[Tahap revisi]
Ini kisah seoarang murid yang dinikahkan dengan gurunya karena satu kejadian.
Latika murid SMA Ayyubiyah, ia gadis yang ceria, imut, namun suka terlambat datang kesekolah.
Kehidupannya harus berubah setelah ia menikah dengan Afriadi kepsek di sekolahnya.
Afriadi orang yang tak bisa dibilang dingin tapi sebenarnya tidak.
Afriadi mempunyai masalalu yang membuat ia berubah draktis.
Sebelum terikat, Latika sempat membuat masalah dengan Afriadi, waktu pertama kali Afriadi masuk ia di tabrak Latika di tangga sekolah, lalu Latika memberi pertanyaan aneh kepada Afriadi waktu di Aula, lalu Latika merusak ponsel Afriadi tampa sengaja.
Kejadian itu saja sudah sial bagi Latika apa lagi sekarang mereka suami istri.
Apa lagi yang akan terjadi?
Apakah Latika bisa mengubah Afriadi kembali seperti dulu?
Bagaimana kehidupan mereka?
Apa saja yang terjadi setiap hari dalam kehidupan mereka?
Apakah hidup mereka akan bahagia atau tidak?
Apakah akan timbul rasa cinta di antara mereka atau tidak?.
Simak ceritannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Heldal Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan
Afriadi berdiri di depan meja Salasiah, Afriadi mulai melontarkan pertanyaan kepada Salasiah.
Latika di belakang berseru dalam hati, "Tidak salah kah Salasiah yang di tunjuk."
Afriadi melontarkan pertanyaan kepada Salasiah, "Cos (-150°)\=Cos x, berpa Cos x-nya?"
Tanda tanya memenuhi kepala Salasiah, ia hanya tersenyum menelan ludah, mengaruk-garuk kepalanya pertanda tidak tahu jawaban.
Latika di belakang mencari jawabannya, berseru dalam hati, "Aduh... Salasiah kenapa kau tadi ribut ? Haaa.. Dapat hadiah jadinya."
Salasiah menatap mata Afriadi yang tajam menatapnya.
Dreeet.. Ponsel Afriadi berbunyi ia cepat keluar mengangkat panggilan. Salasiah memalingkan mukanya kearah Latika mengkedip-kedipkan matanya seperti memberi kode.
Latika memahami maksud Salasiah, ia pun menulis besar-besar jawaban dibuku, lalu ia lihatkan pada Salasiah.
- ½
Percuma saja Salasiah salah memahami.
Tidak lama Afriadi kembali menagih jawaban, Salasiah menarik napas panjang alisnya naik turun, dengan percaya diri ia menjawab, "1 atau 2, Pak."
Nana yang di belakang berbisik pelan mencoel Salasiah, "Salasiah salaaahh..."
yang dicoel berseru kesal dalam hati, "Apalah Nana ini coel-coel segala."
Tepaaakk... Latika yang terkejut dengan jawaban Salasiah menepak dahinya,
Capek, deh.
Hadi terkejut seperti tidak asing dengan jawaban Salasiah, "kok kayak judul lagu 1 atau 2."
Para siswa lainnya juga ikut menyadari bersorak,
"Ciiieee..."
"1 atau 2 pilih aku atau dia."
"Siapa satunya."
"Hahaha...."
"Ehemm..." sekali Afriadi terdehem, semua murid siswa terdiam.
"Kenapa Pak betulkah?" tanya Salasiah yakin sekali dengan jawabannya.
"Afriadi menghela napas " salah."
"Ha, salah Pak, kata Latika jawbannya itu. Upsss... " Salasiah ke ceplosan.
Srooot... Satu kelas melihat ke arah Latika, menggelang-geleng kepala mereka. Afriadi juga memandang Latika dengan tajam.
Latika tertunduk, hatinya mengerutu kesal, "Salasiaaaaaahhh.."
Afriadi berjalan kearahnya.
Latika mengerutu kesal dalam hati, geram, "Mati aku. Salasiaaaaahh... Awas kau."
"Kau yang berikan jawaban kepada dia?" Afriadi betanya, berdiri di dekat Latika.
"Iya Pak," jawab Latika masih tertunduk.
"Apa itu jawabanmu?" Afriadi betanya lagi.
"Iya Pak. Tapi, jawabanku bukan 1 atau 2, Tapi, - ½ Pak," jelas Latika.
"Bagaimana caranya?" Afriadi minta bukti.
Latika menunjukan jalannya, "Apa ini benar?"
Afriadi mengamil buku Latika, melihatnya dengan teliti, ia menggangguk, "Ya jawabannya benar."
Latika berseru kegirangan dalam hati, "Yes, benar.. Benar.. Benar.."
Afriadi mengembalikan buku Latika, "lain kali perhatikan jangan ribut," sindir Afriadi kepada cewek-cewek yang ribut tadi.
Latika berseru dalam hati, mengusir Afriadi, "Cepatlah pergi."
Afriadi pun meninggalkan meja Latika menuju meja guru di depan mengambil bukunya, "Buka halaman 21, kerjakan lasisnya."
Penghuni kelas mencatat tugas tersebut, tidak lama.
Ting... Tong... Tepat sekali bel berbunyi, pergantian jam pelajaran.
Hadi masih menutup bukunya, segera berdiri dari kursi menyiapkan, "Perhatian semuanya, terimakasih kepada Bapak guru."
Perintah Hadi langsung di turuti pernghuni kelas, "terimakasih, Pak."
Afriadi pun keluar meninggalkan ruangan.
Hadi langsung menghampiri Latika, "Woyy.. Macam tadi dekat dengan Bapak itu?," tanya Hadi.
Latika santai menjawab, "Biasa saja seperti guru lainnya."
"Tidak ada perasaan apa gitu." Hadi duduk di atas meja Latika.
"Tidak." Latika menggelamg kepala.
Hadi mengusap dadanya, "huh... Syukurlah, ada juga cewek yang normal di kelas ini."
"Kenapa kau tadi beri jawaban yang salah?" Hadi bertanya lagi.
"Siapa yang beri jawaban yang salah?" Latika bertanya kembali.
"Kau." Salasiah menyela pembicaraan, memasang wajah sebal kepada Latika.
"Hooy.. Betulah jawaban yang Latika berikan itu. Kau cuman yang salah memahami," Nana datang menyela pembicaraan, "Aku sudah beritahu kau tapi, kau saja yang tidak menghiraukan aku."
"Kapan?" Salasiah pura-pura tidak tahu, mengalihkan pandangannya dari Nana.
"Tadi." menjawab kesal melihat wajah sok tidak tahu Salasiah.
"Nana tadi sudah beri tahu kau, tapu kau saja yang tidak hiraukan dia." Nana datang menyela pembicaraan.
"Hah..." Salasiah mengaku bersalah, "Habis jadinya tidak dapat perhatian Bapak." pipi Salasiah menggembung, mulutnya monyong, menggoyang-goyangkan badanya.
Hadi berseru dalam hati merasa aneh dengan tingkah Salasiah, "Normal kah cewek ini."
0
0
p00
p0
tapi tolong penulisannya yang rapi
takajut mambacanyaa..😂
author ya urng Banjar kah🤭😂