinta, mungkin masih belum, hanya saja ada perasaan asing yang menjalar di hatinya, mungkin, untuk saat ini ia merasa , ada seseorang yang mengerti rasanya hidup tanpa tempat untuk pulang.
Bersambung...