Indonesia
NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Pembantuku

Mengejar Cinta Pembantuku

Status: tamat
Genre:One Night Stand / Cinta Seiring Waktu / Pembantu / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:112.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mimi lita

"Lupakan malam ini, jangan pernah kamu buka suara tentang malam menjijikan ini. Ingat, sekali kamu buka suara, maka aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkan hidupmu."

Kata-kata keji itu begitu ternginag di telinga gadis yang duduk dengan berurai air mata di kamar yang sempit yang berada di ujung lorong sebuah rumah besar. Amanda Bimala, gadis berusia 22 tahun harus menelan satu kenyataan pahit di mana mahkotanya hilang dan direnggut oleh majikannya sendiri. Abimana Dipta, 35 tahun seorang pemilik pabrik garment, baru saja selesai menggauli gadis itu dalam keadaan mabuk.

Tidak ada yang bisa Amanda lakukan selain berharap tidak ada kehamilan setelah ini. Gadis pintar bernasip malang itu tengah berjuang untuk menyelesaikan kuliah S2-nya di salah satu Universitas terbuka. Karena itulah dia bekerja di rumah Abimana untuk menggantikan sang Ibu yang sedang jatuh sakit. Setelah malam itu ada yang lain dalam diri Abimana hingga membuatnya merasa candu akan sosok Amanda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimi lita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Menolak memerhatikan

Keesokan paginya, Abimana seperti biasa masih berada di atas hamparan kasurnya. Ini masih hari ke 4 setelah kepergian Clarissa, namun dia sudah merasa hancur karena bukti yang di dapatkan. Foto mesra antara Clarissa dan Om Markus membuat hatinya terbakar.

Semalaman dia menghabiskan banyak minuman keras sendirian di dalam kamarnya. Dia bingung dan tidak ada tempat untuk mengadu, sedangkan saat ini dia sedang berada di dalam masa pengumpulan bukti. Jadi Abimana harus menyembunyikan semuanya termasuk kesedihannya.

"Ah, aku lapar. Dia sudah masak apa belum ya?" gumam Abimana sembari berjalan menuju ke dapur.

Baru satu kakinya yang menapaki tangga, hidungnya sudah mencium wangi aroma masakan Manda. Aromanya semerbak memenuhi setiap sudut ruangan. Meskipun blower sudah dinyalakan, namun tetap saja tidak sedikit dari aroma itu yang lolos dan menerobos masuk ke indera penciuman Abimana.

"Hemh ... wanginya, masakannya sama sekali tidak pernah gagal. Selalu saja enak. Oh iya, kali ini penampilannya berbeda, mau ke mana dia?" kata Abimana pelan sembari melongok tanpa bersuara dan mengamati penampilan Amanda.

Dengan langkah lebar, Abimana segera melangkah menuju dapur dan tanpa sengaja jempolnya membentur tiang meja. Seketika itu juga dia berjingkrak kesakitan dan membuat gelas terjatuh dari tempatnya. Tanpa sengaja, kakinya justru menginjak pecahan gelas.

"Aduh!" pekik Abimana mengaduh kesakitan.

Manda yang refleks segera menghampiri Abi. Dia terkejut saat melihat darah yang keluar dari sela-sela kaki. Dengan cekatan dia segera mengambil lap meja.

"Stop! Apa-apaan mau diikat pakai itu? Itu tidak higienis!" tolak Abimana dengan nyalangnya.

Manda menghela napasnya dan pergi begitu saja. Dia lalu mengambil kotak obat dan juga tisu. Manda kembali lagi sudah dengan membawa obat-obatan.

Tanpa banyak bicara dan rasa jijik, dia langsung memegang kaki Abi. Tatapan matanya terlihat datar dan biasa saja melihat darah yang bahkan membasahi tangannya. Abimana mencoba menarik kakinya dan berusaha supaya tidak tersentuh tangan Manda, akan tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah.

"Jangan dicabut! Nanti sakit," rengek Abimana dengan berusaha untuk menghentikan Manda mencabut pecahan kaca yang masih bersarang di telapak kakinya.

"Terus? Mau ditempelkan lebih dalam?" Manda bertanya tapi dengan tangannya yang menekan lebih dalam serpihan beling.

"Aa ...! Kamu sengaja? Mau balas dendam?" tukas Abimana dengan matanya yang melotot menatap Manda yang begitu tenang dan tanpa rasa takut menatapnya.

"Iya, kenapa? Sekalian kan," kata Manda dengan entengnya.

"Sudah, jangan sentuh kakiku! Aku bisa mengobatinya sendiri!" Abimana menepis tangan Manda.

Gadis itu dengan ekspresi datarnya berdiri begitu saja dan langsung mencuci tangannya yang bersimbah darah di wastafel. Baru saja Abimana hendak mencabut serpihan beling itu, terdengar suara Manda yang muntah-muntah. Gadis yang tengah mengandung anaknya itu muntah saat mencuci tangannya. Rupanya tadi dia hanya berusaha terlihat kuat. Padahal saat melihat darah dia merasakan mual yang amat sangat.

"Kamu masih mual?" tanya Abimana sembari membereskan pecahan kaca dan mencari tempat yang nyaman untuk duduk.

"Em," jawab Manda singkat sembari mencuci mulutnya.

Abimana memerhatikan penampilan Manda yang terlihat berbeda. Perutnya yang seharusnya membuncit kini justru tidak nampak semakin besar, tidak seperti kemarin. Dia merasa bahwa pasti ada hal tidak benar yang Manda lakukan dengan janinnya.

"Perutmu terlihat rata, apa kamu sudah menggugurkannya?" tanya Abimana tanpa perasaan. Dia begitu mudah menyebutkan kata-kata itu.

Manda terdiam dan sama sekali tidak menjawabnya. Hatinya begitu sakit setiap kali orang yang sudah menghamilinya selalu saja menginginkan janin yang ada di dalam kandungannya raib. Tidak ada yang bisa Manda lakukan kecuali hanya menahan semuanya di dalam hati.

Manda pergi begitu saja dan mengabaikan pertanyaan Abimana. Baginya semakin lama berada di sana maka akan semakin membuatnya terluka. Selalu saja dia hanya bisa mengutuk perbuatan Abi di dalam hatinya.

"Mudah sekali dia berbicara seperti itu, seolah apa yang ada di dalam perutku ini hanya bangkai. Dia ini anakmu dan kamu selalu saja mengatakan hal itu. Abimana Dipta, aku pastikan kamu akan menyesali semua ini. Aku berjanji!" jerit Manda dalam hati.

"Hei! Tunggu dulu! Tunggu, kamu seharusnya mengobatiku dulu!" seru Abimana tanpa tahu malu meminta pertolongan setelah ia melukai perasaan Amanda.

"Bukankah, Pak Abi adalah manusia sempurna? Kalau begitu Bapak bisa mengobati diri Bapak sendiri. Permisi." Manda berbicara dengan datar dan dingin sama sekali tanpa ekspresi.

"Hei! Tidak sopan ya kamu!" bentak Abimana.

"Iya, aku memang tidak sopan. Aku jadi lupa caranya untuk sopan setelah diperk*sa." Amanda membalasnya dengan begitu santai dan diakhiri dengan pintu yang tertutup rapat.

Abimana hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dan menahan emosinya yang meledak-ledak. Dia dalam keadaan terpuruk saat ini. Akan tetapi takdir seolah ingin dia semakin tenggelam dalam keterpurukan.

Dalam keadaan tersebut, Abimana hanya terdiam, dia bahkan tidak mengobati kakinya. Dia memikirkan semua yang sudah dia lakukan malam itu. Juga termasuk keputusannya untuk meminta Amanda menggugurkan kandungan.

"Apa aku sudah salah?" gumam Abimana.

Dari kejadian itu sampai siang hari setelah Amanda selesai dengan kegiatan di kampusnya, barulah Abimana menunjukkan pergerakan seperti manusia hidup. seharian dia hanya berbaring di atas sofa ruang tengah.

"Dari mana saja Kamu?" tanya Abimana dengan nada yang dingin.

"Kuliah, ketemu pacar dan teman." Amanda dengan acuh menjawabnya, dia bahkan tidak mau melihat Abimana yang masih meneteskan darah dari kakinya dan hanya mengikat betisnya dengan kain lap.

"Obati kakiku!" titahnya.

"Maaf, itu diluar job desk saya. Saya bukan perawat atau Dokter. Jadi Bapak hubungi Dokter saja." Manda berbicara seringan kapas.

"Baik, kalau kamu tidak mau mengobati maka aku akan tetap seperti ini dan akan mati kehabisan darah lalu akan menghantuimu," hardiknya.

"Terserah, hidupku sudah jauh lebih menyeramkan dari pada sekedar bertemu hantu. Silahkan saja. Kehadiran hantu itu justru akan Semakin meramaikan. Cepatlah mati, aku tidak sabar melihat wujudmu menjadi hantu Pak." Manda tersenyum tipis saat mengatakannya.

"Aish! Kamu ini sekarang semakin lancang saja. Obati sekarang juga! Atau ...."

Belum selesai Abimana berbicara, Amanda sudah menyambarnya. "Atau apa? Atau kamu akan mengatakan pada Dunia bahwa aku hamil di luar nikah? Lakukan saja, lakukan. Hidupku sudah hancur sedari malam itu."

Amanda seperti tidak ambil pusing dan melenggang pergi. Ia masuk ke dalam kamarnya dan mencoba untuk memejamkan mata. Saat ini alas tidurnya masih berupa karpet lantai yang tipis dan hal itu sudah sangat biasa baginya.

"Berat sekali ini Tuhan, mau sampai kapan. Apa tidak ada orang baik yang coba Kau kirimkan? Aku lelah seperti ini," kata Amanda dalam doanya.

1
Safitri Agus
terimakasih Thor 🙏🥰
Safitri Agus
siapa Salma 🤭
Safitri Agus
typo namanya
Ran Aulia
terimakasih ya kak, ceritanya bagus ❤️❤️❤️👍👍👍
Ririn Mutiarini
Abi kamu majikan yang ga peka 😮‍💨
Ririn Mutiarini
Mulai pintar otak Abimana kl bucin hrs tetap bs berpikir jernih 😮‍💨/Facepalm/
Ririn Mutiarini
Abimana terlalu bucin atau bodoh terhadap kelakuan Clarissa 😮‍💨
Ririn Mutiarini
Koq aq jd gemes ya baca ulang uda hampir setahun baca lg tp awal baca ga pernah komentar krn asik pgn nyelesaikan dan tertarik dgn alur ceritanya /Shy/
Ririn Mutiarini
Uda baca yg kedua kali aq jatuh cinta sama karya ini meski pendek tp menarik ga berbelit-belit 👍🏻😊
Anonim
cerita yang bagus walaupun mengandung banyak bawang
Ririn Mutiarini
Seru kak Mimi Lita krn baca hrs konsen jd ga bnyk komen tp aq jd kebawa semua rasa ada kdg jengkel kdg sesak kdg sedih kdg jg lucu 😌🤫
siapa hayo
ok
Since Sandra
Ada yah istri kaya gitu, KDRT terhadap suami🙂
Nurjanah Abdullah
ceritanya bagus alurnya singkat jelas gak bertele - tele...perjuangan dan pengorbanan yg berbuah manis
Dian Mardiana
akhirnya up juga seneng deh tau lanjutan manda
Mimi Lita
Demi kamu aku up kak. kemarin sibuk dan ya males juga karena Pembaca banyak yang diem😭
Zaskia Mecca
mantap Thor akhirnya up juga....lagi..lagi..Thor... semangat
Zaskia Mecca
Thor kok blm ada kelanjutannya
Mimi Lita: ini baru mau nulis kak, kemarin banyak kegiatan jadi enggak sempet buat nulis
total 1 replies
Lina Marlina
alur ceritanya bagus
Lina Marlina
keren ceritanya
Mimi Lita: ikutin terus ya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!