Ratu Maudy. Gadis berusia dua puluh tiga tahun. Menutup diri dari yang namanya cinta dan jatuh cinta setelah dikecewakan teramat dalam oleh kekasih pertamanya tiga tahun yang lalu.
Suatu malam, saat sedang menikmati pemandangan kota yang muram, gadis itu tidak sengaja melihat seorang korban pembunuhan. Dibuang di tempat pembuangan sampah yang tidak jauh dari rusun tempat ia tinggal. Awalnya, Maudy ingin berpura-pura tidak tahu. Tapi, saat seseorang itu bergerak dan hidup, hati gadis itu tergerak untuk menyelamatkannya.
Berlanjutlah hari-hari Maudy yang akan selalu direcoki oleh pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Futen22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8 - Apa kamu mengenal pria itu?
"Pria yang kemarin ... apa kamu mengenalnya?"
Untuk sekian kalinya, Maudy menggeleng. Bukan hanya harus menjawab pertanyaan dari semua karyawan butik, bahkan kali ini, dia juga harus menjawab pertanyaan yang sama dari Rea, salah seorang langganan di butik yang kebetulan berada di tempat itu saat Max berbelanja di sana.
"Tidak," jawab Maudy singkat.
"Ah, kamu tidak perlu malu. Aku dengar dari karyawan lain, pria itu bahkan meminta secara khusus agar dilayani olehmu," lanjut wanita berusia dua puluh lima tahun itu. Belum puas dengan jawaban Maudy.
"Dari situ, jelas dia mengenalmu." Wanita itu tertawa kecil. Tangannya sibuk memilah-milah pakaian di gantungan, tapi pandangannya sibuk melirik-lirik ke arah Maudy.
Maudy menghela napas dalam. Ingin rasanya dia menyeret wanita kepo ini keluar dari butik, namun apa daya, dia hanyalah karyawan biasa yang dituntut profesional dan selalu bersikap ramah pada pelanggan.
"Hanya sebatas kenal saja," jawab Maudy berharap wanita ini menghentikan semua pertanyaan tidak penting ini.
"Ohhh!" Bibir wanita itu membentuk huruf 'O'. Dia menepuk bahu Maudy pelan. "Sudah ku duga. Pasti kalian memiliki hubungan," celetuknya cukup puas karena Maudy akhirnya mengaku.
"Bu-bukan seperti itu. Ka-kami hanya—" Maudy menghentikan ucapannya, sementara Rea menunggu kalimat selanjutnya.
"Hanya apa?" Rea sepertinya tidak sadar.
"Ah, tidak ada," gumam Maudy menyadari sesuatu. Dia tidak memiliki kewajiban untuk menjelaskan apapun tentang dirinya kepada orang lain. Tidak ada gunanya. Hanya buang-buang waktu dan tenaga saja.
"Yahhh ..." Rea menghela kecewa karena Maudy tidak jadi buka suara.
"Kak Maudy?" Anya menghampiri Maudy.
"Iya?" jawab Maudy antusias. Dia berharap, apapun yang akan Anya katakan bisa membuatnya pergi dari wanita kepo di hadapannya ini.
"Bu Laura meminta kakak ke ruangannya," ucap gadis itu.
Maudy menghela napas lega. Dia kemudian kembali menghadap Rea.
"Mbak Rea, saya dipanggil atasan saya. Tidak masalahkan kalau Anya yang membantu anda?" tanya Maudy dengan senyuman di wajah. "Anya, kamu sedang tidak ada pelanggan, kan?"
Anya mengangguk.
"Baiklah, saya permisi dulu mbak Rea," pamit Maudy kemudian segera meninggalkan tempat itu.
Rea sepertinya kecewa karena tidak mendapatkan cukup informasi tentang pria kemarin. Lagi pula kenapa dia penasaran pada pria itu? Apa dia tertarik? Tapi, setahu Maudy, Rea sudah memiliki kekasih. Sering menemaninya berbelanja di butik ini. Dan sepertinya, hubungan mereka sudah berlangsung lama dan serius. Untuk apalagi Rea tertarik pada Max?
Maudy menggeleng. Kenapa dia malah pusing memikirkan orang lain?
Bukan urusanmu, Maudy! Peringat gadis itu dalam hati.
Sampai di depan ruangan bosnya, Maudy mengetuk pintu.
"Masuk," ucap seorang wanita dengan nada tegas di dalam sana.
Maudy membuka pintu. Dia tersenyum tipis pada Laura. Wanita berusia tiga puluh enam tahun. Berambut panjang, berwajah manis. Tapi, jangan tertipu dengan wajah dan tampilannya yang manis. Laura adalah sosok wanita tegas nan disiplin. Tidak menyukai orang yang bertele-tele apalagi menye-menye.
"Silahkan duduk, Maudy," pinta Laura.
Maudy pun duduk di hadapan sang bos. Dibanding bertanya, Maudy menunggu Laura berbicara terlebih dahulu tentang hal apa yang membuat bosnya itu memanggil dirinya pada jam kerja seperti ini.
"Mengenai penjualan semalam," Laura langsung ke inti pembahasan.
Maudy mengangguk, tetap menunggu kalimat selanjutnya.
Laura meletakkan kaca mata yang tadi ia kenakan ke atas meja. Menatap Maudy lamat-lamat. Membuat Maudy bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang bosnya itu pikirkan.
"Saya sangat puas dengan kinerja kamu belakangan ini," jelas sang bos dengan senyuman di bibir.
Maudy lega, setidaknya dia dipanggil bukan karena hal buruk.
"Saya berencana memberikan kepercayaan sepenuhnya padamu. "
"Maksud ibu ... saya—"
"Ya, saya bermaksud mempromosikan kamu sebagai manager di butik ini."
"Ibu serius?" Maudy sungguh tidak menduga hal ini.
"Apa saya pernah bermain-main dengan ucapan saya, Maudy?" tanya Laura dengan nada lebih tegas dari sebelumnya.
Maudy menggeleng. "Tidak."
"Seperti yang kamu tahu. Saya jarang mengawasi butik ini secara langsung karena sibuk dengan bisnis saya yang lain. Sebenarnya, hal ini sudah lama saya pertimbangkan. Bukan hanya karena penjualan fantastismu yang kemarin. Tapi, karena kinerjamu yang memang bagus selama ini."
"Bagaimana? Kamu tentu tidak akan menolak kesempatan baik ini, kan?" tanya Laura karena sejauh ini masih belum ada tanggapan berarti dari Maudy.
"Sebelumnya, saya sangat berterima kasih dengan kesempatan dan kepercayaan yang sudah ibu berikan. Tentu saja itu adalah kesempatan yang sangat bagus. Tapi, apa boleh saya memikirkannya dahulu?"
Salah satu hal yang membuat Maudy menarik di mata Laura. Sikapnya yang tidak bisa Laura prediksi. Gadis yang sangat rumit. Pemikiran yang sulit dibaca. Penuh misteri. Ingin rasanya Laura masuk ke dalam otak gadis itu agar bisa mengetahui apa sebenarnya yang ada di benaknya.
Laura tersenyum miring. Tidak terlalu terkejut dengan jawaban gadis itu.
"Tentu. Tentu kamu berhak untuk memikirkannya. Tapi, saya tidak bisa menunggu lama. Paling lama satu minggu, kamu sudah harus memberi keputusan."
Maudy mengangguk. "Baik, bu. Saya mengerti."
"Oh ya, satu lagi ..."
Maudy pikir, pembahasan mereka hanya sampai di situ saja.
"Iya, bu?"
"Mengenai orang yang melakukan pembelian dalam jumlah banyak kemarin ..."
Ah, Max lagi!? Bahkan bu Laura tertarik untuk membahasnya?
"Pastikan dia menjadi langganan butik kita. Masukkan dalam daftar pelanggan VIP. Jika dia tidak berkunjung dalam satu bulan ke depan, jangan lupa untuk menghubunginya dan berikan penawaran khusus. Setidaknya kita harus berusaha. Orang itu akan memberikan banyak keuntungan pada butik kita."
Maudy mengangguk, mengerti.
Tidak lama, dia sudah keluar dari ruangan Laura. Gadis itu lega. Setidaknya, bu Laura tidak menanyakan apa dia menganal atau memiliki hubungan dengan pria itu.
***
Maudy berdiri di beranda kamar. Suasana hatinya tidak juga membaik meski sudah mendapat tawaran promosi dari bosnya. Menjadi manager di sana tentu adalah hal yang baik. Gajinya pun lumayan untuk ukuran orang yang hanya lulus SMA sepertinya. Tapi, itu bukanlah suatu hal yang Maudy inginkan. Bekerja di butik meski menjadi seorang manager bukanlah hal yang gadis itu impikan. Sejak awal, dirinya bahkan tidak memiliki niat untuk bekerja dalam waktu yang lama di sana. Hanya karena tuntutan hidup dan bingung harus pergi ke mana lagi yang membuat gadis itu bertahan selama ini. Dia tidak memiliki siapa pun. Hanya Nova keluarganya yang tersisa, namun hubungan itu pun seolah sudah terputus setelah kejadian tiga tahun yang lalu.
Melihat hujan yang turun deras dan langit yang gelap pekat, membuat hati Maudy semakin terhimpit. Sinar lampu kota yang gemerlap tidak jua mampu menghibur dirinya.
Maudy menghela napas berat. Helaan napas ke sekian kali sejak ia berdiri di tempat ini.
Ponsel gadis itu bergetar. Menatap sekilas layar ponsel di tangan. Nama agen pegadaian yang ia hubungi kemarin tertera di sana. Maudy lantas menerima panggilan itu.
"Ya, pak Jodi? Saya harap bapak membawa kabar baik."
"Sebelumnya saya minta maaf, mbak Maudy. Tapi setelah berdiskusi dengan para atasan, kami tidak bisa memberikan dana dengan jumlah yang mbak minta. Lima puluh juta adalah jumlah yang besar jika mbak hanya menggadaikan mobil itu. Mbak tahu sendiri, mobil itu keluaran lama, sudah tua. Zaman sekarang, sudah tidak bernilai tinggi lagi."
Maudy berdecak. "Lalu, berapa dana yang bisa dicairkan?"
"Jika hanya menggadaikan mobil itu, kami hanya bisa mengeluarkan dana sebesar lima belas juta."
Lima belas juta? Bahkan ditambah dengan tabungannya pun belum bisa menutupi biaya operasi dan pengobatan Anna.
"Tiga puluh juta deh, pak. Masa tiga puluh juta enggak bisa?" Maudy belum menyerah.
"Maaf, mbak. Tapi, perusahaan kami hanya bisa mengeluarkan dana lima belas juta saja. Atau, jika mbak berniat menjual bukan untuk menggadaikan, kami bisa memberikan harga yang lebih tinggi."
Nyaris Maudy melempar ponselnya ke lantai. Alasan dirinya menggadaikan bukan menjual mobil, karena dia masih bisa memiliki kesempatan mengambil mobilnya kembali jika dia melunaskan hutangnya di pegadaian. Tapi, jika menjualnya, kesempatan untuk mendapatkan kembali mobilnya, nyaris kosong.
"Mbak Maudy?" panggil pria itu karena Maudy tidak kunjung merespon.
"Terima kasih atas tawaran bapak. Tapi, sejak awal saya tidak berniat menjual mobil saya."
Maudy segera mengakhiri panggilan itu.
Bagaimana ini? Besok adalah hari terakhir dari waktu yang ia janjikan pada Nova. Dan dirinya belum melihat tanda-tanda akan mendapatkan uang itu.
"Masa harus jual mobil, sih?" erang Maudy frustrasi. "Apa enggak ada cara lain?"
***
Tentu saja ada. Selalu ada jalan lain dari setiap permasalahan yang dihadapi.
Seperti Maudy, tadi malam dia nyaris putus asa mencari uang untuk biaya pengobatan Anna. Dan kini, di pagi hari yang cerah ini. Dia sudah berada di depan bagasi seseorang yang siap memberikan sejumlah uang yang ia butuhkan.
Ya, meski tidak ada yang gratis di dunia ini. Selalu ada hal yang harus dipertaruhkan demi mencapai sesuatu yang diinginkan.
Namanya Pak Jayadi. Pria paruh baya berusia lima puluh tahunan awal. Memiliki lebih dari sepuluh bengkel yang tersebar di beberapa daerah di Jakarta. Hobi mengoleksi mobil antik. Meski pada akhirnya mobil-mobil itu akan berakhir dimodifikasi sesuai keinginan Jayadi.
"Saya sudah transfer uang sesuai permintaan kamu. Buktinya juga sudah saya kirim di wa," ujar Jayadi mengalihkan pandangan dari ponsel ke Maudy.
Maudy memeriksa bukti transfer kemudian memeriksa saldo di rekening melalui aplikasi M-banking.
"Baik, pak. Uangnya sudah saya terima," ucap Maudy kemudian kembali memasukkan ponsel ke saku jaket.
Beberapa detik hening di antara mereka. Jayadi menatap Maudy lamat-lamat kemudian berdeham.
"Ekhem! Ekhem!" Pria paruh baya yang mengenakan topi koboi bewarna hijau itu terbatuk-batuk. Bukan batuk sungguhan, melainkan batuk kode.
Kening Maudy mengernyit, merasa bingung dengan ekspresi pak Jayadi yang menatap dirinya tidak biasa. Lalu, ia teringat sesuatu.
"Ah, iya. Maaf, pak. Saya lupa," ucap Maudy. Menyerahkan kunci mobil kepada Jayadi setengah tidak ikhlas. Sangat berat rasanya menyerahkan kunci mobil peninggalan ibunya itu kepada orang lain. Meski hanya sementara, tapi siapa yang bisa jamin kalau mobil itu bisa berpindah tangan selamanya.
Ingin rasanya Maudy menangis menyaksikan kunci mobilnya yang kini berpindah tangan.
"Ingat, tiga bulan. Jika kamu tidak bisa mengembalikan uang yang saya kasih dalam tiga bulan, mobil ini resmi menjadi milik saya," peringat Jayadi. Cepat-cepat menyimpan kunci itu ke dalam saku celana. Takut Maudy berubah pikiran.
Dengan berat hati, Maudy mengangguk.
"Bapak tenang saja, saya akan berusaha keras mengembalikan uang bapak tepat waktu," ucap Maudy bertekad.
Jayadi tersenyum. "Enggak dibayar juga enggak pa-pa," ucapnya tertawa kecil. Karena jika hal itu terjadi, maka mobil ini secara otomatis menjadi miliknya.
Maudy langsung melempar tatapan tajam pada pria paruh baya itu, seolah ingin menelannya hidup-hidup.
Jayadi yang ngeri melihat tatapan Maudy seketika menghentikan tawa. Pria paruh baya yang lebih sering mengenakan celana jeans belel itu berdeham.
"Bercanda. Saya bercanda, mbak Maudy," ucapnya memecah keheningan.
Maudy tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat.
"Kalau begitu saya permisi, pak. Saya akan kembali secepatnya mengembalikan uang bapak."
Jayadi mengangguk. "Hati-hati di jalan," ucapnya sembari melambai tangan.
Maudy menatap mobil hitamnya untuk terakhir kali. Puas, dia kemudian berbalik. Meninggalkan pekarangan garasi milik pak Jayadi yang bersebelahan langsung dengan bengkel miliknya. Bengkel ini merupakan yang terbesar dibandingkan bengkel-bengkel lain milik pak Jayadi.
Maudy memanggil ojek yang mangkal tidak jauh dari sana.
"Ke rusun Bahagia, mas," pinta Maudy mengenakan helm kemudian menaiki ojek itu.
Tanpa Maudy sadari, sedari tadi, ada seorang pria yang memerhatikan dirinya.
Victor. Pria itu sedang berada di bengkel Jayadi untuk mengambil mobilnya yang sedang di perbaiki. Dia dan pak Jayadi saling mengenal cukup dekat karena dirinya adalah pelanggan di bengkel ini.
Tadi, Victor tidak sengaja melihat pak Jayadi yang sedang bercengkerama dengan gadis muda. Awalnya dirinya tidak tertarik, namun setelah melihat wajah sang gadis yang tidak asing membuat Victor mau tidak mau menjadi sangat tertarik.
Dia ... tahu gadis ini. Gadis yang menolong dan membawa Max ke rumah sakit waktu itu.
Meski belum pernah bertemu secara langsung, tapi Victor mengenal wajah gadis ini dari foto-foto yang diberikan oleh Arlan, orang yang ia suruh untuk melacak segala informasi mengenai gadis ini mulai dari nomor teleponnya saja.
"Ratu Maudy ... ada urusan apa dia dengan pak Jayadi?"
***
d tunggu kelanjutan nya
sellu d tunggu crita nya💪💪
ayo lah thor flasback critan nya penasaran ini
apa aq yg blum ngeh.