Vivi tak pernah menyangka bahwa takdir yang disiapkan Tuhan untuk dirinya sangatlah rumit. Ia harus menjalani kehidupan sebatang kara saat menginjak bangku SMA. Dari kecil ia tinggal dengan ibunya. Dan di akhir hayat ibunya, hanya memberikan sebuah kotak kecil padanya. Kotak kecil itu berisi beberapa surat cinta semasa ibunya berpacaran dengan ayah kandungnya. Dengan berbekal pemberian dari ibunya, Vivi bertekad untuj menemukan ayah kandungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ro Miyoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertama kali
"Aku lapar. Kamu lapar gak, Vi? Kita cari makan dulu yuk!"
Setelah tadi mereka bermain dance floor yang menguras energi. Mereka menyusuri lorong mall tersebut menuju food corner. Tama mengajak Vivi untuk makan siang. Dikatakan makan siang juga bukan karena saat mereka menghentikan permainan dance floor jarum jam di tangan Tama menunjukkan pukul dua siang.
"Sama. Aku juga tiba-tiba laper banget nih. Tapi lebih banyak ke hausnya sih!" sahut Vivi.
"Kita makan dulu yuk" ajak Tama sembari menarik tangan Vivi ke sebuah restoran di mall itu. Sontak Vivi mencegah tarikan tangan Tama.
"Eh, tunggu Tam! Jangan masuk situ deh. Pasti makanannya mahal-mahal. Aku gak sanggup bayar, uang yang kubawa gak banyak."
Tama terkekeh mendengar ucapan polos Vivi.
"Siapa juga yang mau minta dibayarin kamu? Kamu tenang aja, 'kan udah aku bilang, hari ini adalah hari kita hepi-hepi. Jadi, kamu gak usah mikirin yang gak bikin hepi."
"Tapi, Tam ...."
"Udah, ayok! Aku laper banget!" ucap Tama lalu menggiring Vivi agar mau ikut masuk ke dalam restauran itu.
.
.
Tak menunggu lama, makanan pun datang diantar oleh pelayan. Tama memilih berbagai menu makanan untuk mereka santap.
Vivi menelan ludah saat semua menu tersaji di atas meja. Sangat menggiurkan membuat nafsu makan semakin berselera.
"Wah, kamu pesan makanannya banyak banget! Gimana bayarnya nih!" bisik Vivi khawatir.
Menu yang tersaji di atas meja sangat komplit, mulai dari tomyam seafood, cah brokoli seafood, cumi lada hitam, semua menu makanan bernuansa seafood. Itu karena mereka memasuki restauran seafood.
"Segini banyaknya, bakal habis gak?" lirih Vivi.
"Udah, ah. Jangan kebanyakan mikir. Ayo makan!" ucap Tama. Ia mulai menyendokkan tomyam ke mangkuk kecil, lalu ia berikan pada Vivi.
Vivi tak pernah memakan makanan seperti itu selama hidupnya. Karena itu, ia sedikit hawatir, apakah lidahnya bisa cocok dengan menu yang dipesan Tama. Ia kemudian menyendokkan sedikit air tomyam yang panas lalu meniupnya perlahan dan mencicipi rasanya. Matanya berbinar bulat.
"Gimana? Enak 'kan?" tanya Tama yang melihat reaksi antusias dari wajah Vivi setelah mencicipi sedikit kuah tomyam.
Vivi mengangguk mantap.
"Iya, Tam. Ini enak banget. Seger di lidahku" ucapnya lalu dengan segera menikmati menu hidangan yang tersaji dengan lahapnya.
Ada kepuasan di bibir tama dengan menyunggingkan senyuman lebar karena telah berhasil membahagiakan Vivi sekali lagi.
"Wah ... aku gak nyangka kamu makannya banyak banget, Vi. Tuh lihat! Semua menu kami sikat habis semua" ucap Tama sembari disertai kekehannya yang khas.
Vivi tersipu malu. Benar saja, ia menyantap semua makanan bak manusia yang tengah kalap. Mungkin karena ia sedang kelaparan atau memang karena menunya baru untuknya.
"Masih sanggup ronde kedua?" tanya Tama.
"Ronde kedua? Apa maksudmu, Tam. Emangnya kita lagi lomba agustusan?" kilah Vivi yang tengah menyenderkan punggungnya ke belakang. Perutnya serasa ingin meledak. Penuh terisi.
Tak lama kemudian pelayan pun datang dengan nampan yang berisi berbagai menu dessert.
Tak hanya menu makanan utama saja yang Tama pesan, melainkan untuk pencuci mulut, Tama juga memesan lebih dari dua menu. Banana split, ice cream sorbet, himalaya melted chocolate. Lagi-lagi mata Vivi berbinar bulat.
"Tam, kamu lagi becanda ya?! Makanan sebanyak ini mau diapain? Perutku sudah tak sanggup!" bisiknya dengan nada menekan.
"Sanggup kok, coba deh!" ujar Tama tak menghiraukan Vivi yang tengah protes.
Seperti biasa, ia mulai menyendokkan makanan itu ke dalam mulutnya, di awali dengan yang sangat ia favoritkan di restauran itu adalah himalaya melted chocolate.
"Ini enak loh. Serius kamu gak mau nyobain?" goda Tama dengan mengacungkan sendok berisi lelehan coklat dan es krim.
Vivi lagi-lagi menelan ludah. Ia tergoda melihat Tama yang menikmati coklat itu dengan gayanya yang membuat orang yang melihatnya ingin menikmatinya juga. Vivi menyendok sedikit banana split. Dan wualah! Dia menyukainya. Perut yang ia rasa tadi sudah sangat penuh, entah kenapa seperti memberi ruang tersendiri untuk di tempati oleh dessert.
"Kamu harus coba yang ini!" ucap Tama. Ia menyodorlan sendoknya yang tadi ia isi dengan himalaya melted chocolate ke dekat bibir Vivi. Vivi dengan polosnya menerima dan memakan menu yang ada di sendok Tama.
Wajah Tama sumringah, entah pikiran apa yang ada di fantasi liarnya kini saat melihat Vivi yang sedang menikmati es krim di depannya. Ia tak meneruskan makan coklatnya, ia malah memandangi Vivi yang tengah sibuk dengan es krimnya dengan tatapan tajam memburu.
"Kenapa?" tanya Vivi saat tau ia sedang diperhatikan oleh Tama.
"Kamu cantik" lirihnya masih dengan tatapan seolah ingin melahap mangsanya.
"Apa sih, tiba-tiba jadi melow gitu?!" ucap Vivi malu-malu.
"Aku serius kok! Kamu tuh cantik, Vi. Karena itu, aku sangat tergila-gila padamu" ucapnya.
Entah apa yang membuat Tama seolah sedang dimabuk asmara. Apakah karena efek coklat yang konon katanya bisa menaikkan hormon kebahagiaan ataukah memang itu adalah hasrat yang selama ini ia pendam untuk bersabar mendapatkan Vivi.
"Udah deh, Tam! Kamu mulai lebay lagi. Ayo tuh habiskan es krim punyamu! Udah sore, kita pulang sekarang?" tanyanya.
Seketika Tama tersadar dari buaiannya. Ia tidak boleh terlena dengan perasaan dan hasrat terpendamnya. Buru-buru ia mengerjap-ngerjapkan matanya agar tersadar dari lamunannya.
"Kamu mau?" tanya Tama. "Ambil aja. Es krimnya kamu aja yang habiskan semua."
Dengan senang hati Vivi menerima mangkuk es krim dari hadapan Tama. Ia langsung melahap habis es krim yang menurutnya enak luar biasa rasanya seperti terbang ke langit.
Tama mengusap bibir Vivi yang belepotan karena es krim dengan ibu jarinya. Kemudian mencicipnya.
"Manis!" lirihnya.
"Apaan sih kamu Tama?! Mulai lagi deh ngerayunya" gerutu Vivi.
Tama tergelak melihat tingkah Vivi yang merajuk seperti itu. Bagaimana bisa ia menjauhi gadis cantik di hadapannya itu. Bahkan banyak teman laki-laki di sekolahnya yang mengincar Vivi. Namun mereka mengurungkan niat sebelum mereka berani untuk mendekati Vivi, selain karena selalu ditolak Vivi langsung, juga karena Tama selalu berada di samping Vivi.
"Woy! Malah ngelamun kamu, Tam! Aku tanya dari tadi. Habis dari sini, kita mau kemana? Pulang?" seru Vivi sambil melambaikan tangannya di depan wajah Tama.
Tama terkesiap.
"Aku mau ngajak kamu ke satu tempat lagi. Kamu masih mau 'kan ikut sama aku?" tanyanya.
"Emang kita mau kemana lagi, Tam?"
Vivi meneguk minuman terakhirnya. Kini menu yang tersaji di meja sudah habis tandas dilahap oleh Vivi. Vivi sendiri gak menyangka bahwa ia bisa menghabiskan banyak menu itu.
"Tempat favoritku, kamu juga pasti suka" Tama melirik jam di tangannya. Jam lima sore.
"Masih sempet!" gumamnya.
"Apa, Tam?!"
"Gak apa-apa kok. Ayok kita berangkat sekarang. Tapi tunggu bentar, aku mau ke kasir dulu. Kamu tunggu di sini dulu ya, jangan kemana-mana!" ucapnya lalu beranjak ke kasir untuk membayar menu makanan yang ia pesan hari ini.