Indonesia
NovelToon NovelToon
Mafia Cacat Untuk Amira

Mafia Cacat Untuk Amira

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Orang Disabilitas
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Kaizar masih diam. Pelukan itu berlangsung hanya beberapa detik, tetapi entah mengapa terasa begitu lama bagi pria yang selama bertahun-tahun terbiasa menjaga jarak dari siapa pun.

Amira akhirnya melepaskan pelukannya. Begitu menyadari apa yang baru saja dilakukannya, wajahnya langsung memerah.

"Maaf."

Kaizar menatapnya. "Untuk apa?"

Amira menunduk. "Aku tadi memelukmu tanpa izin."

Kaizar tidak langsung menjawab. Ia hanya memperhatikan wajah Amira yang tampak salah tingkah.

"Aku tidak keberatan."

Amira perlahan mengangkat wajah. Untuk sesaat, keduanya kembali saling menatap.

Namun suara Ganjar tiba-tiba memecah suasana. "Tuan Kaizar, mengenai acara ini..."

"Aku sudah selesai." Kaizar memotongnya.

Ganjar terlihat gugup. "Tapi acara pertunangan..."

Kaizar mengarahkan pandangan kepada Alika dan Ricki yang berdiri tidak jauh dari mereka.

"Itu acara keluarga kalian."

Kemudian matanya kembali kepada Amira. "Aku datang untuk menjemput calon istriku."

Amira terdiam. Entah mengapa dua kata terakhir itu terdengar berbeda ketika keluar dari mulut Kaizar.

Calon istriku. Bukan perempuan yang harus dinikahinya. Bukan bagian dari kesepakatan bisnis. Seolah-olah sejak awal Kaizar sudah menganggap keputusan itu sebagai sesuatu yang akan benar-benar terjadi.

Ganjar buru-buru mengangguk. "Tentu. Kalau begitu, silakan."

Amira menoleh kepada ayahnya. Tidak ada kalimat yang menahannya atau hanya sekedar pertanyaan, apakah dirinya baik-baik saja.

Tidak ada sedikit pun kekhawatiran. Seolah-olah kepergiannya memang tidak berarti apa-apa. Entah mengapa, justru hal itu yang membuat dadanya kembali terasa sesak.

Kaizar melihat perubahan wajahnya. "Amira."

Amira menoleh. "Kita pergi."

Gadis itu mengangguk kecil. Sebelum melangkah, matanya sempat bertemu dengan mata Ricki. Pria itu masih berdiri di tempatnya. Wajahnya penuh penyesalan.

Amira tidak mengatakan apa pun..Kali ini ia benar-benar membalikkan badan dan meninggalkan pria yang pernah menjadi bagian terbesar dalam hidupnya.

Ricki mengepalkan tangan. "Amira..."

Langkah gadis itu tidak berhenti. Alika yang berdiri di samping Ricki memegang lengannya.

"Biarkan dia pergi."

Ricki menoleh. Alika memberikan senyum lembut. "Mungkin itu memang yang terbaik untuknya."

Ricki tidak menjawab. Matanya tetap tertuju pada pintu tempat Amira menghilang entah kenapa, ia baru menyadari bahwa mungkin Amira benar-benar akan pergi dari hidupnya.

Dan kali ini, dia tidak tahu apakah masih ada kesempatan untuk mendapatkannya kembali.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Di luar gedung, udara malam terasa lebih dingin. Kaizar sudah berada di dalam mobil.

Salah seorang anak buahnya membantu mengatur kursi roda sebelum kemudian menutup pintu.

Amira duduk di sebelahnya dengan jarak yang cukup jauh. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berbicara. Amira menatap jalanan dari balik kaca jendela.

Lampu-lampu kota bergerak seperti bayangan yang berlalu begitu saja. Baru sekarang ia menyadari bahwa dirinya benar-benar meninggalkan rumah.

Tidak ada tujuan lain, apalagi berharap untuk kembali. Dan pria di sampingnya adalah satu-satunya orang yang sekarang bisa disebut sebagai bagian dari masa depannya.

Amira menundukkan wajah. "Kaizar."

"Hm?"

"Kenapa kamu datang?"

Kaizar menoleh. "Karena keluargamu sudah membuat kesepakatan dengan keluargaku."

Amira tersenyum hambar. "Bukan itu maksudku."

Kaizar diam. Amira menatap kedua tangannya sendiri. "Kenapa kamu mau menikah denganku?"

Pertanyaan itu membuat Kaizar terdiam beberapa saat. "Aku tidak mengenalmu."

Jawaban itu begitu jujur sampai Amira sedikit terkejut. "Jadi?"

"Aku juga tidak tahu seperti apa dirimu."

"Kalau begitu, kamu tidak takut salah memilih?"

Kaizar mengalihkan pandangan ke depan. "Semua orang di dunia ini bisa salah memilih."

Amira tersenyum kecil. "Kamu bicara seperti orang yang sudah sering salah memilih."

"Aku memang pernah."

Jawaban itu membuat Amira menoleh. Kaizar tidak menjelaskan lebih jauh. Ada kesunyian yang kembali memenuhi mobil. Beberapa saat kemudian, Kaizar berkata,

"Kau tadi takut padaku."

Amira terdiam. "Iya."

"Tapi kau memelukku."

Amira menggigit bibir. "Aku juga tidak tahu kenapa."

Kaizar menatapnya. "Kenapa kau mengatakan aku tidak sendirian?"

Kali ini Amira benar-benar diam. Pertanyaan itu menyentuh sesuatu yang selama ini ia simpan sendiri. Ia menatap keluar jendela lalu perlahan berkata.

"Karena aku tahu rasanya."

"Rasanya apa?"

"Sendirian." Suara Amira pelan. "Berada di tengah banyak orang, tapi tidak punya satu pun orang yang benar-benar berdiri di pihak kita."

Kaizar tidak menyela.

Amira melanjutkan, "Semua orang melihatmu dan langsung memutuskan siapa dirimu."

Ia menoleh kepada Kaizar. "Mereka bilang kamu kejam."

Kaizar tetap diam.

"Mereka bilang kamu menyeramkan." Tatapan Amira turun pada bekas luka di wajah pria itu.

"Mereka bahkan membicarakan keadaanmu seolah-olah itu alasan untuk mengasihanimu."

Kaizar mengerutkan kening. "Lalu?"

Amira mengangkat bahu. "Aku cuma berpikir... mungkin kamu juga capek."

Mobil terasa semakin sunyi. Kaizar menatap perempuan di sampingnya cukup lama. Tidak ada orang yang pernah berbicara kepadanya seperti itu. Kebanyakan orang datang dengan rasa takut. Sebagian datang karena membutuhkan sesuatu. Sisanya datang karena ingin mendapatkan keuntungan dari namanya.

Tetapi Amira? Perempuan itu justru memandangnya seolah-olah dirinya hanya seorang manusia yang sedang kelelahan.

Kaizar mengalihkan pandangan. "Kau terlalu mudah merasa kasihan pada orang lain."

Amira tersenyum tipis. "Mungkin."

Kemudian ia berkata pelan, "Tapi aku tidak kasihan padamu."

Kaizar menoleh.

"Aku cuma mengerti."

Dua kata itu membuat Kaizar terdiam. Untuk beberapa saat, ia tidak tahu harus mengatakan apa.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar. Amira memandang keluar. Rumah itu jauh berbeda dari rumah keluarga Wijaya.

Lebih besar dan juga lebih sunyi. Tidak ada suara orang bercakap-cakap. Bahkan halaman yang luas itu terasa seperti tidak pernah benar-benar dihuni.

Kaizar melihat ekspresi Amira. "Mulai malam ini, kau tinggal di sini."

Amira menoleh. "Sendirian?"

"Ini rumahku."

Amira mengangguk. Kemudian setelah beberapa saat, ia bertanya,

"Kalau aku tidak nyaman?"

Kaizar menatapnya. "Kau bisa bilang."

"Kalau aku ingin pulang?"

Kaizar terdiam sebentar. Lalu menjawab,

"Kau tidak perlu memaksakan diri tinggal di tempat yang membuatmu tidak nyaman."

Amira menatapnya bingung. Kaizar melanjutkan,

"Dan satu hal lagi."

"Apa?"

"Aku tidak akan memaksamu mencintaiku."

Amira terdiam. "Kalau begitu, kenapa kamu tetap mau menikah denganku?"

Kaizar menatap lurus ke depan. "Karena pernikahan ini sudah disepakati."

Jawabannya terdengar dingin. Namun sebelum Amira sempat merasa kecewa, Kaizar kembali berkata,

"Tapi setelah kita menikah, kau tetap punya pilihan."

Amira menatap pria itu. "Pilihan?"

"Ya."

"Pilihan apa?"

Kaizar mengarahkan pandangan kepadanya.

"Kalau suatu hari kau ingin pergi, katakan kepadaku."

Amira tidak menyangka akan mendengar jawaban itu. Selama hidupnya, orang-orang selalu menyuruhnya bertahan. Bertahan demi keluarga, demi nama baik dan kebahagiaan orang lain. Tetapi pria yang bahkan baru dikenalnya malam ini justru mengatakan bahwa dirinya boleh pergi.

Entah kenapa, mata Amira terasa panas. Ia cepat-cepat mengalihkan wajah.

"Terima kasih."

Kaizar tidak menjawab. Namun entah kenapa sejak mereka bertemu, wajah dinginnya sedikit melunak. Ternyata perempuan yang dibawa keluarganya ke dalam hidupnya bukanlah perempuan yang ingin mengambil keuntungan dari dirinya.

Amira juga sedang mencari tempat untuk bertahan. Dan tanpa mereka sadari...mungkin dua orang yang sama-sama kehilangan tempat pulang itu baru saja menemukan seseorang yang tidak akan langsung meninggalkan mereka.

Bersambung...

1
Reni Anjarwani
lanjuttt 💪💪
Oma Gavin
semakin ricki penasaran dgn alika jgn kamu anggap kebohongan mu bisa tertutup rapat lagi bau bangkai nya sudah tercium
Yasinta Niken
lanjut ya tambah seru
ros
ceritanya menarik 👍
kaylla salsabella
makin penasaran
Oma Gavin
penasaran banget siapa ayah kandungnya alika
kaylla salsabella
la berarti yang anak kandung si amira
Yasinta Niken
lanjut tambah seru jangan putus lagi 💪💪💪
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Yasinta Niken
yang selalu mendapat yang terbaik untuk Ambar Alika anak siapa 🤭🤭🤭
Oma Gavin
akhirnya terbongkar alika anak selingkuhan ambar guma alika masih mau songong merasa kamu yg terbaik dan berhak hidup mewah ternyata kamu bukan anak ganjar
Oma Gavin
siapakah amira
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up💪
Yasinta Niken
kenapa kok putus2 saya senang ceritanya bagus 👍👍👍
kaylla salsabella
mungkin alika bukan anak kandung ganjar
Reni Anjarwani
semoga cpt terbuka rahasia yg disembunyikan ambar 🙏
Oma Gavin
fix alika anak ambar dgn dgn selingkuhan nya dan hanya amira yg sebenarnya anak kandung ganjar
Oma Gavin
kok aku curiga perusahaan ganjar milik mantan istrinya ibu amira
Oma Gavin
disaat Ganjar kritis antara hidup dan mati hanya darah amira yg bisa menyelamatkan nyawa ganjar, gimana alika kamu anak kesayangan tapi ternyata darah mu pun ngga sanggup menyelematkan ternyata kamu ngga guna jadi anak kesayangan
Yasinta Niken
saya bangga dengan kaisar Amira libas orang2 julid itu 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!