Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Tanpa Pacaran

Menikah Tanpa Pacaran

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:853.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: parida hakim

Barra Malik Bramantyo, seorang aktor sekaligus model papan atas yang tengah naik daun karena telah meraih beberapa penghargaan bergengsi itu, terpaksa harus menikahi seorang gadis berkerudung yang bernama Eira Fara Damira.

Kehidupan Barra yang penuh dengan kebebasan sebelumnya, harus berakhir di tangan seorang gadis sholehah yang jauh dari dunianya selama ini.

Sepasang manusia yang baru saja menyelesaikan ijab kobul tadi pagi itu bingung, apa yang harus mereka lakukan di saat malam pertama?

Pertemuan yang terjadi hanya satu kali itu, seminggu kemudian mereka harus Menikah Tanpa Pacaran sebelumya.

Akankah seorang Eira dengan ketabahan hatinya yang seluas samudera itu bisa merubah kehidupan dari seorang Barra Malik Bramantyo? seorang lelaki yang mempunyai kehidupan bebas di luaran sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon parida hakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan

"Barr .. "

Satu kali suara bariton itu memanggilnya tidak ia dengar.

"Barra .." ulangnya kembali.

Lagi, suara itu tidak bisa membuat cowok yang sedang terlelap dalam tidurnya tidak juga terbangun.

"BARRA .. !" Kini, sang papi tidak bisa lagi menahan rasa kesalnya pada anak laki-lakinya itu. "Bangun .. Barr. Kalo tidak, papi tidak segan untuk menyiram kamu."

Entah kenapa saat mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Pras Bramantyo dengan suara yang keras, Barra langsung terhenyak. Kesadarannya belum seratus persen membaik. Lelaki itu masih merasakan pusing pada kepalanya akibat dari semalam ia kebanyakan minum.

"Duh .. Pi, ngapain sih datang-datang ke apartemen aku cuma teriak-teriak. Aku masih ngantuk, Pi. Ini juga masih pagi." Keluh Barra masih dengan posisi yang sama.

Sang Papi tidak akan tinggal diam begitu saja. Ia menarik selimut yang menutupi tubuh anaknya itu dengan kasar. Lalu menjatuhkannya ke bawah.

"Papi, tidak mau tahu. Sekarang kamu mandi dan ikut sama Papi."

"Papi apa-apaan sih?" Ia bangun dari tidurnya. "Aku masih ngantuk, Pi. Lagian Papi mau ngajak aku kemana pagi-pagi gini?" sungut anak itu tidak terima karena sikap papi nya yang seenaknya saja. Cowok itu sangat kesal. Seandainya yang berdiri di hadapannya saat ini bukan sang Papi, mungkin saja Barra tak segan untuk memukul dan mengusirnya ke luar.

"Papi sama Mami mau ngajak kamu ke Bandung."

"Mau ngapain?" Tanya cowok itu malas.

"Bertemu calon istri kamu."

"Hah?" Mata lelaki itu membulat, apa katanya?bertemu calon istri?. "Papi ngomong apaan sih?"

"Papi sudah bilang sama kamu, kalau Papi akan mengenalkanmu pada seseorang."

"Tapi aku gak mau. Pi."

"Papi tidak mau denger." Lelaki paruh baya itu memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana. "Pokoknya kamu harus ikut sama Papi ke Bandung. Atau .. " Ia tatap wajah anak laki-lakinya yang masih terlihat kusut itu.

"Atau apa? Papi mau ngancem aku?"

Kepala Pras Bramantyo menggeleng. "Nggak."

"Terus?" Sewot cowok itu kembali.

"Ini semua demi kebaikan kamu, Barra. Papi mau kamu berubah, Papi mau yang terbaik buat kamu." Nada suaranya merendah. "Jangan seperti tadi malam, kamu selalu buat onar dan mabuk-mabukan seperti itu."

Barra berdecak malas, "Namanya juga anak laki-laki, Pi."

"Mau jadi apa kalo kamu terus-terusan seperti itu? Kamu ini seorang publik figur, seharusnya kamu memberikan contoh yang baik buat semua orang. Kamu mau karir kamu hancur gara-gara kelakuan kamu seperti itu?" Lelaki paruh baya itu bertolak pinggang. "Gara-gara kelakuan kamu seperti itu, kamu telah merusak nama baik Papi dan juga kamu sendiri. Papi sudah tua, Barra." Ia menarik nafas panjang. "Papi akui kesalahan Papi dulu yang tidak pernah memberikan kamu perhatian, tidak memberikan kamu kasih sayang sepenuhnya. Tapi .. asal kamu tahu, Papi dan Mami bekerja keras semua demi kamu. Sudah berapa kali Papi minta maaf sama kamu, Barra.?"

Minta maaaf? Ya, Barra memang ingat sudah berapa kali kedua orang tuanya itu minta maaf kepadanya. Tapi bukan itu yang ia inginkan, bagi Barra, semua kata maaf itu percuma dan sudah terlambat. Karena sekarang .. ia bukan lagi anak kecil yang suka nangis saat ingin di gendong oleh Papi dan Mami nya itu, ia bukan lagi anak kecil yang suka merengek minta di bacakan dongeng setiap mau tidur, dan ia juga bukan anak kecil yang dulu selalu menangis di kelas karena kedua orang tuanya tidak bisa datang saat pembagian rapot.

Barra, mengingat itu, ia selalu sendiri. Barra kecil yang tidak pernah mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya. Mereka selalu sibuk, dan tidak ada di saat ia membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya itu.

Tapi .. seiring berjalannya waktu, Papi dan Mami nya itu berubah di saat ia tumbuh menjadi seorang anak yang mempunyai kehidupan bebas di luaran sana.

"Maafkan Papi, Barra. Papi tahu apa yang kamu rasakan, Papi menyesal. Seandainya kamu meminta nyawa Papi untuk menebus semua kesalahan di masa lalu, Papi bersedia memberikannya untuk kamu sekarang."

Barra tahu Papinya itu sedang menahan air matanya agar tidak keluar.

"Baiklah." Sang Papi tersenyum tipis. "Papi gak akan maksa kamu, kalo kamu gak mau." Ia berdiri. "Tapi .. coba kamu pikirkan baik-baik, gadis itu bukanlah gadis biasa."

Setelahnya, Pras Bramantyo beranjak dari dalam kamar dan keluar dari apartemen miliknya itu.

Barra hanya menatap kepergian sang Papi dalam diam. Entah ada apa dengan dirinya saat ini? Yang jelas, ada sesuatu yang berbeda yang ia rasakan dalam hatinya sekarang.

Di saat ia sedang menerka-nerka, di saat itu juga ia mendengar bel apartemennya berbunyi. Awalnya cowok itu membiarkan, tapi .. mendengar suara bel itu berbunyi berkali-kali, dengan malas Barra berjalan untuk melihat siapa orang yang datang bertamu sepagi ini. Apa mungkin Pras Bramantyo yang datang lagi?

Barra mendengus kesal begitu ia membuka pintu dan melihat siapa orang itu.

Ck, mau ngapain wanita ini sekarang?

"Hai .. sayang" Wanita cantik itu tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang tersusun rapih. Ia masuk begitu saja ke dalam apartemen milik lelaki itu.

"Ngapain kamu kesini?" dengan ketus lelaki itu bertanya tanpa mau menatapnya sedikit pun.

"Sayang .."

Dengan cepat Barra menepis tangan gadis itu saat hendak menyentuh wajahnya.

"Sekarang bicara sama aku, untuk apa kamu datang kesini?" Lagi, cowok itu bertanya dengan nada yang dingin.

Ambar Calista. Ya, gadis itu yang sekarang ada di hadapannya saat ini. Seorang aktris dan model pendatang baru yang menjadi kekasih dari seorang Barra, sebelum ia ketahuan berselingkuh di belakangnya.

Merasa mendapat penolakan dari lelaki itu, Ambar tidak ingin bertele-tele dengan maksud kedatangannya menemui Barra. Entah kenapa ia penasaran dan merasa tidak suka saat mendengar kalau lelaki itu akan menikah dengan orang lain.

Tidak .. tidak mungkin Barra bisa melupakan Ambar begitu saja. Karena ia tahu, kalau lelaki itu sangat mencintai dirinya. Ambar mengakui kesalahannya, tapi .. saat ini ia benar-benar menyesal karena telah mengkhianati Barra.

"Apa benar dengan yang di katakan oleh Kevin, kalo kamu akan menikah?"

Seketika Barra menoleh ke arahnya. Lalu menatap gadis dengan tatapan menyipit. Apa katanya? menikah? dan Kevin yang memberi tahunya. Ck, dasar laki-laki mulut ember!

"Itu semua bohong kan? itu tidak benar?" Ambar berharap, jika itu memang tidak benar. Sungguh .. gadis itu sangat menyesal sekarang.

"Kamu mencintai aku kan? hanya aku satu-satunya wanita yang kamu cintai? jadi gak mungkin, kamu bisa melupakan aku begitu saja hanya dalam waktu sehari?"

"Cinta?" Cowok itu mendesis. "Aku gak mencintai wanita murahan seperti kamu."

"Sayang .." Gadis itu mendekat.

"Sudahlah, lebih baik sekarang kamu silahkan pergi dari sini?" Barra, laki-laki itu menunjuk ke arah pintu apartemen. "Semuanya sudah kelar."

"Tapi .. "

"Keluar aku bilang.!" teriak cowok itu yang membuat Ambar berjengit kaget.

"Nggak. " mata gadis itu mulai berkaca-kaca. "Aku tahu, sebenarnya kamu masih cinta sama aku, kan?" Gadis itu mendekat. "Sekarang kamu lihat aku? katakan sama aku kalo kamu memang tidak mencintai aku?"

Tidak .. Barra tidak boleh lemah hanya dengan menatap mata itu. Sekali ia melakukannya, maka hatinya tidak akan bisa berpaling dari gadis ini. Barra akui, kalau memang Ambar lah satu-satunya gadis yang bisa meluluhkan hatinya. Gadis ini lah yang membuat Barra berpaling dari perempuan-perempuan yang selama ini ia kencani.

Tapi .. poto-poto kemarin saat gadis itu sedang bermesraan dengan laki-laki lain masih terus berputar di kepalanya. Dan itu, belum bisa ia terima.

"Maaf .." Dengan sekuat tenaga ia menahan diri agar tidak menatap gadis itu. "Apa yang dikatakan oleh Kevin memang benar, aku akan menikah."

"Apa?" Kepala gadis itu menggeleng. "Nggak, aku yakin kamu itu bohong, aku yakin kalo kamu lagi buat cemburu kan?"

Barra menarik sedikit ujung bibirnya ke atas. "Aku tidak bohong." lalu ia menatap gadis itu.

"Minggu depan." Ia jeda kalimatnya. "Aku sendiri yang akan mengenalkan calon istri ku padamu."

Ya, sudah saatnya Barra melihat gadis itu menyesal karena telah berani mempermainkannya.

Ngomong-ngomong .. siapa gadis yang akan ia kenalkan.?

"Kamu bohong.?" ujarnya dengan tertawa. Dan Barra yakin jika gadis itu sedang meledek dirinya.

"Aku gak akan percaya gitu aja." gadis itu menyeringai. Lantas ia mendekat mengikis jarak di antara mereka berdua. Saat gadis itu hendak menciumnya, dengan cepat Barra menahannya.

"Kenapa kamu menolak aku? aku yakin kamu juga menginginkannya?" Entah kenapa hatinya terasa sakit saat Barra menolaknya. Apa mungkin semua itu benar? kalo begitu, siapa gadis yang akan menikah dengannya?

Lagi, Barra tersenyum tipis. Lalu menjauhkan tubuhnya dari gadis itu. "Aku tidak bisa."

"Baiklah, aku tidak akan memaksamu sekarang." Gadis itu tersenyum sinis. "Aku tunggu sampai minggu depan."

Ambar menyampirkan tas nya ke bahu. Lalu, ia menatap Barra dengan penuh ledekan.

"Kalo sampai minggu depan kamu tidak mengenalkan siapa wanita itu, berarti .. kamu ini laki-laki pecundang yang tidak terima karena aku lebih memilih laki-laki lain di banding kamu."

Ambar yakin, jika Barra tidak akan semudah itu bisa melupakan dirinya.

Dengan mengepalkan kedua tangannya erat dan rahangnya yang mengeras. Ia tatap wajah gadis itu tajam.

"Kamu akan menyesal saat aku membawa gadis itu kehadapan mu."

• • •

Sampai disini dulu ya?

Nanti aku lanjut lagi ..

Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote juga ya?

Makasih buat semua yang udah mampir baca..

Salam sayangnya aku buat semua .. ❤

1
Heryta Herman
semangat thor.....
Heryta Herman
bukan menghakimi sesiapapun diasni...
sikap barra memang tdk bisa di terima,dia laki"...pertanggung jwban semua letak nya pada yg namanya lelaki..
aaa..sdh lah...lanjut lah thor...
Heryta Herman
sdh runyam urusannya baru bilang cinta...kemaren ngapain aja barra...
lelaki pengecut...
Heryta Herman
telan kata" mu sendiri yg meremehkan rara dulu..bukan harta atau pun strata mu yg dia mau..barra memang cocoknya sama wanita ular ambar...
Heryta Herman
lelaki dan perepuan modelan barra ambar,banyak...ga punya urat malu..menghalalkan segala cara untuk kepentingan diri sndiri..
Heryta Herman
hahaha...percaya diri sekali kau ambar,...
sadarlah..kau itu wanita sprti apa...bikin malu makhluk lain yg bernama wanita...
Heryta Herman
memang seharusnya begitu..wanita baik" hanya untuk lelaki yg baik" juga,kan..
Heryta Herman
satu kata unruk rara...bodoh...
percaya dgn casanova sprti barra...
Heryta Herman
rara tdk beruntung...dpt bara yg bukan perjaka lagi...
ingat ucapanmu sendiri barra...kau tdk suka dan tdk cinta sama rara..kau menghina nya...kau jilat ludahmu sendiri skrng...
Heryta Herman
kko perempuan yg slh langkah dan sdh tdk punya mahkota...lelaki dgn mudah nya mengata dan menolaknya dgn kata"yg tdk pantas...tapi klo lelaki nya yg bejat,kenapa wanita sangat mudah memaafkan dan menerima dgn rela...ga adil bangeet...
Heryta Herman
hhuuuhhh..hubungan hambar tanpa cinta...hanya kebutuhan saja..
Heryta Herman
big no..../Chuckle/
Heryta Herman
jujur aja Ra .kenpa harus di tutup"i...kan bisa minta nasehat ke ortumu
Heryta Herman
preeetlah...barra pria labil...mau ma bini tapi gengsi...
Heryta Herman
klo barra ga sadar juga,betapa cantiknya adab dan rupa istrinya...ga tau lagi lah..mau ngomong apa...
Heryta Herman
kenapa kadi begini ceritanya...sllu saja wanita bsik" yg jadi korbannya..pelakor dimana" sama.. ga punya malu ga ada akhlak...
Heryta Herman
barra..jngn sampai kamu selingkuh nti dgn ambar...
barra yg akan rugi nti nya..membuang berlian dan memilih kaca,yg sdh retak.pula/Chuckle/
Hafista
aku sk cerita thour, sukses trs y thour
Riama Romauli
lanjut thor
Ayomi Hartinta
bara aj yg gk tegas...bilang udh gk suka sma ambar...tapi di pegang² diem aj...😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!