Indonesia
NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Pertemuan di Alam Bawah Sadar

Kegelapan yang memikat menyeret kesadaran Dirga ke dalam ruang hampa yang tak bertepi. Rasa sakit yang teramat sangat akibat benturan keras tubuhnya dengan aspal jalanan perlahan sirna, berganti dengan sensasi melayang tanpa bobot. Suara jeritan histeris warga, deru mesin, dan decitan ban mobil yang membakar aspal mendadak lenyap begitu saja, terendam dalam keheningan mutlak yang menenangkan sekaligus mencekam.

Perlahan-lahan, kabut pekat berwarna abu-abu yang mengelilinginya memudar, terhalau oleh pendar cahaya putih yang terbit dari segala arah. Dirga mendapati dirinya berdiri di tengah ruangan serba putih tanpa batas, tanpa dinding, tanpa langit-langit, dan tanpa pijakan bumi yang nyata. Di tempat yang terisolasi dari ruang dan waktu ini, luka-luka di tubuhnya tak lagi menyengat.

"Apakah aku sudah mati?" gumam Dirga lirih. Suaranya bergema halus di dalam ruangan tersebut. "Apakah ini akhir dari segalanya? Ibu... apakah aku sudah berada di tempat yang sama denganmu?"

"Belum waktumu untuk berpulang, cucuku."

Sebuah suara berat, dalam, dan menggelegar namun sarat akan kehangatan bergema dari balik gumpalan cahaya di hadapannya. Dirga terperanjat, matanya membelalak saat melihat sesosok pria tua melangkah keluar dari pendar pualam tersebut. Sosok itu mengenakan jubah putih keemasan yang berkibar lembut walau tak ada hembusan angin. Wajahnya berparas sangat berwibawa, dipenuhi janggut putih yang terawat rapi, dan matanya memancarkan kearifan kuno yang menembus hingga ke kedalaman jiwa Dirga.

"Siapa Anda?" tanya Dirga reflek, melangkah mundur satu pijakan dengan waspada. "Mengapa Anda berada di sini? Tempat apa ini sebenarnya?"

Pria tua itu menghentikan langkahnya, menatap Dirga dengan tatapan penuh empati dan keprihatinan yang mendalam. "Aku adalah leluhur dari garis keturunan darahmu yang telah lama terlupakan oleh zaman. Aku telah menyaksikan seluruh kepedihan, penghinaan, dan ketidakadilan yang kamu pikul di dunia fana."

Dirga mengepalkan tangannya rapat-rapat, dadanya kembali terasa sesak saat ingatan tentang penderitaannya mencuat kembali. "Jika Anda benar-benar leluhurku, mengapa Anda baru menampakkan diri sekarang? Mengapa Anda membiarkan aku dihancurkan sampai tak tersisa? Aku kehilangan ibuku, kehilangan pekerjaan, dihina seperti sampah, dan dihancurkan oleh orang-orang kaya yang merasa bisa membeli segalanya!"

"Penderitaan adalah leburan besi yang menempa pedang agar menjadi tajam, Dirga," ujar sang leluhur dengan nada suara yang begitu tenang namun penuh penekanan. "Jika kamu tidak dihancurkan hingga ke titik paling nadir, dirimu yang baru tidak akan pernah terlahir. Jiwamu yang terlalu lembut dan polos tidak akan mampu menanggung beban takdir besar yang telah menunggumu."

"Takdir besar apa?!" seru Dirga, suaranya bergetar menahan amarah dan keputusasaan yang meluap. "Aku hanya seorang mantan petugas kebersihan dan pengemudi ojek yang terlilit utang! Aku tidak memiliki apa-apa lagi! Aku runtuh, Mbah! Aku benar-benar runtuh!"

Pria tua itu melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka berdua tanpa rasa takut. Ia menatap lurus ke dalam iris mata Dirga yang dipenuhi penderitaan.

"Kamu runtuh karena kamu belum menyadari potensi sejati yang mengalir dalam darahmu," sahut sang leluhur tegas. "Dunia tempatmu tinggal diperintah oleh ketidakadilan, di mana yang kuat memangsa yang lemah dan yang kaya menginjak yang miskin. Kamu telah merasakan perihnya berada di dasar penderitaan itu. Sekarang, apakah kamu ingin tetap menjadi korban yang meratapi nasib, atau berdiri sebagai penguasa yang menentukan takdirmu sendiri?"

"Tentu saja aku ingin membalas mereka!" balas Dirga cepat, suaranya terdengar dingin dan tajam, memancarkan dendam kesumat yang telah berakar di dadanya. "Eri, Leon, Bu Maya, Pak Bambang... aku ingin mereka merasakan rasa sakit yang ribuan kali lebih dahsyat dari apa yang aku rasakan! Aku ingin mereka berlutut dan memohon ampun padaku!"

"Dendam yang murni tanpa kekuatan hanya akan menjadi racun yang membakar dirimu sendiri," tutur sang leluhur, menggelengkan kepalanya perlahan. "Untuk menundukkan orang-orang sombong itu, kamu membutuhkan mata yang mampu menembus takdir, melihat apa yang belum terjadi, dan memanfaatkan kesempatan sebelum orang lain menyadarinya."

Dirga mengerutkan dahi, bingung dengan arah pembicaraan tersebut. "Melihat apa yang belum terjadi? Apa maksud Anda sebenarnya?"

"Aku akan membuka mata batinmu," jawab sang leluhur seraya mengangkat tangan kanannya yang memancarkan pendar cahaya keemasan. "Sebuah anugerah kuno dari darah leluhurmu yang terlelap. Dengannya, kamu akan diberikan penglihatan mengenai masa depan, melihat takdir yang belum terukir dalam hitungan waktu yang singkat."

"Melihat masa depan?" tanyanya tertegun, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Apakah hal semacam itu benar-benar mungkin?"

"Dunia ini menyimpan rahasia yang jauh lebih luas dari apa yang sanggup dicerna oleh logika manusia," sahut sang leluhur mantap. "Namun ingatlah, cucuku! Anugerah ini pada awalnya hanya berupa penglihatan yang acak, pendek, dan amat terbatas. Penglihatan itu akan hadir berupa kilatan kejadian beberapa jam atau beberapa hari ke depan. Kamu harus belajar mengendalikannya dengan menguatkan jiwa dan rasa hausmu akan keadilan."

Sebelum Dirga sempat mengajukan pertanyaan lebih lanjut, sang leluhur mengibaskan lengan jubahnya. Seketika itu juga, pemandangan ruangan putih di sekeliling mereka pecah berkeping-keping bagai cermin yang hancur.

Tiba-tiba, Dirga terseret ke dalam gulungan kilatan visi asing yang berputar sangat cepat di dalam benaknya. Ia melihat kilasan gambar yang terputus-putus, sebuah mobil sedan hitam yang ringsek di tepi jalan, deretan angka-angka saham yang melonjak drastis secara acak, wajah seorang wanita cantik yang menangis histeris di dalam kamar hotel yang megah, serta sebuah kartu nama elegan berkilau emas.

"Agh!" Dirga mengerang kesakitan sembari memegang kepalanya yang terasa seperti dihantam oleh jutaan jarum tajam. "Kepalaku... sangat sakit! Apa yang terjadi?!"

"Itu adalah tabir waktu yang mulai terbuka dalam pikiranmu," pangkas sang leluhur, menyaksikan Dirga yang bersimpuh menahan guncangan visi tersebut. "Gunakan penglihatan itu bukan hanya untuk membalas dendammu, tetapi untuk membangun kekuasaan yang tak tergoyahkan. Biarkan mereka yang dulu menghinamu melihat sosok yang pernah mereka pijak bangkit menjadi penguasa yang tak terjangkau!"

"Tapi... bagaimana caranya aku harus memulai semua ini?" bisik Dirga, napasnya tersengal-sengal di tengah gempuran kilatan masa depan yang terus membayangi pikirannya. "Aku tidak memiliki modal, tidak memiliki koneksi, dan tubuhku saat ini terbaring kritis di jalanan!"

Sang leluhur tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh keyakinan yang memancarkan wibawa tak tertandingi. Ia melangkah maju hingga berdiri tepat di hadapan Dirga yang sedang berlutut.

"Modalmu adalah ketajaman insting dan penglihatan takdir yang kuberikan ini," ucap sang leluhur lembut namun perkasa. "Langkah pertamamu berada tepat di depan mata saat kamu membuka kelopak matamu kembali. Seseorang sedang menunggumu di alam nyata, seseorang yang akan menjadi pintu pertama menuju takdir barumu."

Dirga mendongak, menatap mata sang leluhur dengan pandangan penuh tekat yang baru terbentuk. "Apakah aku benar-benar bisa mengubah hidupku?"

"Takdir berada di tanganmu, Dirga," tegas sang leluhur. "Bangkitlah! Jangan biarkan darah keturunan kita ternoda oleh penyesalan dan kelemahan! Tunjukkan pada dunia siapa dirimu yang sebenarnya!"

Pria tua itu kemudian merentangkan jarinya dan menepuk dahi Dirga secara perlahan namun sarat akan dorongan energi mistik yang luar biasa dahsyat.

BZZZZT!

Sensasi sengatan listrik yang amat kuat menjalar seketika dari dahi Dirga, merambat cepat ke seluruh jaringan saraf, otak, dan pembuluh darahnya. Ruangan putih tak bertepi itu mendadak retak total, hancur melebur menjadi partikel-partikel cahaya yang tersedot masuk ke dalam dadanya. Rasa sakit yang membelah kepala akibat visi masa depan perlahan menyatu dengan denyut nadinya.

"Bangunlah, Dirga!" suara sang leluhur bergema kian menjauh dan memudar di dalam kegelapan.

Dalam hitungan detik, alam bawah sadarnya yang tenang mulai terdistorsi oleh gelombang suara dari dunia nyata. Rasa dingin dari aspal jalanan kembali merayapi kulit punggungnya. Bau hangus karet ban dan aroma darah yang amis mulai menusuk indra penciumannya kembali.

Dunia mimpi telah runtuh sepenuhnya, berganti dengan riuh rendah kegaduhan manusia yang saling bertumpuk di sekitarnya.

"Mas! Mas! Tolong bangun, Mas!" suara seorang wanita gemetar panik terdengar samar-samar, seolah datang dari balik lorong air yang dalam.

"Cepat panggil ambulans! Napasnya masih ada, tapi kepalanya berdarah!" suara bariton seorang pria paruh baya menimpali dengan penuh kekepanikan.

"Pak, jangan dipindahkan dulu tubuhnya! Takut ada tulang yang patah!" sahut warga lainnya bersahut-sahutan di tengah deru klakson kendaraan yang tertahan kemacetan.

"Tolong saya... Saya tidak sengaja... Dia mendadak melintas!" suara wanita itu kembali terdengar, kali ini lebih dekat dan terasa begitu dekat dengan telinga Dirga. Sentuhan jemari yang halus dan gemetar terasa menahan bagian belakang kepalanya yang bersimbah darah.

Dirga berusaha keras menggerakkan jemari tangannya yang kaku. Di balik kegelapan matanya yang masih tertutup rapat, pendar cahaya keemasan dari dahi hasil sentuhan sang leluhur masih berdenyut perlahan, menandakan bahwa tabir waktu telah resmi terbuka dalam jiwanya.

1
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!