Enam tahun Naya lari dari Jakarta, lari dari Arga — kakak angkat yang pernah membuatnya lupa segalanya. Kini ia pulang karena kematian ayahnya, hanya untuk menemukan Arga telah menguasai seluruh perusahaan keluarga. Pacarnya ingin melamar, keluarga berebut warisan, dan api lama yang belum padam mulai membakar lagi. Apa rahasia yang disembunyikan enam tahun lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8
Keesokan paginya, Naya bangun dengan satu status baru.
Jomblo.
Ia menatap langit-langit apartemen selama lima menit, menunggu rasa kehilangan datang. Yang datang hanya sakit kepala ringan dan notifikasi dari Vira.
Vira: Putus?
Naya: Selamat pagi juga.
Vira: Aku lihat story Dimas. Hitam putih, lagu sedih, caption: "Tidak semua yang digenggam bisa dimiliki."
Naya mengerang dan menutup wajah dengan bantal.
Naya: Bunuh aku.
Vira: Tidak bisa. Kamu masih punya invoice belum dibayar.
Naya bangun, mengambil ponsel, lalu membuka story Dimas. Benar. Foto hujan di kaca mobil. Lagu patah hati. Caption yang terasa seperti dibuat sambil menatap cincin.
Di bawahnya ada beberapa balasan teman bersama yang sudah mulai masuk ke pesan Naya.
Kamu dan Dimas kenapa?
Nay, kamu baik-baik saja?
Dimas sedih banget.
Naya menutup aplikasi.
Ia tidak membenci Dimas. Justru karena itu, drama digital pagi-pagi membuatnya ingin mengganti nama dan pindah benua lagi.
Pintu apartemen diketuk.
Naya membuka dengan curiga.
Bima berdiri di depan pintu membawa tas laptop baru dan paper bag dari toko elektronik.
"Pagi, Nona Naya."
"Pak Arga mengirim upeti perdamaian?"
Bima tersenyum sopan. "Laptop pengganti sementara. Spesifikasinya sesuai kebutuhan editing foto. Ini card reader, hard disk eksternal, dan charger cadangan."
Naya menatap tas itu. "Aku tidak minta."
"Betul."
"Jadi kenapa tetap dikirim?"
"Karena file pekerjaan Nona tidak bisa menunggu ego selesai."
Naya menyipitkan mata. "Itu kalimat dia."
"Saya hanya menyampaikan ulang."
"Kamu sadar bekerja untuk orang menyebalkan?"
"Setiap tanggal gajian, kesadaran itu berkurang."
Naya tertawa sebelum sempat menahan diri.
Bima tampak lega. "Pak Arga juga meminta saya mengantar laptop lama ke teknisi. Data kemungkinan bisa diselamatkan."
"Pak Arga banyak meminta."
"Beliau memang begitu."
Naya mengambil tas laptop. Berat. Mahal. Terlalu praktis.
"Bilang ke bosmu, aku akan bayar sewa."
Bima berkedip. "Sewa?"
"Aku tidak menerima pemberian."
"Ini bukan pemberian. Ini fasilitas kerja pengganti karena kerusakan terjadi di acara Sagara."
"Wah, kalimat legal."
"Saya belajar bertahan hidup."
Naya menghela napas. "Baik. Terima kasih."
Bima mengangguk. "Sama-sama, Nona."
Ia berbalik hendak pergi, lalu tampak mengingat sesuatu.
"Oh ya. Pak Arga juga bilang, kalau Nona belum sarapan..."
"Stop."
Bima langsung diam.
"Aku akan sarapan. Tanpa instruksi Direktur Utama."
"Baik."
Setelah Bima pergi, Naya menatap laptop baru di meja. Hitam. Tipis. Terlalu cepat datang. Seperti semua hal yang Arga lakukan setelah memutuskan sesuatu.
Ia menyalakan laptop itu dan bekerja.
Deadline foto konferensi selesai sebelum siang. Editor majalah mengirim pujian dan permintaan kerja lanjutan. Naya seharusnya senang.
Namun ponsel terus bergetar.
Dimas akhirnya menelepon.
Naya menatap nama itu cukup lama sebelum mengangkat.
"Halo."
"Nay."
Suaranya serak. Entah kurang tidur atau sengaja dibuat lebih sedih.
"Kita bisa bicara baik-baik?"
"Sekarang?"
"Aku di bawah apartemenmu."
Naya menutup mata.
Tentu saja.
Ia berjalan ke balkon kecil dan melihat ke bawah. SUV abu-abu Dimas berhenti di area drop-off.
"Aku bilang semalam sudah jelas."
"Aku tidak bisa menerima putus begitu saja di lobi hotel."
"Jadi kamu ingin versi ruang tamu?"
"Aku ingin alasan yang tidak melibatkan Arga."
"Alasannya aku tidak mencintaimu."
"Kenapa baru sekarang?"
Naya diam.
Karena sebelum Arga muncul, aku bisa berpura-pura cukup.
Jawaban itu terlalu jahat untuk diucapkan.
"Dimas," katanya, "aku minta maaf. Tapi datang ke apartemenku tidak akan mengubah apa-apa."
"Turun sebentar."
"Tidak."
"Naya."
"Jangan buat ini lebih buruk."
Di ujung sana, Dimas tertawa pelan. "Kamu selalu mudah pergi, ya?"
Naya menatap mobilnya dari atas. "Mungkin."
"Aku kira aku berbeda."
"Maaf."
"Berhenti minta maaf seperti itu. Kamu terdengar seperti membayar parkir."
Naya menggigit bibir.
"Aku pulang," kata Dimas akhirnya. "Tapi ini belum selesai."
Telepon putus.
Naya tetap berdiri di balkon sampai mobil Dimas pergi.
Sore harinya, Vira datang lagi. Kali ini tanpa kopi, hanya membawa wajah ingin bergosip.
"Jadi," katanya sambil duduk bersila di sofa, "Arga mengirim laptop?"
"Bima yang mengantar."
"Atas perintah Arga."
"Fasilitas kerja pengganti."
"Tentu. Semua pria normal memang mengirim laptop puluhan juta sebagai fasilitas kerja pengganti untuk mantan adik tidak sedarah."
Naya melempar bantal kecil ke wajahnya.
Vira tertawa. "Oke, oke. Aku serius. Kamu harus hati-hati."
"Dengan Dimas?"
"Dengan Arga."
Naya terdiam.
Vira bersandar. "Dimas patah hati, tapi bisa sembuh. Arga beda. Dia tidak terlihat seperti orang yang datang untuk sembuh. Dia datang untuk mengambil tempat."
"Tempat apa?"
"Tempat yang dari dulu mungkin memang kosong."
Naya tidak suka percakapan ini.
"Aku mau mandi."
"Kabur."
"Iya."
Vira mengangkat tangan. "Sebelum kamu kabur, ada kerjaan lagi."
"Kamu agen atau mucikari deadline?"
"Dua-duanya kalau bayarannya bagus." Vira membuka tablet. "Gala privat di kapal akhir pekan. Brand lifestyle, beberapa investor, selebritas. Butuh fotografer dokumentasi. Fee besar. Dua malam."
"Kapal?"
"Yacht besar, berangkat dari Marina Ancol. Kamu cuma dokumentasi tamu tertentu."
"Tamu siapa?"
Vira meringis.
Naya langsung curiga. "Jangan bilang Arga."
"Bukan."
"Bagus."
"Tapi Sagara salah satu sponsor."
Naya menatapnya tanpa ekspresi.
Vira cepat menambahkan, "Dengar dulu. Yang request kamu justru Selena."
Nama itu membuat Naya berhenti.
Selena Anindita.
Teman lama dari sekolah internasional. Dulu manis, lembut, selalu bicara pelan. Dulu juga satu-satunya teman perempuan yang Naya kira benar-benar menyukainya.
Sampai Naya mendengar Selena berkata kepada orang lain, "Aku dekat dengan Naya karena Mas Arga sering jemput dia. Kalau tidak, mana mungkin aku tahan sifatnya."
Setelah itu, Naya memutus hubungan.
Selena kini aktris dan model. Wajahnya ada di billboard skincare di mana-mana.
"Dia yang request aku?" tanya Naya.
"Iya. Katanya suka gaya fotomu di Zurich."
"Bohong."
"Mungkin. Tapi uangnya benar."
Naya tertawa hambar. "Kamu menjualku ke mantan teman palsu di kapal sponsor perusahaan mantan kakak palsu."
Vira mengangguk. "Kalau kamu rangkum seperti itu, memang terdengar buruk."
"Terdengar?"
"Naya, ini bisa jadi kesempatan. Kamu baru pulang. Kamu butuh nama di pasar lokal. Kalau foto gala ini bagus, pintu kerjaan akan kebuka."
Naya berjalan ke meja, mengambil tablet, membaca brief.
Selena sebagai wajah kampanye. Tamu undangan dari keluarga bisnis. Dokumentasi candid. Dua malam satu hari. Ruang pribadi tersedia. Pembayaran lima puluh persen di muka.
Profesional.
Berbahaya.
Menguntungkan.
"Aku ambil," kata Naya.
Vira berkedip. "Serius?"
"Kamu yang membujuk."
"Aku kira kamu akan menolak tiga kali dulu."
"Aku sedang malas mengikuti ekspektasimu."
Vira tersenyum lebar. "Aku kirim kontraknya."
Malam itu, setelah Vira pulang, Naya menerima pesan dari nomor Arga.
Arga: Laptop berfungsi?
Naya menatap pesan itu.
Nomornya masih sama.
Enam tahun tidak ia hapus. Enam tahun tidak pernah ia kirim pesan. Namun ketika nama itu muncul, ponsel terasa lebih berat di tangan.
Naya: Berfungsi. Aku akan bayar biaya sewa.
Arga: Tidak perlu.
Naya: Perlu. Aku tidak suka berutang.
Arga: Kamu sudah berutang banyak.
Naya membaca kalimat itu dua kali.
Naya: Maksudmu?
Arga tidak langsung membalas.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lalu:
Arga: Tidur. Besok jangan lupa makan.
Naya menahan diri agar tidak membanting ponsel.
Ia mengetik cepat.
Naya: Kamu bukan siapa-siapa untuk mengatur jam tidurku.
Balasan Arga datang hampir seketika.
Arga: Kalau begitu tentukan aku siapa.
Naya menatap layar sampai matanya panas.
Ia tidak membalas.
Karena sekali lagi, Arga menanyakan sesuatu yang sejak dulu tidak pernah sanggup ia jawab.
Malam semakin larut, tetapi Naya tidak langsung tidur. Ia membuka file foto konferensi dan menemukan satu frame Arga yang tidak ia kirim ke editor: pria itu berdiri di balik panggung, setengah wajah terkena cahaya, mata tertuju entah ke mana.
Tidak.
Naya memperbesar foto itu.
Mata Arga tertuju ke arah meja media.
Ke arahnya.
Naya menutup laptop terlalu cepat, seolah foto itu bisa menuduhnya balik.
Padahal yang paling menuduh bukan foto itu, melainkan detak jantungnya sendiri.
Detak yang tidak pernah berbunyi seperti itu saat Dimas mengirim pesan.
jaga emosi ya.....
agar semakin kuat hadapi masalah yang nyaris menguras tenaga dan pukiran...
jangan pakai huruf aneh Thor....
ratih gk akan berhenti mengganggu mu nay
nay... kamu selalu Kalah sma arga ya...
Emang udh cocok banget..
lanjut thor.....
lanjut....