Karena jengah oleh keadaan yang menuntutnya untuk selalu menikah. Nadhira Gayatri membulatkan tekad untuk pergi dari rumah.
Namun siapa sangka justru di dalam perantauan dirinya kembali di pusingkan oleh tiga pria yang menyukainya sekaligus.
Orang baru yang selalu menawarkan pertolongan
Masa lalu yang belum usai sepenuhnya
Atau justru Duda anak satu yang mampu mendobrak hati seorang Nadhira
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my_el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EMOSIONAL
Malam ini, kelakuan Theo semakin menjadi. Dia benar-benar ngerjain gue habis-habisan. Belum lagi Adit yang menunggu di luar, selalu mencari cara untuk dekati gue.
Bukannya jelas-jelas kita sudah selesai, tapi tingkahnya bikin gue dongkol lama-lama.
“Lo bantu staf dapur hari ini. Kita kekurangan staf buat bantu,” titah Theo.
“Gue gak ada pengalaman di dapur, bikin kacau nanti,” balas gue.
“Bantu doang, sambil belajar,” tegasnya.
Gue menggerutu mendengarnya yang begitu bossy. Kenapa juga dia yang banyak titah, padahal Chef yang lain enggak ada yang serumit dia.
“Kamu apain lagi si Theo, kok jadi kek gitu,” bisik Chef Adrick.
“Gak di apa-apain, Chef. Dianya aja tuh yang gak jelas, kek cewe,” sungut gue.
“Ck. Sulit,” ucap Chef Reymond menimpali.
“Sulit kenapa, Chef?” tanya gue berbisik.
“KERJA! Bukannya ngobrol. Ngapain tuh deket-deketan,” sindir Theo.
Chef Reymond dan Chef Adrick menggelengkan kepala dengan tersenyum samar menanggapi ucapan Theo, berbeda dengan gue yang hanya memutar mata malas dengan kelakuan dia.
Tidak ada waktu lama, Theo kembali berulah. Ada saja pekerjaan gue yang dia salahkan. Entah penempatan makanannya yang kurang ke tengah piring, atau topping minuman yang terlalu sedikit, penempatan wortel yang kurang miring. Semua dia komentari.
Padahal Chef Reymond dan Chef Adrick enggak ada komentar apa pun karena menurut mereka sudah lumayan rapi untuk pemula kayak gue.
“LO KENAPA?” teriak gue pada akhirnya membuat para staf dapur terlonjak kaget.
“Lo ngelunjak ya, berani teriak ke gue!” balas Theo tak mau kalah.
“Lo dari kemaren sengaja kan ngerjain gue, nyuruh ini itu, padahal ada yang lain yang sedang kosong. Sekarang juga. Ini semua akal-akalan lo kan nyuruh gue di dapur buat lo salah-salahin!” cercah gue.
Saat Theo hendak membalas lagi perkataan gue, Chef Reymond yang selaku paling dewasa di sini langsung mencegat Theo, dan membawanya ke ruangan khusus di belakang.
Gue mengatur nafas, dan kembali bekerja seperti semula. Tidak lagi bantu-bantu di dapur. Emosi gue kembali tersulut saat dengan sengaja Adit mencegah gue untuk kembali ke dapur.
Gue sepertinya salah memilih untuk keluar dari dapur. Seharusnya gue tetap berada di sana. Kali ini gue harus menyelesaikannya juga dengan Adit.
“Gue masih kerja, Dit. Kalo emang penting kita omongin nanti aja, itu pun kalo lo bersedia,” ujar gue.
“Setuju. Gue tunggu lo pulang,” jawab Adit sumringah.
Entah apa yang di bicarakan oleh Chef Reymond ke Theo, karena sampai detik ini, jam kerja telah usai, gue belum lihat dia sejak pertengkaran tadi.
Saat ini, gue berada di dalam perjalanan pulang bareng Aditya, sesuai janji gue. Aditya mengajak gue untuk mampir di tempat makan, agar lebih nyaman untuk mengobrol, namun gue menolak. Jujur gue saat ini ingin cepat-cepat untuk sampai di kosan dan tidur. Bersyukurnya Aditya tidak banyak protes.
“Sebenarnya gue masih sayang sama lo, Dhira!” ucapnya to the point.
“Dan lo cukup tau, kita udah berakhir, Dit.”
“Lo tau, kenapa gue bisa di sini?” tanyanya yang gue balas gelengan kecil.
“Gue sengaja pindah ke sini sejak 2 tahun yang lalu, demi lo, Dhir. Gue mau mulai usaha gue sendiri di sini, dan jemput lo buat bareng-bareng lagi. Biar orang tua gue, atau pun orang lain enggak ada yang ikut campur hubungan kita,” lanjutnya.
“Jangan egois, Dit. Hubungan serius tidak hanya mencakup 2 kepala, gue dan lo. Tapi gimana keluarga lo, dan keluarga gue. Orang tua lo dan orang tua gue, Dit,” balas gue.
“Iya gue tau itu! Kita bisa obrolin itu bareng keluarga kita, setelah itu kita bisa pergi dan tinggal di sini, berdua.”
“Dit ....”
“Lo tau saat tiba-tiba gue liat lo di sini. Gue seneng. Seneng banget. Gue merasa Tuhan memang menakdirkan gue sama lo,” tambahnya lagi.
Gue menoleh ke arahnya dengan sendu yang membuat dia memberhentikan mobilnya. Aditya membalas tatapan gue.
Sudah lama rasanya gue gak menatap mata yang selalu menatap gue dengan hangat ini, perlakuannya yang selalu lembut, dan selalu bisa meredakan sifat gue yang meledak-ledak.
Sesegera mungkin gue mengalihkan tatapan mata yang kini tampak putus asa itu untuk menghalau air mata yang kini sudah mulai memupuk di kelopak mata gue.
“Gak sesederhana itu, Dit!” ucap gue parau, karena mencoba sekuat apa pun, air mata ini dengan kurang ajarnya lolos dari mata gue.
“Bagaimana pun, anak laki-laki tetep milik ibunya sampai kapan pun, beda dengan gue yang anak perempuan yang akan jadi tanggung jawab suaminya kelak saat menikah. Gue gak setega itu, Dit untuk membuat lo dan orang tua lo sendiri berjarak, bahkan sampai bertengkar. Gue gak bisa,” jelas gue.
Aditya yang melihat gue sesenggukan lantas membawa gue ke dalam pelukannya. Gue dengan tidak tahu malunya semakin menumpahkan segala emosi yang selama ini gue pendam ke dia. Dia juga menepuk pelan punggung gue guna menenangkan dan menyalurkan kehangatan.
Dia tetap sama seperti dulu, hanya saja, gue cukup tahu diri untuk tidak mempersulit hidupnya bersama orang tuanya.
“Maaf,” berulang-ulang Aditya membisikkan kata itu di telinga gue, dan malam itu kita lalui dengan menumpahkan segala yang kita pendam selama 2 tahun ini.
“Sial!” desis gue.
Hari ini gue terbangun dengan kepala pusing, dan perut yang melilit sakit. Ternyata tamu bulanan gue datang, di tambah menangis tadi malam membuat kepala gue berdenyut nyeri.
Gue mengambil ponsel guna mengabari Vani, kalau gue absen hari ini. Memaksakan diri untuk mencuci muka, dan mencari stok makanan buat sarapan, tapi gue hanya menemukan roti.
“Roti tidak terlalu buruk juga untuk sarapan. Setidaknya bisa untuk mengganjal perut gue sementara waktu,” monolog gue sendiri.
Semakin siang, rasanya perut gue semakin sakit. Sialnya lagi, gue kehabisan stok obat pereda nyeri tanpa gue sadari sebelumnya. Kaki dan tangan gue mulai mendingin, gue menekuk dan memeluk tubuh gue sendiri di atas tempat tidur.
Gue sudah merasa tidak kuat lagi, begitu sakitnya perut gue membuat gue enggak sanggup bahkan untuk meluruskan tubuh. Kesadaran gue semakin lama semakin menipis.
Ini yang gue takuti selama ini, gue sakit saat menstruasi dalam keadaan sendiri. Air mata gue pun luruh dengan sendirinya.
Mencoba menahan kesadaran, gue meraba-raba sisi tempat tidur mencari ponsel untuk menghubungi siapa pun yang bisa gue hubungi saat ini.
Tanpa berpikir panjang dan melihat siapa log terakhir yang ada di ponsel, gue langsung mendial nomor itu. Gue sangat senang ketika sapaan seorang di seberang terdengar meskipun tidak begitu jelas di telinga gue.
"Hallo."
“Sa ... kit,” lirih gue sebelum sepenuhnya tidak sadarkan diri.