Indonesia
NovelToon NovelToon
ADX Florence

ADX Florence

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Perperangan
Popularitas:654
Nilai: 5
Nama Author: @_Mastura

Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.

Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.

Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.

Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DARAH, RAHASIA DAN PENGHIANATAN

             

  Jessica bergelayut manja di lengan Dante. Gadis itu sengaja menempel padanya, berharap keberadaan Dante bisa menjadi jaminan keselamatan baginya di dalam penjara. Mereka memang sudah cukup dekat, Bahkan sel mereka sama, membuat keduanya sering menghabiskan waktu bersama.

Dante sendiri sedang sibuk dengan rokok di tangannya. Ia mengisapnya perlahan sebelum mengembuskan asap tipis ke udara.

“Kamu kenapa sih akhir-akhir ini?”

Jessica memiringkan kepalanya, memperhatikan wajah Dante.

“Memangnya apa?”

“Yaa nggak... Tapi kamu kelihatan cuek banget.” Jessica memicingkan matanya.

“Kamu juga sering lirik-lirik anak baru itu.”

Dante terdiam sesaat.

“Ga berani,” jawabnya lirih.

“Apa?”

Jessica mengernyit. Ia tidak mendengar perkataan Dante dengan jelas.

“Bukan apa-apa.”

“Cih.”

Jessica memanyunkan bibirnya, tetapi tangannya tetap bergelayut di lengan Dante, pria itu meliriknya sekilas.

Sejujurnya, ia tidak terlalu menyukai Jessica yang kasar dan suka mencari masalah. Ia juga tahu bagaimana gadis itu memperlakukan napi perempuan lain di dalam penjara. Namun apa Dante benar-benar peduli.

Bagi dirinya, Jessica hanyalah tempat untuk menyalurkan hasrat nya saja, Tidak lebih. Dan Dante tidak pernah berniat menjadikan kedekatan mereka sebagai sesuatu yang berarti.

***

KEDIAMAN BLAKE!

Kabar mengenai kasus pembunuhan yang dilakukan oleh anak pemilik perusahaan telah tersebar luas. Nama keluarga Blake ikut terseret. Dalam waktu singkat, saham perusahaan keluarga Blake anjlok parah.

59%.

Kerugian yang mereka alami bukan lagi sesuatu yang bisa dianggap kecil. Nilai perusahaan terus merosot, sementara tekanan dari berbagai pihak semakin besar.

Di tengah kekacauan itu, William Blake terbaring lemah di atas ranjang.

Wajahnya tampak pucat. Tubuhnya yang semakin sakit-sakitan membuatnya kesulitan menghadapi semua masalah yang datang bersamaan. Yang paling ia pikirkan bukan perusahaan.

Melainkan Alesya.

Putrinya berada di tempat yang jauh lebih mengerikan daripada semua masalah yang sedang mereka hadapi.

“Jangan sampai Alesya tahu.”

Suara William terdengar lemah.

Laras yang duduk di samping ranjang menggenggam tangan suaminya. Wajahnya dibuat sesedih mungkin.

“Kasihan sekali sama Alesya, Mas,” ucap Laras dengan nada penuh iba.

“Dia masih muda, tapi kehidupannya sudah sangat tragis.”

Di belakangnya, Kevano berdiri diam, Matanya mengamati sang ayah. Laras kemudian berkata,

“Bagaimana kalau kita serahkan saja dulu perusahaan kepada Kevano?”

William menatapnya.

“Biarkan dia yang mengurus semuanya untuk sementara. Alvaro masih terlalu remaja mas, Terlalu dini untuk menjadi Direktur, apa lagi kondisi perusahaan sedang dalam masa kritis.”

Alvaro memang masih terlalu muda untuk memegang kendali perusahaan sebesar milik keluarga Blake. Dia adalah anak bungsu keluarga blake, adik kandung alesya. sedangkan Kevano, dia sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga blake.

Namun ada alasan lain di balik usulan Laras. Ia ingin anaknya menjadi pewaris utama keluarga Blake. Kevano menundukkan wajahnya sedikit, Senyum miring muncul di sudut bibirnya. Rencana yang telah ia susun bersama ibunya tampaknya berjalan semakin lancar.

Namun William belum memberikan keputusan, Ia masih mempertimbangkan semuanya.

“Aku akan mempertimbangkannya.”

Laras mengangguk, Tidak lama kemudian, William memandang mereka berdua.

“Kalian keluar dulu.”

Laras terdiam.

“Aku ingin membicarakan sesuatu dengan Stevan.”

Dengan berat hati, Laras dan Kevano meninggalkan kamar.

Begitu pintu tertutup...

DI RUANGAN LAIN!

Kevano langsung menunjukkan wajah aslinya.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Bu?”

Suaranya penuh amarah.

“Aku sudah berhasil menjebak Alesya ke penjara mematikan itu. Tapi kenapa si tua itu masih tetap tidak mau menyerahkan perusahaannya kepadaku?”

Laras menatap anaknya.

“Tenang dulu.”

Ia berbicara dengan suara rendah.

“Rencana yang baik disusun secara perlahan.”

Kevano mengepalkan tangannya, Laras kemudian tersenyum tipis.

“Lagipula, Alesya tidak akan pernah bertahan lama di Adx itu”

Kevano terdiam.

Ia menatap ibunya.

“Semoga saja.”

Di Kamar William

Ruangan kembali sunyi.

William menatap adiknya yang berdiri di hadapannya.

“Bagaimana kabar Alesya di sana?” Suara William terdengar berat. Stevan hanya diam beberapa saat.

Ia tahu dirinya tidak bisa melakukan banyak hal, Namun bukan berarti ia akan menyerah.

“Aku akan mencari cara untuk mengeluarkannya dari sana.”

William mengangkat wajahnya.

“Kau yakin?”

Stevan mengangguk.

“Aku yakin.”

Ia menarik napas panjang.

“Tapi aku butuh waktu. Semoga saja sampai hari itu tiba, Alesya masih bisa bertahan.”

William memejamkan mata sesaat, Kemudian ia berkata,

“Hubungi kenalanmu dari dunia bawah”

Stevan terdiam.

William melanjutkan,

“Dunia gelap, Orang-orang yang biasa berurusan dengan perdagangan senjata ilegal... pembunuh bayaran... orang-orang yang bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan hukum.”

"aku tidak peduli caranya, yang penting alesya keluar dari neraka itu dengan selamat"

Stevan hanya mengangguk mengerti.

William kemudian menatap adiknya dalam-dalam.

“Sekarang aku hanya bisa menyerahkan perusahaan ini kepadamu.”

Suaranya semakin lirih.

“Hanya kau yang bisa kupercaya.”

Stevan menatap kakaknya.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari bahwa keadaan keluarga Blake jauh lebih buruk daripada yang selama ini ia bayangkan.

Perusahaan mereka sedang runtuh.

William sedang sakit.

Alesya terkurung di penjara yang mematikan.

Dan di dalam rumah mereka sendiri...

Ada orang yang sedang menunggu kesempatan untuk mengambil semuanya.

***

Aldra berdiri di tengah pintu toilet bersama kedua anak buahnya, George dan Alex. Tatapannya menyapu Alesya dan Reana bergantian.

“Jadi, kita mulai dari siapa?”

Nada suara Aldra terdengar penuh antisipasi, seakan ia sudah tidak sabar menerkam salah satu dari mereka. Alex yang berdiri di sampingnya langsung menunjuk Reana.

“Aku ingin gadis yang itu.”

Tatapannya tertuju pada Reana.

“Kemarin dia lolos begitu saja. Tapi hari ini tidak akan kubiarkan.”

Mendengar itu, tubuh Reana semakin gemetar, Ia masih mengingat kejadian beberapa waktu lalu.

Saat keluar dari sel, Alex dan beberapa orang lainnya hampir memperkosanya. Beruntung, saat itu seorang sipir kebetulan datang karena pria itu sudah membunuh seorang sipir lainnya. Alex kemudian langsung diseret ke ruang isolasi. Sehingga membuat reana bisa bernafas beberapa hari.

Dan kini, pria itu baru saja dikeluarkan, ia kembali berdiri di hadapannya. Reana bersembunyi di balik tubuh Alesya yang ramping.

Napasnya berantakan.

Semoga ada yang datang...

Semoga ada yang menyelamatkan kami.

“Pergi.”

Suara Alesya tiba-tiba terdengar tegas.

“Atau aku akan memanggil sipir.”

Ketiga pria itu justru tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha!”

Aldra menggelengkan kepala.

“Tidak ada yang bakal peduli, cantik.”

Ia melangkah mendekat.

“Di sini kau hanya bisa mempertahankan nyawamu sendiri.”

Tangannya kemudian meraih pergelangan tangan Alesya.

“Lepas!” Alesya menjerit.

Namun anehnya, ia tidak membanting pria itu ke lantai, Padahal ia mampu. rasanya menyenangkan juga jika di tahan seperti ini, jujur baru pertama kali baginya. ia tertawa dalam hati.

Namun juga, Ada sesuatu yang membuat Alesya menahan dirinya.

Sementara itu, Alex dan George mencengkeram erat lengan Reana.

Gadis itu seakan kehilangan tenaga, Tubuhnya gemetar hebat. Air matanya mulai mengalir ketika salah satu dari mereka membisikkan sesuatu di dekat telinganya.

“Ayo, cantik... sekarang tidak ada yang akan menghentikan kita.”

Air mata Reana langsung luruh.

“Aku mohon... lepaskan...”

Suaranya serak.

Kedua gadis itu masih berusaha melepaskan diri dari cekalan para pria tersebut.

Namun—

“Minggir.” suara bariton tiba-tiba terdengar dari arah pintu.

Suara seorang pria.

Dingin.

Singkat.

Ketiga pria itu berhenti, Aldra perlahan menoleh. Senyum miring muncul di wajahnya ketika melihat siapa yang berdiri di sana.

Darren.

Pria itu berdiri tepat di ambang pintu toilet, Wajahnya tenang, Tatapannya datar. Seolah tiga orang di hadapannya bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Aldra terkekeh.

“Kenapa?”

Ia menyeringai sombong.

“Mau juga?”

Alesya menoleh ke arah Darren.

“Tolong kami...”

Suara Alesya terdengar memelas.

Bahkan dirinya sendiri tidak mengerti kenapa ia begitu malas mengeluarkan tinjunya sejak tadi.

Darren tetap diam, George maju selangkah.

“Kau mau mati, hah?”

Bentaknya kepada Darren, Namun Darren tidak bergeming. Tatapannya hanya berpindah sebentar ke tangan pria itu yang masih mencengkeram Reana. Lalu kembali menatap Aldra.

“Kalian menghalangi jalan ku”

Hening.

Senyum di wajah Aldra perlahan menghilang, Darren tetap berdiri di sana.

Tidak mengancam.

Tidak berteriak.

Namun entah kenapa, ketenangan pria itu justru membuat suasana toilet terasa semakin mencekam.

“Bunuh.”

Satu kata keluar dari mulut Aldra. George dan Alex langsung saling pandang, lalu mengangguk. Mereka melepaskan cekalan dari Alesya dan Reana, kemudian maju menghadang Darren.

George menjadi yang pertama menyerang. Tinju besarnya melesat ke arah wajah Darren, Namun Darren hanya menggeser kepalanya sedikit. Tinju itu melewati sisi wajahnya. Dengan gerakan santai, Darren menepis lengan George, lalu melayangkan tendangan keras tepat ke perutnya.

BUK!

Tubuh George terangkat sedikit sebelum tersungkur ke lantai toilet. Pria botak itu meringis sambil memegangi perutnya, Alex langsung maju.

Berbeda dengan George, gerakannya lebih cepat dan ia cukup terampil dalam berkelahi. Beberapa pukulannya bahkan berhasil mendekati Darren.

Namun tetap saja...

Belum cukup, Darren menghindari satu pukulan, menangkap tangan Alex, lalu memutarnya dengan gerakan cepat.

KREK!

“AARRRGHHH!”

Jeritan Alex menggema di seluruh toilet. Tangannya terkulai, Wajahnya seketika pucat menahan rasa sakit. Reana menutup mulutnya sendiri, Alesya hanya diam.

Matanya memperhatikan Darren dengan tatapan penuh atensi. Dalam hitungan menit, kedua anak buah Aldra sudah tidak mampu berdiri dengan baik. Aldra menelan ludah.

Untuk sesaat, keraguan terlihat di wajahnya.

Namun ia tetap maju.

“Brengsek!”

Aldra menghantam Darren sekuat tenaga. Darren membalas. Satu pukulan keras mengenai wajah Aldra. Tubuh pria itu terhuyung sebelum jatuh ke lantai toilet yang dingin. Darah mengalir deras dari wajahnya, Aldra terbatuk-batuk. Ia berusaha mengangkat tubuhnya dengan susah payah.

“Maafkan kami...”

Darren hanya berdiri diam.

“Kami tidak akan mengganggu mereka lagi,” lanjut Aldra dengan napas tersengal.

Tidak menunggu lebih lama, Aldra memberi isyarat kepada George dan Alex.

Ketiganya kemudian bergegas meninggalkan toilet, meskipun langkah mereka sedikit terhuyung akibat luka dan banyaknya darah yang keluar.

Kini ruangan itu kembali sunyi, Hanya tersisa Darren, Alesya, dan Reana. Tangan Darren penuh dengan darah ketiga pria tadi, Namun tatapan Darren justru tertuju kepada Reana.

Entah kenapa...

Wajah gadis itu sedikit menarik perhatiannya.

Reana masih terlihat pucat.

Alesya kemudian memecah kesunyian.

“Makasih... udah nolongin kami.” yaa walaupun agak kecewa karena bukan Kael yang datang. Sebenarnya Alesya tau Kael selalu mencuri-curi pandang ke arahnya. Namun sulit sekali membuat pria itu mengaku.

Darren melirik sekilas ke arah Alesya. Tatapannya tetap datar dan dingin.

"Aku hanya tidak suka ada yang menghalangi jalan ku”

Ia berhenti sebentar.

“Minggir”

Setelah mengatakan itu, Darren berjalan melewati mereka dengan tenang. Seolah pertarungan yang baru saja terjadi tidak berarti apa-apa baginya.

...***...

SAMPAI SINI GIMANA GAYSSS.... KOMENN YAAA

1
Tuan Tuan
💪😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!