Zara gadis cantik yang merasakan patah hati karena cinta pertama dalam hidupnya telah meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Baba atau Ayah Zara meninggal dunia karena penyakit jantung.
Belum usai masa berkabungnya, kini gadis malang itu harus kembali merasakan patah hati untuk ke dua kalinya.
Serkan Sayisman, pria yang selama 3 tahun ini mengisi hari-harinya telah memutuskan hubungan mereka yang abu-abu karena kesenjangan sosial yang jauh.
Zara memilih pulang ke negara asal Ibunya dan memulai hidup baru disana berharap bisa dengan cepat melupakan Serkan.
Jantung Zara berdetak kencang kala menatap pria berwajah tampan dan manis yang berdiri di depannya.
Angga Adnan Prayoga,
pria misterius dengan sejuta pesona yang mampu menggeser posisi Serkan di hati Zara.
Namun, Zara harus berjuang keras saat Angga mengatakan;
"Apa kau siap mengetahui siapa diriku yang memiliki orientasi BERBEDA?"
Deg!!
Perjalanan cinta Zara Khayatian Al Rasyid mengejar cinta Angga Adnan Prayoga di mulai!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NalaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Remorse!!
...Aku selalu berdoa,...
...agar Allah mempermudah jalanku untuk melupakan mu....
Keesokan harinya,
Pukul 9.30 pagi Zara sudah berada di depan meja Sekretaris yang berada di samping ruangan Romi. Zara sudah menyelesaikan administrasi di bagian HR, dan langsung standby di dekat ruangan Direktur.
Tap..
Tap..
Tap..
Suara langkah kaki mengarah ke ruangan Direktur.
Zara menyambut pria tampan yang berjalan ke arahnya dengan senyum cerah ceria.
"Selamat pagi, Pak Romi." Romi yang di sapa langsung tersenyum.
"Selamat pagi Zara, ayo masuk ke ruangan saya dulu." Zara mengangguk dan mengikuti Romi.
Zara berdiri di dekat meja kerja Romi.
"Zara, kenapa berdiri? Ayo silahkan duduk," ujar Romi yang mempersilahkan Zara duduk.
"Terima kasih, Pak." Jawab Zara yang kemudian duduk di kursi di depan meja kerja Romi.
"Kamu sudah mempelajari buku catatan yang saya berikan?" Tanya Romi sabar.
"Sudah Pak," jawab Zara.
"Bagus, hari ini kamu bisa menempati meja di depan. Kamu bisa mempelajari semua yang ada di PC itu, dan tugas kamu hari ini coba kamu susun agenda saya selama 1 minggu ke depan, ini jadwal saya." Zara menerima sebuah note yang berisi jadwal kerja Romi.
"Baik Pak, akan segera saya kerjakan. Ehmm, apa Bapak punya kebiasaan di pagi hari? Seperti minum kopi atau makan sesuatu?" Tanya Zara.
Romi tersenyum mendengar pertanyaan Zara, berarti Zara benar-benar mempelajari buku yang dia berikan.
"Saya suka minum teh hitam dengan di temani pastry, apapun itu." Jawab Romi.
Zara terlihat langsung mencatat apa yang Romi sampaikan.
"Besok saja kamu siapkan apa yang saya sampaikan tadi. Sekarang kamu bisa kembali ke meja kamu dan kerjakan apa yang saya tugaskan," ucap Romi dengan sabar.
"Baik Pak, kalau begitu saya ke meja saya dulu. Permisi," pamit Zara dan kemudian keluar dari ruangan Romi.
Setelah Zara keluar ruangan, Romi terus saja senyum-senyum sendiri.
"Aku bisa gila bila terus berhadapan dengan mu, Zara. Aku harus segera mendapatkan mu, sebelum ada yang menyadari betapa indahnya diri mu Zara." Batin Romi berbunga-bunga.
Zara mengerjakan apa yang Romi minta dengan teliti dan rapi. Zara sangat bersemangat di hari pertamanya bekerja sebagai sekretaris yang sebelumnya tak pernah terpikirkan bahwa dirinya akan menjadi sekretaris.
"Permisi, kamu sekretaris baru ya?" Zara mendongakkan kepalanya saat ada seorang wanita di depan mejanya.
"Aah, iya perkenalkan nama Zara. Ini hari pertama saya bekerja sebagai Sekretaris Pak Romi," jawab Zara sambil memperkenalkan dirinya.
"Oo, nama saya Reni. Saya bagian pemasaran produk," jawab Reni yang merupakan karyawan bagian pemasaran.
"Salam kenal ya, Reni. Mau bertemu dengan Pak Romi?" Tanya Zara.
"Iya, apakah Pak Romi ada?" Jawab Reni.
"Tunggu sebentar ya?" Zara kemudian menelpon Romi memberi tahu bila ada yang ingin bertemu.
"Reni, kamu silahkan masuk!" Ucap Zara memberi tahu Reni.
"Sip, aku masuk dulu. Makasih Zara," jawab Reni yang kemudian masuk ke dalam ruangan Romi.
Zara kemudian melanjutkan pekerjaannya menyusun jadwal kerja Romi.
Istanbul, Turki.
Seorang pemuda kaya tengah menangis dan meraung mengetahui bila kekasih hatinya pergi ke negara yang jauh dan meninggalkan dirinya.
Serkan baru saja mengetahui bahwa Zara telah pergi dari Istanbul ke negara kelahiran Ibunya.
Flashback On
Siang itu Serkan mengendarai mobilnya menuju Toko Kain milik keluarga Zara. Serkan berharap bisa bertemu dengan Zara, karena sudah berhari-hari Serkan tidak melihat Zara sama sekali dan itu membuatnya rindu sekaligus khawatir.
Mobil Serkan telah terparkir di sebrang jalan toko kain Zara. Serkan berjalan ke arah toko tsb, saat Serkan masuk di dalam toko ada beberapa pelanggan yang membeli kain. Serkan bahagia mengira bahwa Zara baik-baik saja terbukti dia masih membuka tokonya, namun saat Serkan berpura-pura memilih kain. Serkan mendengar percakapan ;
"Hei, Ozge tumben bukan Zara yang melayani? Apa dia sakit?" Tanya seorang pembeli.
"Zara sudah tidak di sini, lagi Maryam. Dia pulang ke kampung halaman ibunya dan mungkin menetap disana," jawab Bibi Ozge kepada Bibi Maryam yang merupakan pelanggan tetap toko kain Zara.
Bruukk!!! Prakk!!
Deretan kain yang berada di dekat Serkan terjatuh semua.
Bibi Ozge yang melihatnya langsung mendatangi Serkan.
"Hei anak muda berhati-hatilah ini kain sutra terbaik, ayo bantu aku?" Ucap Bibi Ozge yang belum menyadari bahwa pria itu adalah Serkan.
"Apakah benar Zara Ku telah pergi?" Bibi Ozge langsung kaget saat menyadari bahwa pria di sampingnya adalah Serkan.
"Nak Ser..kan? A..pa kamu mendengar se..muanya?" Tanya Bibi Ozge gugup.
"Iya Bibi, saya mendengar semuanya. Tolong katakan dimana Zara ku, KATAKAN!!!" Serkan tak dapat mengontrol emosinya saat tahu bahwa Zara sudah pergi.
"Maryam, pulanglah dulu nanti aku kirimkan kain yang kau pilih. Aku mohon," ujar Bibi Ozge kepada Bibi Maryam.
Bibi Maryam mengangguk dan pergi keluar dari toko. Bibi Ozge lalu membalik tulisan ditoko dari buka menjadi tutup.
Bibi Ozge mengajak Serkan untuk duduk di sofa yang ada di sebelah meja kasir.
"Tenangkan dirimu, saat aku menceritakan semuanya." Serkan langsung mengangguk.
"Baiklah, yang kau dengar itu memang benar adanya. Zara putri cantik ku, sudah pergi ke tanah kelahiran Anna nya. Dia menceritakan semua tentang diri mu dan keluarga mu yang merendahkan Zara. Zara berkata bila kamu telah meminta Zara untuk melupakan mu dan menganggap tidak pernah mengenal mu lagi karena kamu akan bertunangan dengan gadis lain yang sepadan dengan mu, Nak."
Jederrr!!!!!
Air mata Serkan langsung mengucur deras.
Zara telah pergi membawa sakit dan luka di hatinya karena dirinya sendiri yang menyakiti Zara.
"Bibi, aku tidak bermaksud melukai Zara. Tapi orang tua ku mengancam akan mencelakai Zara bila aku terus berhubungan dengan Zara. Aku terpaksa melakukan tindakan yang melukai Zara, sungguh aku terpaksa. Aku sangat mencintai Zara, sangat Bibi!!" Serkan menangis pilu, andai dia tahu bahwa akan seperti ini lebih baik dia melawan orang tuanya agar bisa hidup dengan Zara.
"Kamu sudah memilih, Nak. Jangan di sesali, doakan Zara bahagia di sana. Dia ingin melepaskan cintanya yang selama ini hanya diberikan kepada mu dan memulai semua dari awal di tanah kelahiran ibunya. Ikhlaskan Nak," ucapan Bibi Ozge justru membuat Serkan semakin menyesal dan menangis terisak.
"Bibi, dimana alamat Zara? Aku ingin bertemu dan membawanya pergi Bibi," tanya Serkan penuh harap.
"Bibi minta maaf, Bibi benar-benar tidak tahu alamat Zara sekarang. Dia hanya memberitahu dia pergi dan menitipkan rumah juga tokonya kepada Bibi dan paman," jawab Bibi Ozge.
"Zara.... Maafkan aku Zara!!!!! Teriak Serkan dengan penyesal di dadanya.
"Ikhlaskan Nak," ucap Bibi Ozge.
Serkan tidak menjawab nasehat Bibi Ozge dan memilih langsung meninggalkan toko kain tsb lalu masuk mobil.
Blam...!
Pintu mobil di tutup keras oleh Serkan.
Bruukk bruukk...
Serkan memukul-mukul stir mobilnya.
Hiikkss... Hiikkss..
"Zara, kenapa kamu pergi? Bagaimana aku bisa hidup tanpa mu Zara?" Serkan terus bicara pada dirinya sendiri.
"Maafkan aku Zara. Kembalilah Zara, aku mohon."
Flashback Off.
Serkan menatap foto Zara yang ada di dalam kamarnya. Hatinya sangat tidak bisa menerima kenyataan bahwa Zara telah pergi jauh meninggalkan dirinya.
Andai dia tahu bila Zara akan memilih pergi, tentu saja Serkan akan melawan orang tuanya dan kabur bersama Zara.
Namun semua sudah terlanjur, apa yang ada sekarang adalah sebuah kenyataan yang harus di jalani. Serkan terus menyesali kelemahannya yang di jadikan alat oleh orang tuanya mengancam dirinya, hingga berakhirlah kisah cintanya dengan Zara gadis cantik bermata indah itu.
Tbc.
.malu sm hijab mu..tdk tau adab..
😃😃😃