Terjebak Kawin Kontrak dengan Tuan Muda Arab
⛰️ Keindahan, Kecurigaan, dan Keputusan
Bogor adalah kota yang sangat indah, meski bukan yang terindah di Indonesia. Di negeriku ini, masih sangat banyak tempat yang menyuguhkan keindahan yang tiada tara. Nusa Tenggara Timur (NTT) misalnya, konon katanya pemandangannya selain indah juga masih sangat alami (orisinal) karena belum banyak dikunjungi wisatawan.
Keindahan Kota Bogor ini didominasi oleh hamparan kebun teh yang luas, terutama di daerah Puncak. Puncak adalah salah satu destinasi wisata Bogor yang sangat indah dan terkenal hingga ke mancanegara, terutama Timur Tengah.
Banyak sekali turis asing, khususnya dari negara-negara Timur Tengah, yang datang ke tempat ini.
Sebenarnya, aku banyak mendengar berita miring tentang turis-turis itu. Banyak yang mengatakan bahwa mereka sering melakukan nikah kontrak dengan wanita Asia, seperti dari Indonesia, Thailand, dan Filipina, saat berwisata. Dan mirisnya, hal itu benar-benar terjadi di daerah wisata yang biasa mereka kunjungi di Indonesia.
Hal itu pulalah yang membuatku ragu dan agak takut untuk bekerja di Puncak. Puncak adalah daerah yang sering mereka kunjungi, tetapi tawaran gaji yang menggiurkan membuatku terpaksa melirik pekerjaan itu. Pekerjaan sebagai juru masak yang bertugas melayani turis Arab yang datang ke sana.
Karena aku punya dasar memasak ala Timur Tengah, yang kupelajari saat menjadi TKW di sana, aku memberanikan diri untuk ikut mengais rezeki di tempat wisata itu. Meskipun kabar miring tentang pernikahan kontrak dan praktik prostitusi sering kudengar, aku berusaha menepis ketakutan itu. Aku beranggapan, semua tergantung iman masing-masing.
☕️ Kedatangan dan Sambutan
Setelah hampir tujuh jam dalam perjalanan, akhirnya aku sampai juga di daerah ini. Aku dijemput di terminal oleh Afina, temanku yang mengajakku kerja di sini.
"Mae, akhirnya kamu sampai juga!" teriak Teh Afina menyambutku. Ia memelukku, kemudian membantuku membawakan kantong plastik yang kutenteng di lengan kananku.
"Iya, Teh. Mae capek sekali, tahu? Mae berangkat dari Serang jam tujuh, Teh," jawabku seraya mengikuti langkahnya dari belakang.
Afina membawaku ke kontrakan miliknya sebelum ia mengantarku ke tempat majikanku.
"Mae, kamu istirahat dulu di sini malam ini. Besok, Teteh antar kamu menemui Mr. Sultan di vilanya," ujarnya sambil meletakkan barang-barang bawaanku.
🍳 Pertemuan dengan Mr. Sultan
Azan subuh mulai berkumandang. Udara dingin khas Kota Bogor ini membuatku terasa beku. Aku yang terbiasa dengan cuaca sedang di Kota Serang, tentu harus berjuang untuk beradaptasi dengan dinginnya udara Puncak. Aku mulai memaksa diriku untuk bangun dan mengambil air wudu, untuk kemudian melaksanakan kewajibanku sebagai muslimah.
"Mae, apa kamu sudah siap bekerja?" tanya Afina setelah kami selesai sarapan.
"Siap dong, Teh!" jawabku dengan antusias.
Setelah sarapan, Afina mengajakku ke sebuah bangunan indah yang terletak di antara kebun teh yang terhampar hijau.
"Hei, Mr. Sultan, kami sudah sampai," sapa Afina pada seorang laki-laki Arab yang memakai pakaian biasa.
Jika di negara mereka biasanya mereka memakai jubah putih yang mereka sebut tsawb dan sorban merah kotak-kotak, saat berwisata mereka memakai pakaian layaknya laki-laki Asia, yaitu celana dan atasan.
Aku bergegas maju dan mengucapkan salam.
"Assalamu alaikum, Mister. Saya Maymunah," sapaku pada laki-laki itu dalam bahasa Arab Amiyah Saudi.
Dia menatapku dengan intens, membuatku menjadi risih dan menunduk. Aku tak mau memandang wajahnya, karena khawatir mereka akan mengira aku adalah perempuan nakal.
"Oke, masuklah!" seru Sultan mempersilakan kami masuk.
"Berapa gaji yang kamu mau?" Aku terbelalak mendengar pertanyaan Sultan.
"Dua ratus ribu rupiah," jawabku spontan.
Sebenarnya aku agak malu mengatakan gaji Rp200.000 per hari hanya untuk memasak, tapi karena dia bertanya, ya aku jawab. Kulihat dia tersenyum sinis, entah apa yang ia pikirkan tentangku.
"Cuma dua ratus ribu per hari? Murah amat tarifmu, padahal kamu cukup cantik," ledeknya dengan wajah sinis.
Aku terlonjak kaget dengan kata-katanya barusan.
"Terlalu murah bagaimana, ya, Mister? Dan apa hubungan pekerjaan memasak dengan wajah saya?" tanyaku polos.
Dia malah terkekeh, membuatku kesal.
"Sudahlah. Sekarang sebaiknya kamu kuberikan kamar dan dapur tempat kamu memasak nanti."
Dia beranjak dari duduknya. Aku melangkah mengikutinya dari belakang.
Dia menempatkanku di sebuah kamar yang cukup mewah, beda sekali dengan tempat yang biasa mereka berikan pada pembantu. Biasanya kamar pembantu itu sempit dan minim fasilitas. Apalagi kalau di Saudi, dulu aku bekerja di sana tak diberi kamar. Para pembantu di Saudi dulu tidur di ruang tamu, atau dapur, dan ada juga yang tidur dengan anak-anak perempuan mereka. Entah kalau sekarang, semoga saja sudah berubah.
"Ini kamarnya, dan itu dapurnya. Di sini ada fasilitas lengkap, termasuk baju untukmu juga. Kamu bisa mandi sekarang kalau mau, itu kamar mandinya," terangnya ramah, masih dengan senyum sumringah di wajahnya yang tampan.
Sultan ini kira-kira berumur 30 tahun. Badannya tegap, kulitnya putih, dengan bulu-bulu yang banyak tumbuh baik di wajah maupun tangannya.
"Mister, siang nanti saya harus masak apa?" tanyaku sebelum ia pergi.
"Mmm, masakan Indonesia saja. Aku mau tahu rasanya masakan Indonesia," jawabnya seraya membalikkan badannya dan pergi meninggalkanku.
Aku segera masuk ke kamar yang diberikan untukku. Kamar ini sangat luas, dengan ranjang queen size, lemari pakaian yang mempunyai empat pintu, dan juga meja rias. Kamar ini sungguh sangat mewah untuk ukuran pembantu.
Tring...
Terdengar sebuah notifikasi dari ponselku. Setelah kubuka, ternyata itu chat dari Afina.
[Yang betah, ya! Sultan itu baik banget, apalagi kalau kamu pandai merayunya. 🙈]
Mataku membulat saat membaca chat dari Afina.
"Benar-benar tak punya akhlak nih teman, tadi langsung ninggalin tanpa pamit, sekarang dia kirim chat aneh begitu." Aku menggerutu dalam hati.
[Somplak. 😡😠 Aku enggak mau duit haram. Sudahlah, aku mau masak. Jangan ganggu!] Kirim.
Balasanku terkirim. Dia membalas dengan emoji tertawa.
[😅😅 Ok, selamat berduaan.]
Chat terakhirnya itu membuat hatiku bercampur aduk. Kini ada berbagai perasaan yang menghinggapi hatiku: ada rasa takut diapa-apakan, ada rasa berdosa juga karena aku kini tinggal berdua bersama laki-laki yang bukan mahram.
"Ya Allah, apa keputusanku bekerja di tempat ini salah, ya? Ah, aku lupa istikharah dulu tadinya. Ya Allah, selamatkan hamba-Mu ini dari mara bahaya, baik itu lahir maupun batin," doaku lirih.
Aku segera berganti pakaian dengan pakaian yang sengaja kubawa khusus untuk memasak di dapur.
Dengan perasaan tak menentu, aku keluar dan memasuki dapur untuk melaksanakan tugasku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Purwaningsih Ningsih
lanjutkan
2023-09-06
2
mamae zaedan
bagus ceritanya
2023-03-25
0
Rice Btamban
lanjutkan
2022-06-18
1