Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.
Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.
Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’
Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJANJIAN
Waluyo melangkah mendekat. Ia tidak menyentuh Sutami. Hanya berdiri dengan jarak sopan. "Saya tidak datang untuk memanfaatkan musibah," lanjut Waluyo cepat. "Saya datang setelah memastikan dulu bahwa niat saya baik, dan bahwa Dik Sutami memang orang yang tepat. Saya sudah bicara dengan Pak Penghulu sejak kemarin. Jika Bapak dan Ibu berkenan, izinkan saya meminang Dik Sutami. Bukan karena terpaksa. Bukan karena kasihan. Tetapi karena saya percaya, rumah saya akan lebih utuh jika ada Dik Sutami di dalamnya."
Kalimat itu seolah menghantam semua orang.
Pak RT mengusap dagu. "Oh... pantesan..."
Bu RT menutup mulut. "Jadi..."
Sutami mundur setengah langkah. Wajahnya memerah. Kaget, malu, dan bingung jadi satu. "Pak... saya... saya belum siap bicara soal itu..."
Waluyo mengangkat tangan, memberi isyarat tidak mendesak. "Saya tidak minta jawaban sekarang. Saya hanya ingin semua orang tahu niat saya. Supaya tidak ada lagi yang berani mempermainkanmu. Supaya mulai hari ini, siapa pun yang mau mendekatimu, harus lewat jalan yang benar."
Ia lalu menoleh ke seluruh ruangan.
"Jadi, dua hal selesai hari ini. Yang pertama, keluarga ini terhindar dari penipuan. Yang kedua, saya menyatakan niat baik saya di hadapan Bapak, Ibu, Pak RT, dan warga."
Pak Sukimin menatap Waluyo lama. Lalu ia menatap Sutami. Akhirnya ia mengangguk pelan. "Terima kasih, Juragan Waluyo... Sudah menyelamatkan anak saya."
Mak Mia mengusap punggung Sutami. "Dengar itu, Nak..."
Di pojok, Kuswara masih tertunduk. Giginya gemeretuk. Rencananya gagal total. Juragan yang ia takuti justru datang, dan datang dengan cara yang membuatnya tidak bisa berkutik sama sekali.
Sutami menunduk dalam. Dadanya sesak. Tadi ia hampir dijual lewat pernikahan paksa. Sekarang ia dilamar di depan umum, di bangsal rumah sakit, oleh orang yang baru saja menyelamatkannya.
Hidupnya berbalik 180 derajat. Dalam satu pagi. “Bolehkah kita bicara sebentar?” interupnya kemudian.
Penghulu tersenyum tipis, lalu mengangguk. “Silahkan,”
Sutami berdiri lalu berjalan keluar bangsal diikuti Waluyo. Mak Mia ingin ikut, tapi ditahan Pak RT. "Biar dulu, Bu. Biarkan mereka bicara.”
Di lorong yang sepi, hanya ada kursi panjang dan jendela besar. Dua orang anak buah Waluyo berdiri berjarak dari mereka.
"Maaf kalau cara saya kasar.” Waluyo membuka percakapan. "Tapi saya tidak punya waktu lagi."
Sutami menunduk. "Saya tahu, Pak. Ini soal Kuswara, kan?”
Waluyo menghela napas sangat dalam dan berat. “Bukan!” tegasnya seolah ada sesuatu yang harus diputuskan cepat, berbanding terbalik dengan ucapannya sebelumnya yang akan memberi Sutami waktu.
“Lalu?” tuntut Sutami mulai takut, kedua tangannya meremas ujung kebaya bludru yang dipakainya.
Waluyo kemudian menatap lurus ke arah Sutami. "Aku tidak akan berbohong. Kedatanganku ke sini ada dua maksud. Pertama, menyelamatkanmu dari Randu. Kedua..." ia berhenti sebentar. "...aku butuh kamu."
Sutami mengangkat wajah.
"Anak bungsuku, Dara. Kau sudah bertemu dengannya kemarin kan?” Waluyo kembali menjeda. Sutami menanggapi dengan anggukan dalam.
“Sejak ibunya meninggal, dia sakit-sakitan. Tidak mau makan apalagi sekolah. Dokter bilang dia trauma.” Waluyo kembali menarik napas dalam. “Kau lihat kan bagaimana dia bisa berjalan bahkan berlari ke arahmu, bahkan….” Waluyo berhenti, ia berbalik menatap keluar jendela, memunggungi Sutami. Ada sesak yang tiba-tiba menyeruak di dadanya.
Sutami hanya bisa berdiri memandangi punggung Waluyo yang bergetar tipis. Sengaja memberi waktu bagi pria yang usianya mungkin seusia ayahnya itu untuk menenangkan diri lalu melanjutkan.
“Semalam saat dia terbangun dan tak menemukanmu, dia kembali murung dan menangis lama memanggil ibunya.”
Sutami tertegun. Dadanya tiba-tiba terasa penuh dan sesak.
"Aku tidak mau membohongimu," lanjut Waluyo. "Aku ingin mempersuntingmu, bukan karena cinta sesaat. Tapi karena aku butuh seorang ibu untuk anak-anakku. Dan karena aku percaya kamu perempuan yang kuat. Dan aku tahu kau juga membutuhkanku.”
Air mata Sutami jatuh. Bukan karena haru tapi lelah. "Jadi ini... transaksi, Pak?"
Waluyo menggeleng. "Ini perjanjian. Antara dua orang dewasa yang sama-sama punya beban." Waluyo memberi isyarat, lalu anak buahnya langsung menyerahkan sebuah map berisi selembar kertas.
Waluyo membacakan, pelan dan jelas, "Pasal Pertama… Saya, Waluyo. Menghapus seluruh hutang Kuswara kepada saya. Tidak akan ada penuntutan pidana maupun perdata.” Waluyo melenan saliva untuk membasahi tenggorokannya lalu melanjutkan. “Pasal Kedua… Saya memecat Kuswara dari perusahaan. Itu hak saya sebagai pemilik. Lalu Pasal Ketiga, Dik Sutami bersedia menjadi istri saya. Dengan niat mengabdi dan merawat anak-anak saya dengan sepenuh hati. Dan terakhir pasal keempat, Pernikahan ini tidak memaksa adanya hubungan batin. Yang saya minta hanya ketulusan seorang ibu."
Waluyo menyerahkan pulpen pada Sutami.
"Kalau kamu setuju, tanda tangani. Dengan begitu Kuswara tidak akan pernah lagi mengusik rumah orang tuamu. Dan kamu tidak akan dikejar-kejar hutang karena ulahnya."
Sutami menatap kertas itu lama. Di kepalanya berputar banyak kilasan hal menyakitkan yang ia terima, baik dari Kuswara maupun tudingan kejam dari warga lain. Lalu ia teringat ayahnya yang terbaring lemah di dalam bangsal. Lalu Rumah yang akan selamat jika hutang Kuswara dihapus, ia juga tak perlu merasakan jeruji besi. Lalu yang paling membuat hati Tami terusik adalah Dara yang butuh sosok ibu.
Senyum, tawa dan cerita singkat gadis kecil yang baru ia temui kemarin, membuatnya menitikkan air mata. Ia seolah tahu bahwa tawa gadis kecil itu bergantung padanya.
Sutami mengangkat pulpen,eski tangannya gemetar. "Jika saya menikahi Bapak, adik saya benar-benar aman?" tanyanya ulang seolah sebagai alasan utama keputusannya.
"Aman," jawab Waluyo tegas. "Saya berjanji di atas nama almarhumah istri saya."
Sutami memejamkan mata. Satu tarikan napas ia ambil lalu ia menandatangani perjanjian itu.
Waluyo kemudian ikut bertanda tangan. Anak buahnya membubuhkan materai dan menjadi saksi.
Setelah selesai, Waluyo melipat kertas itu dan memberikannya ke Sutami.
"Simpan baik-baik. Ini bukti. Mulai hari ini, hutang itu lunas."
Sutami menggenggam surat itu erat. Ia tidak merasa lega. Ia hanya merasa... pasrah.
Mereka berdua kembali menuju ke bangsal. Sutami melangkah dengan tenang disamping Waluyo, yang berjalan dengan wibawanya.
Di dalam, Penghulu masih menunggu. Warga, Pak RT, Mak Mia, semua menatap pada dua orang yang kembali masuk dengan aura yang berbeda.
Waluyo berdiri di tengah.
"Pak Penghulu. Kami siap melanjutkan akad."
Di dalam, Pak Sukimin mengangguk lemah dari brankar. Ia tidak tahu isi perjanjian itu. Yang ia tahu, wajah Sutami jauh lebih tenang, seolah itu adalah penjelasan kenapa Sutami menyetujui pernikahan itu.
Sutami duduk dengan punggung tegak di kursi, di samping brankar ayahnya.
"Bismillahirrahmanirrahim," ujar Penghulu. "Dengan ini saya akan menikahkan Saudara Waluyo bin Marto dengan Saudari Sutami binti Sukimin. Mas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai lima ratus ribu rupiah. Tunai."
Waluyo menatap lurus ke depan. Suaranya mantap, tidak bergetar.
"Saya terima nikahnya Sutami binti Sukimin dengan mas kawin tersebut tunai."
"Bagaimana para saksi?" tanya Penghulu.
...****************...
Bersambung....
rasain tuh 😏