Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Sampai halaman rumah Nismara, tampak mobil Gerald dan Samudra bersebelahan.
"Astaga! Kenapa dua orang itu ada di rumahku sekarang!" seru Nismara kesal. Dia memukul kemudi mobil Miranti. Miranti hanya melirik takut kalau- kalau mobil barunya kenapa-napa.
"Usir mereka, Mir!" Nismara menatap Miranti. Raut wajahnya benar-benar buram. Di pikirannya kini terngiang tentang kematian Sherin bisa jadi disebabkan oleh salah satu dari mereka.
"Hai, gimana caranya?" Miranti menoleh kebingungan. "Baik Gege maupun San tidak ada yang takut padaku."
Nismara menyungging senyum tipis tapi seketika mendengus sebal saat melihat sosok Samudra muncul di teras dan melihat ke arah mobil yang mereka kendarai. Ini sungguh bukan waktu yang tepat untuk bertemu Samudra.
Nismara memarkirkan mobil Miranti dengan cepat, lalu tergesa-gesa turun. Miranti melangkah lebar di belakang Nismara. Nismara berhenti sejenak, membiarkan Miranti menjajari langkahnya, lalu Nismara berbisik. "Soal tadi hanya kita yang tahu, dan selamanya hanya kita. Okey."
"Siap." sahut Meranti mengerti. Bukan sekali dua kali mereka punya rahasia. Sepanjang persahabatan mereka yang terhitung tahunan, prosentasi kebocorannya adalah nol. Masing-masing dari mereka adalah perempuan yang saling memegang teguh terhadap sebuah janji.
"Nis, dari mana kamu? Telepon ku direject berkali-kali, aku cari di kantormu juga kamu nggak ada." Samudra bersuara terlebih dahulu begitu Nismara dan Miranti mendekat. Sedang Gerald tampak menatap gelisah di belakang punggung Samudra.
"Maaf, Sam. Aku ada pekerjaan penting yang nggak bisa diganggu." jawab Nismara.
"Tapi sekarang udah selesai kan? Yuk kita makan siang." kata Samudra sumringah.
"Sayangnya kami baru saja selesai makan siang. Tadi kami diskusi sambil makan. Dan ini kita mau lanjutkan di sini, karena kalau di kantor banyak gangguan." Ceplos Nismara asal. Alhasil membuat samudra mengernyit. Laki-laki itu memandang Miranti, dan Miranti segera mengedikkkan bahu.
"Kalau kamu ada apa, Ge? Tumben kamu datang kemari?" Nismara menatap Gerald, suara Nismara masih terdengar jutek.
Gerald tersenyum kaku. Melirik ke arah samudra dan Miranti. "Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, Nis. Tapi, kamu kelihatannya sibuk."
"Sepanjang hari dan setiap hari aku sibuk, Ge. Tidak pernah menganggur." Jawaban Nismara itu sontak membuat Gerald menelan ludahnya sendiri, sedang Samudra tersenyum tipis.
"Ini tentang kematian Sherin."
"Kematian Sherin." Nismara dan Miranti berseru bersama. Tentu saja hal tersebut membuat samudra dan Gerald terlonjak.
"Kenapa berteriak? Kalian bikin jantung copot!" Samudra memegang dadanya sendiri.
"Eh, ma- maaf." Miranti dan Nismara meringis.
"Sam, maaf nih kalau kamu udah nggak ada kepentingan lagi mungkin kita ketemu nanti aja ya. Setelah aku beres kerjaan?" nada Nismara sudah melunak.
Samudra melirik Gerald. "Jadi yang diusir cuma aku nih?"
Miranti menahan senyum. Lucu juga melihat laki-laki berbadan gagah dengan kulit coklat itu seperti merajuk.
"Gerald kan masih ada kepentingan sama aku. Iya kan, Ge?" Nismara menoleh pada Gerald.
"Iya." Sahut Gerald datar.
"Okey deh, aku pergi." Samudra mendekati Nismara. " Apa pun kulakukan untuk wanita paling cantik di dunia."
"Nismara terbahak spontan. "Norak ih "
Miranti terkikik ringan. Gerald hanya membatu.
"Baiklah sampai nanti tuan putri yang cantik." kata Samudra lagi. Dia tidak peduli disebut norak. Dengan sedikit gerakan yang mendadak Samudra telah memegang kepala Nismara dan menahannya sebentar, kemudian dia kecup bibir Nismara dalam satu tangkapan.
Nismara pun reflek mendorong tubuh Samudra, meski sama sekali tidak berpengaruh apa-apa, karena sosok Samudra kokoh dalam posisi nya, tidak bergeser satu inci pun. Jadilah mereka berciuman beberapa detik. Nismara menahan diri untuk tidak marah. Yang penting baginya Samudra cepat pergi dari sini.
Samudra berlalu tanpa pamit kepada Miranti dan Gerald. Laki-laki itu ngeloyor pergi begitu saja setelah tragedi kecup bibir yang di sengaja nya.
Nismara bernapas sedikit lega. Kini tinggal Gerald yang harus dia usir secepatnya.
"Gimana, Ge? Mau diskusi apa?" Nismara menatap Gerald.
"Laki-laki itu malah menatap Miranti. "Mir, apakah kamu keberatan kalau aku bicara berdua saja dengan Nismara?"
"Oh, sekarang giliran aku yang kena usir?" Miranti menyahut sambil tertawa. Dia tidak tahan untuk tidak tertawa sedari tadi, tepatnya sejak adegan Samudra merajuk.
Nismara dan Gerald mau tidak mau tersenyum.
"Baiklah, aku ke teras belakang dulu, Nis." Miranti melangkah ke dalam.
"Oke. Kita hanya sebentar doang kok. Iya kan, Ge?" Gerald mengangguk.
"Aku duduk ya, capek aku dari tadi berdiri." Gerald berkata sambil mengambil duduk.
Nismara memainkan bola matanya dengan malas. Perempuan itu mendengus berlahan. Dalam hatinya berteriak. "Ya elah, pakai prolog minta duduk pula."
"Jadi tentang kematian Sherin yang gimana, Ge?" Nismara bertanya, tak memberikan kesempatan untuk Gerald berlama-lama, dia ingin cepat.
"Eemm, aku semalam mimpi Sherin, Nis. Kamu mimpi dia nggak?" tanya Gerald dengan wajah tak bersalah.
Nismara mengambil napas panjang. "Ge, boleh kah langsung to the point saja? Aku bukannya tidak sopan atau gimana, tapi beneran aku lagi banyak kerjaan."
"Iya ya, Nis. Jadi gini, aku berpikir mau bikin yayasan. Mungkin bergerak dalam bidang sosial atau pendidikan. Aku ingin persembahkan yayasan itu untuk Sherin, itung-itung untuk menebus rasa bersalah ku. sungguh aku merasa sangat bersalah, aku sangat menyesal. Aku ingin sekali tidak ada lagi orang tua yang bodoh seperti kita." Gerald bicara dengan cepat.
Hati Nismara pun luluh seketika. Dia tercenung meresapi tiap kata yang barusan Gerald ucapkan. Gerald bergerak mendekati Nismara, lalu menyentuh tangan nya.
"Kamu setuju kan, Nis?"
Mereka bertatapan. Lalu Nismara mengangguk.
"Kamu mau bantu aku?" Tanya Gerald lagi.
"Ya tentu saja, Ge. Aku siap bantu." Jawab Nismara, tersenyum.
Gerald pun merekahkan senyumnya. Namun sedetik kemudian mukanya terlihat tegang dan gelisah. "Oh ya, Nis, ada hal penting juga yang ingin aku sampaikan ke kamu."
Nismara membiarkan tangan Gerald mengambil tangannya, hingga kedua tangan mereka saling menggenggam.
"Aku....."
Ucapan Gerald terhenti saat tiba-tiba ada suara dehem perempuan dari arah luar.
"Sudah aku duga, kamu akan mengambil kesempatan ini kan, Nis?" suara Cynthia menggelegar, menyambung deheman yang sengaja dia buat barusan.
Tentu saja Gerald dan Nismara kaget. Mereka menoleh ke arah Cynthia bersama.
"Terus akan kau lepaskan berapa jam lagi itu tangan calon suami aku?" Cynthia laki-laki bersuara dengan nada tinggi. Membuat Miranti dan Hasan datang. Namun ketika melihat Cynthia, Hasan kembali ke dalam tanpa diminta. Sementara Miranti terpaku pada jarak yang lumayan dekat. Dia hanya berjaga jaga jika terjadi sesuatu pada sahabatnya.
Nismara dan Gerald melepaskan tangan mereka secara bersama-sama.
"Chin, Jangan bikin ribut." Gerald berdiri dan menghampiri Cynthia.
Cynthia tidak menjawab tapi matanya tajam menghujam kepada mantan istri Gerald.
"Kami hanya membicarakan soal Sherin, tidak lebih." Gerald bicara lagi.
"Orang sudah mati dijadiin alasan." Tandas Chintya. "Kok rasanya mending anak kalian hidup ya? Jadi kalian saling cuek. Kemarin aku bahagia waktu dapat kabar Sherin mati, tapi kalau gini mending Sherin jangan nati "
"Chintya!" Gerald berseru kaget.
"Heh, apa kamu bilang?! Apa maksud mu?!" Nismara melotot marah. Hingga Miranti buru-buru menghampiri Nismara dan memegang lengannya.
"Harus nya Sherin jangan sampai mati?!" lagi-lagi Chintya memekik.
Nismara dan Miranti spontan berpandangan.
"Jadi kamu yang menginginkan Sherin meninggal?" Tukas Nismara galak
Miranti mencengkram lengan Nismara lebih kuat. "Tahan dirimu, Nis."
"Jujur saja, tadinya iya, biar kamu tidak punya alasan lagi berhubungan dengan Gerald." Chintya mencebik.
"Jaga mulut mu, Chin!" Gerald menarik tangan Chintya kasar.
Mata Chintya nyalang menatap Gerald. "Bahkan akhirnya kamu kasar sama aku, Mas. Demi mantan istri mu yang tidak pernah benar-benar jadi istri "
"Ge, bawalah Chintya pergi dari sini." Kata Miranti pelan.
"Iya, sebelum aku menghajar mulutnya!" Nismara menimpali.
Gerald merangkul pundak Chintya dan dengan gerakan tangan nya, laki-laki itu membawa tunangan nya ke luar rumah.
Chintya tidak memberontak. Hanya saja kepalanya menoleh. "Hati-hati kamu, Nis, kalau tidak ingin berakhir seperti anakmu!"