Setelah tiba di rumah mas Gilang masih diam. Aku membuatkan kopi hitam kesukaannya. Namun di biarkan begitu saja hingga dingin.
Aku mengalihkan perhatianku kepada Dinda. Biasanya jika marah padaku hanya Dinda yang bisa membuatnya bicara.
Tapi tidak kali ini. Dinda pun tidak berhasil membuat ayahnya berkata satu katapun.
Mas Gilang hanya mengisap rokok. Setelah rokok itu habis dia menyalakan rokok yang baru.
Aku siapkan makanan karena dari pagi dia belum makan apa apa. Tapi makanan itu pun tidak di sentuh.
"Kalo ngak mau makan buang saja semuanya." Aku melempar piring berserta nasi itu ke belakang rumah.
"Iya buang semuanya. Termasuk aku buang juga." Teriak mas Gilang.
Teriakan mas Gilang membuat Dinda takut.
Kemudian dia menutup pintu kamar dengan cukup keras. Bruaakkk
Dinda masuk kamar dan menutup telinganya dengan bantal.
Harusnya anak sekecil itu tidak melihat kejadian seperti ini.
Aku bingung harus ke kamar mas Gilang atau ke kamar Dinda
"Dinda jangan takut ya." Aku mengelus elus rambutnya. Setelah itu aku menutup pintu kamar Dinda.
Setelah menenangkan Dinda aku masuk ke kamar mas Gilang. Krieekk.... Aku membuka pintu.
Kemudian mas Gilang membanting pintu lagi.
Aku membuka pintu itu.
"Kalo marah. Marahin aku. Nih pukul." Aku meletakkan telapak tangan mas Gilang Di pipiku.
Tapi mas Gilang hanya diam. Padahal selama ini dia tidak pernah seperti itu.
"Kalo marah nih sama orangnya jangan rusakin barang barang rumah." Tentu saja aku marah jika barang barang rusak aku juga yang keluar uang buat benerin. Karena selama ini memang aku lah yang hampir semua yang membeli perabotan rumah tangga.
"Kenapa kamu masih disini. Kenapa kamu tidak ikut dengan lelaki itu." Bentaknya.
"Iya aku akan ikut dengan nya." Aku juga terpancing emosi.
"Kenapa kamu lakukan itu semua. Bukankah aku selalu mendukungmu. Apa yang salah padaku." Suamiku memberi penjelasan.
"Karena kamu sibuk dengan dirimu sendiri. Kamu tidak memperdulikan aku."
"Dasar kamu wanita jalang. Kamu sama saja seperti P**…
SUAMI KE DUA
Konflik ke dua
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 73 Episodes
Comments