Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Brak!

Suara hantaman nampan makanan yang diletakkan secara kasar ke atas meja mengejutkan Stevan dari lamunannya.

Ia mendongak dan melihat Dion berdiri menjulang di depannya dengan wajah sombong khas miliknya.

Di samping Dion, Natasha berdiri melipat tangan di dada dengan senyum merendahkan yang sangat menyebalkan.

"Ternyata orang bisu kita masih punya selera makan juga ya," ejek Dion dengan suara keras hingga terdengar oleh meja di sekitarnya.

Beberapa mahasiswa yang lewat langsung berhenti dan menatap ke arah mereka bertiga.

"Kudengar kemarin kau mencari masalah dengan Raka dan Bima di sayap barat yang kumuh itu," lanjut Dion sambil menyeringai.

"Apa yang kau lakukan di sana? Mengais sisa-sisa alat musik yang sudah dibuang?"

Stevan sama sekali tidak merespons provokasi murahan itu.

Ia terus mengunyah roti lapisnya dengan santai seolah-olah Dion dan Natasha tidak ada di sana.

Melihat dirinya diabaikan, urat kekesalan mulai menonjol di leher Dion.

"Hei, aku sedang bicara padamu!" bentak Dion sambil memukul meja Stevan lagi.

Natasha menyentuh lengan Dion untuk menenangkannya dengan gaya anggun yang dibuat-buat.

"Sudahlah, Dion sayang. Kenapa kau buang-buang waktu bicara dengan orang yang bahkan tidak bisa menjawabmu?" ucap Natasha sinis.

"Kita harus segera ke studio utama untuk latihan debut kita. Jangan urusi orang gagal ini."

Dion mendengus kasar lalu mengatur kerah kemejanya agar terlihat rapi kembali.

"Kau benar, Natasha. Kita punya masa depan yang bersinar terang, tidak seperti tikus bisu ini."

Tepat saat Dion hendak membalikkan badan, suara musik dari speaker besar kantin tiba-tiba berubah.

Penjaga kantin tampaknya baru saja mengganti daftar putar musik harian mereka.

Ting... neng... ting...

Dentingan piano yang sangat khas dan menyayat hati mengalun memenuhi seluruh area kantin.

Langkah kaki Dion terhenti seketika secara mendadak.

Natasha yang awalnya tersenyum sinis kini membeku di tempatnya dengan mata sedikit membulat.

"Bayanganmu... memudar di ujung jalan..."

Suara vokal Clara yang jernih dan kuat mengalir keluar dari speaker kantin, membuat suasana menjadi sedikit hening karena banyak mahasiswa yang berhenti mengobrol untuk mendengarkan.

Bulu kuduk Dion tiba-tiba merinding tanpa alasan yang jelas.

Ada sesuatu dari progresi nada piano dan emosi vokal itu yang terasa sangat familier baginya.

Sangat familier dan menakutkan.

"Lagu apa ini?" tanya Dion dengan suara pelan yang sedikit bergetar, entah pada siapa.

Natasha menggelengkan kepalanya pelan, raut wajahnya terlihat sedikit gelisah.

"Aku tidak tahu, tapi lagunya sedang viral di mana-mana pagi ini," jawab Natasha lirih.

"Katanya penciptanya bernama Zero, musisi misterius yang tidak ketahuan identitas aslinya."

Stevan yang masih duduk di tempatnya melihat reaksi gelisah kedua antagonis itu dengan sangat jelas.

Ia merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel, dan mengetik sebuah pesan pendek.

Ia mengangkat ponselnya tinggi-tinggi hingga Dion bisa membaca tulisannya dengan jelas.

"Lagu yang bagus, bukan? Sangat cocok untuk mengantar kehancuran seseorang," bunyi tulisan di layar ponsel Stevan.

Dion menatap tajam ke arah Stevan, matanya memancarkan amarah dan kebingungan sekaligus.

"Apa maksudmu dengan pesan sampah ini?" desis Dion dengan nada mengancam.

"Kau pikir kau bisa menakutiku dengan lagu indie murahan yang sedang viral ini?"

Stevan hanya tersenyum tipis di balik maskernya, matanya menatap Dion dengan pandangan sedingin es.

Ia tidak membalas lagi, hanya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan beranjak dari kursinya.

Stevan berjalan melewati Dion dan Natasha begitu saja tanpa menoleh sedikit pun.

Meninggalkan pasangan emas kampus itu dalam kebingungan dan kegelisahan yang mulai menggerogoti pikiran mereka.

"Dia tahu sesuatu," gumam Natasha dengan wajah sedikit pucat.

"Tadi dia bilang lagu itu cocok untuk mengantar kehancuran seseorang, apa dia sedang merencanakan sesuatu pada kita?"

Dion mendecakkan lidahnya dan berusaha menutupi rasa paniknya dengan tawa meremehkan.

"Hah! Apa yang bisa dilakukan oleh orang bisu tanpa koneksi sepertinya?"

"Ini pasti cuma kebetulan saja, dia mau sok misterius biar kita ketakutan."

"Lagipula bulan depan kita sudah tanda tangan kontrak resmi dengan label besar, posisi kita tidak akan bisa digoyahkan oleh siapa pun."

Meskipun Dion berkata seperti itu, matanya masih melirik ke arah pintu keluar kantin tempat Stevan menghilang.

Dentingan piano dari lagu "Bayangan Bisu" masih terus mengalun di kantin, terasa seperti lonceng kematian yang berbunyi perlahan di telinganya.

Sementara itu, di lorong sepi menuju perpustakaan kampus.

Stevan berjalan dengan langkah santai, hatinya merasa sangat puas melihat reaksi awal musuh-musuhnya.

Ini baru permulaan dari siksaan psikologis yang akan ia berikan pada mereka.

Tiba-tiba, ujung jaketnya ditarik perlahan dari belakang.

Stevan menoleh dan mendapati Clara berdiri di sana dengan wajah yang ditutupi oleh tudung jaketnya.

Gadis itu terlihat sangat gugup dan terus melirik ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada yang melihat mereka.

"Kak Stevan, kita harus bicara," bisik Clara dengan suara yang sangat pelan.

Stevan mengangguk dan memberi isyarat agar Clara mengikutinya ke sudut lorong yang lebih sepi.

"Ada apa? Kau terlihat sangat panik hari ini," batin Stevan sambil mengetik di ponselnya.

Clara mengeluarkan ponselnya sendiri dan menunjukkan layar yang menampilkan halaman statistik lagu mereka.

"Kak, lagu kita..." suara Clara bergetar karena campuran rasa takut dan tidak percaya.

"Lagu kita sudah masuk ke posisi sepuluh besar tangga lagu nasional hari ini."

"Dan ada puluhan pesan masuk di akun kita dari berbagai label rekaman yang ingin mengajak Zero bekerja sama."

Mata Stevan membaca angka statistik itu dengan tenang, meskipun ia sendiri sedikit terkejut dengan kecepatan viralnya lagu ini.

"Mereka semua mencari tahu siapa penyanyi dan komposer di balik lagu ini, Kak," lanjut Clara dengan wajah memelas.

"Aku takut identitas kita ketahuan, kalau sampai anak kampus tahu itu aku, mereka pasti akan mencemoohku lagi."

Stevan menatap gadis itu dengan tatapan meyakinkan.

Ia mengetik balasan dengan cepat untuk menenangkan ketakutan berlebihan Clara.

"Tidak akan ada yang tahu selama kau terus mengikutiku."

"Biarkan para label itu penasaran. Kita akan menolak semua tawaran mereka untuk saat ini."

Clara membaca pesan itu dengan dahi sedikit berkerut kebingungan.

"Menolak semuanya? Tapi bukankah tujuan kita merilis lagu agar terkenal dan mendapat kontrak label, Kak?" tanyanya polos.

Stevan tersenyum misterius lalu mengetik pesan terakhirnya untuk hari ini.

"Label rekaman adalah tempat di mana Dion bernaung sekarang."

"Jika kita bergabung dengan mereka, kita akan terikat aturan kotor mereka."

"Kita tidak akan menjadi budak industri ini, Clara. Kita akan membuat label rekaman kita sendiri dan menghancurkan pasar mereka."

Mata Clara terbelalak membaca rencana gila dan ambisius dari seniornya itu.

Membuat label rekaman sendiri?

Itu adalah hal yang sangat mustahil dilakukan oleh dua mahasiswa buangan tanpa modal besar.

Namun, entah kenapa, saat menatap mata tajam Stevan, Clara merasa bahwa pria ini benar-benar bisa mengubah kemustahilan itu menjadi kenyataan.

1
Rifqy Channel
nah gini dong 😭🙏🤣🤣
Rifqy Channel
tolong dong itu the zeros mereka harus ungkap identitas biar supaya mereka shock itu. jangan pelit dengan hadiah nya lah.
Nissa Safira: Sabar yaa kak🤣🙏
Aku mau mereka shocknya pas lagi di atas tahta, bukan pas masih di tangga. Tunggu final, hadiahnya bukan cuma identitas yang kebuka, tapi satu industri yang runtuh. Janji deh gak bakal pelit hadiahnya🤣🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!