Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Keraguan yang Tumbuh di Hati
Sejak Cynthia masih berusia belia, satu hal tak pernah lepas dari benaknya. Mengapa perlakuan kedua orang tua yang membesarkannya begitu berbeda? Terhadap dirinya, tangan mereka terasa kasar. Mulut mereka tak pernah lepas dari celaan. Setiap hari Cynthia bangun sebelum matahari terbit, menyapu halaman, mencuci pakaian, memasak, dan menuntaskan segala pekerjaan rumah seorang diri. Bahkan saat tubuhnya terasa lelah luar biasa, tak satu pun kata penyemangat yang pernah terucap dari bibir mereka. Yang ada hanyalah perintah, makian, dan tatapan merendahkan seakan Cynthia bukanlah siapa-siapa di rumah itu.
Namun terhadap Karen? Segalanya sungguh berbeda. Karen dimanja, dipuja, segala keinginannya dituruti tanpa banyak tanya. Pakaian bagus, makanan enak, perlakuan istimewa — semuanya tercurah untuk Karen. Cynthia hanyalah bayangan yang tak pernah dihargai. Perbedaan itu terasa sejak ia masih berusia kanak-kanak, hingga kini ia telah tumbuh menjadi wanita dewasa.
Di hadapan cermin tua yang retak di kamarnya, Cynthia menatap pantulan wajahnya sendiri. Alis, mata, hidung, bibir... tak satu pun tampak mirip dengan kedua orang tua maupun Karen. Semakin lama ia menatap, semakin besar tanda tanya yang membayangi hatinya. Siapakah aku sebenarnya? Mengapa aku diperlakukan seperti orang asing di rumah ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, tak pernah menemukan jawaban. Keraguan itu perlahan tumbuh menjadi satu tekad yang kuat. Suatu hari nanti, ia pasti akan membuktikan siapa dirinya sebenarnya. Ia akan mencari jawaban atas segala tanda tanya yang selama ini membebani hatinya.
Di tengah kesepian dan ketidakadilan yang ia rasakan, ada satu sosok yang selalu hadir dengan senyum tulus dan perhatian yang tak bertepi. Sosok itu adalah Aldy Reynaldi — atau yang akrab disapa Aloy.
Pria itu selalu hadir di saat Cynthia merasa tak berdaya. Tanpa pamrih, tanpa syarat. Ia mendampingi, menenangkan, dan menjaga Cynthia seakan wanita itu adalah hal paling berharga di dunia. Perlahan namun pasti, kehadiran Aloy menjadi satu-satunya alasan yang membuat Cynthia merasa berharga.
Hingga suatu sore, di bawah langit yang mulai memerah senja, di tempat mereka biasa bertemu, Aloy berdiri tegak menatap lekat ke dalam manik mata Cynthia. Ada ketegangan yang tak biasa di wajahnya. Napasnya teratur namun terdengar sedikit berat.
"Cynthia..." suaranya terdengar lembut namun tegas. "Sebelum aku menyatakan apa yang selama ini tersimpan di hatiku... ada satu hal yang harus kukatakan padamu. Sesuatu yang menjadi alasan mengapa aku selalu merasa begitu dekat padamu sejak pertama kali kita berpapasan."
Cynthia terdiam, menatapnya lekat. Jantungnya berdegup kencang tak menentu.
Aloy menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara yang sedikit bergetar, seakan menahan kepedihan yang mendalam.
"Dulu, saat aku masih kecil... rumahku dilalap api dahsyat. Asap tebal mengepul, kobaran api melahap segalanya. Saat itu aku terjebak di dalam. Sendirian. Tak berdaya. Kedua orang tuaku... mereka tak selamat dari kebakaran itu. Dan aku... aku hampir menyerah pada takdir, di tengah kepungan api yang semakin mendekat."
Setetes air mata jatuh membasahi pipi Aloy. Ia menatap Cynthia dengan tatapan yang begitu dalam.
"Namun di saat itu... di saat aku hampir tak memiliki harapan lagi... seorang gadis kecil berani menerobos kepungan asap dan api. Ia datang, menggenggam tanganku erat, dan menarikku keluar hingga selamat. Gadis kecil itu berkata kepadaku... 'Jangan takut, Kak. Kamu pasti selamat.'"
Cynthia terpaku. Kenangan samar dari masa kecilnya perlahan bangkit. Bayangan asap tebal, cahaya merah menyala, dan sepasang mata yang menatapnya penuh ketakutan namun tetap bersinar.
"Gadis kecil itu..." lanjut Aloy, menggenggam kedua tangan Cynthia erat di tangannya. "...adalah kau, Cynthia. Kau yang menyelamatkan nyawaku saat itu. Dan sejak hari itu, aku tak pernah berhenti mencarimu. Takdir akhirnya mempertemukan kita kembali."
Ia berlutut sedikit, menatap lurus ke mata wanita itu.
"Cynthia Dewi... aku mencintaimu. Bukan sekadar karena kau telah menyelamatkan nyawaku dulu. Tapi karena hatimu yang tulus, lembut, dan tetap baik meski sering disakiti. Izinkan aku menjagamu seumur hidupku, sebagaimana kau menjagaku saat kita masih kecil."
Air mata Cynthia jatuh deras. Selama ini ia merasa tak berharga, merasa dibuang, merasa asing. Namun di hadapannya berdiri seorang pria yang berkata bahwa nyawanya diselamatkan oleh Cynthia. Bahwa Cynthia adalah alasan pria itu masih hidup hingga hari ini.
Di bawah langit senja yang mulai gelap, diiringi angin yang berhembus lembut, Cynthia tersenyum di antara tangisnya. Ia mengangguk perlahan.
"Aku percaya padamu, Aloy..." ucapnya pelan. "Dan aku pun... mencintaimu."
Namun di tengah kebahagiaan itu, keraguan di hati Cynthia belum sepenuhnya sirna. Jika ia benar-benar memiliki takdir yang begitu besar... mengapa ia hidup dalam penderitaan sejak kecil? Siapakah dirinya sebenarnya? Pertanyaan itu kembali muncul di benaknya, menandakan bahwa perjalanan panjang untuk menemukan jati dirinya... baru saja dimulai.