Kedatangan Si Kuku Merah Adalah Awal Petaka di Sekolah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Modus Devano
Sebuah pukulan keras menghantam tangan Ricki saat ia hampir saja meraih tubuh gadis yang sedang bersembunyi dibalik tiang. Ia merasakan tubuhnya terdorong dengan sangat keras sampai terjatuh.
"Aaaargh!"
Angin tiba-tiba bertiup sangat kencang. Daun-daun kering yang semula sudah tenang kini kembali beterbangan dan berputar bagai terkena angin ****** beliung. Sebuah kekuatan tak kasat mata seperti sedang melindungi gadis yang sedang berlindung di balik tiang itu.
Ricki pun berusaha berdiri dan segera kabur dari tempat itu. Ia ketakutan.
"Ayo cepat kunci gudangnya. Kita pergi dari sini." ujarnya seraya berlari ke arah gerbang. Beberapa teman yang melihatnya seperti itu jadi bingung dengan apa yang terjadi. Mereka ingin bertanya tapi Ricki sudah lari terbirit-birit.
"Aneh, perasaan anak itu belum sempat nge fly," ujar Coky dengan menggeleng-gelengkan kepalanya bingung. Ia pun mengunci gudang itu dan segera pergi dari sana.
Raungan motor mereka dengan knalpot racing membuat suasana sepi di lingkungan sekolah itu seketika langsung ribut.
Puput keluar dari persembunyiannya dengan tarikan nafas lega. Devano dan juga Putra pun keluar dari area parkir dengan membawa motor gadis itu.
"Makasih banyak ya Dev," ujar Putra pada pria yang sempat ia curigai telah berbuat macam-macam dengan adiknya di sekolah itu.
"Sama-sama Kak. Motornya ternyata gak apa-apa ya," balas Devano dengan senyum samar diwajahnya. Ia melirik gadis cantik pujaannya itu dengan dada berdebar tak karuan. Ia juga heran dengan pemilik motor itu yang belum pulang sampai sekarang padahal motornya gak rusak sama sekali.
Puput hanya bisa meringis tak nyaman melihat dua pria dihadapannya memandanginya dengan wajah seperti itu.
"Udah ah, mau pulang Kak. Mana sepatuku." Gadis itu meminta sepatunya karena baru sadar kalau ia sedang menggunakan kaos kaki saja. Putra pun menyerahkan sepasang sepatu adiknya itu yang langsung dipakai oleh Puput.
"Eh, kok kaki ku udah gak sakit?" Gadis itu memandang kakinya yang juga nampak baik-baik saja seperti sedia kala. Tiba-tiba ia merasa ada yang sangat janggal dengan semua yang terjadi pada dirinya. Motornya baik-baik saja dan sekarang kakinya juga kembali normal dan tidak mengalami sakit maupun bengkak.
"Kak, Aku takut pulang sendiri." Puput pun mengarahkan pandangannya ke sekeliling lingkungan sekolah. Bulu kuduknya tiba-tiba merinding. Matanya juga menangkap sebuah siluet perempuan berambut panjang yang sedang pergi menjauh dari tempat parkir motornya tadi.
"Lho? Kok tiba-tiba takut?" tanya Putra dengan wajah penasaran. Puput tidak menjawab, matanya masih berada pada sosok perempuan berambut panjang yang nampak semakin jauh dari tempatnya berada.
"Put? Ada apa?" Devano mengikuti tatapan gadis itu tapi ia tidak melihat apapun disana.
"Aku gak mau pakai motornya Kak, Aku takut," jawab gadis itu dengan pandangan sudah ia alihkan pada motornya.
"Lho? Tapi aku juga pakai motor sendiri kesini. Masak mau ditinggal sih?" Putra berpikir keras. Devano tersenyum kemudian memberikan ide untuk membonceng gadis itu pulang, sekalian ia ingin lebih mengenal gadis cantik itu.
"Gimana kalau aku aja yang bawa kamu pulang? Motorku biar aku simpan di sini saja."
"Gak ngerepotin nih Dev. Kebetulan aku gak bisa karena ada urusan setelah dari sini."
"Gak apa-apa kok Kak. Sekalian mau jalan ke rumah kakak." Devano tersenyum samar sedangkan Puput hanya mendengus.
"Modus!"
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍.
saling dukung ya thor thanks